Jaminan Pendidikan Anak Melalui Asuransi AXA Mandiri

4.3.21
ASURANSI PENDIDIKAN ANAK


Keberadaan produk asuransi yang ada saat ini bukanlah menjadi barang baru lagi bagi masyarakat. Setiap produk ausransi menawarkan benefit atau keuntungan bagi orang-orang yang menggunakan produk asuransi. Asuransi pendidikan menjadi salah satu produk asuransi yang memberikan jaminan kepada pendidikan anak. Banyak orang tua yang memilih asuransi ini demi memberikan masa depan yang baik bagi buah hatinya. Dengan asuransi ini pula, kelak orang tua tidak perlu lagi dipusingkan dengan biaya pendidikan anak.


Pentingnya Asuransi Pendidikan 

Sesuai dengan namanya, asuransi pendidikan adalah sebuah jaminan pendidikan yang kelak akan ditempuh oleh buah hati pasa saat waktunya. Fakta di lapangan menerangkan bahwa biaya pendidikan akan terus mengalami peningkatan. Tidak hanya itu, lama waktu yang akan orang tua hadapi untuk membayar biaya pendidikan juga cukup lama. 


Ketika anak masuk ke Sekolah Dasar, orang tua akan mengeluarkan biaya pendidikan selama enam tahun. Untuk Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, orang tua harus mengeluarkan biaya pendidikan selama tiga tahun. Belum lagi ketika masuk ke perguruan tinggi, empat tahun lamanya mereka mengeluarkan dana pendidikan yang cukup besar. Karena itulah, para orang tua perlu untuk mempondasi diri dengan menyiapkan persiapan yang matang melalui asuransi pendidikan.


Asuransi AXA Mandiri membantu para orang tua untuk menyiapkan biaya pendidikan anak. Asuransi ini juga akan memastikan buah hati para orang tua untuk mengeyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Asuransi didaftarkan dengan menggunakan nama orang tua pencari nafkah utama keluarga. Biaya premi akan dibayarkan setiap bulannya dimana besaran premi akan diatur oleh perusahaan asuransi berdasarkan dengan beberapa pertimbangan. Asuransi pendidikan sebaiknya didaftarkan sejak buah hati masih kecil. Semakin muda usia anak, semakin kecil pula biaya premi yang akan dibayarkan oleh orang tua.


Pendaftaran asuransi pendidikan kepada anak dapat membuat perusahaan asuransi bahwa orang tua tersebut memiliki sikap serius terhadap pendidikan anak. Keuntungan lainnya yang akan diperoleh oleh masyarakat yang mendaftarkan asuransi pendidikan adalah biaya pendidikan akan terus dibayarkan oleh pihak asuransi meskipun orang tua telah meninggal dunia dan tidak membayarkan biaya premi asuransi kembali. Kondisi ini merupakan hal yang sangat penting mengingat kita tidak tahu kapan usia kita akan berakhir.


Tips Memilih Asuransi Pendidikan

Karena kita tahu betapa pentingnya asuransi pendidikan bagi anak, kita juga wajib tahu cara memilih asuransi pendidikan yang benar. Untuk mengetahui tips atau caranya, simak ulasannya di bawah ini:


a. Hitung biaya pendidikan anak yang dibutuhkan

Sebelum menentukan asuransi pendidikan yang tepat, kita harus menghitung jumlah biaya pendidikan anak yang kelak akan dibutuhkan. Semua aspek pendidikan perlu kita perhitungkan dengan baik seperti biaya uang pangkal, uang seragam, SPP tiap bulan, uang transport, uang buku dan biaya ekstrakulikuler.


b. Menilai kemampuan finansial 

Jika telah menemukan seberapa besar jumlah biaya pendidikan yang akan anak perlukan, cara memilih asuransi pendidikan lainnya adalah dengan menilai kemampuan finansial kita sendiri. Kita harus memikirkan seberapa banyak uang yang dapat disisihkan ketika memilih produk asuransi pendidikan. Karena asuransi pendidikan merupakan asuransi jangka panjang, biaya premi yang akan dibayarkan sebaiknya tidak memberikan gangguan terhadap kondisi keuangan.


c. Memilih perusahaan asuransi yang tepat

AXA Mandiri menjadi salah satu pilihan perusahaan asuransi yang layak untuk dipertimbangkan. Bagaimana tidak? Perusahaan asuransi ini telah lama dikenal memiliki track record baik dan terpercaya. Perusahaan ini bahkan telah terdaftar OJK atau Otoritas Jasa Keuangan


d. Meneliti kembali polis asuransi


Produk Asuransi Pendidikan AXA Mandiri

Guna memberikan kenyamanan dan keuntungan bagi pengguna asuransi, AXA Mandiri menghadirkan beberapa jenis asuransi pendidikan kepada masyarakat. Asuransi Mandiri Tabungan Rencana menjadi salah satu produk asuransi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menyiapkan biaya pendidikan saja melainkan untuk menyiapkan dana pernikahan, wisata, perjalanan ibadah hingga jaminan masa tua. Untuk satu bulannya, kita hanya perlu membayarkan premi sebesar 100 ribu saja. Kelebihan dari asuransi ini adalah pemilik asuransi dapat meningkatkan jumlah setoran hingga 20 tahun.


asuransi axa mandiri


Mandiri Elite Plan menjadi produk asuransi pendidikan lainnya yang memberikan perlindungan investasi secara maksimal. Lima puluh persen dana dimanfaatkan guna melakukan pembayaran premi untuk tahun pertama dan 100 % dana akan dialokasikan untuk investasi di tahun berikutnya. Asuransi ini menawarkan asuransi berdasarkan dengan kebutuhan masyarakat. 


Keuntungan lain dari asuransi ini adalah kemudahan menarik dana yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak. Produk  asuransi pendidikan lainnya yang dapat menjamin pendidikan anak adalah Mandiri Sejahtera Cerdas. Usia anak yang diperbolehkan untuk didaftarkan asuransi adalah usia 0 tahun hingga 15 tahun. Tidak hanya jaminan pendidikan, asuransi ini dapat memberikan manfaat investasi dan proteksi jiwa.



See you on the next blogpost.








Thank you, 

Menjaga Konten Tetap Positif, Etis dan Kreatif

22.2.21

ZAHRA NOOR ERIZA



Menulis adalah salah satu kegiatan yang membuat saya bahagia. Selalu menyenangkan, mengeluarkan pikiran dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Di sisi lain jadi ada perasaan berguna, jika apa yang kita tulis bermanfaat bagi pembaca.

Selama pandemi, saya mengoptimalkan beberapa platform daring. Tujuannya, agar tulisan dan konten yang saya buat bisa menyebar lebih luas tanpa batasan geografis dan demografis. Siapapun bisa mengaksesnya asalkan terkoneksi internet.

Menggunakan platform daring mungkin sudah tidak asing. Bahkan saat waktu di rumah lebih banyak seperti saat ini, orang makin berlomba- lomba menjadi digital creator. Buat para pengajar baik guru maupun dosen, membuat konten pembelajaran online menjadi sebuah keharusan.

Membuat konten di media sosial tidak hanya  berkaitan dengan keterampilan desain visual. Konten berupa teks, audio, gambar, audio visual selalu berangkat dari tulisan dan cerita. Seperti ketika saya membuat podcast, agar dalam penyampaian lebih efektif saya membuat naskahnya terlebih dahulu. 

Baca : Cara Membuat Naskah Podcast


Menggabungkan seluruh media daring untuk suatu tujuan tertentu disebut dengan konvergensi. Saya sendiri menggabungkan blog, podcast, vlog dan microblog di instagram untuk mengedukasi keterampilan komunikasi kepada para pembaca dan penonton. Semuanya bisa diakses dengan gratis.

Ketika menjadi kreator konten, ada 5 hal yang saya coba terapkan.

1. Tahu topik apa yang kita kuasai, sehingga konten yangg disampaikan ada isinya ✔️
2. Punya tujuan yang positif dan tetap menjaga etika ✔️
3. Tahu siapa audiens yang kita tuju agar pesan bisa diterima secara efektif ✔️
4. Pilih platform yang nyaman agar bisa maksimal dalam berkreativitas ✔️
5. Konsisten ✔️



Kamis, 18 Februari 2021 yang lalu saya terpilih sebagai salah satu pembicara dalam acara  Akademika Litera pada kategori penulis inovator.  Akademi Litera merupkan rangkaian pra- acara Festival Literasi Nasional 2021 yang bertujuan untuk memberikan wadah kepada insan pendidikan dan pegiat literasi untuk menyampaikan gagasan. 


LITERASI KOTA SOLO

See you on the next blogpost.








Thank you, 

Persiapan Interview Narasumber Podcast (Juga Radio, IG Live dan Vlog)

9.2.21

 

Wawancara narasumber podcast

Saya masih bertahan dengan podcast monolog. Meski harus mengakui, kalau format podcast ini bukan kesayangan pendengar. Butuh perjuangan atau persona yang kuat biar audiens bertahan mendengarkan sampai menit terakhir. Apalagi kalau topiknya berat, penyiarnya ngomongnya monoton, dan durasi kelamaan, ya bikin pendengar cepet bosen.


Beda dengan podcast interview. Dengan menghadirkan narasumber untuk di wawancarai, format podcast ini memberi suasana yang lebih cair, meskipun masih kalah dengan podcast berformat conversational yang lebih "meriah". Cuma, kalau narasumberya gokil nan asyik, topiknya relatable dengan banyak orang, endengar juga bisa betah berlama - lama.


Kebanyakan podcast video mengusung podcast interview. Saya salah satu penikmat podcast End Game milik Gita Wirjawan, yang pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan era Pak SBY di 2014. Yang bikin suka dari End Game ini, karena pembawaan si Pak Gita yang kasual dan nggak meledak- ledak. Topiknya berisi, bintang tamu terkurasi  dan dibawakan dengan bilingual tapi nggak too much. Penontonnya jadi lebih pinter.


Membawakan podcast wawancara memang nggak bisa sembarangan ya. Karena goalnya adalah menambah insight baru buat pendengar. Jangan sampe ketika kelar dengerin, pendengar ngerasa nggak dapet apa- apa. 


Secara garis besar, entah itu interview di radio, podcast, vlog, Instagram Live, maupun event offline sama aja kok. Keberhasilan sebuah interview, didukung oleh 4 faktor :

- Orang yang mewawancarai

- Topik yang menarik

- Narasumber yang selain asyik juga relevan dengan topik

- Kualitas audio yang nyaman didengarkan (+ visual kalau vlog)


Buat kamu yang ingin membuat podcast interview, pasti akan mengusahakan hadirnya narasumber sebagai guest star. Biar proses produksi berjalan lancar, berikut 5 persiapan untuk mewawancarai narasumber.



1. Cari narasumber yang relevan

The right man in the right place, biar apa yang diomongin ada isinya, cari narsumber yang memang menguasai topik atau materi yang ingin kamu angkat. Narasumber yang nggak kredibel juga bikin podcastmu jadi nggak berbobot. Jangan sampe deh kejadian kaya vlog Anji yang sempet blunder beberapa waktu lalu. Ngebahas Covid-19 yang diundang tukang jamu yang pake "embel- embel" profesor- padahal cuma panggilan tongkrongan dan bukan gelar akademis.


Jangan males buat riset. Cari latar belakang pendidikan, pekerjaan atau karyanya. Sekarang kan ada sosmed tuh, kita bisa eksplorasi dari akun facebook, instagram, blog atau linked.in milik sang narasumber untuk tahu track recordnya.



2. Buat jadwal dan teknis

Setelah ketemu narasumber yang sesuai, coba hubungi dan ajukan jadwal untuk produksi. Podcast interview nggak harus ketemu tatap muka kok sebenernya. Kita bisa pakai video conference kalau memang butuh visual. Kalau cuma butuh suara alias podcast audio, saya biasanya pake zoom (diambil audionya doang), pake recorder di hape atau menelpon narsumber secara langsung.


Intinya, nggak semua orang ngerti teknis produksi ya. Jadi perlu dijelasin semua di awal. Apa aja yang dijelasin?


- Kapan acaranya (live atau rekaman)

- Teknis produksi seperti apa

- Apa format acaranya

- Siapa pendengarnya

- Durasi berapa lama

- Promosi apa yang akan dilakukan


Plus, omongin juga soal bayaran. Apakah ada ganti uang lelah dan transport, atau gratisan atau barter. Jelasin semua di awal, biar semua nyaman.


Baca Juga : Ini Perlengkapan Podcast yang Saya Pakai


3. Buatlah kerangka pertanyaan untuk mendukung alur wawancara.


Sebelum produksi, saya biasanya kirim dulu daftar pertanyaan yang nantinya akan saya gunakan untuk wawancara narasumber. Meskipun pada praktiknya, bisa aja banyak pertanyaan improvisasi. Tapi paling nggak narasumber bisa mempelajari pertanyaan tersebut, dan nggak gelagapan ketika ditanya.


Tipsnya :

  • Hindari pertanyaan basic seperti "sedang sibuk apa, kerja dimana, dll" (riset dulu euy...ini pertanyaan membosankan dan bikin keliatan nggak tahu apa- apa soal tamu kita)
  • Hindari yes no question
  • Fokus pada pertanyaan "How" dan "Why"
  • Jangan tanyakan topik sensitif yang berhubungan sama keluarga, pernikahan, agama, politik atau bisnis tanpa permisi dulu


4. Briefing narasumber


Ketika semua sudah disepakati dan tibalah waktu produksi, jangan buru- buru buat merekam suara dan gambar. Briefing sekali lagi terkait teknis produksi yang akan dilakukan. 

  • Siapakan tempat yang nyaman dan air minum jika rekaman dilakukan dengan tatap muka. 
  • Pastikan koneksi stabil jika rekaman dilakukan dengan video conference atau telpon.


Baca Juga : Format Podcast Disukai Pendengar


5. Rekaman dengan serius


Artinya, kesiapan bukan hanya dari sisi host dan guest, tapi juga seluruh perlengkapan yang digunakan.


Cek kembali apakah semua sudah oke. Jangan sampai lupa kerekam, atau file kehapus.
Buat interview yang dilakukan via telpon, lebih baik kamu mengandalkan microphone dari handphone daripada pake earphone atau headset. Karena hasil output audio dari mic smartphone terbukti lebih minim noise.


Lima langkah persiapan sebelum wawancara narsumber podcast ini semoga bisa membantu kamu ya.


Oiya, biasanya, saya pakai 2 cara untuk interview narasumber.

1. Melalui telpon. 
Saat sudah tersambung, saya mengaktifkan fitur recorder di hape. Proses wawancara langsung terekam otomatis. 

Ini adalah hasilnya :

 


2. Saya akan kirim pertanyaan lewat whatsapp, dan meminta narsumber untuk merekam suaranya sendiri dengan fitur recorder di hape. Kemudian mengirim ulang kepada saya untuk proses editing dan mixing.

Ini adalah  hasilnya :




See you on the next blogpost.








Thank you, 

Tular Nalar, Tularkan Berpikir Kritis

1.2.21

 

TULAR NALAR


2017, usai menyelesaikan tesis dan dinyatakan lulus, saya mulai resah. Bukan karena bingung memanfaatkan gelar baru di ijazah. Bukan. Tapi, saat itu saya ingin mencoba bidang pekerjaan yang lebih menantang.


Saya mulai tergoda untuk mencoba hal baru. Sesuatu yang dirasa menyenangkan, tapi juga menghasilkan cuan. Mulailah saya belajar monetisasi instagram dan blog.


Setelah bergabung dengan komunitas blog, kesempatan bekerja sama dengan brand terbuka lebar. Kerja sama  berupa content placement,  sponsored post dan endorsement mulai berdatangan. Social media yang semula hanya sebagai dokumentasi aktivitas harian, akhirnya menjadi media untuk berkreasi. Semakin produktif, semakin banyak penghasilan.


Senang, tentu saja.

Tapi ada satu hal yang tidak saya sadari. 


Kegiatan bermedsos sedikit banyak mengubah mentalitas. Yang awalnya merasa senang hati mencoba hal baru, berubah menjadi obsesi pada numbers. They are about  like, comment, follower, impression dan istilah statistik lainnya.


Sejujurnya hal ini melelahkan. Setahun saya struggle dengan hal ini. Kesehatan mental mulai terganggung. Jumlah like menjadi dopamin yang membuat level kebahagiaan naik turun. Semakin banyak, semakin gembira. Sayangnya ini fana. Ketika tidak mencapai apa yang diharapkan, akhirnya merasa sia- sia dan tidak berguna.


Ini tidak mudah. Saya jadi banyak merenung, introspeksi diri.


Sekarang Insya allah sudah waras. I really don't care. Mau dapet like banyak silakan, nggak ya uwis.

Sudah sampai di fase menggunakan sosmed dengan kesadaran penuh, istilah kerennya mindfulness. Saya lebih sehat, dan happy. Lebih punya tujuan.


Berpikir Kritis,  Menggunakankan Nalar Sehat dan Obyektif


Apa yang saya alami adalah sebagian kecil dari fenomena terpaan media sosial yang berhasil mengubah perilaku manusia. Apa yang dihadapi orang lain bisa jauh lebih berat dan buruk.


Lihat saja, beberapa artis Korea yang mengakhiri hidupnya karena cyber bullying yang ia terima. Puluhan kasus pidana,  akibat kesalahan dalam memposting sesuatu yang merugikan pihak lain di media sosial. Parahnya, banyaknya produksi hoaks yang mendekatkan pada devide et impera. Masyarakat terpolarisasi, yang hingga kini masih susah disatukan. Semua bisa terjadi karena internet, social media salah satunya.


Bak pisau bermata ganda, ada nilai positif ada pula sisi membawa malapetaka. Teknologi tidak salah toh, hanya manusianya saja yang perlu pake logika.


Jika belajar dalam ilmu komunikasi (jurnalistik) sebenarnya kita bisa melihat bahwa informasi di internet tidak sepenuhnya fakta. Justru kini, banyak informasi yang diputar balikkan, fakta yang dikaburkan, infromasi salah yang membuat mispersepsi. Kita mengenalnya sebagai hoaks atau hoax.


Hoaks dapat berwujud dalam 3 jenis informasi : 


  1. Misinformasi : Informasinya salah, tapi orang yang menyebarkannya percaya bahwa informasi itu benar. Penyebaran informasi dilakukan TANPA ada tendensi untuk merugikan orang lain.
  2. Disinformasi : Informasi yang tidak benar dan orang yang menyebarkannya juga tahu jika informasi itu tidak benar. Informasi ini merupakan kebohongan yang sengaja disebarkan untuk menipu, mengancam, bahkan membahayakan pihak lain. 
  3. Malinformasi : Informasinya sebetulnya benar. Sayangnya, informasi itu digunakan untuk mengancam keberadaan seseorang atau sekelompok orang dengan identitas tertentu. Malinformasi bisa dikategorikan ke dalam hasutan kebencian.


tular nalar


Data Kemenkominfo menyebutkan bahwa ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar hoaks. Ini adalah bukti bahwa internet telah salah dimanfaatkan oknum tertentu untuk keuntungan pribadi dan kelompoknya dengan cara menyebarkan konten-konten negatif yang menimbulkan keresahan dan saling mencurigai di masyarakat.


Apakah mereka yang berpendidikan tinggi lantas bisa terhindar dari hoaks?

Tentu saja tidak.


Semua tergantung seberapa peduli kita menggunakan nalar kritis. Mau bersusah payah melakukan verifikasi atau pengecekan terhadap informasi. Berani untuk skeptis, bahwa informasi bisa saja benar bisa juga salah dan tidak mentah- mentah menyebar luaskan informasi yang diterima.


Jangan main- main dengan hoaks. Peperangan antar negara bisa terjadi akibat informasi palsu.Ingat invasi Amerika Serikat ke Irak, yang "katanya ada senjata biologis pemusnah masal"? 

Sampai detik ini hal tersebut tidak terbukti. Isapan jempol belaka. Tapi berapa nyawa sudah melayang? Berapa puluh gedung runtuh? Barapa banyak anak kehilangan orang tuanya? Ini semua karena hoaks. Selengkapnya : https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/hoaks-senjata-pemusnah-massal-lahirkan-invasi-as-ke-irak-cGq6



Tular Nalar, Menularkan Berpikir Kritis


Netizen yang budiman nan cinta damai, sudah selayaknya mampu menilai sebuah informasi, yang nantinya lebih bijak dalam mengambil sebuah tindakan. Setelah memahami bahwa bermedia sosial perlu tujuan yang positif, etis dan kreatif, saya bisa lebih bahagia tanpa kehilangan passion dalam berkarya di dunia digital as a digital content creator.


Berpikir kritis dimulai dari diri sendiri. Berpikir kritis diartikan sebagai proses dan kemampuan yang digunakan untuk memahami konsep, menerapkan, mensintesis dan mengevaluasi informasi yang diperoleh atau informasi yang dihasilkan. Dengan menggunakan nalar kritis kita bisa  melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Keputusan yang diambil lebih adil dan bisa dipertanggungjawabkan. 


Maka, untuk menularkan semangat berpikir kritis, hadirlah program Tular Nalar. Sebuah program inisiatif Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia), Love Frankie dan Ma'arif Institute yang didukung oleh Google. org.


Dipilih menjadi fasilitator Tular Nalar, saya berkesempatan untuk mentransfer semangat Tular Nalar ini kepada para dosen dari Universitas Muhammadiyah Gorontalo dan Mataram pada 23 November 2020 lalu. Setelah sebelumnya, saya mengikuti Training of Trainer bersama 39 dosen lainnya dari berbagai kampus di Indonesia.


TULAR NALAR
Pelatihan daring bersama Universitas Muhammadiyah Gorontalo

TULAR NALAR
Pelatihan daring bersama Universitas Muhammadiyah Mataram


Program Tular Nalar pun juga sudah resmi di launching pada 21 Desember 2020 yang dilakukan secara daring. Menjadi moderator pada event tersebut, saya bisa secara langsung melihat bahwa program Tular Nalar ini digodog dengan maksimal oleh para pakar lintas bidang. Hasilnya, kurikulum Tular Nalar diturunkan dalam 8 kompetensi, 3 jenjang dan 8 tema yang diwujudkan dalam berbagai sarana pembelajaran, mulai dari video, website, artikel rubrik, dan lain-lain.




Melalui program Tular Nalar, kompetensi literasi digital dapat diasah sesuai dengan konteksnya. Serta mampu diterapkan dan ditularkan ke berbagai elemen masyarakat. Tentu saja bukan hanya diranah kampus saja, tapi juga sekolah dan komunitas.


Pada akhirnya, ini adalah tentang kesadaran kita sebagai masyarakat digital. Apakah mau diam saja, atau mau bergerak dan membekali diri dengan nalar yang kita punya. Tahu, tanggap dan tangguh terhadap arus informasi yang tidak terbendung, juga kepentingan kelompok yang bersifat destruktif.


Tidak perlu dengan langkah yang besar, mulai dulu dari diri sendiri. 


Tular Nalar, Bukan Sekadar Paham. Tapi, semangat untuk mau berpikir dan tidak tinggal diam.




Referensi :

Sumber: http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/12/12/p0uuby257-ada-800000-situs-penyebar-hoax-di-indonesia


See you on the next blogpost.








Thank you, 

Alat Untuk Seminar Online dari Rumah

26.1.21
SARA NEYRHIZA TRAINER PUBLIC SPEAKING


Awal tahun 2021 ternyata nggak bisa selow. Saya dan suami memutuskan untuk merenovasi kantor SPEAKING.id, yang sebenernya udah ditunda lama. Sifatnya urgent, beneran harus dilakukan sekarang. Akhirnya meski masih pandemi dan musim hujan, proses bikin kantor biar lebih oke terus berlanjut.


Masalahnya, meski kantor lagi off tentu pekerjaan harus lanjut terus. Apalagi kelas online dan kerja sama narasumber seminar atau workshop online masih jalan. Yaudah deh, semua perangkat untuk ngajar daring akhirnya diangkut ke rumah.


Jarak kantor dan rumah deket kok, paling cuma 3 menit. Beda blok doang. Soal angkut mengangkut bisa dibawa pake tangan sambil jalan, plus bawa mobil untuk barang- barang yang lebih kecil.


Setelah sampai kerumah, kami memanfaatkan sisa space lantai 2. Nggak besar, tapi harus cukup.


Nah, kali ini saya coba share, perangkat apa sih yang saya pakai ketika ngajar dan jadi narasumber webinar Silakan cek di bawah ini.



MAIN SYSTEM


Mau nggak mau, biar simple, saya masih mengandalkan laptop harian. Sebagai pengganti web cam yang gambarnya kurang oke, dan males pake kamera (sayang sama kamera kalau over heat.ha ha ha), saya memilih hape Samsung lawas J1 mini sebagai gantinya. Dengan aplikasi Droidcam dikoneksikan ke laptop pake kabel usb.


Untuk suara, saya pakai microphone Samson C01 yang dicolok ke audio interface Behringer UMC404HD yang lewat jalur usb juga. Total ada 3 colokan usb yang terpakai. 1 untuk cam, 1 untuk audio interface dan 1-nya buat dongle mouse wireless.


Nah untuk di aplikasi Zoom, setting videonya kita arahkan ke virtual camera aplikasi Droidcam, dan audionya kita arahkan ke mic input dari Behringer UMC404HD. Sementara untuk headphone supaya bisa bersembunyi di dalam jilbab saya masih pakai earphone bawaan hape Samsung yang ada aja.



BACKUP SYSTEM


Nggak ada rencana yang 100% sempurna. Makanya, saya harus ready backup system. Kalau ada gangguan koneksi dan perangkat, bisa cepat teratasi.


Saya pakai Samsung Tab dan headset Logitech 151 buat komunikasinya. Set-up ini bebas listrik dan sudah ada provider tersendiri untuk koneksi internetnya.

Jadi kalo ada kejadian listrik mati (dan internet rumah biasanya ikutan mati karena routernya mati juga kan) bisa segera pindah tanpa perlu waktu yang lama.



Ribet- nggak- ribet ya.. Tapi, semua harus diusahakan, apalagi kalau kita memang ingin menjadi trainer dan public speaker yang profesional. Kendala pasti tetap ada. Bahkan, kalau hujan deres banget, bisa tuh sinyal ilang atau mati lampu tiba- tiba.


Kalau udah ngerasa optimal usahanya, jangan lupa doa dan kemudian berserah pada Tuhan. Just enjoy the show!



See you on the next blogpost.








Thank you, 



Asyiknya Reading Aloud dengan Let's Read

9.1.21

 

APLIKASI LETS READ

"Mah, malam ini sepuluh cerita ya"

 

Waduh, sepuluh? Saya garuk- garuk kepala. Judul buku apalagi yang harus saya baca. Rasanya bosan mengulang- ulang buku yang sama. Saya harus lebih pintar berimprovisasi. Karena selain sebagai pembaca buku, sekarang jadi pendongeng juga. Ceritanya bermacam- macam. Mulai dari cerita kelinci dan wortel, kisah tentang peri di Negeri Merah Jambu, legenda Timun Emas, dan masih banyak lainnya.

 

Saya tidak pernah keberatan menikmati kesempatan 20 menit setiap malam bercerita sambil berdiskusi dengan Lila, anak saya. Apalagi mungkin seharian saya lebih fokus bekerja. Sesekali Lila memang suka merengek, kenapa mamanya sibuk sekali. Tapi dengan aktivitas bed time story ini, bisa jadi semacam penebus dosa atas waktu bermain yang sedikit bersamanya.

 

Mungkin, para ibu yang bekerja di ranah publik merasakan hal yang sama. Ada kalanya bonding dengan anak berkurang. Meski secara fisik kami bertemu, ternyata waktu tidak melulu bisa berpadu. Mungkin kita dekat, tapi secara hati jauh dan berjarak.

 

Hak anak, yang kadang terabaikan atas nama kesibukan dan rasa lelah. Sebagian orang tua merasa sudah memberikan semuanya, dengan uang hasil kerja keras. Tapi terkadang kita lupa, anak hanya ingin diperhatikan dan merasa dekat.

 

Itulah mengapa saya merasa senang. Ketika akhirnya menemukan best moment bersama anak melalui aktivitas membaca cerita. Bermodalkan buku atau aplikasi cerita, saya bisa leluasa melakukan reading aloud atau aktivitas membaca nyaring. Membaca menyenangkan bukan hanya karena kisahnya yang menarik, tetapi juga karena interaksi, tawa dan melihat ekspresi wajah anak yang antusias ketika sebuah dongeng dihidupkan melalui cerita bergambar.

 

Reading Aloud

 


Usia Lila hampir 6 tahun. Kemampuan membaca dan menulisnya sudah berkembang pesat. Terlebih selama 10 bulan terakhir saya dan suami mengambil alih tugas guru selama pandemi. Kami mengajar Lila setiap hari. Membaca, menulis, menggambar, membuat kerajinan tangan, juga mengaji.

 

Untuk menstimulasi kebiasaan membaca, saya mengenalkan reading aloud pada Lila. Reading aloud atau membaca nyaring diartikan sebagai aktivitas membaca buku dengan cara disuarakan. Jadi ketika membaca buku, kita sampaikan dengan suara lantang. Meski terbilang mudah, ternyata reading aloud ini memberi banyak manfaat. Seperti, meningkat daya imajinasi anak, melatih anak memahami alur cerita, menambah perbendaharaan kata, melatih berbicara dan berdiskusi, dan yang tidak kalah penting yaitu menguatkan bonding ibu dan anak.

 

"Apakah membaca nyaring harus dilakukan dalam durasi yang lama?" seorang kawan saya pernah bertanya. Oh, tidak. Cukup 15 menit setiap hari, manfaat reading aloud ini bisa dirasakan.

 

Aktivitas ini sebenarnya bukan hanya untuk orang tua dengan anak yang sudah mampu membaca saja. Bahkan, semenjak dalam kandungan orang tua bisa mulai aktif membacakan buku untuk calon bayi mereka. Professor Minna Huotilainen dari University of Helsinki dalam penelitian berjudul Prenatal Music Exposure Induces Long-Term Neural Effects ( 2013) menjelaskan, bahwa otak janin mampu beradaptasi dengan suara dan bahasa yang ia dengar sejak dalam rahim. Baik dari nyanyian atau ketika diajak berbicara oleh orang tuanya. Maka, reading aloud bisa menjadi stimulasi positif untuk membuat otak janin berkembang dengan lebih optimal.

 

Tidak ada waktu yang spesifik untuk melakukan reading aloud. Kita bisa lakukan kapan dan di mana saja. Tapi perhatkan mood anak, hindari saat ia merasa lapar, lelah, atau ngatuk berat.

 

Memilih Cerita Untuk Reading Aloud

 

Setelah membaca puluhan cerita, ternyata tidak semua buku dan cerita nyaman untuk dibaca nyaring. Cerita yang bertele- tele akan membuat anak cepat bosan dan kesulitan memahami jalan cerita.

 

Ada beberapa karakteristik cerita yang cocok untuk membaca nyaring.

 

1. Cerita boleh fiksi maupun non fiksi 

Sesuaikan dengan usia anak. Anak di bawah 5 tahun memang lebih tepat dengan cerita fiksi, untuk anak di atas 5 tahun kita bisa memadukan dengan cerita non fiksi yang disesuaikan dengan nilai- nilai kehidupan sehari hari.

 

2. Pilih cerita bergambar

Pada dasarnya otak manusia memang lebih responsif terhadap pesan visual. Cerita bergambar akan memudahkan anak dalam memahami cerita.


3. Pilih cerita dengan alur yang tegas dan tokoh yang kuat

Anak memiliki tingkat konsentrasi yang terbatas. Orang tua sebaiknya memilih cerita yang lugas dan tidak bertele- tele. Cerita- cerita deskriptif dan argumentatif kurang sesuai untuk aktivitas reading aloud karena terlalu detail. Kecuali jika orang tua mampu melakukan parafrase sehingga cerita bisa dinikmati dengan ringan.

 

4. Pilih buku dengan teks berukuran besar

Jika kita menggunakan buku untuk media reading aloud, sebaiknya memilih buku dengan teks berukuran besar. Beri kesempatan anak untuk mengeja huruf demi huruf untuk meningkatkan skill membacanya.

 


Let’s Read.

Membaca Nyaring dengan Mudah dan Menyenangkan 

 

Ada kalanya saya bingung, ketika anak selalu meminta cerita baru untuk disampaikan. Jika harus membeli buku baru terus menerus pasti akan merepotkan. Untungnya saya menemukan aplikasi Let’s Read


Let’s Read adalah sebuah perpustakan digital dengan banyak koleksi cerita anak, yang  diprakarsai oleh Books for Asia dari The Asia Foundation. Aplikasi ini bertujuan menumbuhkan minat baca anak yang ada  di Asia. Cerita anak di Let's Read tersedia dalam berbagai bahasa, termasuk  bahasa daerah seperti bahasa Sunda, Jawa dan Bali.  Konten lokal ini dikembangkan melalui lokakarya dan bekerja sama dengan para pakar buku anak dan komunitas.

 

Sejak mengenal Let's Read, screen time Lila jadi lebih bermanfaat. Selain bisa diakses melalui aplikasi, kita bisa juga mengakses melalui website letsreadasia.org


Apa yang membuat Let's Read menarik dan betah menggunakannya?

 

1. Cerita bergambar yang menarik ✔️

Setiap kisah di Let's Read dilengkapi dengan gambar yang menghidupkan dongeng. Dengan cerita bergambar ini, akan membantu improvisasi saat reading aloud sekaligus menarik perhatian anak. Anak akan lebih mudah mengimajinasikan alur cerita dengan gambar yang ditampilkan.

 

2. Pilihan cerita yang beragam ✔️

Pada aplikasi Let’s Read  disajikan gulir menu untuk memilih :

  • bahasa
  • level cerita
  • topik cerita

 

LETS READ APLIKASI CERITA ANAK



Para ibu bisa menyesuaikan dengan kebutuhan mereka menurut bahasa, usia anak dan topik yang anak sukai.

 

3. Mengembangkan kreativitas dengan berbagai bentuk konten ✔️

 

Pembaca Let’s Read diizinkan melakukan adaptasi cerita ke dalam format lain. Seperti membuat konten audio (podcast) atau video (vlog) tanpa ada izin tertulis dari penulis maupun ilustrator. Kita juga boleh mengunduh dan mencetak cerita  jika dibutuhkan untuk sesi membaca di rumah atau di sekolah.

 


Menghidupkan Dongeng dengan Cerita Bergambar

 

LETS READ READING ALOUD

Ketika dinobatkan sebagai Bunda Duta Baca Kota Solo tahun 2019, saya memiliki misi untuk menyebarkan semangat membaca ke lebih banyak orang tua. Saya memahami bahwa minat baca anak sangat dipengaruhi oleh kebiasaan orang tua. Maka, jika orang tua tidak membudayakan kebiasaan membaca di rumah, maka minat baca anak tidak akan timbul.

 

Hasil penelitian evaluasi sistem pendidikan Programme for International Student Assesment (PISA) di tahun 2018 menunjukkan, bahwa siswa di Indonesia menempat nilai terendah untuk pengukuran membaca, matematika, dan sains. Maka, sudah menjadi tugas kita sebagai orang tua agar lebih peduli untuk meningkatkan literasi baca tulis anak sejak dari rumah. Salah satunya dengan aktivitas Reading aloud ini.

 

Bagaimana agar aktivitas membaca nyaring menjadi menyenangkan?

 

1. Pahami ceritanya

Sebelum membacakan cerita ke anak, sebaiknya kita sudah memahami jalan ceritanya terlebih dahulu. Sehingga, kita bisa melakukan improvisasi jika dibutuhkan.

 

2. Pilih tempat yang nyaman

Kita bisa melakukan reading aloud di atas kasur, atau duduk di sofa. Posisikan tubuh anak dengan nyaman, sehingga ia bisa fokus mendengarkan cerita yang kita bacakan.

 

3. Perkenalkan Cerita

Sampaikan judul ceritanya. Bisa juga dengan menyebutkan nama penulis dan ilustratornya. Lalu, mulai dengan mengenalkan tokoh utama dalam cerita tersebut.

 

4. Improvisasi dengan suara dan gestur

Agar sesi reading aloud tidak monoton, lakukan improvisasi dengan memberikan efek suara yang dramatis dan menyenangkan, gestur, ekspresi wajah, dan perubahan nada suara agar anak semakin tertarik menyimak.

 

5. Tunjukkan detail ilustrasi gambar

Tunjukkan detail ilustrasi dan penokohan dalam cerita untuk menguatkan imajinasi anak.

 

6. Luangkan waktu untuk diskusi

Rasa ingin tahu anak sangat besar. Coba pancing agar ia belajar mengemukakan pendapat dan perasaan mereka. Gunakan pertanyaan kreatif untuk mendorong pemikiran dan diskusi yang mendalam.


 

Nah, seperti apa sih serunya ketika saya membaca nyaring bersama  Lila dengan aplikasi Let's Read? 

Lihat yuk video di bawah ini.

 


 

Membaca nyaring itu menyenangkan, bukan?


Untuk mendapatkan banyak cerita seru lainnya, yuk download aplikasi Let’s Read di Play Store atau App Store atau klik di sini. Temukan berbagai cerita bergambar menarik dalam berbagai bahasa, bisa diakses dimana saja, dan pastinya gratis.

 

Happy Reading aloud!

 

 

 

See you on the next blogpost.








Thank you, 


6 Hal yang akan Membuat Audiens Membenci Presentasimu

26.12.20

 

CARA MENARIK PERHATIAN AUDIENS KETIKA PUBLIC SPEAKING

"Apakah penampilan saya terlalu buruk?" 

"Apakah materi terasa membosankan?"

"Apakah saya orang yang menyebalkan?"


Pernahkah kamu merasa tidak dihargai audiens, saat presentasi di kantor atau di kampus?  Selain bikin tidak semangat, hal ini juga membuat penampilan jadi asal-asalan. Dan akhirnya menurunkan percaya diri dipenampilan selanjutnya. "Toh, juga gak diperhatikan. Kenapa harus tampil dengan oke?"


Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah ini berarti audiens membenci presentasi kita?

 Yuk, kita coba cari tahu apa kemungkinan penyebabnya.


1. Jarang berinteraksi dengan teman-temanmu. 

Sehingga tidak terjalin kedekatan emosional. Atau parahnya, kamu adalah pribadi yang menyebalkan. Kasarnya begini, selama ini kawan atau kolegamu mungkin menganggapmu tidak penting, maka ketika kamu tampil di depan, kehadiranmu dianggap tidak cukup penting juga. 


Butuh usaha lebih keras untuk mengubah impresi audiens. Tapi tetap bisa dilakukan, yang paling mudah adalah dengan menggunakan pakaian yang berbeda dengan kebiasaan. Minimal, secara visual kamu bisa mencuri perhatian.


2. Penampilan presentasimu membosankan.

Presentasi dalam format acara edukasi atau bisnis bisa menjadi rutinitas. Karena dianggap biasa, maka tidak perlu tampil istimewa.  Beberapa orang mungkin tidak tertarik untuk meningkatkan communication skillnya. Maka, dengan penampilan volume suara yang terlalu lirih, bicara monoton, sampai postur tubuh yang terlihat kaku atau kikuk, akhirnya menjadi kebiasaan yang meninggalkan kesan membosankan bagi para audiens.


Baca Juga : Belajar Presentasi dari Seo Dal Mi di Drama Korea Start Up


3. Tidak fokus pada audiens yang hadir.

Postur adalah salah satu bahasa tubuh yang harus kita jaga. Agar telihat percaya diri, seseorang harus berdiri tegak, menjaga ekspresi wajah tersenyum semangat, serta menggunakan gestur pendukung agar terdengar meyakinkan.


Tapi tidak semua orang menganggap hal ini penting. Lihat saja yang sering terjadi. Selama public speaking, tubuhmu lebih condong membelakangi audiens karena sibuk membaca slide presentasi. Atau fokus pada materi print out yang kamu pegang. Selain terlihat monoton, kamu juga tidak menjaga eye contact dengan audiens.


Sebagai presenter kamu tidak menganggap audiens ada, maka audiens juga tidak menganggapmu hadir untuk mereka.


4. Materi yang disampaikan tidak menarik.

Presentasi memasukan kekuatan vokal, visual dan verbal. Meski verbal adalah elemen terkecil yang meninggalkan kesan, bukan berarti lalu dianggap remeh dan dilupakan. Bisa saja materi yang disampaikan bertele- tele,  terlalu lawas, tidak ada WOW Moment, atau memang tidak relate dengan audiens. Sehingga, audiens merasa tidak memiliki ketertarikan dan kepentingan untuk mendengar lebih jauh.


5. Menampilkan slide dokumen dan bukan slide presentasi.

Pernah melihat dosen memaparkan materi kuliah berupa slide yang panjang lebar dan full of text? Ini bukanlah slide presentasi, melainkan slide dokumen.


Slide dokumen bertujuan memaparkan hal penting secara menyeluruh. Sedang slide presentasi fokus pada poin- poin penting saja.


Slide dokumen sering kali minim estitika. Bukan hanya penuh teks berukuran kecil tapi juga tidak ada gambar pendukung.


Bagi audiens, slide dokumen membuat mereka harus membaca materi, sehingga apa yang disampaikan presenter tidak lagi penting 


Baca Juga : Rumus Berbicara Efektif


6. Tidak ada interaksi

Presentasi adalah aktivitas komunikasi. Maka, penting untuk melibatkan audiens dalam kegiatan tersebut agar komunikasi yang berlangsung bersifat 2 arah. Beri kesempatan audiens untuk berpendapat, bertanya, atau memberi tanggapan, tidak melulu menunggu sesi tanya jawab berlangsung.


Selain 6 hal di atas, adakah hal lain yang membuat audiens malas mendengarkanmu saat presentasi?



See you on the next blogpost.








Thank you, 



Auto Post Signature