Marketing 4.0 : Moving from Tranditional to Digital

3.5.17
Kita menghadapi era  revolusi web yang mengubah pola kehidupan manusia. Era konektivitas dimana kita dapat dengan mudah mengakses informasi setiap waktu, karena internet menyediakan apa saja yang kita butuhkan. Jika kita ketinggalan informasi, kita tinggal search, click, dan menemukan informasi yang kita butuhkan di internet.


Saya menjadi moderator General Lecture  dengan pembicara  Rika Verry Kurniawan - Marketing Online PT. Tiga Serangkai dan Retno Wulandari - General Manager The Sunan Hotel Solo


Kemajuan teknologi informasi saat ini ternyata juga mengubah perilaku individu sebagai seorang konsumen di dalam melakukan pembelian suatu produk. Dahulu, setelah konsumen mendapatkan terpaan iklan produk, kemudian konsumen menjadi tertarik terhadap produk yang diiklankan, kemudian akhirnya melakukan pembelian dan ketika produk tersebut ternyata memuaskannya, ia akan melakukan pembelian ulang.


Costumer Path Dulu dan Sekarang - http://markplusinsight.com/article/detail/144/how-to-turn-customer-complaints-into-wow-experience

Namun saat ini berbeda. Sekarang kita dapat melihat adanya perubahan pada costumer path. Dimana ketika konsumen mendapat terpaan iklan di media (tv, koran, radio, internet), kemudian ia tertarik. Yang dilakukan kemudian adalah berusaha bertanya dan mencari informasi tersebut di internet. Setelah mendapatkan informasi yang sesuai, baru kemudian dia memutuskan untuk melakukan pembelian atau tidak. Setelah mendapatkan produk, dan produk tersebut memuaskan dirinya, ia dapat mengadvokasi orang lain mengenai produk tersebut. Merekomendasikan secara suka rela melalui word of mouth atau dapat juga menuliskannya di social media, di blog atau di forum-forum pelanggan (electronic word of mouth)

Perubahan consumer behavior tentu saja perlu ditanggapi oleh para produsen dan khususnya pemasar produk. Para pemasar harus mengetahui model pendekatan seperti apa agar informasi produk mereka tepat sesuai target pasar. Terlebih dengan konten media internet yang begitu dinamis, pemasar harus memastikan bahwa informasi produk yang tersedia adalah informasi yang benar dan mendukung aktivitas pemasaran.

Philip Kotler, Hermawan Kartajaya dan Iwan Setiawan memperkenalkan konsep Marketing 4.0 dalam buku berjudul Marketing 4.0 : Moving from Tranditional to Digital. Sebelum berbicara mengenai Marketing 4.0, kita perlu memahami terlebih dahulu bahwa pemasaran utama telah mengalami beberapa pergeseran.

Marketing 1.0 yang lebih berorientasi pada produk. Tujuan utama perusahaan adalah menghasilkan produk yang dibutuhkan konsumen. Rational intelligence konsumen akan tertarik untuk membeli produk dengan harga terjangkau yang sesuai kebutuhannya.

Pergeseran terjadi pada Marketing 2.0 yang mulai berorientasi kepada pelanggan. Perusahaan mulai memperhatikan bagaimana memuaskan konsumen secara emosional, sehingga konsumen akan menjadi loyal terhadap perusahaan atau merek.

Marketing 3.0, seperti dijelaskan pada buku Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, dan Iwan Setiawan yang berjudul “Marketing 3.0, From Product to Customer to the Human Spirit”, bahwa perusahan mencoba memberikan nilai lebih pada produk mereka, value driven marketing. Perusahan mencoba menarik sisi spiritual konsumen sehingga mereka mencari produk atau merek yang selaras dengan sisi spiritual tersebut.

Sebagai contoh, jika di era Marketing 1.0, perusahan berorientasi untuk menjual produk tas. Konsumen yang membutuhkan tas untuk membawa barang mereka, kemudian akan membeli tas tersebut. 
Marketing 2.0 akan menawarkan tas yang bukan hanya mampu membawa barang-barang, namun juga menawarkan tas yang terbuat dari kulit yang tahan disegala kondisi cuaca. Ketika konsumen membeli tas tersebut, dia akan mendapatkan tas yang kuat membawa barang, juga awet dapat digunakan dalam waktu yang relatif lama. Sehingga mereka dapat menghemat uang yang mereka miliki. 
Marketing 3.0 mencoba memberikan nilai lebih pada sebuah tas yang terbuat dari kulit dengan kombinasi kain batik. Tas ini, selain dapat membawa banyak barang, juga awet ketika dibawa kemana saja, serta motif batiknya mampu mencirikan ke-khasan Indonesia. Sehingga konsumen yang membeli tas batik ini, selain mendapatkan kemanfaatan dalam memakai tas, ia juga ikut mendukung mencintai produk dalam negeri.
Aktivitas pemasaran yang senantiasa dinamis, didukung perkembangan teknologi informasi inilah yang kemudian menuntut adanya kolaborasi antara online dan offline. Pemasaran tradisional mulai bersinergi dengen pemasaran online.

Retno Wulandari, General Manager The Sunan Hotel Solo, dalam Kuliah Umum yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi,  Universitas Muhammadiyah Surakarta pada 3 Mei 2017 yang mengangkat tema “Toward to Marketing Communication 4.0”, menjelaskan, dalam industry hospitality, belanja  iklan saat ini didominasi oleh promosi online. Meskipun demikian, ia tidak serta merta meninggalkan promosi offline seperti iklan di televisi, radio, koran atau outdoor advertising.

Selain itu, meskipun The Sunan Hotel Solo kuat secara branding, salah satunya dengan mengusung tagar #SoloYaSunan, juga pencapaian pada aplikasi booking online seperti traveloka.com, tripadvisor.com. yang selalu menempati urutan teratas, The Sunan Hotel Solo senantiasa terus berinovasi pada produk dan layanan yang mereka miliki. Bukan hanya sekedar menyediakan layanan menginap, namun juga fasilitas pendukung lainnya seperti Restauran Cina Halal, Music Room, juga paket wisata bekerja sama dengan Studio Musik Lokananta. Artinya, The Sunan Hotel Solo bukan hanya memperkuat branding mereka  secara online, tetapi mereka juga menyediakan diferensiasi yang kuat pada konten produk yang mereka miliki.

Pemasar yang ingin sukses di Marketing 4.0, berikut terdapat beberapa panduan yang merujuk pada buku Philip Kotler, Hermawan Kartajaya dan Iwan Setiawan dalam “Marketing 4.0, Moving from Tranditional to Digital”, seperti yang dipaparkan Retno Wulandari General Manager The Sunan Hotel Solo.

  1. Online with Offline
Meski online saat ini berjaya, namun perusahaan harus tetap berinteraksi dengan pelanggan secara offline. Seperti yangs sering dilakukan oleh beberapa dealer-dealer kendaraan roda empat. Mereka masih sering secara rutin melakukan gathering dengan pelanggan mereka, khususnya saat Ramadhan atau momen ulang tahun.
Pelanggan disini tidak hanya menikmati produk dan memiliki pengalaman terhadap produk mereka Namun perusahaan juga membangun customer engagement. Pelanggan tidak lagi hanya menjadi loyal, namun memiliki ikatan emosional yang kuat. Sehingga customer tidak lagi membeli dengan pertimbangan rasional, namun produk atau merek dipersepsikan pelanggan sebagai sesuatu yang layak untuk dibeli berapapun harga yang ditawarkan.

  1. Style with Subtance
Perusahaan dan merek bukan hanya menyediakan branding yang bagus. Namun, mereka juga harus terus berimprovisasi dengan konten yang mereka miliki. Sehingga ketika pada akhirnya konsumen membeli produk, mereka akan  merasa puas dan menjadi loyal. 
Yang kemudian secara senang hati merekomendasikan produk tersebut kepada orang lain.

  1. Human to Human with Machine to Machine
Artinya, konektivitas perusahaan dengan pelanggan tidak hanya terbatas pada ketersediaan teknolgi. Tetapi yang terpenting, bagaimana perusahaan menghargai pelanggan mereka. Relasi yang terjalin bukan hanya menguntungkan perusahaan, namun pelanggan juga dapat memberi masukan, keluhan, dan membangun produk menjadi lebih baik.





1 comment on "Marketing 4.0 : Moving from Tranditional to Digital"
  1. Materinya lengkap. Bisa untuk sedikit panduan dalam pengenalan awal mengenai IMC untuk mendapatkan gambaran awal.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan komentar.
Komentar Anda termoderasi.
Salam

Auto Post Signature