Solopos, 7 Februari 2012- Melihat Jejak Para EO Muda

13.2.12
Terimakasih kepada Saudara Adib dari Solopos atas liputan tentang Saya dan Budi Pasadena, disebuah wedangan di Jalan Kebalen yang akhirnya melahirkan tulisan ini.

Solopos, 7 Febuari 2012



Artikel Selengkapnya :


Ferdiana Rizky baru berusia 21 tahun. Meskipun masih belia, lulusan SMAN 3 Solo dua tahun lalu ini berpengalaman mengurus belasan hajatan pernikahan besar dari awal hingga akhir. Padahal, Ferdiana masih berstatus lajang.


Mengurus pernikahan orang, itulah pekerjaan utama yang digeluti Ferdiana dalam setahun terakhir. Dia bukan seorang anggota staf event atau wedding organizer, melainkan pemilik dan pengelola organizer yang didirikannya sendiri. Bulan ini, aktivitasnya mulai sibuk kembali karena banyaknya pernikahan di berbagai tempat setelah berakhirnya bulan Sura.

“Saya sering keluar karena harus ketemu dengan beberapa vendor. Maklum tidak mungkin semua kami tangani sendiri,” katanya saat ditemui di kantornya, Jl Nias II No 9, Gilingan, Banjarsari, Solo, Kamis (2/2/2012) lalu.

Baginya, mengurus pernikahan menjadi bisnis utama. Berawal dari pengalamannya menjadi organizer pernikahan kerabatnya, Ferdiana memutuskan menjadikannya sebagai usaha yang serius. Gadis berkaca mata ini bukan hanya sekali dua kali menjadi organizer pernikahan, melainkan beberapa kali baik kerabat maupun kenalannya.

Awalnya memang gratisan karena saat itu sifatnya hanya bantu-bantu. Lama-lama Ferdiana meliriknya sebagai usaha. Bersama dengan sebuah tim yang kebanyakan kerabatnya, dia menawarkan jasa dengan nama Nami Wedding Organizer. Responsnya pun lumayan. Meskipun terbilang baru, mereka cukup mempunyai catatan sukses menyelenggarakan event wedding.

“Setelah mengurus wedding beberapa saudara dan teman-teman, katanya bagus. Terus kami mencoba keluar,” ungkap Ferdiana.

Awalnya, dia hanya mengerjakan proyek pernikahan bertiga. Kini, timnya beranggotakan tujuh orang. Sempat ada keraguan untuk menggarap pasar wedding di Solo karena masyarakat cenderung menyukai harga murah. Namun kekhawatiran itu tidak terbukti karena banyak orang rela mengeluarkan uang puluhan juta rupiah untuk sebuah wedding. Apalagi jika pasar yang dibidik adalah kalangan menengah ke atas. Ferdiana pernah menangani berbagai macam jenis wedding mulai yang bernilai Rp11 jutaan hingga yang high class bernilai Rp57 jutaan ke atas.

“Tapi kami tidak seenaknya ambil untung. Dari awal sudah dijelaskan bahwa fee untuk jasa kami Rp2 juta atau Rp3,5 juta,” ungkapnya.
Kadang-kadang, mereka mendapatkan tambahan untung dari diskon vendor yang jadi langganan. “ Tapi utamanya cuma dari fee.”

Awalnya Gratisan

Di Solo, tidak sedikit anak muda yang bermain dalam bisnis organizer. Dua di antara mereka adalah Sara Neyrhiza dan Budi Pasadena. Dalam setahun terakhir, keduanya bekerja sama menjalankan Red Production, sebuah event organizer (EO) yang terbilang baru di Solo. Event yang mereka gelar bukan wedding atau konser, melainkan acara seminar, gathering dan ulang tahun.

Berbeda dengan event organizer pada umumnya yang sejak awal dibentuk untuk mencari keuntungan langsung, organizer ini semula dibentuk untuk mendukung promosi usaha milik Budi. Jauh sebelum berniat membentuk sebuah EO, lulusan Ilmu Komunikasi FISIP UNS ini memiliki sebuah studio rekaman di daerah Grogol, Sukoharjo. Namun karena pengunjungnya tidak terlalu banyak, Budi berinisiatif menggelar sebuah workshop bertajuk Music for Film pada 2008.

“Kami mengundang mahasiswa untuk ikut dan banyak yang ikut. Tapi itu gratis karena memang untuk menarik orang belajar ke studio,” kata Budi saat ditemui Espos, Kamis lalu.

Sara sendiri saat itu masih menjadi anggota staf sebuah EO besar di Solo. Namun karena ingin mandiri, mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP UNS ini memutuskan membangun EO sendiri.

“Dulu enggak cocok jika bikin event cuma untuk mengejar uang saja, akhirnya bikin sendiri,” kata Sara.

Pertemuan keduanya melahirkan satu EO baru yang didirikan pada Januari 2011. Awalnya mereka tidak hanya menyelenggarakan seminar tapi hampir segala bentuk event. Ada yang berbentuk workshop, pertemuan hingga pameran. Namun karena kompleksnya berbagai event dan keterbatasan tenaga, kini mereka hanya fokus ke seminar dan pertemuan.

“Pernah bikin pameran, tapi ya ribet banget karena harus melayani permintaan bikin stan ini itu. Akhirnya kami putuskan untuk lebih konsentrasi pada seminar,” lanjut Sara.

Meskipun baru setahun berdiri, sekitar 20 event mereka tangani sendiri. Selain menggarap event dari pihak lain, mereka juga beberapa kali menggelar event sendiri seperti workshop musik, penyiar dan internet marketing. Nilainya pun lumayan, antara Rp2 juta hingga Rp4 juta.

Sekilas keuntungan membuat acara semacam ini memang tidak terlalu besar. Namun dengan makin banyaknya jaringan, mereka menerima banyak job dari EO luar kota yang mau menggelar acara di Solo. Biasanya mereka mengerjakan satu atau beberapa job yang merupakan bagian dari sebuah agenda besar.

“Sebenarnya kami malah sering dapat untung dari kerja yang ngesub ke EO lain karena sering sekali meminta jasa kami. “Lumayan karena sering sekali dimintai tolong untuk pesan tempat, nyiapin peralatan, sound system dan sebagainya.”

JIBI/SOLOPOS/Adib Muttaqin Asfar
3 comments on "Solopos, 7 Februari 2012- Melihat Jejak Para EO Muda"

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan komentar.
Komentar Anda termoderasi.
Salam

Auto Post Signature