Petak Umpet Minako : Sebuah Permainan Berdarah

9/9/17
Saya dan seorang teman perempuan sudah menyiapkan selembar kertas dan sebuah bolpoin. Pada kertas tersebut saya tuliskan ke 26 huruf abjad dan urutan angka 0 hinga 9. Setelah selesai, saya dan teman saya memegang bolpoin tersebut dengan tangan kami berdua.

Kami mulai mengucapkan " Datang tak di jemput, Pulang tak diantar", sebagai panggilan untuk sosok yang kasat mata. Berharap agar sosok tersebut dapat kami ajak berkomunikasi melalui bolpoin dan kertas yang kami siapkan. 

Semilir angin menggerakkan jilbab yang kami pakai. Lorong sempit yang kami pilih jauh dari keriuhan. Gelap dan sedikit berbau pesing karena berdekatan dengan kamar mandi. Bulu kuduk berdiri.

Entah memang benar sosok tersebut datang atau kawan saya yang memang usil, tiba-tiba bolpen tersebut mulai bergerak.

Teeeetttttttttttt......
Kemudian bel masuk tanda istirahat usai  berbunyi.

Gambar diambil daripostfilm.com
Sebuah kenangan masa sekolah dasar. Akibat kasak kusuk cerita mesteri dari obrolan anak sekolahan, kami berdua iseng-iseng memanggil Jalangkung. Memanggil untuk ditanyai dia siapa, kapan meninggal dan meninggal karena apa. 

Tidak ada kejadian ganjil setelahnya.

Tapi jika harus mengulang hal yang sama saat ini, saya pastikan TIDAK MAU. 

Terlebih jika kemudian kejadiannya seperti yang dialami oleh anak-anak ini dalam acara reuni SMA mereka.

Mereka membuat acara reuni menjadi lebih asyik dan menantang dengan mengadakan acara petak umpet di gedung bekas SMA mereka terdahulu, yang terinspirasi dari urban legend Jepang Hitori Kakurenbo atau Hide and Seek Alone.

Yang berbeda, petak umpet ini melibatkan sebuah boneka Jepang berambut panjang dan berbaju merah bernama Minako. Entah apa maksud dari Vindha,  inisiator acara petak umpet ini, sehingga ia meminta seluruh kawannya memberikan tetesan darah mereka pada tubuh boneka yang telah lebih dahulu dibelah dengan pisau, ditambahkan juga sejumput beras.

Terjadi kemudian, Minako mulai asyik memburu sekawanan anak-anak muda tersebut ke seluruh area sekolah. Satu-persatu dari mereka mulai tertangkap. Tidak beruntungnya, mereka yang tertangkap seolah akan diambil kesadarannya dan kemudian berubah menjadi zombie "penjaga" yang turut menjadi hunter, pembantu Minako memburu anak-anak muda lainnya yang masih hidup.

Motif bullying dan cinta segiempat berusaha dihadirkan. Persepsi awal para penonton yang menyangka Vindha adalah tokoh utama mulai bergeser sejak kehadiran lelaki bernama Baron yang tiba-tiba turut hadir di gedung SMA itu untuk mencari kekasihnya. 

Baron-pun menjadi tumpuan cerita yang secara heroik mampu mengalahkan Minako, boneka yang telah kerasukan "entah siapa" namun berhasil membunuh seluruh pemeran kecuali Baron dan Gabi, kekasihnya.

Karena bukan pecinta film horor, saya sering kali menutup mata selama film berdurasi 87 menit diputar. Musik yang mengagetkan, berhasil membawa efek merinding secara instan.


Sosok Minako sendiri, yang -menurut anak saya- yang diajak nonton film ini lebih mirip Badut Ancol, memang jauh dari kesan menakutkan. Kimono merah kontras dengan wajah putihnya. Alih-alih membuat merinding, saya jadi teringat Wayang Potehi.

Twist di tengah film yang menampilkan beberapa orang yang berubah menjadi antagonis akibat tekanan ketakutan dan kengerian, cukup membantu menghadirkan efek dramatisasi. Mereka yang berteman berubah saling bunuh-membunuh untuk menjadi satu-satunya yang selamat.

Membutuhkan waktu lama dan berputar-putar karena percobaan dengan air garam gagal, Minako akhirnya berhasil dikalahkan dengan cara dibakar, sesuai buku petunjuk yang ditinggalkan Vindha.
Apakah Petak Umpet Minako gagal  menghibur saya? 
Meski saya pastikan bukan film kesukaan saya, tapi cukuplah film besutan sutradara Billy Christian ini menjadi kenangan momen trial error mengajak kedua kalinya si kecil ke bioskop. Meski dia sibuk menutup mukanya dengan jaket selama menonton.


Bertemu salah dua pemeran Petak Umpet Minako di acara Meet & Greet di hartono Mall Solo, dan membawa official merchandise dari mereka membuat saya senang. Meski kemudian saya harus memasang poster Minako di ruang kerja saya sesuai permintaan si kecil. Oh......
11 comments on "Petak Umpet Minako : Sebuah Permainan Berdarah"
  1. Datang tak di jemput, Pulang tak diantar jamannya aku sekolah juga heboh banget mbak, pernah mencoba memanggil juga tp gak pernah ada kejadian apa2 hahahaha

    ReplyDelete
  2. Lila mbok ajak, Mak?
    Wah, masang psoter e, aku trimo ora Mak... hahaha

    ReplyDelete
  3. Itu Alia (bener kan namanya?) diajak dan ngga nangis ketakutan Mak? Ya Allah..

    Ini awalnya aku kira film Jepang lho.. Ternyata film kita ya? Hmmm.. Menarik nih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Namanya Lila mbak..hehe
      Iya..dia gak nangis. Mungkin krn udah pernah diajak beberapa kali liat bioskop

      Delete
  4. walahhh...wis ga mau kalo saya. entar kebayang-bayang trus ga bisa tidur.

    ReplyDelete
  5. Waktu kelas 1 SMP, aku hampir setiap hari datang paling pagi saat yang lain belum datang. Sekali waktu aku pernah iseng mau panggil jelangkung untuk kutanya-tanya. Di tengah kelas, masih sepi, udara bahkan masih sedikit berkabut, lalu pulpen di tanganku mulai bergeser. Aku... kabur keluar kelas wkwkwk.

    Pas baca ceritanya rasanya gak asing banget, ya. Twist-nya juga udah sering dipakai sepertinya. Tapi masih pengin nonton sih, penasaran sama "badut ancol"-nya. XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepertinya manggil jalangkung gini jadi tren yang terus turun temurun tak lekang oleh waktu ya...hahahah

      Delete
  6. badut ancol XD
    aku kurang penasaran sih sama film indo, apalagi yang horor2 gini. entah ngga minat liatnya kecuali kalo gratis sih okeee :3

    ReplyDelete
  7. meski di bilang karakternya mirip badut anchol, tp badut itu juga menakutkan kalo di liat dari sudut pandang yang berbeda

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan komentar.
Komentar Anda termoderasi.
Salam

Auto Post Signature