6 Hal yang akan Membuat Audiens Membenci Presentasimu

 

CARA MENARIK PERHATIAN AUDIENS KETIKA PUBLIC SPEAKING

"Apakah penampilan saya terlalu buruk?" 

"Apakah materi terasa membosankan?"

"Apakah saya orang yang menyebalkan?"


Pernahkah kamu merasa tidak dihargai audiens, saat presentasi di kantor atau di kampus?  Selain bikin tidak semangat, hal ini juga membuat penampilan jadi asal-asalan. Dan akhirnya menurunkan percaya diri dipenampilan selanjutnya. "Toh, juga gak diperhatikan. Kenapa harus tampil dengan oke?"


Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah ini berarti audiens membenci presentasi kita?

 Yuk, kita coba cari tahu apa kemungkinan penyebabnya.


1. Jarang berinteraksi dengan teman-temanmu. 

Sehingga tidak terjalin kedekatan emosional. Atau parahnya, kamu adalah pribadi yang menyebalkan. Kasarnya begini, selama ini kawan atau kolegamu mungkin menganggapmu tidak penting, maka ketika kamu tampil di depan, kehadiranmu dianggap tidak cukup penting juga. 


Butuh usaha lebih keras untuk mengubah impresi audiens. Tapi tetap bisa dilakukan, yang paling mudah adalah dengan menggunakan pakaian yang berbeda dengan kebiasaan. Minimal, secara visual kamu bisa mencuri perhatian.


2. Penampilan presentasimu membosankan.

Presentasi dalam format acara edukasi atau bisnis bisa menjadi rutinitas. Karena dianggap biasa, maka tidak perlu tampil istimewa.  Beberapa orang mungkin tidak tertarik untuk meningkatkan communication skillnya. Maka, dengan penampilan volume suara yang terlalu lirih, bicara monoton, sampai postur tubuh yang terlihat kaku atau kikuk, akhirnya menjadi kebiasaan yang meninggalkan kesan membosankan bagi para audiens.


Baca Juga : Belajar Presentasi dari Seo Dal Mi di Drama Korea Start Up


3. Tidak fokus pada audiens yang hadir.

Postur adalah salah satu bahasa tubuh yang harus kita jaga. Agar telihat percaya diri, seseorang harus berdiri tegak, menjaga ekspresi wajah tersenyum semangat, serta menggunakan gestur pendukung agar terdengar meyakinkan.


Tapi tidak semua orang menganggap hal ini penting. Lihat saja yang sering terjadi. Selama public speaking, tubuhmu lebih condong membelakangi audiens karena sibuk membaca slide presentasi. Atau fokus pada materi print out yang kamu pegang. Selain terlihat monoton, kamu juga tidak menjaga eye contact dengan audiens.


Sebagai presenter kamu tidak menganggap audiens ada, maka audiens juga tidak menganggapmu hadir untuk mereka.


4. Materi yang disampaikan tidak menarik.

Presentasi memasukan kekuatan vokal, visual dan verbal. Meski verbal adalah elemen terkecil yang meninggalkan kesan, bukan berarti lalu dianggap remeh dan dilupakan. Bisa saja materi yang disampaikan bertele- tele,  terlalu lawas, tidak ada WOW Moment, atau memang tidak relate dengan audiens. Sehingga, audiens merasa tidak memiliki ketertarikan dan kepentingan untuk mendengar lebih jauh.


5. Menampilkan slide dokumen dan bukan slide presentasi.

Pernah melihat dosen memaparkan materi kuliah berupa slide yang panjang lebar dan full of text? Ini bukanlah slide presentasi, melainkan slide dokumen.


Slide dokumen bertujuan memaparkan hal penting secara menyeluruh. Sedang slide presentasi fokus pada poin- poin penting saja.


Slide dokumen sering kali minim estitika. Bukan hanya penuh teks berukuran kecil tapi juga tidak ada gambar pendukung.


Bagi audiens, slide dokumen membuat mereka harus membaca materi, sehingga apa yang disampaikan presenter tidak lagi penting 


Baca Juga : Rumus Berbicara Efektif


6. Tidak ada interaksi

Presentasi adalah aktivitas komunikasi. Maka, penting untuk melibatkan audiens dalam kegiatan tersebut agar komunikasi yang berlangsung bersifat 2 arah. Beri kesempatan audiens untuk berpendapat, bertanya, atau memberi tanggapan, tidak melulu menunggu sesi tanya jawab berlangsung.


Selain 6 hal di atas, adakah hal lain yang membuat audiens malas mendengarkanmu saat presentasi?



See you on the next blogpost.








Thank you, 



Ikut Pelatihan Public Speaking Langsung Jago?

 PELATIHAN PUBLIC SPEAKING ONLINE



Saya tidak berani memberi jaminan yang bombastis ketika memutuskan membangun SPEAKING.id di tahun 2018.

"Kursus di sini  dijamin bisa!" 

"Diajari sampai berhasil!" 

"Belajar di sini pasti sukses berbicara!" 


Tidak, pelatihan ini nggak akan menghilangkan grogimu dan membuatmu jago presentasi dalam 3 kali pertemuan. Tidak ada sulap semacam itu. Kami memfasilitasi belajar. Bukan bengkel ketok magic. Bukan pula MLM yang menjual mimpi-mimpi manis.


Yang saya yakini, bahwa proses belajar tidak berhenti di sesi pelatihan/kursus saja. Sebagai pengajar, tentu saja saya berusaha memberi 110% yang saya mampu. Tapi hasilnya, bisa 110%, 200%, 50% atau 0% tergantung bagaimana peserta pelatihan mengembangkan teori dan teknik yang diajarkan, SETELAH pelatihan berakhir.


Sama seperti kuliah. Tidak semua mahasiswa berkarir sesuai program studi yang diambil dan dipelajarinya bertahun- tahun. Begitu pula dengan mengikuti #kursuspublicspeaking 


Keputusan ada di tangan pembelajar.

Selama masih ada alasan "Saya takut nggak dihargai audiens" 

"Saya malu kalau improvasisasi diketawain " "Nanti kalau banyak gaya, saya kelihatan aneh" dan ratusan "ngeles" lainnya untuk berani mencoba hal baru, maka inilah yang akan menjadi hambatan untuk berkembang.


Secukupnya saja ikut pelatihan. Cari tahu teknik seperti apa yang baik dan benar. Dan selanjutnya dipraktikkan. Berproses. Butuh waktu.


Saya mendedikasikan episode pertama Season 3 The Late Brunch with Sara Neyhriza Podcast untuk siapapun yang ingin belajar melalui lembaga pelatihan. Intinya, meskipun kita mengeluarkan uang, namun hasil ditentukan dari seberapa besar kita mengusahakan.


 

Terbentur, terbentur, terbentur, TERBENTUK - Tan Malaka


See you on the next blogpost.








Thank you, 


5 Perbedaan Sepatu Lari dan Sepatu Jalan

 

Perbedaan Sepatu Lari dan Sepatu Jalan


Dua tahun terakhir, saya mulai menyukai aktivitas lari. Tidak perlu waktu lama untuk menyegarkan tubuh di pagi hari, cukup lari 30-45 menit. Karena sudah jadi hobi, untuk lari pagi saya tidak sembarangan dalam memilih sepatu. Ada banyak jenis sepatu yang dijual di pasaran, beberapa di antaranya seperti sepatu lari, sepatu jalan, sepatu sepatu boots, sepatu sneakers dan lain sebagainya. Selain sebagai alas kaki, fungsi sepatu telah melebar menjadi berbagai fungsi, seperti mempercantik penampilan hingga untuk keperluan olahraga.

 

Salah satu masalah terbesar dalam memilih sepatu adalah dengan menganggap bahwa semua jenis sepatu memiliki fungsi yang sama. Padahal satu jenis sepatu memiliki fungsi yang berbeda dengan lainnya.

 

Beberapa sepatu yang sering dianggap sama adalah sepatu lari dan sepatu jalan. Kedua jenis sepatu ini seringkali disalahgunakan oleh banyak orang, sebagai contoh sepatu lari untuk jalan-jalan dan sepatu jalan untuk keperluan olahraga.

 

Supaya tidak salah memilih, tulisan ini akan membahas 5 perbedaan antara sepatu lari dengan sepatu jalan. Yuk, simak ulasan berikut ini.



1. Bantalan Sepatu

Perbedaan pertama antara sepatu lari dan sepatu jalan adalah dengan melihat bantalan sepatu atau cushioning yang ada di dalamnya. Sepatu lari biasanya memiliki bantalan yang cukup banyak seperti di tumit dan di kaki depan, ini bertujuan agar mengurangi resiko benturan di persendian ketika sedang berlari.

 

Hal ini berbeda dengan sepatu jalan. Jenis sepatu ini pada umumnya tidak memiliki bantalan yang banyak seperti sepatu lari. Sepatu jalan memiliki bantalan tumit yang sedikit, sehingga kamu dapat berjalan dengan cepat.


2. Ketinggian Tumit (heel)

Heel sepatu lari ternyata berbeda dengan sepatu jalan. Sepatu lari pada umumnya memiliki tumit yang tinggi melebihi ujung kaki. Hal ini bertujuan supaya saat berlari tidak mengalami pronasi secara berlebihan.

 

Di samping itu, tumit atau heel tinggi pada sepatu lari juga bertujuan untuk mendukung tubrukan saat kaki menyentuh tanah sehingga lebih stabil. Adapun sepatu jalan biasanya memiliki tumit atau heel yang rendah. Sepatu ini tidak memerlukan tumit yang tinggi karena tidak ditujukan untuk berlari supaya lebih stabil.


3. Fleksibilitas

Sepatu lari dan sepatu jalan pada umumnya harus memiliki fleksibilitas yang baik. Namun, perbedaan fleksibilitas kedua jenis sepatu ini terlihat bahwa sepatu lari cenderung fleksibel atau lentur di bagian tengah dan kadang ditambahkan di bagian depan. Hal ini bertujuan supaya dapat mengayunkan bola kaki saat berlari dengan mudah.

 

Sayangnya, sepatu lari memiliki bagian yang tidak fleksibel dan tidak bisa untuk digunakan sebagai sepatu jalan. Hal ini disebabkan karena sepatu ini sudah didesain khusus agar membuat kaki stabil saat berlari, khususnya untuk membuat kaki tidak banyak berputar saat melangkah.

 

Adapun sepatu jalan pada umumnya hanya memiliki fleksibilitas di depan kaki. Ini dikarenakan sepatu jalan hanya membutuhkan bagian jari-jari kaki supaya dapat berjalan dengan baik.


4. Ketersediaan Flared Heel

Ketersediaan flared heel atau “tumit yang melebar” adalah satu perbedaan antara sepatu lari dengan sepatu jalan selanjutnya.

 

Sepatu lari akan selalu memiliki heel flare yang dapat digunakan sebagai penstabil ekstra untuk bagian kaki tengah dan depan saat pelari menginjak tanah. Adapun sepatu jalan biasanya tidak memiliki flared heel karena dianggap tidak diperlukan.


5. Berat Sepatu

Hal terakhir yang membedakan sepatu lari dan sepatu biasa adalah beratnya. Sepatu lari biasanya didesain khusus supaya dapat berlari dengan lebih mudah. Tak heran bila sepatu lari lebih ringan dibandingkan dengan sepatu jalan.

 

Pada umumnya sepatu jalan memang lebih berat daripada sepatu lari. Namun, hal ini akan berbeda bila ada sepatu jalan yang memiliki bantalan dan bobot ringan, sehingga menghasilkan sebuah sepatu jalan yang tetap nyaman saat digunakan. 



Catatan

Setelah mengetahui berbagai perbedaan antara sepatu lari dengan sepatu jalan, salah satu hal yang harus diketahui adalah dengan mengetahui tips dalam membeli sepatu.

 

Untuk mendapatkan rekomendasi sepatu lari atau sepatu jalan, hal yang harus dilakukan adalah dengan cara memilih sepatu sesuai dengan kebutuhan dan beli sepatu di siang hari karena ukuran kaki pada waktu siang biasanya menjadi lebih besar.

 

Di samping itu, ketahui ukuran sepatu yang sesuai dengan kakimu, dan tak kalah penting adalah dengan mencoba sepatu tersebut apakah nyaman atau tidak ketika berjalan dengan sepatu tersebut atau tidak.

 

Itulah kelima perbedaan antara sepatu lari dengan sepatu jalan, jangan lupa untuk mengetahui perbedaan kedua jenis sepatu tersebut agar kamu bisa memakainya sesuai kebutuhan.



See you on the next blogpost.








Thank you, 


Belajar Teknik Presentasi dari Seo Dal Mi di Drama Korea Start Up

 


Penampilan Seo Dal Mi dengan kaos merah bertuliskan CEO di atas panggung Sand Box, berhasil membuat penonton deg-degan. Hal ini sama dirasakan oleh rekan se-timnya dari Sam San Tech yang ragu akan kemampuan Dal Mi karena ia "hanya" lulusan SMA. Audiens juga dibuat penasaran, mampukan Dal Mi berbicara efektif dan memukau juri pada sesi presentasi tersebut.


Episode 5 drama korea Start Up yang dibintangi oleh Suzy, Nam Joo Hyuk, Kim Seon Ho, and Kang Han Na  membuat kita belajar banyak hal. Bukan hanya tentang semangat meraih cita- cita, problem solving, collaboration, bisnis, tetapi juga keterampilan berbicara di depan umum.


Diceritakan, Seo Dal Mi (Suzy), Nam Do San (Nam JooHyuk) dan dua orang rekannya Lee Chul San Kim Yong San mendaftarkan diri ke sebuah ajang Hackathon atau inkubasi perusahaan bernama ‘Sand Box’. Sand Box ini ibarat Silicon Valley-nya Korea. Setelah sepakat menjadi sebuah tim, mereka ditantang untuk membuat sebuah program berbasis Artificial Intelligence selama 3 hari. Dalam mencapai tujuan tersebut, perlu adanya suatu model yang dibentuk menggunakan Machine Learning. 


Seo Dal Mi dan tim memutuskan untuk membuat pemodelan untuk mendeteksi tulisan palsu dan asli dengan menggunakan data tulisan tangan dari bank Jeonghan. Setelah 3 hari berlalu, CEO kemudian diminta untuk mempresentasikan hasil kerjanya di depan juri, yang pada akhirnya memilih 5 perusahaan rintisan untuk masuk ke dalam Sand Box.


Dari sesi presentasi Seo Dal Mi di momen tersebut, ada banyak hal yang bisa kita pelajari kaitannya dengan teknik presentasi. Apa sajakah itu?


1. Persiapan adalah Koentji

Tidak melakukan persiapan, berarti sedang mempersiapkan kegagalan. Begitu pula dengan Seo Dal Mi yang membuat naskah sebelum ia tampil, serta mempelajari materinya dengan baik. Persiapan ini tentu saja disempurnakan dengan campur tangan Han Ji Pyeong yang mengoreksi naskah miliknya.



2. Self- control yang baik


Grogi sebelum public speaking adalah hal yang wajar. Terlebih jika kita berada di atas panggung dengan banyak penonton dan tekanan karena dinilai oleh juri.


Begitu pula yang terjadi pada Dal Mi. Berdiam sejenak di atas panggung sebelum berbicara bukan hal yang haram. Justru ini baik dilakukan sebagai bentuk pengendalian diri. Daripada bicara belibet dan ragu-ragu, kita bisa diam sejenak, mengamati audiens yang hadir sembari mengumpulkan keyakinan untuk tampil lebih percaya diri.


Self-control yang baik juga dilakukan Seo Dal Mi dengan menjaga ekspresi wajah yang bersemangat dan suara yang lantang serta meyakinkan.


Baca Juga : Rumus Bicara Efektif


3. Melakukan interaksi dengan audiens

Tidak seperti kebanyakan presenter yang terburu- buru masuk ke isi, Seo Dal Mi menggunakan pertanyaan sebagai bridging untuk berinteraksi dengan audiens.

Sebelum mulai aku ingin bertanya. Apa kembar identik memiliki jenis tulisan yang sama persis?


Memberi pertanyaan ini menjadi bagian yang menarik dari sesi presentasinya, karena audiens diajak terlibat. Komunikasi yang terjalin menjadi  dua arah.



4. WOW Moment bikin menarik

WOW Moment adalah suatu hal yang mampu mencuri perhatian. Bentuknya bisa berupa cerita menyentuh, fakta atau data penting, video yang memukau, interaksi yang menyenangkan, suara yang dinamis, dan lain- lain.


Membuka presentasinya Seo Dal Mi menyajikan sebuah data yang menarik, sehingga audienspun terus menyimak pemaparannya lebih jauh.

Hasil eksperimen dari peneliti di Amerika mengatakan, bahwa kembar identik sekalipun memiliki jenis tulisan yang berbeda. Dengan ini tulisan tangan bisa disebut juga dengan sidik jari dari otak yang memiliki keunikan masing- masing.



5. Hand Movement untuk memperkuat makna



Hand movement adalah salah satu pesan non verbal yang bisa digunakan untuk memperkuat makna verbal. Sembari menjelaskan, Seo Dal Mi sering menggerakkan tangan (gestur) mengikuti kata- kata yang ia sampaikan, juga menunjuk ke slide presentasi untuk menekankan poin- poin tertentu.



6. Menguasai panggung

Meski presentasi yang dilakukan berada dalam konteks formal, namun seorang presenter tidak harus menunjukkan postur yang kaku dengan berdiri tegak dan diam sepanjang acara. 

Dal Mi terlihat luwes dan menguasai panggung karena tidak segan untuk berjalan ketika menjelaskan materi. Hal ini juga terlihat tidak monoton bagi audiens, karena pandangan mata penonton diajak bergerak seiring dengan posisi tubuh Dal Mi berada.



7. Slide Presentasi Dinamis



Sering melihat slide presentasi penuh teks? Ups! Pasti sangat membosankan. 


Hal ini tidak terjadi dengan slide presentasi Seo Dal Mi yang didesain oleh Jeong Sa Ha yang menjadi desainer di tim Sam San Tech. Slide presentasi miliknya hanya fokus pada poin- poin penting, menyederhanakan teks ke dalam gambar serta didukung transisi slide yang dinamis.


Dengan slide presentasi yang powerful, presenter juga lebih bebas berimprovisasi. Lagi- lagi presentasinya nggak kaku, nggak kaya dosen ngajar di kelas, kan? hehehe



8. Impactful Closing



Presentasi nggak perlu bertele- tele. Seo Dal Mi juga hanya diberi waktu 3 menit untuk presentasi. Dengan waktu yang singkat, ia mampu melakukan presentasi dengan pembukaan yang kuat, isi yang jelas, serta punch line yang meninggalkan kesan.


Punch line di sini adalah bagian akhir presentasi yang bertujuan membangkitkan keinginan audiens untuk melakukan sesuatu. Maka kalimat penutup harus kuat dan mampu menyampaikan emosi.

Aku merasa sangat senang karena bisa bersama Sam San Tech memulai perjalanan ini. Aku harap Sand Box bisa menjadi awal dari perjalanan ini 


Terlepas dari proses shooting dan editing, namun penampilan Seo Dal Mi bisa dibilang mengesankan dalam sesi presentasi ini. Perpaduan dari teknik dan tools yang sempurna.

TAPI...


Meski demikian, ada sedikit catatan berkaitan dengan pakaian yang ia kenakan. Alangkah baiknya, Seo Dal Mi tidak menggunakan luaran berupa jaket tersebut. Pakaian menjadi salah satu eleman visual yang mampu menarik perhatian dan kepercayaan audiens di momen awal public speaking. 

Jaket terlihat sederhana dan kurang profesional. Maka, untuk pakaian, apresiasi saya berikan pada penampilan Won In Jae, yang lebih memilih menggunakan blazer bernuansa formal, simple dan terlihat profesional. 

Tenang.

Style Seo Dal Mi sudah sempurna saat presentasi di episode ke 11 :)


Baca Juga : Persiapan Public Speaking


*Semua gambar di tulisan ini diambil dari screenshot youtube TVN.

See you on the next blogpost.








Thank you, 


Auto Post Signature