Asyiknya Reading Aloud dengan Let's Read

9.1.21

 

APLIKASI LETS READ

"Mah, malam ini sepuluh cerita ya"

 

Waduh, sepuluh? Saya garuk- garuk kepala. Judul buku apalagi yang harus saya baca. Rasanya bosan mengulang- ulang buku yang sama. Saya harus lebih pintar berimprovisasi. Karena selain sebagai pembaca buku, sekarang jadi pendongeng juga. Ceritanya bermacam- macam. Mulai dari cerita kelinci dan wortel, kisah tentang peri di Negeri Merah Jambu, legenda Timun Emas, dan masih banyak lainnya.

 

Saya tidak pernah keberatan menikmati kesempatan 20 menit setiap malam bercerita sambil berdiskusi dengan Lila, anak saya. Apalagi mungkin seharian saya lebih fokus bekerja. Sesekali Lila memang suka merengek, kenapa mamanya sibuk sekali. Tapi dengan aktivitas bed time story ini, bisa jadi semacam penebus dosa atas waktu bermain yang sedikit bersamanya.

 

Mungkin, para ibu yang bekerja di ranah publik merasakan hal yang sama. Ada kalanya bonding dengan anak berkurang. Meski secara fisik kami bertemu, ternyata waktu tidak melulu bisa berpadu. Mungkin kita dekat, tapi secara hati jauh dan berjarak.

 

Hak anak, yang kadang terabaikan atas nama kesibukan dan rasa lelah. Sebagian orang tua merasa sudah memberikan semuanya, dengan uang hasil kerja keras. Tapi terkadang kita lupa, anak hanya ingin diperhatikan dan merasa dekat.

 

Itulah mengapa saya merasa senang. Ketika akhirnya menemukan best moment bersama anak melalui aktivitas membaca cerita. Bermodalkan buku atau aplikasi cerita, saya bisa leluasa melakukan reading aloud atau aktivitas membaca nyaring. Membaca menyenangkan bukan hanya karena kisahnya yang menarik, tetapi juga karena interaksi, tawa dan melihat ekspresi wajah anak yang antusias ketika sebuah dongeng dihidupkan melalui cerita bergambar.

 

Reading Aloud

 


Usia Lila hampir 6 tahun. Kemampuan membaca dan menulisnya sudah berkembang pesat. Terlebih selama 10 bulan terakhir saya dan suami mengambil alih tugas guru selama pandemi. Kami mengajar Lila setiap hari. Membaca, menulis, menggambar, membuat kerajinan tangan, juga mengaji.

 

Untuk menstimulasi kebiasaan membaca, saya mengenalkan reading aloud pada Lila. Reading aloud atau membaca nyaring diartikan sebagai aktivitas membaca buku dengan cara disuarakan. Jadi ketika membaca buku, kita sampaikan dengan suara lantang. Meski terbilang mudah, ternyata reading aloud ini memberi banyak manfaat. Seperti, meningkat daya imajinasi anak, melatih anak memahami alur cerita, menambah perbendaharaan kata, melatih berbicara dan berdiskusi, dan yang tidak kalah penting yaitu menguatkan bonding ibu dan anak.

 

"Apakah membaca nyaring harus dilakukan dalam durasi yang lama?" seorang kawan saya pernah bertanya. Oh, tidak. Cukup 15 menit setiap hari, manfaat reading aloud ini bisa dirasakan.

 

Aktivitas ini sebenarnya bukan hanya untuk orang tua dengan anak yang sudah mampu membaca saja. Bahkan, semenjak dalam kandungan orang tua bisa mulai aktif membacakan buku untuk calon bayi mereka. Professor Minna Huotilainen dari University of Helsinki dalam penelitian berjudul Prenatal Music Exposure Induces Long-Term Neural Effects ( 2013) menjelaskan, bahwa otak janin mampu beradaptasi dengan suara dan bahasa yang ia dengar sejak dalam rahim. Baik dari nyanyian atau ketika diajak berbicara oleh orang tuanya. Maka, reading aloud bisa menjadi stimulasi positif untuk membuat otak janin berkembang dengan lebih optimal.

 

Tidak ada waktu yang spesifik untuk melakukan reading aloud. Kita bisa lakukan kapan dan di mana saja. Tapi perhatkan mood anak, hindari saat ia merasa lapar, lelah, atau ngatuk berat.

 

Memilih Cerita Untuk Reading Aloud

 

Setelah membaca puluhan cerita, ternyata tidak semua buku dan cerita nyaman untuk dibaca nyaring. Cerita yang bertele- tele akan membuat anak cepat bosan dan kesulitan memahami jalan cerita.

 

Ada beberapa karakteristik cerita yang cocok untuk membaca nyaring.

 

1. Cerita boleh fiksi maupun non fiksi 

Sesuaikan dengan usia anak. Anak di bawah 5 tahun memang lebih tepat dengan cerita fiksi, untuk anak di atas 5 tahun kita bisa memadukan dengan cerita non fiksi yang disesuaikan dengan nilai- nilai kehidupan sehari hari.

 

2. Pilih cerita bergambar

Pada dasarnya otak manusia memang lebih responsif terhadap pesan visual. Cerita bergambar akan memudahkan anak dalam memahami cerita.


3. Pilih cerita dengan alur yang tegas dan tokoh yang kuat

Anak memiliki tingkat konsentrasi yang terbatas. Orang tua sebaiknya memilih cerita yang lugas dan tidak bertele- tele. Cerita- cerita deskriptif dan argumentatif kurang sesuai untuk aktivitas reading aloud karena terlalu detail. Kecuali jika orang tua mampu melakukan parafrase sehingga cerita bisa dinikmati dengan ringan.

 

4. Pilih buku dengan teks berukuran besar

Jika kita menggunakan buku untuk media reading aloud, sebaiknya memilih buku dengan teks berukuran besar. Beri kesempatan anak untuk mengeja huruf demi huruf untuk meningkatkan skill membacanya.

 


Let’s Read.

Membaca Nyaring dengan Mudah dan Menyenangkan 

 

Ada kalanya saya bingung, ketika anak selalu meminta cerita baru untuk disampaikan. Jika harus membeli buku baru terus menerus pasti akan merepotkan. Untungnya saya menemukan aplikasi Let’s Read


Let’s Read adalah sebuah perpustakan digital dengan banyak koleksi cerita anak, yang  diprakarsai oleh Books for Asia dari The Asia Foundation. Aplikasi ini bertujuan menumbuhkan minat baca anak yang ada  di Asia. Cerita anak di Let's Read tersedia dalam berbagai bahasa, termasuk  bahasa daerah seperti bahasa Sunda, Jawa dan Bali.  Konten lokal ini dikembangkan melalui lokakarya dan bekerja sama dengan para pakar buku anak dan komunitas.

 

Sejak mengenal Let's Read, screen time Lila jadi lebih bermanfaat. Selain bisa diakses melalui aplikasi, kita bisa juga mengakses melalui website letsreadasia.org


Apa yang membuat Let's Read menarik dan betah menggunakannya?

 

1. Cerita bergambar yang menarik ✔️

Setiap kisah di Let's Read dilengkapi dengan gambar yang menghidupkan dongeng. Dengan cerita bergambar ini, akan membantu improvisasi saat reading aloud sekaligus menarik perhatian anak. Anak akan lebih mudah mengimajinasikan alur cerita dengan gambar yang ditampilkan.

 

2. Pilihan cerita yang beragam ✔️

Pada aplikasi Let’s Read  disajikan gulir menu untuk memilih :

  • bahasa
  • level cerita
  • topik cerita

 

LETS READ APLIKASI CERITA ANAK



Para ibu bisa menyesuaikan dengan kebutuhan mereka menurut bahasa, usia anak dan topik yang anak sukai.

 

3. Mengembangkan kreativitas dengan berbagai bentuk konten ✔️

 

Pembaca Let’s Read diizinkan melakukan adaptasi cerita ke dalam format lain. Seperti membuat konten audio (podcast) atau video (vlog) tanpa ada izin tertulis dari penulis maupun ilustrator. Kita juga boleh mengunduh dan mencetak cerita  jika dibutuhkan untuk sesi membaca di rumah atau di sekolah.

 


Menghidupkan Dongeng dengan Cerita Bergambar

 

LETS READ READING ALOUD

Ketika dinobatkan sebagai Bunda Duta Baca Kota Solo tahun 2019, saya memiliki misi untuk menyebarkan semangat membaca ke lebih banyak orang tua. Saya memahami bahwa minat baca anak sangat dipengaruhi oleh kebiasaan orang tua. Maka, jika orang tua tidak membudayakan kebiasaan membaca di rumah, maka minat baca anak tidak akan timbul.

 

Hasil penelitian evaluasi sistem pendidikan Programme for International Student Assesment (PISA) di tahun 2018 menunjukkan, bahwa siswa di Indonesia menempat nilai terendah untuk pengukuran membaca, matematika, dan sains. Maka, sudah menjadi tugas kita sebagai orang tua agar lebih peduli untuk meningkatkan literasi baca tulis anak sejak dari rumah. Salah satunya dengan aktivitas Reading aloud ini.

 

Bagaimana agar aktivitas membaca nyaring menjadi menyenangkan?

 

1. Pahami ceritanya

Sebelum membacakan cerita ke anak, sebaiknya kita sudah memahami jalan ceritanya terlebih dahulu. Sehingga, kita bisa melakukan improvisasi jika dibutuhkan.

 

2. Pilih tempat yang nyaman

Kita bisa melakukan reading aloud di atas kasur, atau duduk di sofa. Posisikan tubuh anak dengan nyaman, sehingga ia bisa fokus mendengarkan cerita yang kita bacakan.

 

3. Perkenalkan Cerita

Sampaikan judul ceritanya. Bisa juga dengan menyebutkan nama penulis dan ilustratornya. Lalu, mulai dengan mengenalkan tokoh utama dalam cerita tersebut.

 

4. Improvisasi dengan suara dan gestur

Agar sesi reading aloud tidak monoton, lakukan improvisasi dengan memberikan efek suara yang dramatis dan menyenangkan, gestur, ekspresi wajah, dan perubahan nada suara agar anak semakin tertarik menyimak.

 

5. Tunjukkan detail ilustrasi gambar

Tunjukkan detail ilustrasi dan penokohan dalam cerita untuk menguatkan imajinasi anak.

 

6. Luangkan waktu untuk diskusi

Rasa ingin tahu anak sangat besar. Coba pancing agar ia belajar mengemukakan pendapat dan perasaan mereka. Gunakan pertanyaan kreatif untuk mendorong pemikiran dan diskusi yang mendalam.


 

Nah, seperti apa sih serunya ketika saya membaca nyaring bersama  Lila dengan aplikasi Let's Read? 

Lihat yuk video di bawah ini.

 


 

Membaca nyaring itu menyenangkan, bukan?


Untuk mendapatkan banyak cerita seru lainnya, yuk download aplikasi Let’s Read di Play Store atau App Store atau klik di sini. Temukan berbagai cerita bergambar menarik dalam berbagai bahasa, bisa diakses dimana saja, dan pastinya gratis.

 

Happy Reading aloud!

 

 

 

See you on the next blogpost.








Thank you, 


6 Hal yang akan Membuat Audiens Membenci Presentasimu

26.12.20

 

CARA MENARIK PERHATIAN AUDIENS KETIKA PUBLIC SPEAKING

"Apakah penampilan saya terlalu buruk?" 

"Apakah materi terasa membosankan?"

"Apakah saya orang yang menyebalkan?"


Pernahkah kamu merasa tidak dihargai audiens, saat presentasi di kantor atau di kampus?  Selain bikin tidak semangat, hal ini juga membuat penampilan jadi asal-asalan. Dan akhirnya menurunkan percaya diri dipenampilan selanjutnya. "Toh, juga gak diperhatikan. Kenapa harus tampil dengan oke?"


Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah ini berarti audiens membenci presentasi kita?

 Yuk, kita coba cari tahu apa kemungkinan penyebabnya.


1. Jarang berinteraksi dengan teman-temanmu. 

Sehingga tidak terjalin kedekatan emosional. Atau parahnya, kamu adalah pribadi yang menyebalkan. Kasarnya begini, selama ini kawan atau kolegamu mungkin menganggapmu tidak penting, maka ketika kamu tampil di depan, kehadiranmu dianggap tidak cukup penting juga. 


Butuh usaha lebih keras untuk mengubah impresi audiens. Tapi tetap bisa dilakukan, yang paling mudah adalah dengan menggunakan pakaian yang berbeda dengan kebiasaan. Minimal, secara visual kamu bisa mencuri perhatian.


2. Penampilan presentasimu membosankan.

Presentasi dalam format acara edukasi atau bisnis bisa menjadi rutinitas. Karena dianggap biasa, maka tidak perlu tampil istimewa.  Beberapa orang mungkin tidak tertarik untuk meningkatkan communication skillnya. Maka, dengan penampilan volume suara yang terlalu lirih, bicara monoton, sampai postur tubuh yang terlihat kaku atau kikuk, akhirnya menjadi kebiasaan yang meninggalkan kesan membosankan bagi para audiens.


Baca Juga : Belajar Presentasi dari Seo Dal Mi di Drama Korea Start Up


3. Tidak fokus pada audiens yang hadir.

Postur adalah salah satu bahasa tubuh yang harus kita jaga. Agar telihat percaya diri, seseorang harus berdiri tegak, menjaga ekspresi wajah tersenyum semangat, serta menggunakan gestur pendukung agar terdengar meyakinkan.


Tapi tidak semua orang menganggap hal ini penting. Lihat saja yang sering terjadi. Selama public speaking, tubuhmu lebih condong membelakangi audiens karena sibuk membaca slide presentasi. Atau fokus pada materi print out yang kamu pegang. Selain terlihat monoton, kamu juga tidak menjaga eye contact dengan audiens.


Sebagai presenter kamu tidak menganggap audiens ada, maka audiens juga tidak menganggapmu hadir untuk mereka.


4. Materi yang disampaikan tidak menarik.

Presentasi memasukan kekuatan vokal, visual dan verbal. Meski verbal adalah elemen terkecil yang meninggalkan kesan, bukan berarti lalu dianggap remeh dan dilupakan. Bisa saja materi yang disampaikan bertele- tele,  terlalu lawas, tidak ada WOW Moment, atau memang tidak relate dengan audiens. Sehingga, audiens merasa tidak memiliki ketertarikan dan kepentingan untuk mendengar lebih jauh.


5. Menampilkan slide dokumen dan bukan slide presentasi.

Pernah melihat dosen memaparkan materi kuliah berupa slide yang panjang lebar dan full of text? Ini bukanlah slide presentasi, melainkan slide dokumen.


Slide dokumen bertujuan memaparkan hal penting secara menyeluruh. Sedang slide presentasi fokus pada poin- poin penting saja.


Slide dokumen sering kali minim estitika. Bukan hanya penuh teks berukuran kecil tapi juga tidak ada gambar pendukung.


Bagi audiens, slide dokumen membuat mereka harus membaca materi, sehingga apa yang disampaikan presenter tidak lagi penting 


Baca Juga : Rumus Berbicara Efektif


6. Tidak ada interaksi

Presentasi adalah aktivitas komunikasi. Maka, penting untuk melibatkan audiens dalam kegiatan tersebut agar komunikasi yang berlangsung bersifat 2 arah. Beri kesempatan audiens untuk berpendapat, bertanya, atau memberi tanggapan, tidak melulu menunggu sesi tanya jawab berlangsung.


Selain 6 hal di atas, adakah hal lain yang membuat audiens malas mendengarkanmu saat presentasi?



See you on the next blogpost.








Thank you, 



Ikut Pelatihan Public Speaking Langsung Jago?

14.12.20

 PELATIHAN PUBLIC SPEAKING ONLINE



Saya tidak berani memberi jaminan yang bombastis ketika memutuskan membangun SPEAKING.id di tahun 2018.

"Kursus di sini  dijamin bisa!" 

"Diajari sampai berhasil!" 

"Belajar di sini pasti sukses berbicara!" 


Tidak, pelatihan ini nggak akan menghilangkan grogimu dan membuatmu jago presentasi dalam 3 kali pertemuan. Tidak ada sulap semacam itu. Kami memfasilitasi belajar. Bukan bengkel ketok magic. Bukan pula MLM yang menjual mimpi-mimpi manis.


Yang saya yakini, bahwa proses belajar tidak berhenti di sesi pelatihan/kursus saja. Sebagai pengajar, tentu saja saya berusaha memberi 110% yang saya mampu. Tapi hasilnya, bisa 110%, 200%, 50% atau 0% tergantung bagaimana peserta pelatihan mengembangkan teori dan teknik yang diajarkan, SETELAH pelatihan berakhir.


Sama seperti kuliah. Tidak semua mahasiswa berkarir sesuai program studi yang diambil dan dipelajarinya bertahun- tahun. Begitu pula dengan mengikuti #kursuspublicspeaking 


Keputusan ada di tangan pembelajar.

Selama masih ada alasan "Saya takut nggak dihargai audiens" 

"Saya malu kalau improvasisasi diketawain " "Nanti kalau banyak gaya, saya kelihatan aneh" dan ratusan "ngeles" lainnya untuk berani mencoba hal baru, maka inilah yang akan menjadi hambatan untuk berkembang.


Secukupnya saja ikut pelatihan. Cari tahu teknik seperti apa yang baik dan benar. Dan selanjutnya dipraktikkan. Berproses. Butuh waktu.


Saya mendedikasikan episode pertama Season 3 The Late Brunch with Sara Neyhriza Podcast untuk siapapun yang ingin belajar melalui lembaga pelatihan. Intinya, meskipun kita mengeluarkan uang, namun hasil ditentukan dari seberapa besar kita mengusahakan.


 

Terbentur, terbentur, terbentur, TERBENTUK - Tan Malaka


See you on the next blogpost.








Thank you, 


5 Perbedaan Sepatu Lari dan Sepatu Jalan

6.12.20

 

Perbedaan Sepatu Lari dan Sepatu Jalan


Dua tahun terakhir, saya mulai menyukai aktivitas lari. Tidak perlu waktu lama untuk menyegarkan tubuh di pagi hari, cukup lari 30-45 menit. Karena sudah jadi hobi, untuk lari pagi saya tidak sembarangan dalam memilih sepatu. Ada banyak jenis sepatu yang dijual di pasaran, beberapa di antaranya seperti sepatu lari, sepatu jalan, sepatu sepatu boots, sepatu sneakers dan lain sebagainya. Selain sebagai alas kaki, fungsi sepatu telah melebar menjadi berbagai fungsi, seperti mempercantik penampilan hingga untuk keperluan olahraga.

 

Salah satu masalah terbesar dalam memilih sepatu adalah dengan menganggap bahwa semua jenis sepatu memiliki fungsi yang sama. Padahal satu jenis sepatu memiliki fungsi yang berbeda dengan lainnya.

 

Beberapa sepatu yang sering dianggap sama adalah sepatu lari dan sepatu jalan. Kedua jenis sepatu ini seringkali disalahgunakan oleh banyak orang, sebagai contoh sepatu lari untuk jalan-jalan dan sepatu jalan untuk keperluan olahraga.

 

Supaya tidak salah memilih, tulisan ini akan membahas 5 perbedaan antara sepatu lari dengan sepatu jalan. Yuk, simak ulasan berikut ini.



1. Bantalan Sepatu

Perbedaan pertama antara sepatu lari dan sepatu jalan adalah dengan melihat bantalan sepatu atau cushioning yang ada di dalamnya. Sepatu lari biasanya memiliki bantalan yang cukup banyak seperti di tumit dan di kaki depan, ini bertujuan agar mengurangi resiko benturan di persendian ketika sedang berlari.

 

Hal ini berbeda dengan sepatu jalan. Jenis sepatu ini pada umumnya tidak memiliki bantalan yang banyak seperti sepatu lari. Sepatu jalan memiliki bantalan tumit yang sedikit, sehingga kamu dapat berjalan dengan cepat.


2. Ketinggian Tumit (heel)

Heel sepatu lari ternyata berbeda dengan sepatu jalan. Sepatu lari pada umumnya memiliki tumit yang tinggi melebihi ujung kaki. Hal ini bertujuan supaya saat berlari tidak mengalami pronasi secara berlebihan.

 

Di samping itu, tumit atau heel tinggi pada sepatu lari juga bertujuan untuk mendukung tubrukan saat kaki menyentuh tanah sehingga lebih stabil. Adapun sepatu jalan biasanya memiliki tumit atau heel yang rendah. Sepatu ini tidak memerlukan tumit yang tinggi karena tidak ditujukan untuk berlari supaya lebih stabil.


3. Fleksibilitas

Sepatu lari dan sepatu jalan pada umumnya harus memiliki fleksibilitas yang baik. Namun, perbedaan fleksibilitas kedua jenis sepatu ini terlihat bahwa sepatu lari cenderung fleksibel atau lentur di bagian tengah dan kadang ditambahkan di bagian depan. Hal ini bertujuan supaya dapat mengayunkan bola kaki saat berlari dengan mudah.

 

Sayangnya, sepatu lari memiliki bagian yang tidak fleksibel dan tidak bisa untuk digunakan sebagai sepatu jalan. Hal ini disebabkan karena sepatu ini sudah didesain khusus agar membuat kaki stabil saat berlari, khususnya untuk membuat kaki tidak banyak berputar saat melangkah.

 

Adapun sepatu jalan pada umumnya hanya memiliki fleksibilitas di depan kaki. Ini dikarenakan sepatu jalan hanya membutuhkan bagian jari-jari kaki supaya dapat berjalan dengan baik.


4. Ketersediaan Flared Heel

Ketersediaan flared heel atau “tumit yang melebar” adalah satu perbedaan antara sepatu lari dengan sepatu jalan selanjutnya.

 

Sepatu lari akan selalu memiliki heel flare yang dapat digunakan sebagai penstabil ekstra untuk bagian kaki tengah dan depan saat pelari menginjak tanah. Adapun sepatu jalan biasanya tidak memiliki flared heel karena dianggap tidak diperlukan.


5. Berat Sepatu

Hal terakhir yang membedakan sepatu lari dan sepatu biasa adalah beratnya. Sepatu lari biasanya didesain khusus supaya dapat berlari dengan lebih mudah. Tak heran bila sepatu lari lebih ringan dibandingkan dengan sepatu jalan.

 

Pada umumnya sepatu jalan memang lebih berat daripada sepatu lari. Namun, hal ini akan berbeda bila ada sepatu jalan yang memiliki bantalan dan bobot ringan, sehingga menghasilkan sebuah sepatu jalan yang tetap nyaman saat digunakan. 



Catatan

Setelah mengetahui berbagai perbedaan antara sepatu lari dengan sepatu jalan, salah satu hal yang harus diketahui adalah dengan mengetahui tips dalam membeli sepatu.

 

Untuk mendapatkan rekomendasi sepatu lari atau sepatu jalan, hal yang harus dilakukan adalah dengan cara memilih sepatu sesuai dengan kebutuhan dan beli sepatu di siang hari karena ukuran kaki pada waktu siang biasanya menjadi lebih besar.

 

Di samping itu, ketahui ukuran sepatu yang sesuai dengan kakimu, dan tak kalah penting adalah dengan mencoba sepatu tersebut apakah nyaman atau tidak ketika berjalan dengan sepatu tersebut atau tidak.

 

Itulah kelima perbedaan antara sepatu lari dengan sepatu jalan, jangan lupa untuk mengetahui perbedaan kedua jenis sepatu tersebut agar kamu bisa memakainya sesuai kebutuhan.



See you on the next blogpost.








Thank you, 


Belajar Teknik Presentasi dari Seo Dal Mi di Drama Korea Start Up

2.12.20

 


Penampilan Seo Dal Mi dengan kaos merah bertuliskan CEO di atas panggung Sand Box, berhasil membuat penonton deg-degan. Hal ini sama dirasakan oleh rekan se-timnya dari Sam San Tech yang ragu akan kemampuan Dal Mi karena ia "hanya" lulusan SMA. Audiens juga dibuat penasaran, mampukan Dal Mi berbicara efektif dan memukau juri pada sesi presentasi tersebut.


Episode 5 drama korea Start Up yang dibintangi oleh Suzy, Nam Joo Hyuk, Kim Seon Ho, and Kang Han Na  membuat kita belajar banyak hal. Bukan hanya tentang semangat meraih cita- cita, problem solving, collaboration, bisnis, tetapi juga keterampilan berbicara di depan umum.


Diceritakan, Seo Dal Mi (Suzy), Nam Do San (Nam JooHyuk) dan dua orang rekannya Lee Chul San Kim Yong San mendaftarkan diri ke sebuah ajang Hackathon atau inkubasi perusahaan bernama ‘Sand Box’. Sand Box ini ibarat Silicon Valley-nya Korea. Setelah sepakat menjadi sebuah tim, mereka ditantang untuk membuat sebuah program berbasis Artificial Intelligence selama 3 hari. Dalam mencapai tujuan tersebut, perlu adanya suatu model yang dibentuk menggunakan Machine Learning. 


Seo Dal Mi dan tim memutuskan untuk membuat pemodelan untuk mendeteksi tulisan palsu dan asli dengan menggunakan data tulisan tangan dari bank Jeonghan. Setelah 3 hari berlalu, CEO kemudian diminta untuk mempresentasikan hasil kerjanya di depan juri, yang pada akhirnya memilih 5 perusahaan rintisan untuk masuk ke dalam Sand Box.


Dari sesi presentasi Seo Dal Mi di momen tersebut, ada banyak hal yang bisa kita pelajari kaitannya dengan teknik presentasi. Apa sajakah itu?


1. Persiapan adalah Koentji

Tidak melakukan persiapan, berarti sedang mempersiapkan kegagalan. Begitu pula dengan Seo Dal Mi yang membuat naskah sebelum ia tampil, serta mempelajari materinya dengan baik. Persiapan ini tentu saja disempurnakan dengan campur tangan Han Ji Pyeong yang mengoreksi naskah miliknya.



2. Self- control yang baik


Grogi sebelum public speaking adalah hal yang wajar. Terlebih jika kita berada di atas panggung dengan banyak penonton dan tekanan karena dinilai oleh juri.


Begitu pula yang terjadi pada Dal Mi. Berdiam sejenak di atas panggung sebelum berbicara bukan hal yang haram. Justru ini baik dilakukan sebagai bentuk pengendalian diri. Daripada bicara belibet dan ragu-ragu, kita bisa diam sejenak, mengamati audiens yang hadir sembari mengumpulkan keyakinan untuk tampil lebih percaya diri.


Self-control yang baik juga dilakukan Seo Dal Mi dengan menjaga ekspresi wajah yang bersemangat dan suara yang lantang serta meyakinkan.


Baca Juga : Rumus Bicara Efektif


3. Melakukan interaksi dengan audiens

Tidak seperti kebanyakan presenter yang terburu- buru masuk ke isi, Seo Dal Mi menggunakan pertanyaan sebagai bridging untuk berinteraksi dengan audiens.

Sebelum mulai aku ingin bertanya. Apa kembar identik memiliki jenis tulisan yang sama persis?


Memberi pertanyaan ini menjadi bagian yang menarik dari sesi presentasinya, karena audiens diajak terlibat. Komunikasi yang terjalin menjadi  dua arah.



4. WOW Moment bikin menarik

WOW Moment adalah suatu hal yang mampu mencuri perhatian. Bentuknya bisa berupa cerita menyentuh, fakta atau data penting, video yang memukau, interaksi yang menyenangkan, suara yang dinamis, dan lain- lain.


Membuka presentasinya Seo Dal Mi menyajikan sebuah data yang menarik, sehingga audienspun terus menyimak pemaparannya lebih jauh.

Hasil eksperimen dari peneliti di Amerika mengatakan, bahwa kembar identik sekalipun memiliki jenis tulisan yang berbeda. Dengan ini tulisan tangan bisa disebut juga dengan sidik jari dari otak yang memiliki keunikan masing- masing.



5. Hand Movement untuk memperkuat makna



Hand movement adalah salah satu pesan non verbal yang bisa digunakan untuk memperkuat makna verbal. Sembari menjelaskan, Seo Dal Mi sering menggerakkan tangan (gestur) mengikuti kata- kata yang ia sampaikan, juga menunjuk ke slide presentasi untuk menekankan poin- poin tertentu.



6. Menguasai panggung

Meski presentasi yang dilakukan berada dalam konteks formal, namun seorang presenter tidak harus menunjukkan postur yang kaku dengan berdiri tegak dan diam sepanjang acara. 

Dal Mi terlihat luwes dan menguasai panggung karena tidak segan untuk berjalan ketika menjelaskan materi. Hal ini juga terlihat tidak monoton bagi audiens, karena pandangan mata penonton diajak bergerak seiring dengan posisi tubuh Dal Mi berada.



7. Slide Presentasi Dinamis



Sering melihat slide presentasi penuh teks? Ups! Pasti sangat membosankan. 


Hal ini tidak terjadi dengan slide presentasi Seo Dal Mi yang didesain oleh Jeong Sa Ha yang menjadi desainer di tim Sam San Tech. Slide presentasi miliknya hanya fokus pada poin- poin penting, menyederhanakan teks ke dalam gambar serta didukung transisi slide yang dinamis.


Dengan slide presentasi yang powerful, presenter juga lebih bebas berimprovisasi. Lagi- lagi presentasinya nggak kaku, nggak kaya dosen ngajar di kelas, kan? hehehe



8. Impactful Closing



Presentasi nggak perlu bertele- tele. Seo Dal Mi juga hanya diberi waktu 3 menit untuk presentasi. Dengan waktu yang singkat, ia mampu melakukan presentasi dengan pembukaan yang kuat, isi yang jelas, serta punch line yang meninggalkan kesan.


Punch line di sini adalah bagian akhir presentasi yang bertujuan membangkitkan keinginan audiens untuk melakukan sesuatu. Maka kalimat penutup harus kuat dan mampu menyampaikan emosi.

Aku merasa sangat senang karena bisa bersama Sam San Tech memulai perjalanan ini. Aku harap Sand Box bisa menjadi awal dari perjalanan ini 


Terlepas dari proses shooting dan editing, namun penampilan Seo Dal Mi bisa dibilang mengesankan dalam sesi presentasi ini. Perpaduan dari teknik dan tools yang sempurna.

TAPI...


Meski demikian, ada sedikit catatan berkaitan dengan pakaian yang ia kenakan. Alangkah baiknya, Seo Dal Mi tidak menggunakan luaran berupa jaket tersebut. Pakaian menjadi salah satu eleman visual yang mampu menarik perhatian dan kepercayaan audiens di momen awal public speaking. 

Jaket terlihat sederhana dan kurang profesional. Maka, untuk pakaian, apresiasi saya berikan pada penampilan Won In Jae, yang lebih memilih menggunakan blazer bernuansa formal, simple dan terlihat profesional. 

Tenang.

Style Seo Dal Mi sudah sempurna saat presentasi di episode ke 11 :)


Baca Juga : Persiapan Public Speaking


*Semua gambar di tulisan ini diambil dari screenshot youtube TVN.

See you on the next blogpost.








Thank you, 


Bedah Naskah Podcast Monolog di Lomba Podcast PFN 2020

28.11.20
NASKAH PODCAST MONOLOG


Ini adalah salah satu kompetisi podcast yang berhasil saya menangkan. Lomba podcast ini diadakan oleh Kominfo dan Perum Produksi Film Negara dengan mengangkat tema “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa – Peran Saya dalam Pemulihan Ekonomi Nasional.” yang dilaksanakan dalam rangka Hari Sumpah Pemuda Ke-92, HUT NKRI Ke-75 dan HUT Perum PFN Ke-75. 


JUARA LOMBA PODCAST PFN 2020


Juri Lomba yang WOW banget.

Saya sempat kaget, ketika tahu bahwa lomba podcast ini menghadirkan banyak dewan juri. Siapa saja dewan jurinya baru diumumkan saatengumuman pemenang Lomba Podcast PFN 2020 dilakukan, Rabu 4 November 2020 melalui platform Zoom. "Wah, nggak kaleng-keleng nih," batin saya.


Siapa saja dewan jurinya, mereka adalah 

  • Hendri Saparini (ekonom dan Founder Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia),
  • Ahmad Mahendra (Direktur Perfilman, Musik dan Media Baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
  • Tjandra Wibowo (Direktur Produksi dan Komersial Perum PFN)
  • Joshua Puji Mulia Simanjuntak (Staf Ahli bidang Inovasi dan Kreativitas Kemenparekraf)
  • Fadli Rahman (Staf Ahli Ketua Satgas Pemulihan Ekonomi Nasional dan Komisaris PT Pertamina Hulu Energi)
  • Ferdinandus Setu (Kepala Biro Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika)
  • La Rane Hafied (Working Group Layanan Podcast dan Digital Radio Singapore International)
  •  Rizky Adi Nugroho a.k.a Mr. Popo (Founder Podcast Do You See What I see


Podcast ini saya buat cukup singkat. Paling cuma 2 jam, karena sudah mepet deadline. Kebut aja, yang penting bisa ikutan dan nambah episode baru kalaupun entar kalah.


Baca Juga : Tips Membuat Naskah Podcast


Sama seperti episode The Late Brunch Podcast yang lain, saya juga menyusun naskah terlebih dahulu  sebelum sesi merekam suara. Setelah mengumpulkan data, dan menyusun kerangka cerita, maka saya susun sehingga menjadi naskah yang enak dibaca dan disampaikan.



Berikut ini naskah podcast monolog berjudul "Kita Bisa Apa?"


Introduction

7 bulan lebih di rumah aja? Apa aja yang berubah? Pertama/ jelas rajin pake masker/ selalu bawa handsinitizer/ dan menghindari keluar rumah untuk hal yang nggak perlu//

Kedua/ jadi rajin masak// Selain bisa lebih menjaga kesehatan/ ternyata cara ini juga efektif bikin nggak jajan sembarangan//

Ketiga/ ngantor mulu di rumah// Bener deh/ sejak 16 Maret 2020 saya nggak terima undangan dan pekerjaan di luar rumah// Bukannya sok sokan ya/ tapi memang pengen lebih menjaga diri aja/ Lagian pekerjaan semua bisa online kok// Malah lebih hemat ongkos transport dan jajan..//hehehehe

Keempat/ jadi rajin nonton film// Banyak film Indonesia lawas yang saya tonton ulang// Sekalian nostalgia//

Kelima/ nggak pernah belanja produk tersier// Dulu ya/ hampir tiap bulan hobi banget belanja baju/ tas dan sepatu// Sekarang/oh tentu tidak...//Lha gimana sih/ kan nggak kemana- mana/ pake aja daster di rumah//


Main Idea - Data Explanation

Saya yakin nggak sendiri// Jutaan orang mungkin melakukan hal yang sama// Perubahan perilaku konsumsi masyarakat ini/ ternyata berdampak besar// Aktivitas masyarakat menurun yang berdampak pada ekonomi/ khususnya sektor informal atau UMKM//

Pemerintah juga bekerja keras untuk memulihkan perekonomian ini dengan menggelontorkan dana sebesar Rp203,9 triliun untuk klaster perlindungan sosial yang direalisasikan ke berbagai program/ seperti PKH (Program Keluarga Harapan)/ BPNT (Bantuan Pangan Nontunai)/ Sembako/ BST (Bantuan Sosial Tunai)/ Kartu Prakerja/ BLT (Bantuan Langsung Tunai) Dana Desa/ Banpres Produktif untuk Modal Kerja/ Subsidi Gaji/ dan Diskon Listrik// Program ini untuk meringankan beban ekonomi masyarakat akibat pandemi Covid-19/ sekaligus juga memicu peningkatan produktivitas ekonomi masyarakat// (sumber data : https://setkab.go.id/progres-realisasi-program-pemulihan-ekonomi-nasional-pen-klaster-perlindungan-sosial-26-september-2020-di-istana-kepresidenan-bogor-provinsi-jawa-barat/)

Program Pemulihan Ekonomi Nasional merupakan salah satu rangkaian kegiatan untuk mengurangi dampak Covid-19 terhadap perekonomian/  Tujunnya untuk melindungi/ mempertahankan/ dan meningkatkan kemampuan ekonomi para pelaku usaha dalam menjalankan usahanya selama pandemi Covid-19// Untuk UMKM/ program Pemulihan Ekonomi Nasional diharapkan dapat memperpanjang nafas UMKM dan meningkatkankinerja UMKM yang berkontribusi pada perekonomian Indonesia//


Main Idea- Solution

Lalu /apa peran kita pada ekonomi nasional?//

Belanja guys/ itu salah satunya// Belanja produk UMKM yang ada disekitar kita// Kalau kita belajar dari core valuenya BUMN yakni AKHLAK Amanah/ Kompetensi/ Harmonis/ Loyalitas/ Adaftif/ dan Kolaborasi// Saat ini adalah waktunya untuk kita beradaptasi dan berkolaborasi.

Jika selama ini kita cuek dengan kesehatan// Nah/ sekarang kita bisa beradaptasi dengan menerapkan 3M Menggunakan Masker Mencuci Tangan Menjaga Jarak untuk memutus mata rantai penularan penyakit corona// Plus jangan lupa makan makanan bergizi/ tidur cukup dan berolahraga//

Nah/ untuk misi kolaborasi/ salah satunya dengan mendukung usaha teman- teman di sekitar kita// Apa lagi banyak kan/ yang kehilangan pekerjaan/ atau harus jungkir balik cari kerja sampingan sampai dengan berjualan// Misi ini nggak muluk-muluk kok/ Dengan tika membeli produk UMKM berarti kita bisa mencukupi kebutuhan kita sehari-hari plus membantu UMKM untuk tetap melanjutkan usaha//


Conclusion

Jadi/ udah tahu kan apa peran kita?

Harapannya semboyan Satu Nusa Satu Bangsa dan Satu Bahasa yang lekat dengan sumpah pemuda 28 Oktober/ nggak cuma jadi seremonial belaka/ Tapi betul- betul bisa mempersatukan kita// Yaiyalah/ kita sekarang kan mengalami hal yang sama// Lagi dapet ujian bersama// Kalau nggak saling menguatkan/ kita bisa apa?///


Klik untuk mendengarkan audio podcast



Baca Juga : Naskah Podcast Storytelling



Berikut liputan media terkait lomba podcast PFN 2020 ini.



 Selengkapnya untuk membaca liputan antaranews.com - beritasatu.com - beritalima.com 


Terima kasih sudah memilih saya sebagai pemenang. :)


See you on the next blogpost.








Thank you, 


5 Pertanyaan Wajib Sebelum Belajar Public Speaking

13.11.20

 

PELATIHAN PUBLIC SPEAKING BERSAMA SARA NEYRHIZA


Tenang saya tidak akan membahas teknik yang rumit, justru kita akan belajar dari sesuatu hal yang sangat mendasar. Syukur-syukur bisa memberikan motivasi teman- teman untuk mempelajari keterampilan public speaking dengan lebih baik.


Apa itu public speaking?


Public speaking adalah proses menyampaikan pesan kepada khalayak (berjumlah 2 orang atau lebih) yang memiliki tujuan tertentu. Jadi kalau bicara mengenai public speaking, maka komunikator (orang yang menyampaikan pesan) pasti memiliki suatu tujuan. Harapannya apa yang ia sampaikan dapat mengubah pengetahuan, perasaan dan perilaku dari audiensnya (komunikan)


Apakah kamu tertarik menjadi seorang public speaker yang cakap berbicara di depan umum?


Ketika saya memberikan pelatihan, workshop atau mengajar di kelas private kebanyakan peserta menjawab IYA, saya ingin menjadi seorang public speaker yang bagus.

 

Hanya saja kebanyakan orang bingung mau memulai dari mana, apa yang akan dipelajari, di mana bisa praktik public speaking, gimana kalau tidak menguasai materi, takut salah dan lain sebagainya.


Bayangkan seperti ini, seorang kawan bertanya "Kamu mau masak apa?"


Lalu kita menjawab "Aku mau masak ayam" 

"Ayam diolah apa?" 

Disitu kita bingung menjawabnya. 

Ayamnya diolah apa ya? Kalau mau masak opor resepnya yang enak seperti apa? Merebus ayam berapa lama ya? Biar opornya nggak terlalu berminyak, diapain ya? Gimana kalau hasilnya nggak enak? Gimana kalau ayamnya kurang matang dan suami nggak suka? Dan, gimana..gimana..gimana lainya.


Semakin banyak pertanyaan, justru membuat kita jalan ditempat. Akhirnya pesen ojek online untuk cara instan. Atau memilih masak mie goreng dengan bumbu sachet.


Belajar Public Speaking Mulai Dari Mana?


Okey, dengan analogi di atas sebenarnya saya ingin mengajak kamu untuk memahami, bahwa ketika kita ingin belajar public speaking langkah awalnya adalah menanyakan ke diri sendiri seberapa penting public speaking ini dilakukan.


Jangan terburu-buru belajar teknik.


Jika teman- teman ingin mempelajari atau meningkatkan keterampilan public speaking, maka coba tanyakan dan lakukan beberapa hal berikut ini agar proses belajar kita lebih terarah :


1. Mengapa perlu melakukan public speaking?

Tidak semua orang memerlukan keterampilan public speaking. Sama seperti saya, tidak memerlukan keterampilan menjahit. Selain tidak tertarik, saya juga sadar memiliki kemampuan kerajinan tangan yang rendah. 


Jadi yang pertama, temukan dulu apa tujuan melakukan public speaking. Apakah karena kebutuhan memberikan informasi, memberikan pengajaran, berusaha memberikan pengaruh, atau ingin menghibur orang lain.



2. Apa yang kita bisa?

Public speaking adalah salah satu cara untuk mengkomunikasikan ide, gagasan, kemampuan, keterampilan, dll. Maka, sebelum belajar public speaking, cari tahu materi/ topik apa yang kita kuasai.


Dari teori Three Basic Part of Persuasion dari Aristoteles, kita belajar mengenai kredibilitas (ETHOS).


ETHOS : Public speaker harus memiliki kemampuan dan pengetahuan yang mumpuni terhadap suatu topik agar mampu berkomunikasi efektif dengan orang lain. Jadi jangan sampai, bicara omdo alias "omong doang", sementara kita tidak paham apa yang dibicarakan. 


Maka sebelum berbicara, penting untuk mempersiapakan materi terlebih dahulu. Banyak membaca, mencari referensi, berdiskusi dan lain sebagainya agar pengetahuan semakin luas. Dan jangan terpaku pada satu teori saja, agar kita lebih siap menghadapi berbagai situasi.



3. Siapa diri kita?

Setiap orang memiliki gaya berkomunikasi masing- masing. Maka cobalah kenali, bagaimana gaya kita berkomunikasi. Apa tujuannya? Agar kita bisa memaksimalakan potensi sesuai karakter kita.


Secara garis besar, karakter public speaker dibagi menjadi 4 :


  1. Analyzer : yang suka berbicara runtut dan terstruktur.
  2. Harmonizer : yang persuasif dan pandai mempengaruhi orang lain
  3.  Entartainer : yang suka meghibur orang lain dan suka improvisasi
  4. Debater : yang mampu berbicara dengan tegas dan cenderung mengintimidasi lawan bicara


Jadi misalnya, kita adalah orang analyzer yang rapi dan terstruktur, nggak perlu ngoyo untuk jadi public speaker yang lucu dan hobi banyol ala stand up comedyan. Boleh belajar hal lain, tapi tetap jadi diri sendiri agar lebih nyaman.


Baca Juga : Latihan Suara Diafragma Agar Suara Powerful



4. Bagaimana melakukan public speaking?

Saya mulai belajar public speaking di usia 8 tahun, saat itu saya berkesempatan mengisi Kultum (ceramah) Ramadan di sekolah. Dari pengalaman  itu, ada 2 hal yang saya yakini hingga sekarang.


Untuk bisa melakukan public speaking modal utama kita adalah : PERCAYA DIRI dan LATIHAN.


Percaya diri. Rasanya begitu mudah diucapkan, tapi susah untuk dilakukan. Bagaimana melahirkan rasa percaya diri? Yakni dengan latihan.


Public speaking kan ngomong doang.


Sayangnya berbicara tidak omong doang. Berbicara ada seninya. Ada teknik dan ada rasa yang digunakan. Untuk itu diperlukan latihan.


Latihan bisa dilakukan dengan :

a. Membaca naskah apapun, buku, majalah apapun yang berupa teks

b. Berbicara di depan kaca. Lakukan improvisasi mulai dari perkenalan diri sampai membahas suatu topik dalam waktu yang ditentukan (5, 10, 15, 30 menit)

c. Merekam suara. Melatih untuk eksplorasi artikulasi, intonasi, tempo dan tone suara.

d. Berani beropini. Jika kita hadir dalam suatu acara seminar, cobalah untuk angkat tangan dan berani bertanya atau berpendapat.

e. Melakukan virtual public speaking. Meski level tekanan dan tantangannya berbeda dengan public speaking "face to face", tapi kita bisa menggunakan Instagram Live, Facebook Live, atau sekadar merekam vlog di handphone untuk melatih storytelling.

f. Ambil kesempatan tampil. Dari panggung kecil seperti misalnya rapat PKK, acara komunitas, perkumpulan wali murid atau apapun yang memungkinkan kita bisa berbicara di depan orang banyak.


Semakin banyak "area pertunjukkan" yang kita coba, semakin kita belajar :

1. Penguasaan materi

2. Teknik public speaking yang benar

3. Menyusun pesan yang efektif

4. Memahami audiens

5. Mengendalikan grogi

6. Melatih improvisasi, dan lain sebagainya



5. Kapan dan Di mana belajar public speaking?


Kapan mulai latihan public speaking? Sekarang. Tidak ada kata terlambat. Saya punya murid berusia 61 tahun dan bekerja sebagai penjual ayam di pasar. Dengan usia beliau yang tidak lagi muda, ternyata masih punya semangat yang tinggi. 


Long story short, si ibu sedang mencoba menjadi agen umroh disela pekerjaannya di pasar, sehingga beliau menyadari bahwa kemampuan public speaking diperlukan ketika bertemu dengan calon kliennya.


Di mana mulai latihan public? Di rumah. Mulai dari membaca buku dengan nyaring (reading aloud), berbicara di depan kaca, merekam video sampai membuat rekaman suara untuk podcast.


Baca Juga : Cara Membuat Podcast dengan Mudah dan Gratis


Keterampilan berbicara itu bisa karena terbiasa. 

  • Cari ilmunya (lihat video, baca buku, observasi, dll)
  • Praktikkan ilmunya perlahan- lahan. Bisa dengan membacakan buku untuk anak, mendongeng,dll
  • Ambil tiap kesempatan untuk tampil untuk menambah jam terbang.


Yuk, berlatih public speakingNever give up and never surrender. Cayo!


Baca Juga : Rumus Bicara Efektif


See you on the next blogpost.








Thank you, 

Auto Post Signature