Wanna be my Valentine?

2/14/13


Valentine's day..

Yah, saya mengenal  istilah “itu” pada saat kelas 6 SD. Tidak terlalu paham apa makna di dalamnya, namun saat itu yang saya lakukan adalah member ikan sebuah wafer coklat Superman kepada ketiga sahabat saya.

Selanjutnya, pertama kalinya saya memberikan coklat kepada lawan jenis, “cowok”, saat kelas 2 SMP. 

Ah..saya merasakan getaran-getaran ABG (Anak Baru Gede) kala itu. Membeli sebuah coklat dengan harga cukup mahal, berbentuk hati, bertuliskan “I LOVE YOU” dengan bungkus berhiaskan pita merah jambu. Manis bukan? Sayangnya saya tidak memberikannya sendiri dan harus melalui calo, teman saya.

Valentine di tahun-tahun kemudian seperti sebuah tren biasa, saya berbagi coklat dengan sahabat dekat. Tidak ada dinner, bunga mawar, kado manis atau apapun dengan embel-embel kasih sayang. 

Seolah semakin menua, dan tidak menemukan esensi dari perayaan tersebut, Valentine hanya menjadi sebuah tema dalam budaya pop yang tidak lain adalah gimmick bisnis yang memang menjadi sebuah momentum marketing untuk berbagai industri. Dan buat saya, tidak terlalu penting. Lagi.

Valentine 2013 ini, bersama dengan Manager  Siaran, saya diundang SMP Marsudirini St. Theresia Surakarta. Yang menurut instruksi pihak sekolah, saya diminta untuk sharing mengenai apa itu makna kasih sayang.







Cukup kaget ketika melihat Valentine’s Day merupakan perayaan yang penting di sekolah tersebut. Setelah doa pagi, seluruh siswa dan guru berkumpul di halaman sekolah. 30 menit saya diberikan kesempatan untuk berbicara di hadapan mereka.

Ketika diminta berbicara mengenai kasih sayang, dalam benak saya secara otomatis tergambar wajah-wajah orang-orang yang saya sayangi. Mama, abah, kedua adik saya, kekasih , seolah silih berganti membuat sebuah abstrak memori yang hanya mampu saya lihat. Saya tidak mampu menggambar apa itu kasih sayang,namun sebuah aliran energi membuncah di dalam dada. Dan disana saya meresakan energi Tuhan, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Masih berdiri dihadapan keluarga SMP Marsudirini, s
aya berteriak dengan lantang “ Adakah yang tadi pagi sebelum berangkat sekolah berpamitan dengan orang tuanya?”. Beberapa tangan terulur naik.
“Apakah kalian merasakan kasih sayang orang tua kalian?”

“Ya.” Jawab beberapa siswa dengan lantang juga.

“Kasih sayang orang tua bukan berwujud banyaknya uang saku yang kalian terima. Kasih sayang, adalah aliran doa yang dipanjatkan kepada Tuhan,  restu dalam setiap dekapan dan harapan yang mengiringi di setiap kalian melangkah.Kemanapun. Kapanpun”, teriak saya. Sebenarnya lebih kepada untuk saya sendiri, yang tergerak untuk mengatakan kata-kata, yang sebenarnya tidak masuk dalam kamus kosa kata hidup saya.

Terlalu klise ketika kasih sayang, dijabarkan dalam diskripsi tekstual. Seperti halnya emosi marah, benci, rindu, kasih sayang hanya mampu terjabarkan oleh hati yang merasakan.
Hingga detik ini, saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk merasakan apa itu kasih sayang. Untuk setiap zat dimuka bumi, disetiap hembusan nafas hidup.

Terlalu sempit bila kasih sayang hanya berupa simbolis romantisme seperti coklat, red rose, pink teddy bear, dinner, yang mungkin terasa begitu “apik”and so romatic diberikan tepat pada tanggal 14 Februari. Padahal ketika barang-barang itu diberikan pada hari lain, sebenarnya rasanya pun sama saja. Sama bahagianya bagi si penerima. So, ketika harus memberikan kasih sayang itu secara simbolis, adakah sesuatu yang bisa kita berikan setiap hari? Yang mungkin tidak mahal, tidak repot, tidak harus dibungkus kado, tidak pink dan tidak harus tanggal 14 februari??

Doa..

Dan mari memanjatkan doa sebagi bukti kasih sayangmu. Everyday…

Thankyouuuu so much ... keluarga besar SMP Marsudirini... :*



Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan komentar.
Komentar Anda termoderasi.
Salam

Auto Post Signature