Mengapa Perempuan Membeli Tas Mahal Berharga Jutaan Rupiah?

13.10.17
Jika berbicara mengenai tas branded, berarti harus siap mendengar perang argumen antara #TimIrit dan #TimInvestasi. Perang opini tidak hanya berhenti masalah manajemen anggaran belanja keluarga tapi mulai menjurus hingga konsekuensi akhirat. 

"Barang siapa membeli barang tak berguna, mubazir namanya. Mubazir adalah kesukaan setan. Berarti membeli barang tak berguna temannya setan. Temannya setan berarti di neraka." 

Arrrgggggghh......

Belum lagi jika terjadi perang nyinyir. Mereka yang tidak suka membeli tas mewah dianggap tidak mampu. Kemudian muncul kesenjangan sosial. Hanya karena tas.

Arggggghhhh....lagi

Pict : clundelux.pt
Berbicara mengenai tas branded atau tas bermerek, kita pasti langsung ingat dengan tas berharga fantastis, puluhan, ratusan juta hingga milyaran. Seperti Chanel, Hermes, Fendi, Louis Vitton, dan sebagainya.

Namun, ada juga yang menganggap bahwa tas harga jutaan saja, jika mereknya telah dikenal luas secara Internasional, dan diakui brand image-nya (citra merek) maka bisa disebut tas branded. Seperti misalnya Coach, Fossil, Kate Spade, Michael Kors, Liebeskind dan lainya.

Memang tas branded identik dengan keluaran Eropa atau America. Lebih dikenal dengan sebutan designer bag. Branded Bag dianggap sebagai barang mewah. Jumlah yang terbatas, membuat tas- tas merek tersebut tidak mudah di dapatkan. Untuk di Indonesia sendiri, factory outlet hanya ada 1 atau 2 di mall-mall kota besar saja.

Sebenarnya merek lokal Indonesia juga banyak yang berharga jutaan. Webe, contohnya.

Pertanyaan yang umum ditanyakan, mengapa perempuan rela merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk sebuah tas. Baik belanja rasional ataupun belanja irrasional.

Dari banyaknya alasan, saya mencoba merangkum menjadi 2 alasan besar "Mengapa Perempuan Membeli Branded Bag Berharga Jutaan "

👜 1. Value atau nilai
People buy luxury goods for a variety of reasons, all of which are related to the strong emotions that we attach to expensive material goods. 
Luxury bag menanamkan persepsi bahwa tas tersebut adalah produk yang unggul (perceived value). Sehingga konsumen memiliki anggapan, bahwa jumlah cost (biaya) yang dikeluarkan akan setimpal dengan benefit (manfaat yang di dapatkan).

Tas branded umumnya terbuat dari material terbaik dengan harga yang tinggi. Pembuatannya pun memerlukan ongkos produksi yang tidak murah. Beberapa dibuat secara handmade. Ditambah biaya marketing (termasuk promosi dan distribusi) yang  mungkin 2 kali lipat biaya produksi. 

Branded Bag Lebih Awet

Beberapa merek yang pernah saya tahu seperti Michael Kors, Coach dan Fossil memang memiliki ketahanan yang bagus. Beberapa diantaranya terbuat dari kulit asli. Jika pun kulit sintesis, materialnya tahan terhadap berbagai abuse baik panas dan hujan. 

Jika disimpan cukup lama, meskipun muncul jamur, namun tidak membuat rusak permukaan kulitnya. Hal ini sedikit berbeda dengan high street brand seperti Guess, Hush Puppies, juga Zara yang lebih rentan terhadap perbedaan suhu, kelembapan dan gesekan.

Pict : Stylecaster
Beberapa merek lain juga memiliki model yang bagus. Tidak pasaran, tidak banyak yang akan menyamainya. Kecuali sudah muncul KW-nya. Tapi meski KW-nya telah merajalela, beberapa orang memiliki pengetahuan yang lumayan dalam membedakan barang authentic dan fake

Jadi branded bag asli tetap terlihat perbedaannya dari mulai desain, struktur dan konstruksi tas, tekstur resleting, packaging seperti box dan dustbag, pelapis dalam tas, nomor seri dan sertifikat keaslian, pelindung bagian dasar tas, tulisan "made in", serta tag.

Material dan sistem produksi yang bagus serta quality control yang ketat akhirnya membawa branded bag menjadi barang bernilai jual tinggi dengan nilai utilitas (penggunaan) yang tinggi pula. 


Tas relatif lebih awet. Coach Ranger yang saya punya, usianya sudah 3 tahun. Meski sering saya pakai, tetapi belum ada deffect sedikitpun. Masih mulus. Lucunya, ada teman saya yang niat mau membeli dengan harga yang sama ketika saya beli. Padahal sudah 3 tahun pemakaian. Alasannya, barangnya masih bagus dan produknya sudah tidak ditemukan bakan di outlet resminya.

Saya jadi tidak kaget dengan perilaku kolektor Hermes. Beli 500 juta, 2 tahun kemudian bisa laku 1, 5 milyar. Alamak..Nilai investasinya melebihi harga tanah. Apalagi yang limited edition. Sudah mahal banyak yang mau beli.

👜 2. Emotions

Tidak bisa dipungkiri, bahwa sebagian konsumen dari tas bermerek memiliki motif psikologis dalam melakukan pembelian (purchase decision).

Sebuah studi yang diterbitkan oleh Journal of Experimental Social Psychology, rendahnya harga diri/ rendah diri (low self-esteem) menjadi faktor mengapa orang membeli barang mewah, meskipun sebenarnya tidak mampu membeli. Membeli branded bag akan berdampak pada meningkatnya kepercayaan diri mereka

Pict : femalecharming.com
Di China contohnya, pria menggunakan barang mewah untuk memamerkan kesuksesan dan kekayaan mereka. Sehingga tidak heran, obsesi pada barang mewah membawa pada perilaku hedonistik.
Hedonis : Pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.
Entah finansial kita sehat atau tidak, banyak kecenderuangna orang membeli branded bag bertujuan untuk dipamerkan atau agar diterima orang lain. Fenomena social climber dan efek dari social media menjadi motivasi beberapa kaum untuk menunjukkan tingkat stratanya dengan menggunakan barang mewah. Sekaligus agar diterima masuk dalam golongan tertentu yang dianggap lebih tinggi dari golongan lain.

Branded Bag Sebagai Apresiasi

Beberapa rekan yang saya tanyai mengaku, membeli branded bag menjadi sebuah apresiasi atas jerih payah yang telah mereka keluarkan. Terlebih ketika mereka mencari uang sendiri. Selain itu, ada beberapa situasi misalnya saat pitching dengan klien, tas yang ditenteng membawa rasa percaya diri dan menunjukkan kemampuan finasial yang mapan. Memunculkan trust orang lain.

People judge you by your cover. That's the bitter truth. 

Buat saya pribadi, branded atau tidak suatu tas tidak menjadi masalah. Tas merek lokalpun banyak yang  berkualitas.  Tapi yang pasti, saya tidak suka barang KW. Lebih baik tanpa merek sekalian seperti tas rajut, tas batik yang dijual di Pasar Beringharjo, Jogjakarta. Daripada berkamuflase dengan tas ber "merek" mahal tapi penuh kepalsuan.


23 comments on "Mengapa Perempuan Membeli Tas Mahal Berharga Jutaan Rupiah?"
  1. Kalau saya beli sesuai kemampuan saja. Belum pernah beli yang branded.

    ReplyDelete
  2. Kalau saya yg penting tasnya fungsional dan awet. Dan yg awet pun sebenarnya tergantung siapa yang makai juga sih. Kalau pemakainya apikan, pinter merawat barangnya, yang murah pun bisa awet.

    Tapi emang ada harga ada rupa. Kualitas dan tahan lamanya tas branded emang lbh ok. Kalau misalkan ada uangnya, tasnya emang dipakai, ya gpp beli yg bagusan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang penting bahannya bagus sih mbak...beberapa merek terkenal banyak juga yang kulit sintetisnya kurang oke

      Delete
  3. saya termasuk bukan penggemar branded bag, Mbak..sayang duitnya. Mending untuk traveling...
    Tapi, apapun itu pilihan masing-masing sih..:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya jarang travelling, jadi pilih beli tas...hihihih

      Delete
  4. Tas harga mahal biasanya emang lebih tahan lama. Mungkin dikarenakan 2 faktor : bahan dan perawatan. Karena mahal jadi dirawat baik-baik :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul ini..karena keluar duitnya banyak, jadi dijagain bener2..itu tasnya syahrini pake di ACin..

      Delete
  5. Saya hanya penyuka tas ransel, karena lokasi ngajar yang jauh. Xixixixi.. Membeli sesuai kebutuhan saja..

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya juga suka ransel...gak bikin lengan pegel..sayang gak bisa dipakai kondangan

      Delete
  6. Sy ga berani jawab.. kadang bendahara RT kayak gitu jugabhahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah ini..bendaharanya banyak duit..eh..bendahara sih ya...

      Delete
  7. Ya ada harga ada rupa sih.
    Tapi kalau fungsinya sudah bisa didapat dari yg lebih murah walau ga branded, berarti selebihnya itu untuk bayar gengsi ya :)
    Setuju mending tanpa merek dari kw.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, gengsi yang bikin kantong bolong..

      Delete
  8. Saya termasuk yang tidak mudah tergiur saat lihat tas bagus, tapi mudah terpukau ketika lihat2 buku bagus. Memang semua tergantung selera masing2 ya. Saudara saya juga gemar beli tas atau make up mahal2. Dan saya justru sebaliknya...hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. banyak penyebab laper mata...ibu-ibu yang lain malah suka numpuk belanjaan dikulkas...masaknya jarang..hahaha

      Delete
  9. Wah tas untuk cewek yah. Bagus informasinya mbak. Salam kenal ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. tas untuk cowok yang jutaan juga banyak mas...salam kenal

      Delete
  10. Beli tas mahal cuma beli merek aja. Harga 5 juta sama dg kwalitas 500ribu.
    Lebih milih pas dikantong dan pas dipakai jg

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang penting gak merek bodong mas..merek bodong harga 5juta kualitas 100rb XD

      Delete
  11. Setuju mbak.Kw is a big no!mending ga ada merk tp ori

    ReplyDelete
  12. Rizki Prima RamadhaniOctober 22, 2017 at 7:41 PM

    Pada dasarnya perempuan memang suka hal-hal yang menarik, lucu atau imut apa lagi dengan barang-barang bermerk mereka bernggapan bahwa dengan ia memakai barang branded maka statusnya akan naik, walaupun tidak semua wanita begitu ada juga yg lebih meimilih barang biasa dikarenakan kebutuhan bukan hanya sekedar gaya (status).

    Tulisannya membantu para cowok mengerti dari sudut pandang cewek yang lain :D

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan komentar.
Komentar Anda termoderasi.
Salam

Auto Post Signature