Workshop Storytelling dan Transformasi Konflik, Berani Hargai Perbedaan!

11/4/17
CERITA (Community Empowerment in Raising Inclusivity and Trust through Technology ) yang digagas oleh Habibie Center, adalah sebuah workshop yang menyinergikan kemampuan storytelling dan transformasi konflik untuk membangun inklusivitas. Inklusivitas adalah sudut pandang positif terhadap berbagai keberagaman dan perbedaan. Belajar menggunakan sudut pandang orang lain dalam melihat dan menganalisis permasalahan.



Workshop ini mengajak para anak muda dari berbagai latar belakang untuk saling berdiskusi dan bercerita mengenai kerukunan dan keberagaman yang mereka miliki

Saya sebagai Duta Cerita Solo dibantu Mas Andy Hermawan, Duta Cerita Jogja berkesempatan untuk bertemu beberapa kawan baru. Selama 8 jam, kami berdua berbagi bagaimana berlatih menjadi storyteller yang baik.


Mengapa Storytelling?

Storytelling pada dasarnya adalah sebuah bentuk penyampaian pesan. Pesan dalam konteks ini adalah suatu cerita, kisah mengenai suatu hal yang menarik. Seorang storyteller tidak hanya dituntut memiliki kemampuan public speaking yang baik. Namun, juga kreatif dalam membangun cerita, sehingga makna, pesan atau amanah dari cerita yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh pendengar.

Bersama Mas Andy memberi materi teknik bercerita yang baik
Saat ini, kami menyadari atau mungkin kita, bahwa kemajuan teknologi membawa sebuah dampak yang tidak selalu positif. Akses informasi yang begitu mudah melalui internet, ternyata tidak selalu menyediakan informasi yang benar. Hasilnya, berbagai berita bohong dapat tersebar dengan luas.

Parahnya, informasi hoax ternyata mampu memecah belah persatuan. Keenganan orang untuk menyaring dan mencari kebenaran atau dalam istilah agama islam juga disebut "tabayyun", menyebabkan orang mudah dihasut bahkan adu domba.
When people are overloaded with new information, they tend to rely on less-than-ideal coping mechanisms to distinguish good from bad, and end up privileging popularity over quality, the study suggests. It’s this lethal combination of data saturation and short, stretched attention spans that can enable fake news to spread so effectively. (Qiu, Xiaoyan.,et al. 2017. Limited Individual Attention and Online Virality of Low Quality Information. Nature Human Behavior Journal)
Dengan workshop CERITA ini, kami berusaha mengajak sebanyak mungkin anak muda atau mereka yang peduli untuk menyadari bahwa perbedaan yang ada di Indonesia saat ini, baik itu agama, budaya, ras, suku, golongan bahkan bentuk fisik adalah sebuah keniscayaan yang memang sudah digariskan yang Di Atas. Oleh karena itu, dengan menyadari keberagaman Indonesia kita tidak akan lupa untuk saling bertoleransi, hidup rukun agar tercipta kehidupan berbangsa yang aman, selaras dan sejahtera.
Unity in Diversity
Mendengar Cerita 

Di luar kewajiban sebagai trainer, workshop ini justru memberikan feed back bagi diri saya sendiri. Saya belajar untuk mendengarkan. Mendengarkan cerita dengan berbagai latar belakang. Ada yang sedih, ada yang lucu, namun semua menginspirasi. 

Para peserta saling berdiskusi dengan berbagai topik menarik
Dari cerita kawan-kawan,saya memahami bahwa setiap orang memiliki konfliknya masing-masing. Namun, untuk dapat melangkah maju selain berpegang teguh pada prinsip masing-masing, kita harus terus menjaga harmoni dengan lingkungan kita berada baik alam, makhluk hidup lainnya maupun sesama manusia.


Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan komentar.
Komentar Anda termoderasi.
Salam

Auto Post Signature