Belajar Konsistensi dan Persistensi dari Kang Mo Yeon Drama Korea Descendants of The Sun

28.3.21

  

BLOGGER KOTA SOLO INDONESIA


"I was thankful you trusted me"- Kang Mo Yeon


Sama seperti kebanyakan anak kecil, saat belia dulu saya juga bercita-cita jadi dokter. Jas putih yang dipakai kala bertugas memberi kesan profesionalisme, kecerdasan dan kesigapan. Tapi keinginan ini bergeser kala duduk di bangku SMA. Saya cukup realistis, mengingat saya tidak menyukai matematika, fisika dan kimia yang notabene mata pelajaran wajib di kelas ilmu alam.


Meski harus bertahan di kelas IPA sampai lulus sekolah, pada akhirnya saya beralih pilihan ke ilmu sosial saat kuliah. I found my way, kuliah di ilmu komunikasi yang memang "aku banget". Belajar dengan serius di program studi ini, sembari mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai penyiar dan reporter di sebuah radio swasta.


Cita-cita menjadi dokter tak terpikirkan lagi. Tapi ternyata kenangan ini kembali saat saya menonton drama Korea bertema kedokteran. Visualisasi kerja dokter yang membutuhkan akurasi tinggi, kedisiplinan, kegigihan sekaligus empati, berhasil membuat penonton bersemangat. Saya menyukai pekerjaan high power, tidak hanya duduk manis di depan layar. Berhadapan dengan tantangan yang berbeda setiap hari, itu yang bikin hidup lebih hidup.


Konsistensi dan Persistensi dari Kang Mo Yeon


Descendent of The Sun



Bicara soal hidup, kisah Kang Mo-yeon di drama korea Descendants of The Sun berhasil membuat saya terkesan. Descendants Of The Sun ini memiliki 16 episode. Menceritakan kisah romantisme sekaligus tantangan menjalani pekerjaan antara  Soong Jong Ki yang berperan sebagai Yoo Si Jin seorang Kapten Pasukan Khusus  Korea Selatan dan Song Hye Kyo yang berperan sebagai dokter bedah bernama Kang Mo-yeon. Chemistry Song-song couple ini terasa begitu nyata, dan berakhir dengan cinta lokasi hingga membawa ke jenjang pernikahan- meski akhirnya kini mereka sudah berpisah.


Terlepas dari real life drama Soong Jong Ki dan Song Hye Kyo, banyak pelajaran yang bisa diambil dari peran Kang Mo-yeon di drama ini. Sosoknya bukan hanya menggambarkan figur pekerja keras, tapi juga kegigihan dalam mempertahankan prinsip hidup.


1. Bekerja keras menggapai mimpi

Meski berprofesi menjadi seorang dokter bedah, Kang Mo-yeon tidak lahir dari keluarga kaya. Hidupnya yang penuh perjuangan mengajarkan arti kerja keras. Dia juga tidak membatasi mimpinya hanya menjadi dokter di rumah sakit, tapi menginginkan suatu saat bisa memiliki klinik sendiri.


2. Tidak mudah menyerah

Ketika mengikuti seleksi promosi profesor di rumah sakit tempatnya bekerja, Kang Mo-yeon harus gagal karena ada persaingan yang tidak sehat.  Eun Ji, yang merupakan anak pemegang saham di RS Haesung berhasil mengalahkannya hanya karena koneksi keluarga yang ia miliki. Meskipun harus menelan kekecewaan, Kang Mo-yeon tetap terus berusaha dan  menjalankan tugasnya dengan baik.


3. Percaya diri terhadap kemampuan

Banyak momen menegangkan ketika melihat Kang Mo-yeon bertugas sebagai dokter di Urk. Salah satunya ketika seorang politisi Abu Dhabi dikirim ke Medicube. Dengan keadaan di bawah tekanan dan todongan senjata api, Kang Mo-yeon berhasil menyelesaikan operasinya dengan baik. Keyakinannya untuk menyelematkan nyawa orang lain memberika kekuatan untuk mengoptimalkan kemampuan yang ia miliki, meski penuh risiko.


4. Memegang prinsip

Direktur Rumah Sakit Haesung ternyata menyukai Kang Mo-yeon dan menjanjikan posisi yang bagus. Dalam suatu adegan Kang Mo-yeon diajak ke hotel oleh si Direktur. Bukannya tergoda, Kang Mo-yeon justru memukul atasannya itu. 


Teguh menjaga dirinya, Kang Mo-yeon akhirnya harus menanggung konsekuensi "dibuang" ke Urk. Meski mengalami berbagai kesulitan namun ia tak mengubah prinsipnya. Baginya, berjuang dengan segala kemampuan sendiri akan lebih berarti daripada mengandalkan koneksi dan merendahkan harga diri.


5. Menjaga kesetiaan

Menjadi kekasih seorang tentara yang membela negara memang tidak mudah. Selain banyak sisi rahasia yang tidak bisa diceritakan, sering kali tentara harus menghadapi medan peperangan yang mengancam nyawa. Nyatanya, sampai di akhir Kang Mo-yeon tetap mampu menjaga komitmen yang ia miliki, meski tak jarang hatinya diliputi kekhawatiran akan perpisahan karena maut.



Melihat Kang Mo-yeon rasanya saya juga diingatkan bahwa life balance itu perlu. Berkarir, menjaga relationship, memiliki pertemanan yang solid adalah sebuah harmonisasi kehidupan yang menyenangkan. Ada kalanya kita lelah dengan berbagai pekerjaan, namun jika ada seseorang di sisi kita yang siap menemani, rasanya kita punya tempat untuk berlabuh. Merasa tidak sendiri.



Menonton Drama Korea di Aplikasi Viu



Bicara keseimbangan, kita juga harus tahu kapan bekerja dan kapan bersenang- senang. Salah satu "me time" terbaik yang saya miliki adalah dengan menonton drama dan serial kesukaan. Untuk nonton drama Korea saya selalu memilih Viu. Bahkan, saya sudah berlangganan paket Premium satu tahun sekaligus agar bisa bebas menikmati semua drama Korea kapan saja di mana saja.



Apa saja sih sebenarnya keuntungan nonton drama di Viu?


1. Koleksi drama lengkap ✔️

Viu bukan cuma menyajikan tontonan drama Korea, tapi juga drama Asia lainnya seperti drama Jepang, Thailand, China bahkan Indonesia. Tersedia dalam berbagai genre baik itu action, fantasi, horror dan thriller.


2. Kualitas High Difinition ✔️

Pada dasarnya manusia adalah makhluk visual. Maka, buat kamu yang ingin tontonan dengan gambar berkualitas tinggi, semua tersedia di Viu. Dan kalaupun ingin menghemat kuota kita bisa memilih opsi Data Saver

3. Menonton drama secara offline ✔️

Ingin nonton drama Korea di aplikasi Viu tanpa terkoneksi internet? Nggak masalah. Karena ada fitur download di Viu yang memungkinkan kita mendownload drama yang kita sukai, dan menontonnya secara offline. 


4.Subtitle Bahasa Indonesia & Bahasa Inggris ✔️

Nggak perlu khawatir nggak paham dengan bahas asing. Nonton drama Korea di Viu lebih mudah dengan subtitle Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Nggak perlu nunggu lama dengan jadwal tayang asli di Korea sana, karena hanya dalam waktu 24 jam kita bisa nonton dengan subtitle yang nyaman.


5. Bisa nonton gratis ✔️

Kamu nggak perlu registrasi untuk menonton serial di Viu dengan paket basic.  Banyak drama yang bisa ditonton secara gratis. Tapi kalau saya, memang lebih memilih paket Premium. Selain bisa nonton semua drama yang saya mau, juga tidak ada iklan yang mengganggu.



Nah, buat kamu yang nggak pengen ketinggalan tontonan menarik kaya Descendants of The Sun , segera download aplikasi Viu di smartphone atau tablet dan nikmati beragam drama di mana saja dan kapan saja.




Menulis Untuk Telinga

26.3.21
MENULIS NASKAH PODCAST


Radio dan podcast adalah media auditif, kita hanya bisa menikmati dengan cara mendengarkan konten suara yang dihasilkan. Itu mengapa menulis naskah untuk radio dan podcast berbeda dengan menulis biasa atau menulis untuk media cetak.  

Menulis untuk radio bukanlah menulis hanya untuk dibaca, melainkan menulis untuk kemudian dibacakan kepada pendengar. Maka, saat kita menulis dapat membayangkan bahwa tulisan akan didengarkan, bukan cuma dibaca. 

Baca Juga : Jenis Naskah Podcast


Menulis naskah radio dan podcast, perlu memainkan theater of mind. Bayangkan ada seseorang dihadapan kita, dan mengobrol bersama. Jadi sering kali ketika menulis, saya suka komat- kamit sendiri, dan berbicara seolah- olah sedang siaran.

Untuk bisa menulis untuk telinga, ada beberapa tips yang saya sering terapkan.


1. Write The Way You Talk

Artinya, tulislah naskah seperti apa yang akan kita sampaikan secara lisan. Maka, gunakan bahasa tutur (spoken language) atau bahasa sehari- hari seperti halnya sedang mengobrol dengan orang lain.

2. Keep It Simple and Short

Dalam menulis naskah gunakan kata- kata yang sederhana, tidak berbelit- belit dan mudah dipahami. Sederhanakan kalimat dan hindari menggunakan kalimat langsung.

Contoh kalimat langsung :
"Aku akan membuat album baru setelah pandemi Covid 19 berakhir", kata Raisa

 

Contoh kalimat tidak langsung
Raisa bilang kalau dia akan membuat album baru setelah pandemi Covid 19 berakhir.

3. Easy Listening Formula

Informasi yang disampaikan penyiar atau podcaster sebaiknya harus dapat dipahami hanya dalam sekali dengar. Sifat radio dan podcast yang bisa menjadi background, memungkinkan pendengar untuk multitasking. Dengerin podcast, sambil masak, nggak masalah!

Karena pendengar nggak 100% fokus, maka tulis naskah yang singkat, padat dan jelas.


4. Hindari Pembukaan yang Panjang Lebar

Langsung saja menulis menuju pokok bahasan. Pembukaan yang panjang lebar bikin pendengar bosan di awal, sementara isi konten belum didengarkan sepenuhnya. Terlalu banyak informasi membuat pendengar bingung, kesulitan menghubungkan satu informasi dengan yang lain.


5. Gunakan tanda baca agar tidak monoton

Untuk memudahkan ketika naskah dibaca oleh penyiar, maka gunakan bantuan tanda baca ketika membuat naskah  seperti  garis miring satu (/) untuk koma, garis miring dua (//) untuk titik, dan garis miring tiga (///) untuk akhir naskah, agar ketika membaca naskah kita bisa sekaligus latihan aksentuasi atau penekanan pada kata/ kalimat. Sehingga kalimat- kalimat yang disampaikan tidak terkesan monoton dan memberikan variasi intonasi.


Jika kamu membutuhkan informasi teknik penulisan naskah radio yang lebih lengkap, 
silakan download di sini


Dengarkan versi podcast dari artikel ini :

 





See you on the next blogpost.







Thank you, 

Belajar Literasi Digital dengan Tular Nalar

8.3.21

 

TULAR NALAR

Saya mengenal Tular Nalar beberapa waktu lalu saat menjadi salah satu fasilitator untuk program Training of Trainer Tular Nalar untuk dosen perguruan tinggi. Ketika terlibat di dalamnya, saya menjadi lebih paham bahwa literasi digital adalah keterampilan esensial saat ini. Wajib diperkenalkan sedini mungkin, karena internet sudah menjadi bagian hidup masyarakat.


Sejak balita, anak sudah mampu mengakses gadget milik orang tuanya. Semakin bertambah dewasa kebutuhan akan teknologi informasi juga meningkat. Anak sekolah dasar sudah akrab dengan social media. Meski demikian, banjir informasi digital tidak diimbangi dengan bekal kecakapan memanfaatkan informasi secara bijak. Terbukti, banyak informasi palsu atau hoaks yang berhasil membuat masyarakat terpolarisasi.


Belum lagi tentang hujatan kebencian dan provokasi. Hasil riset Microsoft dalam Digital Civility Index yang dirilis akhir Februari 2021 lalu menyebutkan, bahwa Indonesia menjadi negara dengan tingkat kesopanan yang paling rendah di Asia Tenggara. Netizen Indonesia tidak segan untuk mengeluarkan hinaan dan cacian, bahkan memproduksi konten yang menimbulkan ketidaknyamanan pada orang lain. Bukankah hal ini sangat miris? 


Memahami pentingnya literasi digital dan kemampuan berpikir kritis, maka hadirlah Tular Nalar. Sebuah program inisiatif dari Mafindo, Love Frankie dan Ma'arif Institute serta didukung oleh Google.org yang bertujuan untuk menumbuhkan nalar kritis masyarakat agar tahu, tanggap dan tangguh menghadapi berbagai permasalahan sosial.


Pentingnya Berpikir Kritis


Berpikir kritis atau critical thinking didefinisikan sebagai proses dan kemampuan yang digunakan untuk memahami konsep, menerapkan, mensintesis dan mengevaluasi informasi yang diperoleh atau informasi yang dihasilkan. Dengan menggunakan nalar kritis kita bisa  melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Keputusan yang diambil lebih adil dan bisa dipertanggungjawabkan. 


Dalam kehidupan digital, berpikir kritis dapat digunakan dalam menganalisis segala bentuk informasi yang kita dapatkan di dunia maya. Nyatanya, banyak informasi yang diputar balikkan, fakta yang dikaburkan, infromasi salah yang membuat mispersepsi. Kita mengenalnya sebagai hoaks atau hoax.


Hoaks dapat berwujud dalam 3 jenis informasi : 


  1. Misinformasi : Informasinya salah, tapi orang yang menyebarkannya percaya bahwa informasi itu benar. Penyebaran informasi dilakukan TANPA ada tendensi untuk merugikan orang lain.
  2. Disinformasi : Informasi yang tidak benar dan orang yang menyebarkannya juga tahu jika informasi itu tidak benar. Informasi ini merupakan kebohongan yang sengaja disebarkan untuk menipu, mengancam, bahkan membahayakan pihak lain. 
  3. Malinformasi : Informasinya sebetulnya benar. Sayangnya, informasi itu digunakan untuk mengancam keberadaan seseorang atau sekelompok orang dengan identitas tertentu. Malinformasi bisa dikategorikan ke dalam hasutan kebencian.


Berpikir kritis bisa diajarkan sedini mungkin. Baik dari orang tua kepada anaknya, guru kepada siswa, dosen kepada mahasiswa, juga berbagai elemen komunitas dan organisasi. Untuk menyediakan ruang belajar literasi media dan digital, serta menumbuhkan semangat berpikir kritis yang bisa diakses siapa saja dan di mana saja, maka hadirlah sebuah portal belajar online www.tularnalar.id



TularNalar.id

4 Maret 2021 dilaksanakan launching website tularnalar.id. Acara dikemas secara virtual dengan menggunakan teknologi Virtual Reality. Website Tular Nalar menampilkan user interface yang nyaman. Di dalamnya terdapat berbagai materi mengenai cara berpikir kritis yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata.


Materi Tular Nalar disusun oleh para pakar dari berbagai dosen lintas kampus serta peneliti yang fokus di isu sosial. Materi ini dibagi dalam 8 tema pilihan yakni :

• BERDAYA INTERNET (sebagai wujud kapasitas dasar)

• INTERNET DI RUANG KELAS (Internet bagi para guru)

• INTERNET DAN KELUARGA

• INTERNET DAN KESEHATAN

• INTERNET KEBENCANAAN 

• MENJADI WARGA DIGITAL (Internet dan Active Citizenship)

• INTERNET DAMAI (untuk isu-isu toleransi dan multikulturalisme)

• INTERNET MERANGKUL SESAMA (Internet dan Disabilitas) :


Materi pembelajaran online Tular Nalar sangat interaktif. Pengguna bisa melakukan beberapa tahap belajar berikut ini : 

  • 1. Menyaksikan video sesuai dengan tema ✔️
  • 2. Memahami penjelasan tema dengan mendalam ✔️
  • 3. Menyelesaikan kuis dari tiap tema ✔️


✔️ Untuk menambah pengetahuan, kita juga bisa mempelajari glosarium berbagai istilah dalam ranah literasi digital.


Dengan hadirnya website tularnalar.id ini semoga kita bisa lebih bersemangat dalam mempelajari literasi media dan digital. Mau memilih dan memilah informasi di dunia maya, serta tidak malas untuk melakukan pengecekan fakta terhadap informasi yang diterima.





Referensi :

https://edukasi.kompas.com/read/2021/03/07/144034371/netizen-indonesia-sangat-tidak-sopan-ini-kata-pakar-unpad?page=all.



See you on the next blogpost.








Thank you, 

Jaminan Pendidikan Anak Melalui Asuransi AXA Mandiri

4.3.21
ASURANSI PENDIDIKAN ANAK


Keberadaan produk asuransi yang ada saat ini bukanlah menjadi barang baru lagi bagi masyarakat. Setiap produk ausransi menawarkan benefit atau keuntungan bagi orang-orang yang menggunakan produk asuransi. Asuransi pendidikan menjadi salah satu produk asuransi yang memberikan jaminan kepada pendidikan anak. Banyak orang tua yang memilih asuransi ini demi memberikan masa depan yang baik bagi buah hatinya. Dengan asuransi ini pula, kelak orang tua tidak perlu lagi dipusingkan dengan biaya pendidikan anak.


Pentingnya Asuransi Pendidikan 

Sesuai dengan namanya, asuransi pendidikan adalah sebuah jaminan pendidikan yang kelak akan ditempuh oleh buah hati pasa saat waktunya. Fakta di lapangan menerangkan bahwa biaya pendidikan akan terus mengalami peningkatan. Tidak hanya itu, lama waktu yang akan orang tua hadapi untuk membayar biaya pendidikan juga cukup lama. 


Ketika anak masuk ke Sekolah Dasar, orang tua akan mengeluarkan biaya pendidikan selama enam tahun. Untuk Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, orang tua harus mengeluarkan biaya pendidikan selama tiga tahun. Belum lagi ketika masuk ke perguruan tinggi, empat tahun lamanya mereka mengeluarkan dana pendidikan yang cukup besar. Karena itulah, para orang tua perlu untuk mempondasi diri dengan menyiapkan persiapan yang matang melalui asuransi pendidikan.


Asuransi AXA Mandiri membantu para orang tua untuk menyiapkan biaya pendidikan anak. Asuransi ini juga akan memastikan buah hati para orang tua untuk mengeyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Asuransi didaftarkan dengan menggunakan nama orang tua pencari nafkah utama keluarga. Biaya premi akan dibayarkan setiap bulannya dimana besaran premi akan diatur oleh perusahaan asuransi berdasarkan dengan beberapa pertimbangan. Asuransi pendidikan sebaiknya didaftarkan sejak buah hati masih kecil. Semakin muda usia anak, semakin kecil pula biaya premi yang akan dibayarkan oleh orang tua.


Pendaftaran asuransi pendidikan kepada anak dapat membuat perusahaan asuransi bahwa orang tua tersebut memiliki sikap serius terhadap pendidikan anak. Keuntungan lainnya yang akan diperoleh oleh masyarakat yang mendaftarkan asuransi pendidikan adalah biaya pendidikan akan terus dibayarkan oleh pihak asuransi meskipun orang tua telah meninggal dunia dan tidak membayarkan biaya premi asuransi kembali. Kondisi ini merupakan hal yang sangat penting mengingat kita tidak tahu kapan usia kita akan berakhir.


Tips Memilih Asuransi Pendidikan

Karena kita tahu betapa pentingnya asuransi pendidikan bagi anak, kita juga wajib tahu cara memilih asuransi pendidikan yang benar. Untuk mengetahui tips atau caranya, simak ulasannya di bawah ini:


a. Hitung biaya pendidikan anak yang dibutuhkan

Sebelum menentukan asuransi pendidikan yang tepat, kita harus menghitung jumlah biaya pendidikan anak yang kelak akan dibutuhkan. Semua aspek pendidikan perlu kita perhitungkan dengan baik seperti biaya uang pangkal, uang seragam, SPP tiap bulan, uang transport, uang buku dan biaya ekstrakulikuler.


b. Menilai kemampuan finansial 

Jika telah menemukan seberapa besar jumlah biaya pendidikan yang akan anak perlukan, cara memilih asuransi pendidikan lainnya adalah dengan menilai kemampuan finansial kita sendiri. Kita harus memikirkan seberapa banyak uang yang dapat disisihkan ketika memilih produk asuransi pendidikan. Karena asuransi pendidikan merupakan asuransi jangka panjang, biaya premi yang akan dibayarkan sebaiknya tidak memberikan gangguan terhadap kondisi keuangan.


c. Memilih perusahaan asuransi yang tepat

AXA Mandiri menjadi salah satu pilihan perusahaan asuransi yang layak untuk dipertimbangkan. Bagaimana tidak? Perusahaan asuransi ini telah lama dikenal memiliki track record baik dan terpercaya. Perusahaan ini bahkan telah terdaftar OJK atau Otoritas Jasa Keuangan


d. Meneliti kembali polis asuransi


Produk Asuransi Pendidikan AXA Mandiri

Guna memberikan kenyamanan dan keuntungan bagi pengguna asuransi, AXA Mandiri menghadirkan beberapa jenis asuransi pendidikan kepada masyarakat. Asuransi Mandiri Tabungan Rencana menjadi salah satu produk asuransi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menyiapkan biaya pendidikan saja melainkan untuk menyiapkan dana pernikahan, wisata, perjalanan ibadah hingga jaminan masa tua. Untuk satu bulannya, kita hanya perlu membayarkan premi sebesar 100 ribu saja. Kelebihan dari asuransi ini adalah pemilik asuransi dapat meningkatkan jumlah setoran hingga 20 tahun.


asuransi axa mandiri


Mandiri Elite Plan menjadi produk asuransi pendidikan lainnya yang memberikan perlindungan investasi secara maksimal. Lima puluh persen dana dimanfaatkan guna melakukan pembayaran premi untuk tahun pertama dan 100 % dana akan dialokasikan untuk investasi di tahun berikutnya. Asuransi ini menawarkan asuransi berdasarkan dengan kebutuhan masyarakat. 


Keuntungan lain dari asuransi ini adalah kemudahan menarik dana yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak. Produk  asuransi pendidikan lainnya yang dapat menjamin pendidikan anak adalah Mandiri Sejahtera Cerdas. Usia anak yang diperbolehkan untuk didaftarkan asuransi adalah usia 0 tahun hingga 15 tahun. Tidak hanya jaminan pendidikan, asuransi ini dapat memberikan manfaat investasi dan proteksi jiwa.



See you on the next blogpost.








Thank you, 

Menjaga Konten Tetap Positif, Etis dan Kreatif

22.2.21

ZAHRA NOOR ERIZA



Menulis adalah salah satu kegiatan yang membuat saya bahagia. Selalu menyenangkan, mengeluarkan pikiran dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Di sisi lain jadi ada perasaan berguna, jika apa yang kita tulis bermanfaat bagi pembaca.

Selama pandemi, saya mengoptimalkan beberapa platform daring. Tujuannya, agar tulisan dan konten yang saya buat bisa menyebar lebih luas tanpa batasan geografis dan demografis. Siapapun bisa mengaksesnya asalkan terkoneksi internet.

Menggunakan platform daring mungkin sudah tidak asing. Bahkan saat waktu di rumah lebih banyak seperti saat ini, orang makin berlomba- lomba menjadi digital creator. Buat para pengajar baik guru maupun dosen, membuat konten pembelajaran online menjadi sebuah keharusan.

Membuat konten di media sosial tidak hanya  berkaitan dengan keterampilan desain visual. Konten berupa teks, audio, gambar, audio visual selalu berangkat dari tulisan dan cerita. Seperti ketika saya membuat podcast, agar dalam penyampaian lebih efektif saya membuat naskahnya terlebih dahulu. 

Baca : Cara Membuat Naskah Podcast


Menggabungkan seluruh media daring untuk suatu tujuan tertentu disebut dengan konvergensi. Saya sendiri menggabungkan blog, podcast, vlog dan microblog di instagram untuk mengedukasi keterampilan komunikasi kepada para pembaca dan penonton. Semuanya bisa diakses dengan gratis.

Ketika menjadi kreator konten, ada 5 hal yang saya coba terapkan.

1. Tahu topik apa yang kita kuasai, sehingga konten yangg disampaikan ada isinya ✔️
2. Punya tujuan yang positif dan tetap menjaga etika ✔️
3. Tahu siapa audiens yang kita tuju agar pesan bisa diterima secara efektif ✔️
4. Pilih platform yang nyaman agar bisa maksimal dalam berkreativitas ✔️
5. Konsisten ✔️



Kamis, 18 Februari 2021 yang lalu saya terpilih sebagai salah satu pembicara dalam acara  Akademika Litera pada kategori penulis inovator.  Akademi Litera merupkan rangkaian pra- acara Festival Literasi Nasional 2021 yang bertujuan untuk memberikan wadah kepada insan pendidikan dan pegiat literasi untuk menyampaikan gagasan. 


LITERASI KOTA SOLO

See you on the next blogpost.








Thank you, 

Persiapan Interview Narasumber Podcast (Juga Radio, IG Live dan Vlog)

9.2.21

 

Wawancara narasumber podcast

Saya masih bertahan dengan podcast monolog. Meski harus mengakui, kalau format podcast ini bukan kesayangan pendengar. Butuh perjuangan atau persona yang kuat biar audiens bertahan mendengarkan sampai menit terakhir. Apalagi kalau topiknya berat, penyiarnya ngomongnya monoton, dan durasi kelamaan, ya bikin pendengar cepet bosen.


Beda dengan podcast interview. Dengan menghadirkan narasumber untuk di wawancarai, format podcast ini memberi suasana yang lebih cair, meskipun masih kalah dengan podcast berformat conversational yang lebih "meriah". Cuma, kalau narasumberya gokil nan asyik, topiknya relatable dengan banyak orang, endengar juga bisa betah berlama - lama.


Kebanyakan podcast video mengusung podcast interview. Saya salah satu penikmat podcast End Game milik Gita Wirjawan, yang pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan era Pak SBY di 2014. Yang bikin suka dari End Game ini, karena pembawaan si Pak Gita yang kasual dan nggak meledak- ledak. Topiknya berisi, bintang tamu terkurasi  dan dibawakan dengan bilingual tapi nggak too much. Penontonnya jadi lebih pinter.


Membawakan podcast wawancara memang nggak bisa sembarangan ya. Karena goalnya adalah menambah insight baru buat pendengar. Jangan sampe ketika kelar dengerin, pendengar ngerasa nggak dapet apa- apa. 


Secara garis besar, entah itu interview di radio, podcast, vlog, Instagram Live, maupun event offline sama aja kok. Keberhasilan sebuah interview, didukung oleh 4 faktor :

- Orang yang mewawancarai

- Topik yang menarik

- Narasumber yang selain asyik juga relevan dengan topik

- Kualitas audio yang nyaman didengarkan (+ visual kalau vlog)


Buat kamu yang ingin membuat podcast interview, pasti akan mengusahakan hadirnya narasumber sebagai guest star. Biar proses produksi berjalan lancar, berikut 5 persiapan untuk mewawancarai narasumber.



1. Cari narasumber yang relevan

The right man in the right place, biar apa yang diomongin ada isinya, cari narsumber yang memang menguasai topik atau materi yang ingin kamu angkat. Narasumber yang nggak kredibel juga bikin podcastmu jadi nggak berbobot. Jangan sampe deh kejadian kaya vlog Anji yang sempet blunder beberapa waktu lalu. Ngebahas Covid-19 yang diundang tukang jamu yang pake "embel- embel" profesor- padahal cuma panggilan tongkrongan dan bukan gelar akademis.


Jangan males buat riset. Cari latar belakang pendidikan, pekerjaan atau karyanya. Sekarang kan ada sosmed tuh, kita bisa eksplorasi dari akun facebook, instagram, blog atau linked.in milik sang narasumber untuk tahu track recordnya.



2. Buat jadwal dan teknis

Setelah ketemu narasumber yang sesuai, coba hubungi dan ajukan jadwal untuk produksi. Podcast interview nggak harus ketemu tatap muka kok sebenernya. Kita bisa pakai video conference kalau memang butuh visual. Kalau cuma butuh suara alias podcast audio, saya biasanya pake zoom (diambil audionya doang), pake recorder di hape atau menelpon narsumber secara langsung.


Intinya, nggak semua orang ngerti teknis produksi ya. Jadi perlu dijelasin semua di awal. Apa aja yang dijelasin?


- Kapan acaranya (live atau rekaman)

- Teknis produksi seperti apa

- Apa format acaranya

- Siapa pendengarnya

- Durasi berapa lama

- Promosi apa yang akan dilakukan


Plus, omongin juga soal bayaran. Apakah ada ganti uang lelah dan transport, atau gratisan atau barter. Jelasin semua di awal, biar semua nyaman.


Baca Juga : Ini Perlengkapan Podcast yang Saya Pakai


3. Buatlah kerangka pertanyaan untuk mendukung alur wawancara.


Sebelum produksi, saya biasanya kirim dulu daftar pertanyaan yang nantinya akan saya gunakan untuk wawancara narasumber. Meskipun pada praktiknya, bisa aja banyak pertanyaan improvisasi. Tapi paling nggak narasumber bisa mempelajari pertanyaan tersebut, dan nggak gelagapan ketika ditanya.


Tipsnya :

  • Hindari pertanyaan basic seperti "sedang sibuk apa, kerja dimana, dll" (riset dulu euy...ini pertanyaan membosankan dan bikin keliatan nggak tahu apa- apa soal tamu kita)
  • Hindari yes no question
  • Fokus pada pertanyaan "How" dan "Why"
  • Jangan tanyakan topik sensitif yang berhubungan sama keluarga, pernikahan, agama, politik atau bisnis tanpa permisi dulu


4. Briefing narasumber


Ketika semua sudah disepakati dan tibalah waktu produksi, jangan buru- buru buat merekam suara dan gambar. Briefing sekali lagi terkait teknis produksi yang akan dilakukan. 

  • Siapakan tempat yang nyaman dan air minum jika rekaman dilakukan dengan tatap muka. 
  • Pastikan koneksi stabil jika rekaman dilakukan dengan video conference atau telpon.


Baca Juga : Format Podcast Disukai Pendengar


5. Rekaman dengan serius


Artinya, kesiapan bukan hanya dari sisi host dan guest, tapi juga seluruh perlengkapan yang digunakan.


Cek kembali apakah semua sudah oke. Jangan sampai lupa kerekam, atau file kehapus.
Buat interview yang dilakukan via telpon, lebih baik kamu mengandalkan microphone dari handphone daripada pake earphone atau headset. Karena hasil output audio dari mic smartphone terbukti lebih minim noise.


Lima langkah persiapan sebelum wawancara narsumber podcast ini semoga bisa membantu kamu ya.


Oiya, biasanya, saya pakai 2 cara untuk interview narasumber.

1. Melalui telpon. 
Saat sudah tersambung, saya mengaktifkan fitur recorder di hape. Proses wawancara langsung terekam otomatis. 

Ini adalah hasilnya :

 


2. Saya akan kirim pertanyaan lewat whatsapp, dan meminta narsumber untuk merekam suaranya sendiri dengan fitur recorder di hape. Kemudian mengirim ulang kepada saya untuk proses editing dan mixing.

Ini adalah  hasilnya :




See you on the next blogpost.








Thank you, 

Tular Nalar, Tularkan Berpikir Kritis

1.2.21

 

TULAR NALAR


2017, usai menyelesaikan tesis dan dinyatakan lulus, saya mulai resah. Bukan karena bingung memanfaatkan gelar baru di ijazah. Bukan. Tapi, saat itu saya ingin mencoba bidang pekerjaan yang lebih menantang.


Saya mulai tergoda untuk mencoba hal baru. Sesuatu yang dirasa menyenangkan, tapi juga menghasilkan cuan. Mulailah saya belajar monetisasi instagram dan blog.


Setelah bergabung dengan komunitas blog, kesempatan bekerja sama dengan brand terbuka lebar. Kerja sama  berupa content placement,  sponsored post dan endorsement mulai berdatangan. Social media yang semula hanya sebagai dokumentasi aktivitas harian, akhirnya menjadi media untuk berkreasi. Semakin produktif, semakin banyak penghasilan.


Senang, tentu saja.

Tapi ada satu hal yang tidak saya sadari. 


Kegiatan bermedsos sedikit banyak mengubah mentalitas. Yang awalnya merasa senang hati mencoba hal baru, berubah menjadi obsesi pada numbers. They are about  like, comment, follower, impression dan istilah statistik lainnya.


Sejujurnya hal ini melelahkan. Setahun saya struggle dengan hal ini. Kesehatan mental mulai terganggung. Jumlah like menjadi dopamin yang membuat level kebahagiaan naik turun. Semakin banyak, semakin gembira. Sayangnya ini fana. Ketika tidak mencapai apa yang diharapkan, akhirnya merasa sia- sia dan tidak berguna.


Ini tidak mudah. Saya jadi banyak merenung, introspeksi diri.


Sekarang Insya allah sudah waras. I really don't care. Mau dapet like banyak silakan, nggak ya uwis.

Sudah sampai di fase menggunakan sosmed dengan kesadaran penuh, istilah kerennya mindfulness. Saya lebih sehat, dan happy. Lebih punya tujuan.


Berpikir Kritis,  Menggunakankan Nalar Sehat dan Obyektif


Apa yang saya alami adalah sebagian kecil dari fenomena terpaan media sosial yang berhasil mengubah perilaku manusia. Apa yang dihadapi orang lain bisa jauh lebih berat dan buruk.


Lihat saja, beberapa artis Korea yang mengakhiri hidupnya karena cyber bullying yang ia terima. Puluhan kasus pidana,  akibat kesalahan dalam memposting sesuatu yang merugikan pihak lain di media sosial. Parahnya, banyaknya produksi hoaks yang mendekatkan pada devide et impera. Masyarakat terpolarisasi, yang hingga kini masih susah disatukan. Semua bisa terjadi karena internet, social media salah satunya.


Bak pisau bermata ganda, ada nilai positif ada pula sisi membawa malapetaka. Teknologi tidak salah toh, hanya manusianya saja yang perlu pake logika.


Jika belajar dalam ilmu komunikasi (jurnalistik) sebenarnya kita bisa melihat bahwa informasi di internet tidak sepenuhnya fakta. Justru kini, banyak informasi yang diputar balikkan, fakta yang dikaburkan, infromasi salah yang membuat mispersepsi. Kita mengenalnya sebagai hoaks atau hoax.


Hoaks dapat berwujud dalam 3 jenis informasi : 


  1. Misinformasi : Informasinya salah, tapi orang yang menyebarkannya percaya bahwa informasi itu benar. Penyebaran informasi dilakukan TANPA ada tendensi untuk merugikan orang lain.
  2. Disinformasi : Informasi yang tidak benar dan orang yang menyebarkannya juga tahu jika informasi itu tidak benar. Informasi ini merupakan kebohongan yang sengaja disebarkan untuk menipu, mengancam, bahkan membahayakan pihak lain. 
  3. Malinformasi : Informasinya sebetulnya benar. Sayangnya, informasi itu digunakan untuk mengancam keberadaan seseorang atau sekelompok orang dengan identitas tertentu. Malinformasi bisa dikategorikan ke dalam hasutan kebencian.


tular nalar


Data Kemenkominfo menyebutkan bahwa ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar hoaks. Ini adalah bukti bahwa internet telah salah dimanfaatkan oknum tertentu untuk keuntungan pribadi dan kelompoknya dengan cara menyebarkan konten-konten negatif yang menimbulkan keresahan dan saling mencurigai di masyarakat.


Apakah mereka yang berpendidikan tinggi lantas bisa terhindar dari hoaks?

Tentu saja tidak.


Semua tergantung seberapa peduli kita menggunakan nalar kritis. Mau bersusah payah melakukan verifikasi atau pengecekan terhadap informasi. Berani untuk skeptis, bahwa informasi bisa saja benar bisa juga salah dan tidak mentah- mentah menyebar luaskan informasi yang diterima.


Jangan main- main dengan hoaks. Peperangan antar negara bisa terjadi akibat informasi palsu.Ingat invasi Amerika Serikat ke Irak, yang "katanya ada senjata biologis pemusnah masal"? 

Sampai detik ini hal tersebut tidak terbukti. Isapan jempol belaka. Tapi berapa nyawa sudah melayang? Berapa puluh gedung runtuh? Barapa banyak anak kehilangan orang tuanya? Ini semua karena hoaks. Selengkapnya : https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/hoaks-senjata-pemusnah-massal-lahirkan-invasi-as-ke-irak-cGq6



Tular Nalar, Menularkan Berpikir Kritis


Netizen yang budiman nan cinta damai, sudah selayaknya mampu menilai sebuah informasi, yang nantinya lebih bijak dalam mengambil sebuah tindakan. Setelah memahami bahwa bermedia sosial perlu tujuan yang positif, etis dan kreatif, saya bisa lebih bahagia tanpa kehilangan passion dalam berkarya di dunia digital as a digital content creator.


Berpikir kritis dimulai dari diri sendiri. Berpikir kritis diartikan sebagai proses dan kemampuan yang digunakan untuk memahami konsep, menerapkan, mensintesis dan mengevaluasi informasi yang diperoleh atau informasi yang dihasilkan. Dengan menggunakan nalar kritis kita bisa  melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Keputusan yang diambil lebih adil dan bisa dipertanggungjawabkan. 


Maka, untuk menularkan semangat berpikir kritis, hadirlah program Tular Nalar. Sebuah program inisiatif Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia), Love Frankie dan Ma'arif Institute yang didukung oleh Google. org.


Dipilih menjadi fasilitator Tular Nalar, saya berkesempatan untuk mentransfer semangat Tular Nalar ini kepada para dosen dari Universitas Muhammadiyah Gorontalo dan Mataram pada 23 November 2020 lalu. Setelah sebelumnya, saya mengikuti Training of Trainer bersama 39 dosen lainnya dari berbagai kampus di Indonesia.


TULAR NALAR
Pelatihan daring bersama Universitas Muhammadiyah Gorontalo

TULAR NALAR
Pelatihan daring bersama Universitas Muhammadiyah Mataram


Program Tular Nalar pun juga sudah resmi di launching pada 21 Desember 2020 yang dilakukan secara daring. Menjadi moderator pada event tersebut, saya bisa secara langsung melihat bahwa program Tular Nalar ini digodog dengan maksimal oleh para pakar lintas bidang. Hasilnya, kurikulum Tular Nalar diturunkan dalam 8 kompetensi, 3 jenjang dan 8 tema yang diwujudkan dalam berbagai sarana pembelajaran, mulai dari video, website, artikel rubrik, dan lain-lain.




Melalui program Tular Nalar, kompetensi literasi digital dapat diasah sesuai dengan konteksnya. Serta mampu diterapkan dan ditularkan ke berbagai elemen masyarakat. Tentu saja bukan hanya diranah kampus saja, tapi juga sekolah dan komunitas.


Pada akhirnya, ini adalah tentang kesadaran kita sebagai masyarakat digital. Apakah mau diam saja, atau mau bergerak dan membekali diri dengan nalar yang kita punya. Tahu, tanggap dan tangguh terhadap arus informasi yang tidak terbendung, juga kepentingan kelompok yang bersifat destruktif.


Tidak perlu dengan langkah yang besar, mulai dulu dari diri sendiri. 


Tular Nalar, Bukan Sekadar Paham. Tapi, semangat untuk mau berpikir dan tidak tinggal diam.




Referensi :

Sumber: http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/12/12/p0uuby257-ada-800000-situs-penyebar-hoax-di-indonesia


See you on the next blogpost.








Thank you, 

Alat Untuk Seminar Online dari Rumah

26.1.21
SARA NEYRHIZA TRAINER PUBLIC SPEAKING


Awal tahun 2021 ternyata nggak bisa selow. Saya dan suami memutuskan untuk merenovasi kantor SPEAKING.id, yang sebenernya udah ditunda lama. Sifatnya urgent, beneran harus dilakukan sekarang. Akhirnya meski masih pandemi dan musim hujan, proses bikin kantor biar lebih oke terus berlanjut.


Masalahnya, meski kantor lagi off tentu pekerjaan harus lanjut terus. Apalagi kelas online dan kerja sama narasumber seminar atau workshop online masih jalan. Yaudah deh, semua perangkat untuk ngajar daring akhirnya diangkut ke rumah.


Jarak kantor dan rumah deket kok, paling cuma 3 menit. Beda blok doang. Soal angkut mengangkut bisa dibawa pake tangan sambil jalan, plus bawa mobil untuk barang- barang yang lebih kecil.


Setelah sampai kerumah, kami memanfaatkan sisa space lantai 2. Nggak besar, tapi harus cukup.


Nah, kali ini saya coba share, perangkat apa sih yang saya pakai ketika ngajar dan jadi narasumber webinar Silakan cek di bawah ini.



MAIN SYSTEM


Mau nggak mau, biar simple, saya masih mengandalkan laptop harian. Sebagai pengganti web cam yang gambarnya kurang oke, dan males pake kamera (sayang sama kamera kalau over heat.ha ha ha), saya memilih hape Samsung lawas J1 mini sebagai gantinya. Dengan aplikasi Droidcam dikoneksikan ke laptop pake kabel usb.


Untuk suara, saya pakai microphone Samson C01 yang dicolok ke audio interface Behringer UMC404HD yang lewat jalur usb juga. Total ada 3 colokan usb yang terpakai. 1 untuk cam, 1 untuk audio interface dan 1-nya buat dongle mouse wireless.


Nah untuk di aplikasi Zoom, setting videonya kita arahkan ke virtual camera aplikasi Droidcam, dan audionya kita arahkan ke mic input dari Behringer UMC404HD. Sementara untuk headphone supaya bisa bersembunyi di dalam jilbab saya masih pakai earphone bawaan hape Samsung yang ada aja.



BACKUP SYSTEM


Nggak ada rencana yang 100% sempurna. Makanya, saya harus ready backup system. Kalau ada gangguan koneksi dan perangkat, bisa cepat teratasi.


Saya pakai Samsung Tab dan headset Logitech 151 buat komunikasinya. Set-up ini bebas listrik dan sudah ada provider tersendiri untuk koneksi internetnya.

Jadi kalo ada kejadian listrik mati (dan internet rumah biasanya ikutan mati karena routernya mati juga kan) bisa segera pindah tanpa perlu waktu yang lama.



Ribet- nggak- ribet ya.. Tapi, semua harus diusahakan, apalagi kalau kita memang ingin menjadi trainer dan public speaker yang profesional. Kendala pasti tetap ada. Bahkan, kalau hujan deres banget, bisa tuh sinyal ilang atau mati lampu tiba- tiba.


Kalau udah ngerasa optimal usahanya, jangan lupa doa dan kemudian berserah pada Tuhan. Just enjoy the show!



See you on the next blogpost.








Thank you, 



Asyiknya Reading Aloud dengan Let's Read

9.1.21

 

APLIKASI LETS READ

"Mah, malam ini sepuluh cerita ya"

 

Waduh, sepuluh? Saya garuk- garuk kepala. Judul buku apalagi yang harus saya baca. Rasanya bosan mengulang- ulang buku yang sama. Saya harus lebih pintar berimprovisasi. Karena selain sebagai pembaca buku, sekarang jadi pendongeng juga. Ceritanya bermacam- macam. Mulai dari cerita kelinci dan wortel, kisah tentang peri di Negeri Merah Jambu, legenda Timun Emas, dan masih banyak lainnya.

 

Saya tidak pernah keberatan menikmati kesempatan 20 menit setiap malam bercerita sambil berdiskusi dengan Lila, anak saya. Apalagi mungkin seharian saya lebih fokus bekerja. Sesekali Lila memang suka merengek, kenapa mamanya sibuk sekali. Tapi dengan aktivitas bed time story ini, bisa jadi semacam penebus dosa atas waktu bermain yang sedikit bersamanya.

 

Mungkin, para ibu yang bekerja di ranah publik merasakan hal yang sama. Ada kalanya bonding dengan anak berkurang. Meski secara fisik kami bertemu, ternyata waktu tidak melulu bisa berpadu. Mungkin kita dekat, tapi secara hati jauh dan berjarak.

 

Hak anak, yang kadang terabaikan atas nama kesibukan dan rasa lelah. Sebagian orang tua merasa sudah memberikan semuanya, dengan uang hasil kerja keras. Tapi terkadang kita lupa, anak hanya ingin diperhatikan dan merasa dekat.

 

Itulah mengapa saya merasa senang. Ketika akhirnya menemukan best moment bersama anak melalui aktivitas membaca cerita. Bermodalkan buku atau aplikasi cerita, saya bisa leluasa melakukan reading aloud atau aktivitas membaca nyaring. Membaca menyenangkan bukan hanya karena kisahnya yang menarik, tetapi juga karena interaksi, tawa dan melihat ekspresi wajah anak yang antusias ketika sebuah dongeng dihidupkan melalui cerita bergambar.

 

Reading Aloud

 


Usia Lila hampir 6 tahun. Kemampuan membaca dan menulisnya sudah berkembang pesat. Terlebih selama 10 bulan terakhir saya dan suami mengambil alih tugas guru selama pandemi. Kami mengajar Lila setiap hari. Membaca, menulis, menggambar, membuat kerajinan tangan, juga mengaji.

 

Untuk menstimulasi kebiasaan membaca, saya mengenalkan reading aloud pada Lila. Reading aloud atau membaca nyaring diartikan sebagai aktivitas membaca buku dengan cara disuarakan. Jadi ketika membaca buku, kita sampaikan dengan suara lantang. Meski terbilang mudah, ternyata reading aloud ini memberi banyak manfaat. Seperti, meningkat daya imajinasi anak, melatih anak memahami alur cerita, menambah perbendaharaan kata, melatih berbicara dan berdiskusi, dan yang tidak kalah penting yaitu menguatkan bonding ibu dan anak.

 

"Apakah membaca nyaring harus dilakukan dalam durasi yang lama?" seorang kawan saya pernah bertanya. Oh, tidak. Cukup 15 menit setiap hari, manfaat reading aloud ini bisa dirasakan.

 

Aktivitas ini sebenarnya bukan hanya untuk orang tua dengan anak yang sudah mampu membaca saja. Bahkan, semenjak dalam kandungan orang tua bisa mulai aktif membacakan buku untuk calon bayi mereka. Professor Minna Huotilainen dari University of Helsinki dalam penelitian berjudul Prenatal Music Exposure Induces Long-Term Neural Effects ( 2013) menjelaskan, bahwa otak janin mampu beradaptasi dengan suara dan bahasa yang ia dengar sejak dalam rahim. Baik dari nyanyian atau ketika diajak berbicara oleh orang tuanya. Maka, reading aloud bisa menjadi stimulasi positif untuk membuat otak janin berkembang dengan lebih optimal.

 

Tidak ada waktu yang spesifik untuk melakukan reading aloud. Kita bisa lakukan kapan dan di mana saja. Tapi perhatkan mood anak, hindari saat ia merasa lapar, lelah, atau ngatuk berat.

 

Memilih Cerita Untuk Reading Aloud

 

Setelah membaca puluhan cerita, ternyata tidak semua buku dan cerita nyaman untuk dibaca nyaring. Cerita yang bertele- tele akan membuat anak cepat bosan dan kesulitan memahami jalan cerita.

 

Ada beberapa karakteristik cerita yang cocok untuk membaca nyaring.

 

1. Cerita boleh fiksi maupun non fiksi 

Sesuaikan dengan usia anak. Anak di bawah 5 tahun memang lebih tepat dengan cerita fiksi, untuk anak di atas 5 tahun kita bisa memadukan dengan cerita non fiksi yang disesuaikan dengan nilai- nilai kehidupan sehari hari.

 

2. Pilih cerita bergambar

Pada dasarnya otak manusia memang lebih responsif terhadap pesan visual. Cerita bergambar akan memudahkan anak dalam memahami cerita.


3. Pilih cerita dengan alur yang tegas dan tokoh yang kuat

Anak memiliki tingkat konsentrasi yang terbatas. Orang tua sebaiknya memilih cerita yang lugas dan tidak bertele- tele. Cerita- cerita deskriptif dan argumentatif kurang sesuai untuk aktivitas reading aloud karena terlalu detail. Kecuali jika orang tua mampu melakukan parafrase sehingga cerita bisa dinikmati dengan ringan.

 

4. Pilih buku dengan teks berukuran besar

Jika kita menggunakan buku untuk media reading aloud, sebaiknya memilih buku dengan teks berukuran besar. Beri kesempatan anak untuk mengeja huruf demi huruf untuk meningkatkan skill membacanya.

 


Let’s Read.

Membaca Nyaring dengan Mudah dan Menyenangkan 

 

Ada kalanya saya bingung, ketika anak selalu meminta cerita baru untuk disampaikan. Jika harus membeli buku baru terus menerus pasti akan merepotkan. Untungnya saya menemukan aplikasi Let’s Read


Let’s Read adalah sebuah perpustakan digital dengan banyak koleksi cerita anak, yang  diprakarsai oleh Books for Asia dari The Asia Foundation. Aplikasi ini bertujuan menumbuhkan minat baca anak yang ada  di Asia. Cerita anak di Let's Read tersedia dalam berbagai bahasa, termasuk  bahasa daerah seperti bahasa Sunda, Jawa dan Bali.  Konten lokal ini dikembangkan melalui lokakarya dan bekerja sama dengan para pakar buku anak dan komunitas.

 

Sejak mengenal Let's Read, screen time Lila jadi lebih bermanfaat. Selain bisa diakses melalui aplikasi, kita bisa juga mengakses melalui website letsreadasia.org


Apa yang membuat Let's Read menarik dan betah menggunakannya?

 

1. Cerita bergambar yang menarik ✔️

Setiap kisah di Let's Read dilengkapi dengan gambar yang menghidupkan dongeng. Dengan cerita bergambar ini, akan membantu improvisasi saat reading aloud sekaligus menarik perhatian anak. Anak akan lebih mudah mengimajinasikan alur cerita dengan gambar yang ditampilkan.

 

2. Pilihan cerita yang beragam ✔️

Pada aplikasi Let’s Read  disajikan gulir menu untuk memilih :

  • bahasa
  • level cerita
  • topik cerita

 

LETS READ APLIKASI CERITA ANAK



Para ibu bisa menyesuaikan dengan kebutuhan mereka menurut bahasa, usia anak dan topik yang anak sukai.

 

3. Mengembangkan kreativitas dengan berbagai bentuk konten ✔️

 

Pembaca Let’s Read diizinkan melakukan adaptasi cerita ke dalam format lain. Seperti membuat konten audio (podcast) atau video (vlog) tanpa ada izin tertulis dari penulis maupun ilustrator. Kita juga boleh mengunduh dan mencetak cerita  jika dibutuhkan untuk sesi membaca di rumah atau di sekolah.

 


Menghidupkan Dongeng dengan Cerita Bergambar

 

LETS READ READING ALOUD

Ketika dinobatkan sebagai Bunda Duta Baca Kota Solo tahun 2019, saya memiliki misi untuk menyebarkan semangat membaca ke lebih banyak orang tua. Saya memahami bahwa minat baca anak sangat dipengaruhi oleh kebiasaan orang tua. Maka, jika orang tua tidak membudayakan kebiasaan membaca di rumah, maka minat baca anak tidak akan timbul.

 

Hasil penelitian evaluasi sistem pendidikan Programme for International Student Assesment (PISA) di tahun 2018 menunjukkan, bahwa siswa di Indonesia menempat nilai terendah untuk pengukuran membaca, matematika, dan sains. Maka, sudah menjadi tugas kita sebagai orang tua agar lebih peduli untuk meningkatkan literasi baca tulis anak sejak dari rumah. Salah satunya dengan aktivitas Reading aloud ini.

 

Bagaimana agar aktivitas membaca nyaring menjadi menyenangkan?

 

1. Pahami ceritanya

Sebelum membacakan cerita ke anak, sebaiknya kita sudah memahami jalan ceritanya terlebih dahulu. Sehingga, kita bisa melakukan improvisasi jika dibutuhkan.

 

2. Pilih tempat yang nyaman

Kita bisa melakukan reading aloud di atas kasur, atau duduk di sofa. Posisikan tubuh anak dengan nyaman, sehingga ia bisa fokus mendengarkan cerita yang kita bacakan.

 

3. Perkenalkan Cerita

Sampaikan judul ceritanya. Bisa juga dengan menyebutkan nama penulis dan ilustratornya. Lalu, mulai dengan mengenalkan tokoh utama dalam cerita tersebut.

 

4. Improvisasi dengan suara dan gestur

Agar sesi reading aloud tidak monoton, lakukan improvisasi dengan memberikan efek suara yang dramatis dan menyenangkan, gestur, ekspresi wajah, dan perubahan nada suara agar anak semakin tertarik menyimak.

 

5. Tunjukkan detail ilustrasi gambar

Tunjukkan detail ilustrasi dan penokohan dalam cerita untuk menguatkan imajinasi anak.

 

6. Luangkan waktu untuk diskusi

Rasa ingin tahu anak sangat besar. Coba pancing agar ia belajar mengemukakan pendapat dan perasaan mereka. Gunakan pertanyaan kreatif untuk mendorong pemikiran dan diskusi yang mendalam.


 

Nah, seperti apa sih serunya ketika saya membaca nyaring bersama  Lila dengan aplikasi Let's Read? 

Lihat yuk video di bawah ini.

 


 

Membaca nyaring itu menyenangkan, bukan?


Untuk mendapatkan banyak cerita seru lainnya, yuk download aplikasi Let’s Read di Play Store atau App Store atau klik di sini. Temukan berbagai cerita bergambar menarik dalam berbagai bahasa, bisa diakses dimana saja, dan pastinya gratis.

 

Happy Reading aloud!

 

 

 

See you on the next blogpost.








Thank you, 


Auto Post Signature