Pengalaman Menjadi Duta Asian Games 2018

21.8.18
Gimana acara Opening Ceremony Asian Games 2018? Keren kan? Wah, saya juga susah move on  dan pengen balik ke Gelora Bung Karno mulu nih.

Pengalaman bisa melihat langsung event akbar ini, bener-bener bikin happy. Beruntung, saya menjadi salah satu Duta Asian Games 2018.

Menjadi Duta Asian Games 2018 adalah salah satu pengalaman terbaik dalam hidup saya. Karena  bisa jadi, ketika Indonesia jadi tuan rumah Asian Games lagi, saya sudah jadi nenek-nenek kan? Secara pertama kali Indonesia jadi tuan rumah saja tahun 1962. Lama banget kan jeda nya.


Bagaimana Cara Menjadi Duta Asian Games?


Jadi beberapa waktu lalu Kementerian Komunikasi dan Informatika mengadakan berbagai kompetisi untuk mendukung Asian Games 2018. Ada Duta Supporter Indonesia, Dance Challenge, Lomba Gapura, ASN Sehat dan beberapa lainnya. Nah, kalau saya mengikuti lomba Writingthon, kompetisi menulis blog bagi para blogger. Alhamdulillah, saya terpilih menjadi perwakilan Jawa Tengah. Tiap provinsi diambil 1 perwakilan sehingga ada 34 blogger dari seluruh Indonesia.

Selama lima hari di Jakarta dari tanggal 15-19 Agustus 2018 saya dan semua Duta Asian Games 2018 mendapat fasilitas kelas wahid. Mulai urusan transportasi, tiket Garuda Airlines pulang pergi saya terima. Kami menginap di Hotel Millenium, hotel bintang empat di kawasan Jakarta Pusat, meski di hari kedua kami pindah di Takes Mansion. Soal makanan, duh, saya bawaannya kenyang , karena nggak pernah berhenti alias makan... mulu. Kami juga datang ke berbagai destinasi wisata plus barbeque party ditemani D'Masiv yang nyanyi buat kita.

Gilak! Bahagia banget!

Saya bakal cerita nih ngapain aja selama lima hari kemarin. Semoga bikin tambah pengen. :)

Baca Juga : Tulisan Ini Membawa Saya Menjadi Duta Asian Games 2018


Rangkaian Acara Bersama Duta Asian Games 2018

Day 1- Sesi Perkenalan


Saya sampai di Bandara Soekarno Hatta pukul 12.20. Karena harus menunggu peserta lainnya, saya baru sampai hotel sekitar pukul 16.00. Setelah merehatkan diri di kamar, malam hari adalah sesi perkenalan kami.

Membuat outline tulisan untuk kompetisi

Ada sesi challenge yang bisa kami ikuti. Hadiahnya sebuah laptop dan handphone. Saya sampai lembur semalaman menulis blog untuk mengikuti tantangan ini. Sayang, saya tidak memenangkannya.

Day 2 - Gala Dinner Bersama Duta Asian Games 2018

Gala Dinner di Gedung Arsip Nasional

Hari kedua dimulai dengan tantangan menulis kolaborasi bersama blogger lainnya. Jadi dalam waktu 1 jam, kami harus menulis sebuah artikel.

Setelah sesi ini selesai, kami harus pindah tempat menginap. Dan organizer acara beralih dari Bitread ke Kominfo.

Kami punya waktu istirahat cukup lama, bahkan saya menyempatkan untuk tidur siang. Malam harinya dengan bus kami di bawa ke Gedung Arsip Nasional untuk bersama menikmati Gala Dinner.

Belasan meja panjang dengan dekorasi bunga tertata rapi menyambut kami. Duta Asian Games 2018 lainnnya berkumpul di sini sembari menikmati makan malam. Alunan musik Top 40 memberi kami suasana kemeriahan. Tidak lupa sesi foto bersama bersama Pak Rudiantara, Mentri Komunikasi dan Informatika.


Day 3 - City Tour dan Barbeque Party


Wah, beneran kami memang dimanjakan dengan berbagai kesenangan. Terlebih buat saya yang bisa rehat sejenak dari pekerjaan dan momong anak :)

Pagi-pagi kami mengambil 4 buah kaos dan 1 buah topi untuk dresscode beberapa hari ke depan.

Hari ketiga kami dibawa ke berbagai destinasi wisata di Jakarta seperti  Kota Tua. Melihat banyak koleksi di Museum Fatahillah kami lakukan sekitar dua jam. Lalu dilanjutkan dengan makan siang di Mang Engking Resto. 

Sama seperti Mang Engking Resto di Solo, sajian seafood menjadi andalan. Udang asam manis jelas kesukaan saya.

Seusai dari Mang Engking Resto, perjalanan kami lanjutkan ke Segara Resto Ancol. Saya dan beberapa rekan mampir sebentar di Ancol Mall untuk berbelanja pakaian. 

Di Resto Segara Ancol

Di Segara Resto sudah ditata sedemikian rupa. Sebuah panggung berukuran medium berdiri di depan puluhan bantal besar warna warni. Kami duduk manis sembari menikmati kudapan seperti martabak gurih, mini pizza, mini hot dog dan beberapa jus buah segar.

Yossy Project Pop hadir di tengah-tengah acara untuk mengajarkan kami cara memberi semangat dengan yel-yel. Sunset sore itu sangat indah. Semilir angin pantai membawa rasa kantuk datang melanda.

Untungnya ada Prof. dr. Henri Subiakto, S.H., M.Si., guru besar Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga yang hadir dengan paparan informasi mengenai HOAX.  

Mungkin banyak yang mengira bahwa kehadiran Duta Asian Games ini hanya untuk bersenang-senang. Padahal sebenarnya kami membawa misi, salah satunya dengan menjadi penyebar informasi positif. Kami kaum milenial mempunyai tanggung jawab penting untuk mengedukasi masyarakat akan penggunaaan internet secara bijak. Sehingga agenda pemecah belah bangsa melalui konten digital bisa diantisipasi.

Seusai mendengarkan penjelasan Prof. Henri, dilanjutkan dengan menikmati berbagai hidangan laut dan daging asap. Kesukaan saya kali ini adalah daging asap dengan lumuran saus blackpaper. Rasanya? Enak banget!

Lebih enak lagi, karena saya bisa bernostalgia dengan lagu-lagu D'Masiv.

D'Masiv menghibur dengan lagu-lagu andalan mereka


Perjalanan hari ketiga telah berakhir kami kembali pulang untuk beristirahat di hotel.

Day 4 - Bersiap Menonton Opening Ceremony Asian Games


Saya bangun lebih pagi dihari ke 4. Sarapan di hotel pada pukul 06.30, dilanjutkan dengan berkendara dengan bus menuju TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Salah satu hal wajib yang pasti dilakukan di sini adalah naik kereta gantung. Entah sudah berapa kali saya merasakannya, namun tetap kagum juga dengan landscape Indonesia di atas air yang dilihat dari atas.

Kereta Gantung andalan di TMII

Di Museum Penerangan

Perjalanan masih berlanjut, kami menuju ke Museum Penerangan. Namun, tidak cukup lama hanya sekitar 1 jam kami di sana. Break makan siang kami menuju Resto Ikan Bakar Karimata sembari berganti baju.

Bersiap di depan GBK

Pukul 14.00 kami sudah sampai di Gelora Bung Karno. Saya pribadi takjub dengan luas GBK ini, sekaligus merasa lelah dengan jalanan panjang yang harus kami lalui.

Untung saja banyak spot foto menyenangkan di sini. Juga puluhan stand dari para sponsor yang memberi berbagai penawaran menarik.

Tiket Opening Ceremony Asian Games 2018 senilai 5 juta rupiah sudah di tangan. Dengan tiket semahal ini tentu saja kami mendapat posisi duduk yang menyenangkan, di tribun utama menghadap langsung ke panggung. Kok nggak di depan panggung pas? Yaiyalah, depan panggung pas hanya untuk atlet. hehehe

Tiket seharga 5 juta sudah di tangan

Kami masuk ke stadion sekitar pukul 17.00, padahal acara baru dimulai pukul 19.00 WIB. Saya menyempatkan diri untuk membeli beberapa makanan dan minuman. Harganya memang lumayan mahal. Apa boleh buat daripada kehausan.

Acara Opening Ceremony jelas membuat saya terkagum-kagum. Penataan panggung, penari dan semangat para penonton membuat stadion GBK begitu meriah. Letusan kembang api membuat jantung berdegup lebih cepat. Bagaimana yang menonton di televisi? Tercengang juga kan?

Amazing Opening Ceremony Asian Games 2018

Pukul 21.00 saya keluar dari stadion. Di tengah jalan bertemu dengan Wishnu Tama, Creative Director dari Opening Ceremony Asian Games ini. Saya ambil foto bersama beliau sebagai kenang-kenangan.

Perasaan saya di hari ke 4 ini sungguh luar biasa. Lelah bahagia bercampur jadi satu. Pukul 00.00 kami baru sampai di hotel. Saya masih punya PR besar untuk packing. Memejamkan mata selama 2 jam, dan harus bangun subuh untuk pulang.

Day 5- Kembali ke Solo


Pukul 5 pagi saya sudah di dalam bus. menuju Bandara Soeta. Penerbangan saya pukul 09.00 WIB, ternyat harus tertunda hingga 10.20. Tetapi syukurlah saya bisa sampai Solo dengan selamat.

Kompetisi Writingthon membawa pengalaman menyenangkan bagi saya. Bukan hanya bertemu rekan baru dari Aceh hingga Papua Barat. Namun juga kesempatan menyaksikan Opening Ceremony Asian Games yang luar biasa.

Baca Juga : Writingthon, Solidaritas dari Aceh hingga Papua Barat



Tulisan yang kami sertakan dalam kompetisi ini juga diterbitkan dalam bentuk buku. Buku ini menjadi bukti bahwa kami 34 blogger dari seluruh Indonesia ini pernah berkumpul bersama.

Terima kasih sekali lagi untuk Kemkominfo dan Bitread yang telah memberikan kesempatan bagi kami mendukung Asian Games 2018.

Mind Master Opening Ceremony Asian Games 

Solidaritas dari Aceh Sampai Papua Barat di Writingthon Asian Games 2018

16.8.18

"Wah, pengen deh tinggal di Jawa", ujar seorang gadis yang sedari di Bandara Soekarno Hatta duduk di samping saya. Pun setelah kami berada di bus untuk membawa ke hotel, kami masih duduk berdampingan. Namanya Vira Nadia, salah seorang peserta Writhingthon Asian Games dari kategori pelajar/ mahasiswa yang berasal dari Sumatra Barat. Pembawaannya yang ceria berhasil menghilangkan penat dalam obrolan kami yang mengalir. Ke Jakarta ini tidak ubahnya bonus untuk Fira yang berhasil ujian skripsi di hari sebelumnya.

Siapa yang tidak senang? Writhingthon Asian Games  yang diselenggarakan oleh Kemkominfo dan Bitread ini berhasil mempertemukan saya dengan Triana Wulandari. Gadis berhijab yang duduk di semester 5 jurusan Sastra Inggris ini datang dari Sulawesi Barat. "Dari mana mbak?" tanya saya ketika mulai menyapanya.  "Mamuju, jawabnya", jawabnya. Ternyata saya harus belajar lagi geografi. Saya tidak tahu Mamuju di mana. Untungnya, Triana menjadi kawan sekamar saya. Maka berkenalanlah saya dengan Mamuju. Ibu kota dari provinsi baru di Indonesia. 

Bersawa Mbak Triana Wulan dari Sulawesi Barat

Kami berdua terus asyik mengobrol hingga sesi makan malam tiba. Setelah proses registrasi dan pengambilan goodie bag, kami mencoba menikmati beberapa kudapan. Sambil duduk manis di meja yang disediakan, saya duduk bersebelahan dengan Mbak Damar. Ini kali pertama saya bertemu dengannya. Meski beberapa kali menyapa lewat social media. 

Mbak Damar Nur Aisyah mewakili DKI Jakarta. Itu mengapa dia berhasil datang lebih awal di Hotel Millennium, Jakarta Pusat tempat kami para peserta Writingthon Asian Games menginap. Sambil menyantap makan malam, kami bergoship mengeniai dunia per -blogger-an. Profesi ini memang menyenangkan. Dari tulisan berhasil mempertemukan kami dengan banyak kesempatan. Bukan cuma menambah penghasilan tapi juga jejaring pertemanan.

"Kamu kenal si ini, si itu, si dia", tanya seorang blogger yang duduk di samping saya. "Kenal dong, Mas", jawab saya. Ternyata teman dia, teman saya juga. Kadang-kadang dunia memang mempertemukan orang yang berada di satu lingkaran yang sama. Kami berdua juga sesama nara blog. Meski berasal dari tempat yang berjauhan, toh, bisa juga saling mengenal. Namanya Mas Ubaidillah dari Aceh, salah seorang seorang techno blogger yang tulisannya bisa di baca di bairuindra.com.



Baca Juga : Kampung Asian Games di Kota Solo. Penuh Warna, Banyak Cerita


Waktu berjalan terasa cepat. Seusai makan malam kami segera masuk ke Teratai Room. Di sinilah saya bekenalan dengan peserta lainnya. Beberapa bangku terlihat penuh terisi. Sayapun memilih bangku paling depan yang ternyata masih kosong. Duduk di samping saya, seorang lelaki asal Yogyakarta. Namanya Sarif Hidayat. Tubuhnya yang jangkung dan pembawaannya yang lucu menjadi teman berbagi cerita mengenai aktivitas menulis kami. 

Saya sempat membaca beberapa tulisan di blognya yang mengulas banyak tulisan tentang pelari. Ternyata Mas Sarif, yang memiliki ukuran sepatu 41 ini adalah seorang pelari jarak jauh yang hobi mengikuti lomba marathon. Lelaki yang bekerja di perusahaan IT ini terlihat bersemangat menceritakan perjalanannya yang panjang hingga berhasil menjadi salah satu peserta Writingthon Asian Games ini.

Ketika mengikuti kompetisi Writingthon ini, saya mengangkat tentang Kampung Asian Games di Solo. Proses riset data bisa dilakukan dengan mudah dan menyenangkan. Tantangan justru hadir ketika saya akan berangkat ke Jakarta. Saya harus meninggalkan anak yang dalam kondisi tidak begitu sehat. Tetapi keputusan sudah di buat. Kehadiran saya di Writingthon Asian Games ini adalah bagian dari tanggungjawab profesi dan komitmen.

Solidaritas dari Aceh sampai Papua Barat 

Kalau menang berprestasi
Kalau kalah jangan frustasi
Kalah menang solidaritas
Kita galang sportifitas (Meraih Mimpi, Theme Song Asian Games 2018) 

Belum 24 jam saya bertemu dengan berbagai peserta yang berasal dari seluruh Indonesia, namun saya merasakan apa itu solidaritas. Tawa kami yang pecah, perlahan membangun rasa kebersamaan, rasa kesatuan dan simpati sebagai bagian dari Wringthon Asian Games 2018 ini. Saya jadi mengenal Mbak Maria Frani Ayu yang seorang perawat kesehatan jiwa yang datang jauh-jauh dari Manila, Filipina. Juga Mas Johan A Rahman dari Papua Barat dan Mas Rahmat Hidayat dari Maluku.

Masing-masing dari kami membawa cerita. Cerita tentang rasa bahagia dan kebanggaan. Sebuah energi positif yang kami coba tuangkan dalam bentuk tulisan. Tulisan yang kami harapkan mampu membawa pesan solidaritas sebagai Bangsa Indonesia.

Beberapa di antara kami pasti masih sibuk mengetik hingga larut malam. Sebuah tantangan menulis dari panitia harus berhasil kami taklukan. Bukan soal siapa yang menang, tetapi kami belajar sportivitas.

Sportivitas juga lah yang kami harapkan selalu dijunjung di acara Asian Games 2018. Puluhan ribu tamu dari Asia akan datang ke Indonesia. Dalam spotlight berbagi media dunia, penting bagi kita untuk terus #DukungBersama agar ajang ini berjalan dengan baik dan lancar. 18 Agustus 2018 akan menandai dimulainya pertandingan yang melibatkan 39 cabang olah raga ini hingga nanti berakhir di tanggal 2 September 2018.

Baca Juga : Ini 5 Hal Keren Asian Games 2018 yang Kamu Harus Tahu


Saya masih ingat betul apa yang disampaikan Pak Andi dari perwakilan Kemkominfo saat memberi sambutan. Bahwa acara Asian Games ke 18 ini haruslah menjadi kebanggaan kita bersama. Terlebih ini adalah kali kedua Indonesia menjadi tuan rumah. Semangat sportivitas harus kita gaungkan. Juga dukungan dari berbagai lapisan masyarakat, salah satunya melalui social media. Tentu penting kita sebagain tuan rumah untuk selalu menyebarkan pesan-pesan positif dan ajakan kebaikan melalui konten yang kita tulis.


Sebuah kutipan dari Mbak Natalia Tabuni, peserta Writington Asian Games yang berasal dari Papua berhasil menggetarkan hati saya. 

Hitam bukan Kelam. Keriting bukan rusak. Hitam dan kering adalah martabatku.

Apa yang disampaikan Mbak Natalia menyadarkan saya akan kebanggaan menjadi Indonesia. Tidak perlu saling mengolok, tidak perlu saling mengumpat. Namun marilah melalui ajang Asian Games 2018 ini kita membuktikan pada dunia, bahwa kita penuh percaya diri dan mampu menjadi yang terbaik.


Akhirnya, Writingthon Asian Games yang diadakan tanggal 15- 18 Agustus 2018 ini bukan sekedar apresiasi bagi kami para pemenang kompetisi menulis. Namun inilah kesempatan untuk mengenal diri kami sebagai bagian dari Indonesia. Melalui perwakilan masing-masing provinsi, kami belajar mengenai keberagaman, toleransi, persatuan dan semangat kebersamaan.

Karena, siapa kita? Indonesia!


16 Agustus 2018
Kamar 1215, Millennium Hotel, Jakarta


Let's be friends!

Instagram | Facebook | Twitter

See you on the next blogpost.

Thank you,

Acara Seru 17 Agustus di Kota Solo

11.8.18

Tidak terasa sebentar lagi kita akan merayakan ulang tahun NKRI yang ke 73. Masih pada ikut lomba-lomba di kampungkah?

Wah, saya jadi ingat dengan kenangan masa kecil. Masih bisa menikmati hiruk pikuk 17-an dengan ikut berbagai lomba seperti sepeda hias, makan krupuk, lomba tari, menggambar dan masih banyak lainnya.

Sayang, masa itu sudah jauh lama terlewat. Terakhir kali euphoria 17 Agustus saya rasakan ketika duduk di bangku SMA. Karena tergabung di Paskibra, momen 17-an terasa begitu sakral. Kami berlatih berminggu-minggu sebelumnya untuk menampilkan upacara terbaik di tanggal 17 Agustus. Biasanya, akan ada formasi dan variasi baris berbaris yang berbeda dengan upacara di Hari Senin.

Sayang, lagi-lagi masa itu sudah berlalu. Sekarang saya lebih sering melihat detik-detik Proklamasi di televisi. Juga melakukan tirakatan bersama warga kompleks

Rasanya kangen juga ya dengan kemeriahan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Mungkin itu pula yang kemudian mendasari beberapa hotel di Kota Solo untuk menghadirkan suasana berbeda di momen setahun sekali ini.

Baca Juga : Candle Light Dinner di Catniphora aja!

Starlight Cinema, Alila Hotel Solo


Ada pasar malem tetapi di hotel. Gimana serunya ya? Namanya, Starlight Cinema, sebuah rangkaian acara pemutaran film dengan konsep nuansa pasar malam. Akan ada 3 film yang dibintangi Eka Nusa Pertiwi, yang berjudul “Gayatri, Aku Serius, dan Pendekar Kesepian”. Film - film pendek ini masuk dalam nominasi FFI dan  telah di putar di Australia tahun lalu.

Sambil merasakan meriahnya nonton film, pengunjung bisa menikmati beragam kuliner lokal yang di sajikan berbeda dalam setiap stallnya. Ada menu sundukan & goreng, aneka racikan sayur, aneka special anglo, hingga berbagai penyetan dan bakaran. Seluruh rangkaian menu all you can eat bisa langsung di nikmati  cukup hanya dengan IDR 138.000 nett/ orang .


Starlight Cinema akan digelar sebanyak empat kali yakni tanggal 17 Agustus, 18 Agustus, 31 Agustus dan 15 September, setiap pukul 17.30 hingga 21.00, di tepi kolam renang di Largo Pool Side Lantai 6 Alila Hotel Solo.

Informasi hubungi : 0271 6770888

Baca Juga : Pernah Minum Es Poconk? Enak dan Murah!


Sate Satoe Indonesia, Syariah Hotel Solo


Masih dalam kemeriahan perayaan 17 Agustus-an, Syariah Hotel Solo menghadirkan Sate Satoe Indonesia.  Sate Satoe Indonesia, adalah paket makanan yang menyajikan 17 ragam sate dari sejumlah daerah. Diantaranya adalah Sate Madura, Sate Kambing Klathak Jogja, Sate Sapi Maranggi Jawa Barat, Sate Padang Panjang, Sate Kere Solo, Sate Lilit Bali, Sate Ponorogo Jawa Timur, Sate Buntel Solo, Sate Uritan Solo, Sate Komoh Malang, Sate Usus, Sate Pusut Lombok, Sate Ayam Sambal Kebumen, Sate Ambal Kebumen, Sate Sapi Rempah Kelapa Surabaya, Sate Ikan Kalimantan,  dan Sate Ayam Cabe Hijau Lombok.

Asyiknya lagi paket menu ini bisa dinikmati mulai dari 5-10 orang. Jadi bisa ajak rame-rame keluarga atau teman juga kan. 

Tenang saja, kita bisa tambah nasi dan minuman sepuasnya dan GRATIS. Untuk minuman, tamu dapat memilih antara es teh manis, wedang secang, atau es/wedang rosella. 

Kamu bisa menikmati Sate Satoe Indonesia dengan harga hanya Rp 250.000 nett/porsi. Promo ini berlaku selama Bulan Agustus. 

Info hubungi. : 0271 711000

Gimana asyik kan Bulan Agustus di Kota Solo? Makanya, biar makin meriah ajak keluarga dan teman-teman juga ya..

Let's be friends!

Instagram | Facebook | Twitter

See you on the next blogpost.

Thank you,

Manajemen Waktu yang Buruk, Bikin Kamu Terpuruk!

10.8.18


Orang mengenal saya sebagai perempuan yang rasional dan perfeksionis. Suka merencanakan sesuatu sebelum eksekusi. Hal ini hampir di seluruh bidang kehidupan. Mulai dari urusan rumah tangga, pekerjaan sampai dengan mengatur jadwal harian.

Iseng-iseng saya ikut tes kepribadian. Dan menurut hasilnya, saya tipe ENTJ-T atau komandan. Katanya, jumlahnya cuma 3 % dari populasi manusia di bumi.

Sebagian orang mungkin menganggap arogan. Seperti kata suami saya,

" Kalau sudah punya mau, sulit untuk dihalangi." 

Atau kata sahabat saya  "Kalau nggak kuat, kerja sama kamu bisa sepaneng" Wah, sampai segitunya.

Tetapi perencanaan itu penting, kan? Memang saya kurang bisa menerima hal-hal yang spontanitas. Makanya, ngerasa naik turun emosi ketika suami  sering ngajak liburan tapi tanpa perencanaan. Tiba-tiba langsung berangkat aja. Timingnya nggak pas.

Belajar dari Steve Jobs

Salah satu tokoh yang juga tipe ENTJ-T dalah Steve Jobs. Mantan CEO dan co-founder dari Apple inc. ini memang dikenal sebagai sosok yang berpikir secara strategis dan menjaga fokus jangka panjang. Setiap langkah rencana dilakukan dengan tekad dan ketepatan sehingga dia menjadi pemimpin bisnis yang kuat.

Jadi tidak kaget kan kalau ia mampu membawa Apple inc. dalam level atas dengan produk dengan brand image yang prestigious. Semua memang butuh perjuangan dan effort yang besar. Rencana-rencana harus dapat terlaksana dengan bekerja sama dengan tim yang solid.

Dalam menjalani karir, penting banget bersikap profesional. Salah satunya dengan menghargai waktu.

Pernah nggak merasa kesal dengan seseorang karena dia tidak tepat waktu? Saya sering tuh. Janjian jam 9, eh dia dateng jam 10. Rapat harusnya mulai jam 10, eh ternyata teman-teman baru datang jam setengah 11.

Hal ini juga saya alami ketika menjadi tamu undangan untuk event blogger. Undangan jam 9, ternyata belum ada yang hadir. Akhirnya acara baru mulai setengah 11. Dan kejadian seperti ini tidak hanya sekali lho, tapi sering terjadi.

Jadi, kalau mendengar anggapan banyak orang kalau ngaret alias jam karet itu bagian dari budaya Indonesia, jadi percaya nggak percaya juga kan. Mau bilang nggak, tapi kenyataan di lapangan demikian. Mau bilang iya, kok rasanya  streotype negatif sekali.
Makanya, daripada saling menyalahkan atau cuma beralasan, penting bagi setiap individu meningkatkan kualitas dirinya. Bersikap profesional dengan lebih disiplin waktu.

Mengapa Harus Punya Time Management yang Baik?




Dalam dunia kerja, ketrampilan bekerja saja tidak cukup. Kita harus punya soft skill, salah satunya manajemen waktu yang baik.

Pernah dengan ungkapan time is money? Atau dalam ayat di kitab suci menyebutkan "Demi masa. Sesungguhnya manusia kerugian."

Hal ini menyadarkan kita bahwa waktu itu adalah hal yang penting. Kita tidak akan pernah bisa membalikkan waktu. Sampai saat ini time machine tidak pernah ada. Jangan berharap ada  mesin waktu di laci meja belajar Nobita yang bisa membawa Nobita dan Doraemon ke masa lalu atau masa depan.

Jadi penting buat kita memanfaatkan waktu dengan baik. Mengoptimalkan masa sekarang agar apa yang kita usahakan bisa kita petik di masa depan.

Nah, sebagai seorang profesional, mengapa sih manajemen waktu itu penting?

 1. Time is limited


Mau senganggur atau sesibuk apapun kita dalam satu hari, waktu tetap akan berjalan selama 24 jam. Itu mengapa ketika kita punya banyak pekerjaan, sebaiknya tidak menunda-nunda untuk mengerjakannya. Sering kita dengar istilah "kehabisan waktu?" Itu karena waktu akan terus bergulir meski kita tidak melakukan apapun.

2. Mencapai banyak hal dengan sedikit usaha


Ketika kita bisa memanajemen waktu dengan baik, sebenarnya kita juga belajar fokus. Fokus akan menghasilkan efisiensi. Contohnya seperti yang sering saya lakukan. Jika saya ingin membuat satu tulisan di blog, saya harus memberikan batas waktu 2 jam agar tulisan tersebut selesai. Dalam waktu 2 jam, saya fokus menulis tanpa ganguan apapun. Pekerjaan akan lebih cepat selesai dan kita punya banyak waktu untuk mengerjakan hal lainnya.

3. Memiliki kemampuan mengambil keputusan yang baik


Pernah kan kita jadi ceroboh dan gegabah karena melakukan sesuatu karena tergesa-gesa? Well, hal tersebut semakin kecil kemungkinan terjadinya, jika kita punya banyak waktu untuk berpikir dan mempertimbangkan banyak hal sehingga mampu menghasilkan keputusan terbaik.

4. Kunci sukses dalam karir

Manajemen waktu adalah kunci kesuksesan. Tahu nggak, banyak pengusaha sukses dan pemimpin dunia yang rajin bangun pagi? Bukan hanya baik untuk kesehatan, ternyata bangun pagi menjadi salah satu ritual kunci kesuksesan. Waktu di pagi hari dinilai paling tepat untuk merencanakan banyak hal. Inspirasi juga sering hadir di pagi hari.

Coba deh bandingkan, ketika kita bangun kesiangan. Duh, pasti bakal tergesa-gesa kan mempersiapkan sesuatu. Belum lagi, ketika kita masih harus berjibaku dengan kemacetan, juga tugas-tugas kantor yang bejibun lainnya.

5. Mengurangi stres


Pernah kan merasa capek dan kewelahan karena selalu merasa diburu-buru waktu? Ada rasa panik, ketika pekerjaan tidak juga kunjung selesai padahal waktu segera habis.

Time management memberikan kesempatan kita bisa mengelola waktu dengan bijak. Kapan harus bekerja, jalan-jalan dan urusan personal lainnya. Jangan sampai karena kita selalu kewelahan masalah manajemen waktu ini, kita jadi mudah stres. Dan pastinya stres itu nggak baik untuk kesehatan kan..

Jadi sepakat dong, masalah manajemen waktu ini jadi PR banyak orang. Sebenarnya kita sadar kok, kalau waktu itu sangat berharga. Ada hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kualitas manajemen waktu kita. Pertama, dengan rajin bangun pagi. Awali hari lebih awal agar kita memiliki banyak waktu untuk merencanakan aktivitas selama seharian nanti.

Kedua, buatlah jadwal harian. Ini adalah hal sederhana yang bisa kita coba. Buat jadwal harian yang berisi prioritas aktivitas kita selama 24 jam. Apa saja yang akan kita lakukan, kapan harus istirahat dan kapan harus bermain. Cobalah untuk konsisten dan mematuhi jadwal yang kita buat sendiri.


Ketiga,  berikan kandang waktu atau cut off time. Beri durasi waktu untuk mengerjakan pekerjaan tertentu. Misalnya sebagai seorang ibu, kita beri kandang waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga dari pukul 05 sampai 7 pagi. Ketika pukul 7 pagi tiba dan ternyata pekerjaan belum selesai, kita harus menghentikan pekerjaan tersebut dan beralih ke pekrjaan lain sesuai prioritas yang kita buat sebelumnya. 

Keempat, gunakan jam tangan sebagai reminder setiap waktu yang berjalan. Apalagi jika kita sibuk bekerja di kantor, jam tangan selalu bisa diandalkan untuk memberikan petunjuk terhadap alokasi waktu yang kita lakukan.

Tampil Keren dengan Jam Tangan Terbaru




Jam tangan menjadi salah satu item fashion yang sekaligus memiliki nilai fungsional yang tinggi. Jadi wajib banget buat saya memakai jam tangan setiap hari khususnya ketika beraktivitas di luar rumah.

Jam tangan bukan hanya sebagai alat untuk bergaya, tapi sekaligus memberikan kesan profesional terhadap keseluruhan tampilan. Jam tangan juga bisa menjadi bahasa nonverbal lho. Mereka yang memakai jam tangan umumnya juga dinilai memiliki komitmen untuk disiplin terhadap waktu.

Bagi sebagian orang, jam tangan juga meningkatkan status sosial. Tidak jarang mereka mengeluarkan uang jutaan untuk membeli jam tangan mewah bertaburan berlian untuk memberikan kesan classy. Strategi ini juga sering digunakan ketika pitching ide atau pertemuan bisnis.

Memakai jam tangan di setiap aktivitas pekerjaan

Buat saya pribadi, jam tangan itu meningkatkan percaya diri. Saya merasa mampu mengontrol diri secara penuh. Saya memiliki wawasan kapan harus dan tidak melakukan sesuatu. Semua dapat saya lihat hanya melalui benda yang melingkar di pergelangan tangan.

Kebetulan saya memiliki beberapa koleksi jam tangan. Meski tidak berharga mahal, saya berusaha melengkapi koleksi saya dengan berbagai bentuk jam tangan. Ada yang sporty, ada juga yang casual. Masing-masing jam saya pakai sesuai dengan pakaian dan konteks acara yang akan saya datangi atau aktivitas yang saya lakukan.

Buat kamu yang ingin membeli jam tangan terbaru, saya mempunyai beberapa tips dalam memilih jam tangan:

1. Pilih tipe movement

Movement atau jenis mesin yang digunakan adalah bagian utama dari jam. Umumnya ada dua tipe yakni quartz dan mechanical. Quartz biasanya lebih dapat diandalkan, praktis, dan harganya lebih murah. Perawatan untuk jam ini umunya juga  jauh lebih sedikit.

2. Pilih style jam tangan yang tepat


Buat wanita, style adalah nomer satu. Banyak pertimbangan untuk memilih jam tangan wanita terbaik. Dari mulai soal bentuk, warna, hiasan juga kesan. Bentuk jam tangan wanita juga lebih variatif daripada jam tangan pria. Itu mengapa memilih jam tangan kembali lagi ke soal selera.

Kalau buat saya jam tangan yang paling saya suka yang bentuknya sporty dengan diameter yang besar. Lebih fleksibel digunakan diberbagai acara dan dalam padu padan busana. 

Kalu kamu suka yang model apa?

3. Material jam tangan




Ada berbagai bahan jam tangan. Ada jam tangan berbahan emas. Pilihan lain yang biasa digunakan oleh pembuat jam adalah stainless steel. Jam tangan stainless steel memberikan tampilan yang lebih solid dan maskulin. Untuk kesan yang lebih modern bisa memilih jam berbahan keramik yang sering  dianggap lebih praktis dan tidak akan tergores.

Untuk pilihan strap juga beragam. Ada kulit, rantai, keramik juga karet. Semua tergantung dengan kesukaan. Untuk beberapa orang ada strap yang membuat kulit iritasi seperti gatal-gatal. Jadi pastikan memilih yang tepat.

4. "Wow" faktor


Bagi wanita (juga pria) jam tangan bisa sekalgus menjadi perhiasan. Itu mengapa ketika membeli jam tangan kita juga memikirkan bagaimana jam tangan itu memberikan kesan. Jika punya banyak uang, tentu bukan hal yang aneh jika memilih jam tangan bertabur berlian, swarovski atau emas. a gentlemen's choice of timepiece says as much about him.

5. Membeli jam tangan di tempat terpercaya


Jam tangan dihadirkan oleh berbagai merek di dunia. Beberapa brand mempunyai kesan yang kuat. Tidak jarang jam tangan bermerek besar menjadi sasaran untuk para pemalsu jam tangan dengan mengadopsi nama brand mereka tetapi tidak dengan kualitasnya. Biasa disebut dengan merek  KW.

Membeli jam KW jelas berisiko. Selain kita akan tertipu dengan harga yang mahal, biasanya bahan atau kualitas jam tersebut cukup buruk. Jam tangan menjadi tidak awet dan parahnya lagi tidak ada garansi resminya.

Duh, bakal rugi berkali-kali.

Makanya, untuk urusan jam tangan coba deh cari tempat yang tepat untuk membeli. Kita harus lebih jeli mana seller yang jujur sekaligus menjual barang yang bagus. 

Karena pengen tampil keren dengan jam tangan terbaru, saya sering mampir di The Watch Co. The Watch Co. ini punya bayak pilihan brand jam tangan kelas dunia. Seperti, Braun, Briston, Casio, Daniel Wellington, Timex, Olivia Burton,  Wish watch dan masih banyak lainnya.

thewatch.co

Berbagai model jam tangan juga ada, baik untuk pria, wanita atau unisex. Kalau kamu membeli langsung melalui websitenya, kamu bisa mendapatkan free ongkir juga, jadi jelas lebih menguntungkan. Oiya, coba deh sekarang cek di website The Watch Co, karena untuk merayakan Hari kemerdekan RI, The Watch Co. ada Merdeka Sale Discount Up to 50%.

Yah, gimana nggak seneng coba kalau nemu toko online yang full services. Bukan cuma produknya lengkap tetapi juga pelayanan yang prima terhadap pelanggan. Buruan deh mampir, siapa tahu jam tangan terbaru yang kamu incar lagi sale lho..


Udah siap untuk melatih manajemen waktu yang baik? Tentu butuh komitmen yang kuat untuk memulainya. Tapi percaya deh, kalau kita bisa disiplin terhadap waktu, pasti kesuksesan ada di depan mata. Agar kamu lebih semangat, kamu bisa memilih juga jam tangan terbaru di The Watch Co. agar kesan profesionalmu lebih maksimal.

All great achivements require time!





Let's be friends!

Instagram | Facebook | Twitter

See you on the next blogpost.

Thank you,

Kelas Inspirasi Solo, Sehari Mengajar Selamanya Menginspirasi

6.8.18
KELAS INSPIRASI

Masih ingat nggak, ketika kecil dulu, kita sering ditanya apa cita-cita ketika dewasa nanti. Dan biasanya, profesi dokter menjadi pekerjaan yang paling banyak diminati. Bukan hanya karena membantu menyelamatkan nyawa orang lain. Namun, juga harapan bisa kaya raya dari profesi dokter tersebut. Saat itu rasanya kita belum memahami bahwa proses menjadi dokter sangatlah panjang dan tidak mudah.

Tidak terbayangkan oleh saya dulu, bahwa ada pekerjaan bernama blogger, youtuber, vlogger, content creator dan pekerjaan era milenial lainnya. Dan ternyata profesi ini berhasil dicita-citakan anak kecil  zaman sekarang. Salah satu motivasinya bisa menjadi terkenal dan punya banyak uang. Atau minimal menerima banyak endorse. Seperti Nuraini dan Bowo Alpenliebe, misalnya. Okey, mungkin seperti Raditya Dika, Chandra Liow atau Agung Hapsah.

Sama seperti saat kecil dulu, saya pernah bercita-cita menjadi juru bicara kepresidenan. Ingin juga menjadi diplomat. Tetapi ternyata ketika kuliah, tidak sedikitpun saya tertarik bidang Hubungan Internasional. Justru dunia media massa yang lebih menjadi passion dan mulai saya geluti sejak SMA. Maka kemudian jurusan Ilmu Komunikasi yang saya pilih di bangku perkuliahan.

Tanpa Inspirator dan Mentor


Setelah saya dewasa, saya tidak pernah menyangka bahwa perjalanan karir saya hampir semua linier. Saya menemukan connecting dotnya. Mulai dari hobi, pendidikan, passion hingga pekerjaan saling terhubung satu sama lain. Saya bersyukur karenanya.

Namun di sisi lain saya menyadari sesuatu hal yang saya tidak miliki. Sejak kecil saya tidak punya inspirator dan mentor yang mempu memberikan wawasan karir untuk masa depan. Terlahir dari keluarga pedagang, keluarga saya selalu berfokus bagaimana caranya mencari uang untuk hidup dan makan. Tidak ada visi untuk berprestasi apalagi mengejar karir. Yang penting bisa makan.

Salah satu orang yang akhirnya membuka wawasan saya adalah pacar saya (suami saya sekarang) yang saya kenal sejak bangku SMA. Beliau yang tujuh tahun lebih tua dari saya, ternyata mampu  memberikan sudut pandang lain tentang kehidupan. Dukungan dari beliaulah yang pada akhirnya membuat saya lebih berani dalam menentukan pilihan. Termasuk memilih profesi  saat ini.

Saya rasa apa yang saya alami banyak juga dialami oleh orang lain. Bahwa, masih sedikit orang tua, guru atau lingkungan pendidikan formal yang memberikan dorongan karir untuk anak dan anak didiknya di masa depan. Setiap hari kenyang akan mata pelajaran, namun kita tidak yakin akan jadi apa  nantinya ketika lulus sekolah. 

Maka, tidak kaget kan ketika melihat jumlah sarjana pengangguran semakin banyak? Bukan karena mereka tidak memiliki skill, tapi lebih pada mereka terlambat menemukan jati diri. Ingin jadi apa. What Do You Do And Look Like In The Future? 

Turun Tangan Untuk Berkontribusi

KELAS INSPIRASI SOLO

Berkaca dari pengalaman hidup yang saya lalui, ingin rasanya adik atau bahkan anak saya tidak mengalaminya. Saya ingin mereka lebih dini mengenal potensi dan bakat yang mereka miliki.

Perasaan ini juga memantik banyak kaum profesional lainnya. Keinginan besar untuk mampu lebih dekat berkontribusi terhadap masyarakat, terhadap anak-anak yang punya mimpi besar. Maka hadirlah Kelas Inspirasi untuk menjawab tantangan ini. Tantangan untuk berkontribusi pada pendidikan di Indonesia.  

Kelas Inspirasi pada mulanya digagas oleh teman-teman Indonesia Mengajar. Program Kelas Inspirasi mengajak para profesional dari berbagai latar belakang  untuk mengunjungi dan mengajar siswa-siswi Sekolah Dasar selama satu hari pada Hari Inspirasi.

Para profesional yang disebut relawan pengajar atau Inspirator ini berinteraksi di sekolah untuk berbagi cerita dan pengalaman kerja serta memberi motivasi untuk meraih cita-cita tinggi kepada para siswa. 

Kelas Inspirasi 6 Kota Solo

Bersama rekan Inspirator lainnya. Sumber : Kelas Inspirasi. Fotografer : Nasr

Ini adalah kali keenam Kelas Inspirasi diadakan di Kota Solo. Meski sudah tahu sebelumnya, tetapi baru tahun ini saya berkesempatan untuk terlibat.

Untuk menjadi relawan pengajar, saya mendaftar terlebih dahulu melalui formulir yang disediakan oleh Solo Mengajar. Kita dapat memilih untuk berkontribusi sebagai Inspirator (orang yang mengajar) atau Dokumentator ( fotografer dan videografer yang mendokumentasikan kegiatan). Setelah proses seleksi yang dilakukan panitia, maka selanjutnya komunikasi dilakukan melalui WhatsApp bagi relawan yang terpilih.

Hari Inspirasi dilaksanakan Sabtu tanggal 28 Juli 2018. Sayapun ditempatkan di SDN Losari bersama empat orang Inspirator lainnya.

Kelas Inspirasi dimulai dengan sesi apel pagi pada pukul 07.00. Seluruh siswa kelas 4, 5 dan 6 menempatkan diri di lapangan sekolah. Kepala sekolah dan jajaran guru juga turut hadir. Saya merasa haru dengan keterlibatan sekolah dalam momen ini. Terlebih hari sabtu tersebut seharusnya sekolah libur, namun mereka tetap bersemangat untuk masuk.

Setelah apel dan sambutan-sambutan, para siswa dan seluruh tim Kelas Inspirasi melakukan senam  bersama. Senam Meumere berhasil membuat kami keringatan semua pagi itu.

Pukul 07.45 seluruh siswa masuk ke kelas. Dan mulailah kami para Inspirator masuk ke masing-masing kelas untuk mengajar. 

SARA NEYRHIZA
Sumber : Kelas Inspirasi. Fotografer : Reza P. Islam

Public speaking memang tidak pernah mudah. Meski mengajar adalah pekerjaan saya, namun ketika berhadapan dengan anak-anak ternyata memang dua kali lebih sulit. Tantangannya terletak bagaimana menjaga perhatian mereka tetap fokus. Jika di kampus saya bertemu mahasiswa yang asyik bermain handphone di kelas, tetapi saat sesi mengajar murid SD saya menemukan para siswa yang sibuk gojek (bercanda) sendiri. Di sinilah tugas kita sebagai pengajar untuk membuat kelas terasa menyenangkan. Bisa dengan ice breaking permainan, tepuk tangan atau interaksi tanya jawab.


Di Kelas Inspirasi ini saya mencoba memperkenalkan profesi saya sebagai penyiar radio. Saya putarkan video saat saya sedang bersiaran agar para siswa memiliki gambaran bagaimana seorang penyiar radio bekerja. Siswa juga saya ajarkan beberapa teknik pernafasan dan senam wajah yang umumnya dilakukan penyiar sebelum mulai siaran. 

Waktu tiga puluh menit terasa begitu cepat. Ingin rasanya berlama-lama saya hadir di tengah-tengah mereka seharian penuh. Memandang binar dan wajah polos mereka dalam tawa yang merekah.

SARA NEYRHIZA
Sumber : Kelas Inspirasi. Fotografer : Nasr

Sehari Mengajar, Selamanya Menginspirasi


Setelah sesi mengajar selesai,  kami kembali berkumpul di lapangan. Di siang yang terik, kami masih menyempatkan untuk senam cuci tangan dipandu oleh fasilitator.

Sesi terakhir para siswa diberi kesemptan untuk menempelkan kertas bertuliskan cita-cita mereka. Betapa terharunya saya, melihat ada tulisan "penyiar radio" yang menjadi cita-cita beberapa siswa. 

Sumber : Kelas Inspirasi. Fotografer : Reza P. Islami


KELAS INSPIRASI SOLO

Saya yakin profesi ini tidak atau belum terbersit dibenak mereka sebelumnya. Namun, semoga kehadiran saya beserta teman-teman Inspirator lainnya mempu membuka wawasan anak-anak ini tentang berbagai profesi yang bisa mereka tekuni di masa depan.

Saya berharap dan berdoa mereka menemukan dirinya lebih awal. Sehingga mereka dapat secara yakin melangkah untuk menggapai mimpinya. Mereka tidak perlu bimbang untuk masuk sekolah mana, jurusan IPA atau IPS atau memilih program studi di bangku kuliah. Karena mereka sudah paham ingin jadi apa.

Setiap orang berhak punya cita-cita.
Mau jadi dokter, insinyur, polisi, selebgram, fotografer,apapun itu semua bisa diimpikan.

Terima kasih untuk Solo Mengajar, Mbak Elis, rekan fasilitator, Inspirator dan Dokumentator untuk seluruh pengalaman yang menyenangkan.

Mungkin kami bukan panutan
Namun ujaran kami semoga menjadi pengetahuan
Dan pengalaman ini menjadi inspirasi

Lihat video dokumentasi Kelas Inspirasi ini


Let's be friends!

Instagram | Facebook | Twitter

See you on the next blogpost.

Thank you,

Barista Inklusif, Karena Kopi Kita Setara

3.8.18
Jangan lihat dari butiran biji yang menghitam karena proses roasting. Tapi lihat bagaimana kehadirannya menjadi kekuatan revolusi sosial. Perjalanan ini tidak sebentar. Ditanam oleh masyarakat Ethiopia, masyarakat Arab kemudian membawa ke level yang lebih tinggi dari sekedar minuman domestik rumahan.


Kopi, Sebuah Perjalanan

Istilah kopi yang kita kenal, berasal dari bahasa Arab  “qahwa” diadaptasi ke dalam bahasa lainnya seperti seperti bahasa Turki “kahve”, bahasa Belanda “koffie”, bahasa Perancis “cafĂ©”, bahasa Italia “caffè”, bahasa Inggris “coffee”, bahasa Cina “kia-fey”, bahasa Jepang “kehi”, dan bahasa melayu “kawa. (ncausa.org)

Kopi secara signifikan menjadi minuman di kedai kopi di mana-mana "qahveh khaneh " yang bermunculan di desa-desa, kota-kota  di seluruh Timur Tengah dan Afrika timur. Rumah-rumah kopi ini segera menjadi ruang beramah tamah dan  tempat untuk bersosialisasi. Minum kopi di tengah percakapan dengan hiburan pertunjukan musik, menari, permainan catur, juga bergosip, berdebat dan mendiskusikan berita, peristiwa yang terjadi di hari itu. 

Kedai kopi telah berubah menjadi schools of the wise. Kopi dan intelektualitas-pun terjalin.

Tahun 1600-an para pedagang di Venesia membawa kopi menyebar ke daerah Eropa lainnya, menyeberang Samudra Atlantik hingga tiba di New York. Orang Belanda membawa kopi dari Malabar, India, dan tibalah ke Jawa.

Kopi adalah Gaya Hidup

BARISTA INKLUSIF PROGRAM PEDULI

Kopi bukan lagi hanya seduhan cangkir rumahan, atau gelas putih bening di warung kopi sembari menikmati singkong rebus dan rokok kretek. Mereka yang berdasi, para pekerja, bos-bos yang melakukan rapat mengubah ritual kafein menjadi penggambaran akan kondisi keuangan pribadi dan bagaimana seseorang menggunakan uang (Cooper, 2014, dalam Consumer Behavior of Coffee Drinker ). 

Coffee is a lifestyle.

Kopi menjadi rekan dalam bercerita. Pernah suatu kali saya sedang begitu penat akan rutinitas harian. Saya sengaja duduk menyendiri di sebuah kedai kopi mainstream. Memesan green tea latte yang "mungkin" tidak se-kopi, kopi yang sebenarnya. Manisnya lebih dominan.

Meski demikian kesendirian saya berteman kopi ini berhasil meluruskan benang kusut dalam pikiran saya. Ketika seorang kawan hadir bergabung, obrolan kami berdua berubah menjadi diskusi yang menyenangkan. Kami membicarakan banyak cita dan cinta. Tanpa terasa bergelas-gelas kopi melewati kerongkongan. Kopi menjadi mediator kami berbagi rasa.

Entah bagaimana Tuhan menciptakan kopi. Jenisnya amat beragam, diolah dengan berbagi cara, disuguhkan dengan berbagai cita rasa. Namun, selalu berhasil membangkitkan selera. Pada kopi kita belajar keberagaman. Kita manusia mampu menerima perbedaan rasa dengan suka cita dan dengan hati terbuka.

Kopi dalam Ruang Inklusi


Kita pasti sepakat bahwa kopi membangun sebuah ruang yang lebih terbuka. Ketika ada kopi di hadapan kita, ide-ide, gagasan, opini menjadi lebih mudah tersampaikan. Kopi berhasil mengajak masuk dan mengikutsertakan semua orang dengan berbagai perbedaan latar belakang, karakteristik, kemampuan, status, kondisi, etnik, budaya dan lainnya. 

Kopi mampu meniadakan hambatan dan menghasilkan lingkungan yang menyenangkan. Seperti ketika kita berada di sebuah coffee shop. Kita yang secara fisik berada di sana, bertemu dengan beragam manusia, bisa merasa saling menghargai dan merangkul setiap perbedaan.
Inclusion is about living full lives. About learning to live together.

Inclusion in Diversity


Keberagaman adalah keniscayaan. Keberagaman adalah takdir yang digariskan Tuhan. Setiap manusia hadir dengan latar belakang, histori masa lalu, kemampuan dan pengalaman hidup yang berbeda. Tapi kita punya satu kesamaan. Kita sebagai zoon politicon ingin mendapatkan penghargaan yang sama dari orang lain, ingin dihargai, ingin dihormati, ingin setara, tidak ingin dibeda-bedakan.

Namun tidak dapat dipungkiri, kehidupan masyarakat kita tidak se-ideal yang kita harapkan. Struktur sosial menghadirkan mereka yang disebut kelompok marjinal. Marjinal atau marginal digambarkan sebagai suatu kelompok sosial tertentu yang keberadaannya dianggap sebagai kelompok masyarakat yang memiliki status sosial paling rendah dan terpinggirkan. Di Indonesia, kaum marjinal menyandang berbagai masalah kesejahteraan sosial yang kompleks. Keberadaan mereka tidak dianggap akibat sikap eksklusivitas kelompok masyarakat lainnya.


Hal inilah kemudian yang menjadi dasar pergerakan dari Program Peduli . Mengutip langsung dari website resminya, Program Peduli  dirancang pemerintah untuk meningkatkan inklusi sosial bagi enam kelompok yang paling terpinggirkan di Indonesia, yang kurang mendapat layanan pemerintah dan program perlindungan sosial. 

Enam kelompok sasaran Program Peduli adalah 
(1) Anak dan remaja rentan 
(2) Masyarakat adat dan lokal terpencil yang tergantung pada sumber daya alam
(3) Korban diskriminasi, intoleransi, dan kekerasan berbasis agama
(4) Orang dengan disabilitas
(5) Hak asasi manusia dan restorasi sosial
6) Waria. (Sumber : programpeduli.org)

Maka kemudian untuk meningkatkan inklusi sosial dan ekonomi dalam pembangunan Indonesia, meningkatkan akses pelayanan hak dasar dan penerimaan sosial bagi mereka yang terpinggirkan,   Program Peduli melaksanakan program yang disebut Barista Inklusif.

Semangat Kesetaraan dalam Barista Inklusif

BARISTA INKLUSIF PROGRAM PEDULI

Barista Inklusif adalah program yang digagas oleh Program Peduli bekerja sama dengan Pusat Rehabilitasi Yakkum, Yogyakarta dan Cupable Coffee - cups for empowering difable people, yang melibatkan rekan difabel untuk mendapatkan pelatihan menjadi barista profesional. 

Barista sendiri dikenal sebagai orang yang menyajikan minuman (kopi dan lainnya) kepada pelanggan. Seperti yang kita tahu, barista memang bekerja di kedai kopi, bar-kopi atau coffee shop dan biasanya mengoperasikan mesin-mesin espresso komersial yang cenderung rumit. Bukan hanya sekedar menyiapkan minuman, seorang barista yang terampil juga dituntut memiliki pengetahuan yang baik tentang seluruh proses kopi, sehingga kopi yang dihasilkan mampu memuaskan para pelanggannya.

Sebanyak delapan orang terlibat dalam program Barista Inklusif ini selama satu bulan. Pelatihan berjenjang  dilakukan di bawah pengawasan langsung barista-barista yang bekerja di Cupable Coffee dan pemilik Cupable Coffee, Banu Subagio. Para peserta pelatihan belajar mulai dari hal dasar, seperti mengenal berbagi jenis kopi, mengoperasikan berbagai peralatan, hingga pratik membuat bermacam-macam kopi yang nikmat. Pengetahuan mengenai manajemen perencanaan bisnis, dan aktivitas promosi melalui media sosial juga peserta pelatihan dapatkan.

Dipilihnya rekan difabel untuk terlibat dalam Barista Inklusif ini bukannya tanpa alasan. Seperti yang kita tahu, bahwa penyandang disabilitas termasuk dalam kelompok minoritas yang menjadi sasaran Program Peduli.

Kepala Pusat Rehabilitasi Yakkum menjelaskan, bahwa ada lebih dari 25.000 orang penyandang disabilitas di Yogyakarta. Salah satu permasalahan yang dihadapi  adalah sempitnya lapangan pekerjaan yang terbuka bagi penyandang disabilitas. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya ketrampilan yang yang mereka miliki.

Hal ini kemudian yang menjadi tujuan hadirnya Barista Inklusif ini, yakni
1. Mencetak barista profesional dari kalangan difabel.
2. Meningkatkan produktivitas dan peningkatan skill
3. Terbukanya lapangan pekerjaan 

Pada akhirnya setelah program Barista Inklusif ini diikuti, rekan difabel dapat kembali ke masyarakat dengan ketrampilan yang lebih baik. Ruang-ruang bisnis seperti coffee shop dapat menerima mereka dengan baik berdasarkan kemampuan profesional yang mereka miliki. Baiknya lagi, rekan difabel dapat membuka warung kopi secara mandiri. Terlebih selama pelatihan, mereka juga telah mendapatkan materi mengenai penerimaan diri, komunikasi efektif dan pemecahan masalah


BARISTA INKLUSIF PROGRAM PEDULI

Karena Kopi Kita Setara


Minggu, 29 Juli 2018 saya berkesempatan hadir di acara Kopi Brewbagi, Barista Inklusif, Karena Kopi Kita Setara, bertempat di halaman Cupable Coffee dan Pusat Rehabilitasi Yakkum. Acara yang dimulai pukul 10.00 ini sangat menarik. Kami yang hadir dapat mendengarkan berbagai gagasan dari beberapa narasumber. Mereka adalah Bernard Batubara, penulis, Rani Ayu Hapsari, project manager Program Peduli Pilar Disabilitas, Frischa Aswarini, penulis ide cerita film Filosofi Kopi 2 dan Eko Sugeng, peserta pelatihan Barista Inklusif.

BARISTA INKLUSIF PROGRAM PEDULI
Sesi Ngobrol Santai

Pada sesi ngobrol santai ini, masing-masing narasumber menceritakan kedekatan mereka dengan kopi. Bernard Batubara, yang menjadi penulis sejak 2007 ini bercerita momen ketika ia mengalami titik jenuh dalam dunia kepenulisan dan ingin berhenti menulis. Pada fase ini dia mengalihkan rutinitasnya dan tertarik pada aktivitas di kedai kopi. Rasa penasarannya pada mesin kopi justru membuat imajinasinya kembali menari-nari dalam pikirannya. Momen ini menjadi tiik balik dimana rasa rindu akan menulis kemudian terlahir kembali. Meski kemudian lebih sering menyeduh kopi rumahan, kopi telah menjadi teman bagi Bernard Batubara dalam melahirkan tulisan.


Kisah lain bergulir dari  Frischa Aswarini. Meski mengaku lambungnya terasa perih jika menikmati kopi, kopi menjadi hal yang berhasil menjadi inspirasi dalam dia berkarya. Tempat tinggalnya di Bali juga lekat dengan budaya ngopi di kedai-kedai. Maka tidak asing baginya, bahwa kopi menjadi media bertukar pikiran.

Rani Ayu Hapsari dari Program Peduli juga menyadari betul bahwa kopi menjadi media bagi penyandang difabel untuk bersuara. Kopi menjadi pintu masuk bagi mereka untuk dapat diterima di masyarakat. Karena melalui kedai kopi-lah, orang lebih mampu menghargai sesamanya.

Eko Sugeng juga merasa bahagia dapat mengikuti program Barista Inklusif ini. Hobinya ngopi selama ini, menjadi lebih berarti ketika dia memiliki skill lainnya. Eko Sugeng tidak lagi keluar masuk kedai kopi hanya sekedar menjadi penikmat. Barista Inklusif memberikannya kesempatan untuk berkarya melalui kopi.

Saya pribadi merasa tergugah mengikuti acara ini. Saya tidak menyangka bahwa kopi memiliki ceritanya masing-masing. Kopi punya caranya sendiri untuk memikat hati.

Acara  Barista Inklusif, Karena Kopi Kita Setara ini melibatkan berbagai komunitas, salah satunya komunitas blogger. Sembari menyimak setiap obrolan yang mengalir, kami juga mengikuti kompetisi instagram yang diadakan.

BARISTA INKLUSIF PROGRAM PEDULI
Fun Battle

Sesi terakhir yang tidak kalah seru adalah sesi fun battle. Dimana para barista beradu saling  menunjukkan kemampuannya dalam menghasilkan kopi yang istimewa.


Sebuah Konklusi

Pada akhirnya kita semua akan difabel.- Bernard Batubara

Sebenarnya, saya lebih suka menggunakan istilah difabel daripada disabel. Disabel memiliki makna "ketidakmampuan". Sedangkan difabel lebih memiliki makna "memiliki kemampuan yang berbeda". Bagi saya, mereka rekan difabel mampu kok melakukan banyak hal sehari-hari sama seperti kita yang "normal", hanya saja kemampuannya yang berbeda atau dengan cara yang berbeda.

Maka ketika mendengar apa yang disampaikan Bernard Batubara, bahwa pada akhirnya kita semua akan difabel, hati saya langsung terketuk dan mengamininya. Pada akhirnya akan ada suatu titik dimana hal -hal yang dapat kita lakukan saat ini, akan kita lakukan dengan kemampuan kita yang berbeda. Entah karena suatu kondisi, sakit atau karena menua. Hal ini menjadi pengingat kita untuk jangan jumawa. Untuk apa merasa eksklusif dengan apa yang kita miliki saat ini, jika pada akhirnya kita juga akan menjadi sama.

Terima kasih Program Peduli, Pusat Rehabilitasi Yakkum dan Cupable Coffee yang telah memberikan kesempatan bagi kami untuk belajar tentang perbedaan. Mari bersama mewujudkan Indonesia Inklusif yang setara dan semartabat.

Kita harus belajar dari kopi. Meski disajikan dengan cara berbeda-beda, kita menerimanya dengan suka cita.
BARISTA INKLUSIF PROGRAM PEDULI


Untuk informasi Program Peduli lainnya :

Website: www.programpeduli.org
Facebook: Program Peduli
Instagram: @programpeduli
YouTube: Program Peduli


Let's be friends!

Instagram | Facebook | Twitter

See you on the next blogpost.

Thank you,

Auto Post Signature