Agrowisata Sondokoro : Tamasya Nggak Pake Mahal

Boleh dibilang, saya adalah orang yang jarang jalan-jalan. Alasannya lebih karena tidak ada yang menemani. Pastilah, saya tidak mau travelling sendiri.Tadi tiba-tiba saja, lelaki terdekat saya mengajak untuk menikmati sebuah tempat wisata, yang berjarak cukup dekat dari Kota Solo.
Argo Wisata Sondokoro, sebuah objek wisata yang berada di komplek Pabrik Gula Tasikmadu.

Tepat pukul 06.30di hari Sabtu, dengan naik motor saya berangkat menuju Sondokoro. Dihari sebelumnya, saya sempat mengecek google.map untuk memastikan denah, jarak dan alokasi waktu menuju tempat tujuan. Dan tepat seperti perkiraan, berangkat dari Balai Kota Solo, kami membutuhkan waktu 40 menit untuk menempuh jarak 15 km, sudah termasuk kami rehat 10 menit untuk mengisi bensin dan ke kamar mandi.

Setelah menyusuri Jalan Raya -Palur, Jalan Solo-Tawangmangu, dan berbelok ke Jalan Papahan, tepat di pukul 07.40 kami sampai di tujuan. Disambut bapak satpam di area parkir kami diberi tahu bahwa Argo Wisata Sondokoro baru dibuka pukul 08.00.

"Kepagian nih", begitu batin saya. Tapi kemudian kami bersyukur, karena suasana kepagian di Sondokoro memberi kesempatan untuk kami rehat sejenak tepat di bawah pohon di depat loket masuk.
Sambil mengambil beberapa jepretan foto melalu blackberry, saya mengamati beberapa orang yang sibuk membersihkan arena Sondokoro. Loket masuk bertuliskan tiket masuk 5000 per orangpun masih kosong tanpa petugas.








Dirasa masih memiliki banyak waktu kami memutuskan mencari warung untuk sarapan. Satpam menunjukkan sebuah warung kantin pegawai kepada kami yang berajarak 100m dari loket masuk.

Sambil melihat beberapa aktivitas pabrik gula dai luar, sampailah kami di kantin pegawai yang ternyata menyanjikan menu yang cukup lengkap. 2 porsi soto, 2 teh hangat, sayap ayam goreng, serabi, dan 7buah tempe goreng untuk kami bungkus hanya menghabiskan 18.500.

Perut yang cukup kenyang, membuat kami kembali bersemangat untuk kembali menunggu loket buka. Karena tidak kunjung buka, walau jam masih menunjukkan pukul 08.00, kami langsung masuk ke dalam tanpa membeli tiket. Eits... jangan salah, bapak satpam yang menunjukkan letak kantin kepada kami, justru yang menyuruh kami untuk langsung masuk. Betapa beruntungnya...berarti kami sudah berhemat 10.000 rupiah.


Sondokor pagi itu laksana milik kami berdua. Sepi, teduh dan begitu nyaman. Sepertinya baru kami berdua pengunjung hari itu.Sejujurnya, awalnya kami sedikit canggung, karena banyak orang yang sibuk berbenah dan membersihkan area Sondokoro.Tapi mungkin ini bagian dari keberuntungan kami.
Kami coba susuri satu demi satu sudut Sondokoro...







Waktu masih jauh dari tengah hari. Kami masih menunggu dibukanya sebuah wahana Waterboom dan kolam renang, yang menurut penunggu loket baru dibuka pukul 09.00.
Kambali kami berkeliling menyusuri Taman Air Sondokoro. 
 








 Ini adalah favorit saya. Saya memandangnya sebagai taman impian, dengan kandang-kandang hewan di beberapa sudut. Kolam dengan air mancur, yang tampak melengkapi taman ini. Terduduk sembari bercerita di taman air ini tidak lupa sambil mencomot gorengan tempe yang kami beli di kantin tadi.


Pukul 09.00, dengan tiket 7000 per orang kami memasuki waterboom. Kembali kami ragu. Selain terik matahari yang panas, lagi-lagi kami dikejutkan dengan area yang kosong tanpa pengunjung. Sepi.







Ada 5 kolam renang yang dibagi berdasarkan kedalaman. Pastilah saya memilih yang paling dalam sekitar 160m, selain supaya bisa berenang dengan lebih menantang, dibagian inilah terdapat perosotan yang sayang untuk dilewatkan.
Sumpah, laksana kolam renang pribadi. Kami bebas melompat,berlari sesukanya. Walau dalam hati sembari berdoa, supaya datang pengunjung lain. Dan doa kami terkabul.

Hampir 3 jam, tubuh ini basah dengan air. Menyenangkan. Terlebih kamar mandi bilas yang cukup bersih dan sangat banyak jumlahnya, tidak berimbang dengan jumlah pengunjung kala itu, membuat aktivitas berenang hari ini ditutup dengan indah (saya sering ilfil dengan kamar mandi umum yang kebanyakan kotor).
Jam 12.00, sebenarnya belum ingin pulang. Hanya, mata mulai mengantuk dan lapar. Tapi godaan sebuah "sepur" membuat kami beranjak ke loket sepoor gula. Uang 6000 perorang mengantarkan kami dengan duduk manis berkereta mengelilingi Sondokoro.







Tempat ini begitu menyenangkan. Lokasi yang tidak jauh dari Kota Solo (15km), area yang begitu luas lengkap dengan berbagai wahana, teduh dengan tanaman yang terawat, lingkungan yang bersih dan tersedia banyak tong sampah, biaya masuk dan biaya tambahan wahana yang terjangkau, untuk di waterboom area terawat dengan baik, kamar mandi dan kamar bilas yang cukup banyak, harga makanan yang dijual sangat terjangkau,adanya kereta yang siap mengantarkan kita berkeliling.

Total biaya yang kami keluarkan (2 orang):

Bensin             10.000
Makan            18.500
Tiket masuk     (gratis)
Waterboom      14.000
Sepoor Gula    12.000
Parkir               2000

Total                 Rp 56.500,-

Sungguh...saya ingin kembali lagi...

17 Jaya!

Seperti, tahun-tahun yang lalu. Ketika menghirup udara pagi di tanggal 17 Agustus, terasa kembali sesak di dada. Menyeruak kerinduan yang sangat. Tanpa seolah menjadi pengikut akan euforia 17an dengan sok-sok berlagak Nasionalis. Namun kenangan akan saat itu seolah terputar kembali, membuka album-album kisah dengan berbagai cerita di dalamnya.

Saat itu jumlah kami ber17. Seperti halnya suatu himpunan, kami banyak menghabiskan waktu bersama. Dipertemukan oleh motivasi yang berbeda, toh, pada akhirnya kami diikat oleh suatu konstitusi dan tidak bisa bercerai.

Mengibarkan bendera, terlihat seperti tugas mudah.Namun dari tugas inilah kami memulai mengenal banyak hal, yang belum kami ketahui sebelumnya. Ibarat langkah tegap, kami tidak boleh langsung berjalan, namun harus mempersiapkan diri terlebih dahulu, mempersiapkan barisan, jalan di tempat dan ketika aba-aba "Grak" telah diperintahkan, mulailah langkah kami.
Dalam hidup ini, boleh saja kita ingin jadi ini itu, jadi besar dan luar biasa, tetapi, tidak ada yang langsung instan. Selalu ada proses belajar, jatuh bangun untuk lebih tegak dan tegar menjalani jalan yang kita pilih.

Pelepasan Dek - Penyerahan jabatan Pasukan 17 SMA N 3 Surakarta
1 tahun kami menjabat, kala itu. Kadang terasa berat, kadang merasa senang, sering tersenyum bangga. Lapangan upacara menjadi performance stage. Sampainya sang merah putih di tiang tertinggi, tidak menjadi sekedar seremonial. Rasa hikmat terletak pada hati kami masing-masing. Kalau itu hanyalah sesuatu yang semu, nyatanya, sampai saat ini kami masih merasakan, masih saya rasakan.
Siapa kami saat itu, penting untuk saat itu, dan kenangan untuk saat ini. Semua memang bisa terlepas, terhempas, hilang beriringan dengan waktu, namun tidak untuk dilupakan, bukan?

Partini & Partinah di Taman Balekambang

Taman Balekambang adalah salah satu sudut Kota Solo yang menjadi kesukaan saya. Pertama kali berkunjung di tempat ini, suasana masih begitu sepi. Balekambang, yang sebelumnya pernah dalam fase kurang terpelihara, akhirnya dapat dipugar oleh Pemkot sehingga lebih "segar".
Hanya membayar ongkos parkir 2000 rupiah, kita tidak dikenakan biaya masuk.

Kita bisa menikmati rimbun pepohonan, beberapa hewan berlarian, kemricik suara air di kolam yang membawa keteduhan hati.Beberapa stand tersedia menjajakan makanan ringan dengan harga yang terjangkau. Ada juga wahana permainan air dan darat yang disewakan untuk pengunjung. Jadi tidak heran, bila banyak orang tanpa sungkan  tiduran di atas rerumputan ibarat sedang tamasya.

Salah satu objek yang menarik perhatian, kala masuk ke Balekambang adalah berdirinya 2 buah patung perempuan, Partini Husein Djayaningrat dan Partinah Sukanta, putri Mangkunegaran VII.
Seperti yang tertera pada papan informasi di pintu masuk, Balekambang ini dibangun untuk kedua putri tersebut. Itu mengapa, terdapat 2 bagian di Balekambang, Partini Tuin dan Partinah Bosch. Partini Tuin atau Taman Air Partini terdapat kolam resapan yang luas dan juga berfungsi untuk penampungan air. 

Gambar di ambil dari www.google.com   www.jejakbocahilang.wordpress.com
 Sedangkan Partinah Bosch atau Hutan Partinah merupakan area yang dipenuhi dengan berbagai tanaman dan pohon-pohon langka, seperti kenari, beringin putih dan lain sebagainya. 

Gambar di ambil dari www.google.com hadipramono.blogspot.com



MOHON MAAF LAHIR BATIN


Auto Post Signature