Reportase Ulang Tahun Kota Solo



Solo-ku menua. Usianya 267 tepat pada tanggal 17 Febuari 2012.
Sebagai peringatan hari jadinya, Sabtu 18 Febuari 2012 diadakan Solo Wayang Karnaval sekitar pukul 16.00 hingga 17.30 WIB, yang pasti keseluruhan pesertanya menggunakan kostum wayang.

Wali Kota tercinta, Bapak Jokowi memimpin rombongan peserta karnaval yang mencapai 1500 orang melalui rute Lapangan Kota Barat hingga Balai Kota.

Saya??Tentu saja saja saya ikut. Ikut melaporkan jalannya acara,maksudnya...:)Kebetulan mendapat tugas reportase, sehingga saya bisa menikmati dari awal hingga akhir karnaval.
Diatas OB Van saya stand-by tepat di samping panggung kehormatan, dimana "orang-orang penting duduk". Saya pastikan seluruh masyarakat Solo di depan Plaza Sriwedari bisa melihat saya.Dan saya pastikan dapat leluasa jeprat-jepret beberapa gambar tanpa gangguan.

Selamat Ulang Tahun Kutha Sala
Sala Nyaman, Sala Berkesan
Interview Panitia


Pak Jokowi, bersay-Hello


Rela ya,berjubelan







Cerita Abdul & The Coffee Theory dengan Rocket-nya

Album ter-anyar Abdul & The Coffee Theory
   Hari ini saya mendapat kesempatan untuk ngobrol lewat kabel (telpon maksudnya,,,,hehehe) dengan Abdul dari Abdul & The Coffee Theory.  
   Pembicaraan selama 10 menit, cukuplah bagi saya menguak kabar terbaru dari sosok lelaki yang sudah tidak asing di tanah air yang erat dengan nafas jazz ini.
   Sempat terbuai dengan "Yang Penting Happy" sebuah pre-single yang rilis Agustus 2011 kemarin, akhirnya Valentine 2012 menjadi saksi lahirnya ROCKET LOVE.
      Tendangan pertama di album ini, dipastikan bikin ketagihan. LAGI_LAGI KAMU 1st single yang langsung bikin penasaran  karena kita bakal denger suara Tya Ariestya, yang notabene sosoknya lebih sering  wara wiri sebagai presenter / host di TV.
   Yap!!!Jadilah ramuan ciamik Abdul & The Coffee Theory feat Tya Ariestya with LAGI LAGI KAMU.
ku sadari aku yang membuat kita berpisah
ku sadari ini hanya emosi sesaat
tlah ku coba melupakanmu
namun aku tak mungkin bisa tanpamu
lagi-lagi kamu yang ku tunggu
lagi-lagi kamu yang ku rindu
sehari tanpamu seakan ku tak hidup ooh
kan ku kembalikan saja cintaku

45 second = begin your life..

         Announcer, DJ atau penyiar radio, banyak istilah yang digunakan, namun intinya tetaplah "seseorang yang membawakan suatu program acara di radio".
Sampai detik ini, profesi penyiar ternyata cukup banyak dilirik orang. Dengan alasan cari pengalaman, cari duit, pengen terkenal, pengen berkarir di dunia entertainment sampai pengen ketemu artis. Whatever, tapi yang pasti  radio tempat saya bekerja, menerima lebih dari 100 aplikasi lamaran ketika membuka lowongan.
        Tapi, sebelum cas-cis-cus lebih lanjut hingga berjam-jam siaran berlangsung, bolehlah contekan 45second behind the mixer desk ini dilirik. Setidaknya jika program acara adalah hidupmu, 45 detik diawal ini akan mempengaruhinya hingga akhir...


Boleh juga, klik di sini----> view on You Tube

Solopos, 7 Februari 2012- Melihat Jejak Para EO Muda

Terimakasih kepada Saudara Adib dari Solopos atas liputan tentang Saya dan Budi Pasadena, disebuah wedangan di Jalan Kebalen yang akhirnya melahirkan tulisan ini.

Solopos, 7 Febuari 2012



Artikel Selengkapnya :


Ferdiana Rizky baru berusia 21 tahun. Meskipun masih belia, lulusan SMAN 3 Solo dua tahun lalu ini berpengalaman mengurus belasan hajatan pernikahan besar dari awal hingga akhir. Padahal, Ferdiana masih berstatus lajang.


Mengurus pernikahan orang, itulah pekerjaan utama yang digeluti Ferdiana dalam setahun terakhir. Dia bukan seorang anggota staf event atau wedding organizer, melainkan pemilik dan pengelola organizer yang didirikannya sendiri. Bulan ini, aktivitasnya mulai sibuk kembali karena banyaknya pernikahan di berbagai tempat setelah berakhirnya bulan Sura.

“Saya sering keluar karena harus ketemu dengan beberapa vendor. Maklum tidak mungkin semua kami tangani sendiri,” katanya saat ditemui di kantornya, Jl Nias II No 9, Gilingan, Banjarsari, Solo, Kamis (2/2/2012) lalu.

Baginya, mengurus pernikahan menjadi bisnis utama. Berawal dari pengalamannya menjadi organizer pernikahan kerabatnya, Ferdiana memutuskan menjadikannya sebagai usaha yang serius. Gadis berkaca mata ini bukan hanya sekali dua kali menjadi organizer pernikahan, melainkan beberapa kali baik kerabat maupun kenalannya.

Awalnya memang gratisan karena saat itu sifatnya hanya bantu-bantu. Lama-lama Ferdiana meliriknya sebagai usaha. Bersama dengan sebuah tim yang kebanyakan kerabatnya, dia menawarkan jasa dengan nama Nami Wedding Organizer. Responsnya pun lumayan. Meskipun terbilang baru, mereka cukup mempunyai catatan sukses menyelenggarakan event wedding.

“Setelah mengurus wedding beberapa saudara dan teman-teman, katanya bagus. Terus kami mencoba keluar,” ungkap Ferdiana.

Awalnya, dia hanya mengerjakan proyek pernikahan bertiga. Kini, timnya beranggotakan tujuh orang. Sempat ada keraguan untuk menggarap pasar wedding di Solo karena masyarakat cenderung menyukai harga murah. Namun kekhawatiran itu tidak terbukti karena banyak orang rela mengeluarkan uang puluhan juta rupiah untuk sebuah wedding. Apalagi jika pasar yang dibidik adalah kalangan menengah ke atas. Ferdiana pernah menangani berbagai macam jenis wedding mulai yang bernilai Rp11 jutaan hingga yang high class bernilai Rp57 jutaan ke atas.

“Tapi kami tidak seenaknya ambil untung. Dari awal sudah dijelaskan bahwa fee untuk jasa kami Rp2 juta atau Rp3,5 juta,” ungkapnya.
Kadang-kadang, mereka mendapatkan tambahan untung dari diskon vendor yang jadi langganan. “ Tapi utamanya cuma dari fee.”

Awalnya Gratisan

Di Solo, tidak sedikit anak muda yang bermain dalam bisnis organizer. Dua di antara mereka adalah Sara Neyrhiza dan Budi Pasadena. Dalam setahun terakhir, keduanya bekerja sama menjalankan Red Production, sebuah event organizer (EO) yang terbilang baru di Solo. Event yang mereka gelar bukan wedding atau konser, melainkan acara seminar, gathering dan ulang tahun.

Berbeda dengan event organizer pada umumnya yang sejak awal dibentuk untuk mencari keuntungan langsung, organizer ini semula dibentuk untuk mendukung promosi usaha milik Budi. Jauh sebelum berniat membentuk sebuah EO, lulusan Ilmu Komunikasi FISIP UNS ini memiliki sebuah studio rekaman di daerah Grogol, Sukoharjo. Namun karena pengunjungnya tidak terlalu banyak, Budi berinisiatif menggelar sebuah workshop bertajuk Music for Film pada 2008.

“Kami mengundang mahasiswa untuk ikut dan banyak yang ikut. Tapi itu gratis karena memang untuk menarik orang belajar ke studio,” kata Budi saat ditemui Espos, Kamis lalu.

Sara sendiri saat itu masih menjadi anggota staf sebuah EO besar di Solo. Namun karena ingin mandiri, mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP UNS ini memutuskan membangun EO sendiri.

“Dulu enggak cocok jika bikin event cuma untuk mengejar uang saja, akhirnya bikin sendiri,” kata Sara.

Pertemuan keduanya melahirkan satu EO baru yang didirikan pada Januari 2011. Awalnya mereka tidak hanya menyelenggarakan seminar tapi hampir segala bentuk event. Ada yang berbentuk workshop, pertemuan hingga pameran. Namun karena kompleksnya berbagai event dan keterbatasan tenaga, kini mereka hanya fokus ke seminar dan pertemuan.

“Pernah bikin pameran, tapi ya ribet banget karena harus melayani permintaan bikin stan ini itu. Akhirnya kami putuskan untuk lebih konsentrasi pada seminar,” lanjut Sara.

Meskipun baru setahun berdiri, sekitar 20 event mereka tangani sendiri. Selain menggarap event dari pihak lain, mereka juga beberapa kali menggelar event sendiri seperti workshop musik, penyiar dan internet marketing. Nilainya pun lumayan, antara Rp2 juta hingga Rp4 juta.

Sekilas keuntungan membuat acara semacam ini memang tidak terlalu besar. Namun dengan makin banyaknya jaringan, mereka menerima banyak job dari EO luar kota yang mau menggelar acara di Solo. Biasanya mereka mengerjakan satu atau beberapa job yang merupakan bagian dari sebuah agenda besar.

“Sebenarnya kami malah sering dapat untung dari kerja yang ngesub ke EO lain karena sering sekali meminta jasa kami. “Lumayan karena sering sekali dimintai tolong untuk pesan tempat, nyiapin peralatan, sound system dan sebagainya.”

JIBI/SOLOPOS/Adib Muttaqin Asfar

Apa arti sebuah NAMA....???

            Minggu kemarin, giliran saya dapat tugas jadi MC di car free day bersama Funk Cyber Crew PTPN. Seperti biasa, tugas saya mereportase situasi yang ada dan di - relay langsung di studio. Suasana mendung, tapi ramainya jalanan Slamet Riyadi tidak terelakkan.Baik manusia maupun binatang (piaran maksudnya...hehehe)

           Saya sempat berchit-chat sebentar dengan komunitas skate INLINE SKATE dari Semarang, sambil melihat aksi slalom mereka.

          Tidak beberapa lama, saya lihat banyak orang berkerumun. Katanya sih ada artis. Pantas saja terlihat beberapa orang sibuk meminta jepretan dengan si artis.

          Sayapun mendekat di kerumunan orang tersebut. Dari jauh saya mulai mengenali sosok laki - laki a.k.a si artis yang memakai celana pendek, dengan potongan rambut yang "tidak biasa", ada bagian yang dibotakkan ada sebagian yang dikucir dengan warna coklat keemasan.Yang pasti dia adalah anak band. Tapi sumpah saat itu dibenak saya dia adalah personil netral. Tapi rekan saya berbisik jika lelaki itu adalah drummer Pas band ( dia memakai kaos bertuliskan "drummer" juga..:p).oh,,okey...PAS BAND bukan NETRAL...

           Akhirnya sayapun berinisiatif untuk mewawancarai sosok lelaki itu. Dan YESS dia bersedia, walau awalnya sang manager melarang dengan alasan jadwal padatlah,bla-bla-bla....

           Tapi masalahnya disini..SAYA TIDAK TAU NAMA DRUMMER PAS BAND ITU?????Oh, my Gosh..apa jadinya, kalo saya yang notabene penyiar radio dengan jam terbang 5 tahun, nggak ngerti siapa nama drummer Pas band???? (berikut dialog yang ada dibenak saya)

           Saya : "Mas, bisa minta waktu sebentar untuk wawancara,saya ingin tahu kabar terbaru Pas Band?"
           Dia   : "Oke,boleh saja."
           Saya : "Tapi mas-nya namanya Siapa Ya?????"
           Dia   : ?????????????#@#$%

       Dalam keadaan panik saya minta bala bantuan teman crew saya untuk cari tahu siapa nama si drumer. dan asli teman-teman saya juga pada nggak ngerti. Saya minta mereka browsing diinternet. dan WTF koneksi BB yang mereka pegang sangatlah busuk, bahkan untuk mengakses google.co.id saja  butuh 10 menit...
     ARRRRfffgghgggg............!!!!


       Tapi akhirnya wawancara saya berhasil dan SUKSES. PAS Bandpun kabarnya very well and prepare for new album ...
hayo....siapa tau nama drumer ini???? :p



Semua kesuksesan saya karena jasa dari teman PKL anak SMA yang magang di radio saya, yang dengan percaya diri penuh dan semangat perjuangan dia menanyakan langsung ke orang yang dimaksud.

   Anak PKL : "Masnya namanya siapa?"
   Si drummer : "Sandy."
   Si anak PKL menghampiri saya yang sedang panik. " Namanya Sandy, mbak."


Thanks Sandy Andarusman. I will remember your name.

Auto Post Signature