Hindari 5 Hal Ini Saat Public Speaking

11.10.21
PERCAYA DIRI PUBLIC SPEAKING


Saat seorang mahasiswa maju presentasi di depan kelas, saya melihat mata dan kepalanya yang tertunduk lesu. Entah karena kurang tidur, sedang bersedih atau memang tidak berminat pada sesi presentasi tersebut. Ketika mulai berbicarapun, suaranya terdengar lirih. "Mbak, tolong lebih keras ya.", ujar saya mengingatkan. Meski volume suaranya bertambah, tapi pembawaannya seperti tidak berenergi. Teman- teman yang lain sibuk berbicara sendiri. Dia yang sedang presentasi seolah terlupakan.


Bahasa tubuh kita tidak selalu terlihat percaya diri. Kita sering tidak sadar, apa yang kita lakukan menimbulkan kesan negatif dibenak audiens.  Akibatnya, audiens menjadi bosan, hilang minat dan tidak acuh terhadap apa yang komunikator sampaikan.


Saat public speaking, komunikator bukan hanya menyampaikan pesan verbal melalui lisan. Secara bersamaan pesan nonverbal juga disampaikan melalui ekspresi wajah, suara dan gerak tubuh saat berbicara. 


Apa yang ditangkap melalui indra komunikan, kemudian akan memengaruhi persepsi audiens terhadap diri komunikator. Oleh karena itu penting bagi seorang pewicara publik, mampu menyampaikan pesan verbal dan nonverbal dengan baik. Kelihaian ini akan membuatnya terlihat percaya diri, materi yang disampaikan dapat dipercaya dan dipahami dengan baik.


Bicara mengenai public speaking, berikut ini adalah lima bahasa tubuh yang sebaiknya dihindari saat berhadapan dengan audiens.


1. Ekspresi wajah yang tidak ramah

Facial expression adalah hal pertama yang dilihat audiens. Ketika wajah kita terlihat galak, angkuh, arogan, sedih dan tidak bersemangat, hal ini akan dinilai negatif oleh hadirin. Agar tidak dinilai demikian, cobalah pasang senyum yang tulus ketika berdiri di hadapan audiens. Meskipun tubuh sedang lelah, atau mental sedang tidak baik- baik saja, tetapi ketika melakukan public speaking kita harus bersikap profesional.


2. Suara lirih

Suara lirik memberikan makna bahwa komunikator tidak cukup percaya diri dengan dirinya. Suara lirih juga menunjukkan power yang rendah. Cobalah untuk bersuara lantang, terlebih saat membuka sesi public speaking. Suara yang lantang akan memberi nyawa pada informasi yang kita sampaikan. Lantang ya, bukan berteriak.


3. Menundukkan pandangan

Grogi berbicara di depan umum? Semua orang mengalaminya. Tapi usahakan, hal itu tidak terlihat. Rasa percaya diri bisa dimulai dari cara kita menatap audiens. Tatap mata audiens satu persatu. Jangan fokuskan pandangan pada naskah yang dibawa, atau langit- langit ruangan, yang membuat kita seolah melamun dan menerawang jauh.


Jaga kontak mata dengan audiens, agar mereka menyadari bahwa kehadiran mereka berarti bagi kita. Menjaga kontak mata juga menimbulkan chemistry, interaksi emosional dan adanya rasa saling menghargai.


4. Membungkuk

Postur tubuh seseorang dapat menunjukkan level percaya dirinya. Daripada membungkuk atau membusung, cobalah jaga tubuh agar memiliki berat yang seimbang antara kaki kanan dan kiri. Kunci tulang belakang sehingga tubuh terlihat tegak dan siap.


5. Terlalu banyak gerakan tidak penting

Seperti membetulkan jilbab atau rambut, menggosok hidung, meremas- remas tangan, yang memperlihatkan rasa gugup kita di depan audiens. Coba latih di depan kaca dengan berbicara secara santai. Gerakkan tangan seperlunya mengikuti materi yang kita sampaikan secara lisan.


Itu tadi lima hal yang sebaiknya dihindari saat public speaking. 


Kira- kira manakah yang paling sering kamu lakukan?


See you on the next blogpost.







Thank you, 

Bincang Digital bersama Ruangguru

3.9.21

 

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan menjadi pembicara di acara Bincang Digital  yang diadakan Ruang Guru, kerja sama dengan Kemeterian Komunikasi dan Informatika dan Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi. Tema yang saya bawakan mengenai Budaya Digital dan Fenomenanya dalam Masyarakat.


Budaya digital terbentuk dari cara kita berinteraksi, berperilaku, berpikir dan berkomunikasi dalam lingkungan masyarakat ketika menggunakan teknologi dan internet. Namun sayangnya, tidak semua orang memahami bagaimana menggunakan teknologi ini secara bijaksana dan beretika. Ketika seseorang memiliki budaya digital yang lemah, maka bisa memunculkan pelanggaran terhadap hak digital orang lain.


Hak digital sendiri dapat dibedakan menjadi tiga yakni hak untuk mengakses, hak untuk berekspresi dan hak untuk merasa aman (SAFEnet, 2019). Meskipun kita memiliki hak asasi untuk bisa berekspresi di dunia maya, namun kebebasan ini selalu dibatasi oleh hak orang lain. Bebas tetapi tetap berbatas.


Selengkapnya mengenai bahasan ini, bisa ditonton di video berikut.



See you on the next blogpost.







Thank you, 



Tips Agar Suara Terdengar Lebih Enak Saat Direkam

30.8.21


Tips Agar Suara Terdengar Lebih Enak Saat Direkam


Kebanyakan orang, ngerasa nggak nyaman ketika mendengar hasil rekaman suaranya sendiri. Padahal hasil rekaman suara inilah suara kita yang sebenarnya, yang didengar orang lain setiap hari. Suara yang direkam, hanya merambat melalui udara, sehingga tidak melalui tahap penyesuaian tulang- tulang di kepala atau rongga telinga. Sehingga biasanya akan terdengar lebih cempreng, dan pitchnya lebih tinggi. (Sumber : https://hellosehat.com/sehat/informasi-kesehatan/kenapa-suara-di-rekaman-berbeda/)


Nggak masalah kok, kalau memang kita punya suara yang cempreng. Tidak ada suara yang jelek, semua unik. Hanya memang ada yang sudah terlaltih ada yang belum.


Makanya buat kamu yang bekerja dengan mengoptimalkan suara, sebenarnya ada beberapa tips untuk membuat suaramu lebih enak didengar. Apa yang saya tulis di bawah ini, berdasarkan pengalaman saya merekam suara ketika menjadi voice over talent, podcaster, ataupun membuat konten audio visual.


Bagaimana caranya agar suara lebih enak didengar saat direkam?


1. Hindari merekam suara pada waktu- waktu ini

Seperti saat baru bangun tidur, kondisi lelah, atau setelah makan pedas

Saat bangun tidur, suara terdengar lebih kering/ serak. Tenggorokan juga terasa sakit, apalagi jika belum makan dan minum apapun. Begitu pula saat lelah, pitch suara cenderung lebih rendah dan kurang power/ bertenaga. Dan untuk beberapa orang yang sensitif, akan mengalami tenggorokan berlendir bahkan batuk setelah mengkonsumsi makanan pedas.


2. Tulis naskah terlebih dahulu

Naskah akan membuat kita  lebih siap saat proses merekam suara. Sehingga kita bisa fokus pada proses menghasilkan suara, bukan berpikir materi apa yang mau disampaikan. 


3.Posisikan tubuh yang nyaman

Merekam suara boleh dilakukan dengan berdiri ataupun duduk. Pastikan tubuh kita dalam posisi yang tegak dan nyaman.Hindari membungkuk, atau bersandar. Agar pernapasan dan suara yang dihasilkan lebih leluasa.


4. Lakukan pemanasan

Pemanasan bukan hanya untuk kamu yang mau berolahraga. Ketika akan merekam suarapun, otot wajah dan rongga mulut juga perlu melakukan pemanasan. Apalagi jika naskah yang akan kita baca dalam jumlah banyak.


Pemanasan yang dilakukan misalnya dengan senam wajah. Lafalkan huruf vokal dan konsonan sembari mulut dibuka lebar- lebar. Lakukan juga hamming (bergumam) 3- 5 kali. Ambil napas dalam- dalam dan hembuskan perlahan ulangi 3- 5 kali, untuk menguatkan otot penapasan dan otot perut.


5. Latihan teknik presenting

Apa yang membuat merekam suara dengan berbicara sehari- hari itu berbeda? Yakni pada teknik presentingnya. Ketika merekam suara, kita akan membuat vokal kita lebih berintonasi, tertata rapi dan enak untuk didengarkan. 


Saat merekam suara, jangan lupakan teknik vokal seperti intonasi, tone dan aksentuasi, sehingga suara lebih berdinamika. Salah satu teknik yang sering digunakan disebut dengan smiling voice, yakni berbicara dengan memasukkan ekspresi tersenyum.


6. Perbanyak latihan

Semakin banyak latihan dan mencoba, kita akan semakin mengenal karakter suara kita sendiri. Kita jadi tahu, harus "mengubahnya seperti apa" agar bisa terdengar lebih baik dan enak didengar, dan ini perlu latihan tentu saja.


Itu tadi beberapa tips yang bisa dicoba, jika ingin mereka suara dengan hasil yang lebih baik. Semoga bisa membantu ya...


See you on the next blogpost.






Thank you, 


Melatih Public Speaking Anak Sejak Dini

5.8.21
PELATIHAN PUBLIC SPEAKING ANAK


Tujuan latihan ini bukan supaya anak jago ngomong cas- cis- cius. Nanti dulu, dan bersabar.


Ditahap awal, anak- anak perlu belajar mengenal dirinya dengan baik. Tampil berani berbicara di depan umum adalah sebuah proses menunjukkan kemandirian dan kesempatan untuk didengar. Tidak perlu terlalu banyak target, biarkan anak :

  • Nyaman dengan dirinya sendiri
  • Anak bisa mengendalikan rasa malu
  • Nyaman berbicara di depan orang lain
  • Lebih berani menyampaikan pikiran


Jadi kalu anak masih malu- malu, bingung, nggak tahu harus ngomong apa, banyak ketawa- ketiwi, ya nggak papa.


Public speaking adalah aktivitas mengkomunikasikan ide, gagasan, opini dan perasaan di hadapan banyak orang. Umumnya, berbicara di depan umum memiliki tujuan : memberikan informasi, memberikan pengajaran, memotivasi, mengajak/ persuasi, memimpin dalam suatu proyek atau tugas tertentu dan menghibur orang lain.


Belajar public speaking tidak harus melalui  kursus atau pelatihan. Orang tua bisa kok melatih dari rumah. Khususnya melatih anak -anak yang sudah mampu berbicara dengan lancar. Nah, kira- kira apa saja yang orang tua bisa lakukan untuk melatih public speaking pada anak sejak dini?



1.Jelaskan tujuan latihan

Sampaikan pada anak, mengapa anak harus berlatih public speaking. Jika anak belum paham apa itu public speaking, orang tua bisa menyampaikan bahwa ini adalah "latihan percaya diri" atau "latihan bercerita". Bawa suasana menjadi menyenangkan ya, jangan terlalu formal dan kaku layaknya sekolah. Orang tua bisa membangun suasana yang menyenangkan seperti sedang bermain.


Meski begitu, ajak anak untuk belajar fokus dan mau mendengarkan apa yang orang tua sampaikan.



2. Berikan contoh

Jangan cuma teriak "Gini lho, Dek..Kamu harus ini, harus itu" Tapi nggak dikasih contoh. Ya, gimana anak bisa ngerti? Coba berikan contoh apa yang harus anak lakukan. Misalnya, ibu mencontohkan bagaimana caranya bercerita sambil membawa sebuah boneka. Minta anak untuk melihat dan mengamati.  



3. Minta anak untuk mencoba

Setelah mengamati contoh yang diberikan orang tua, anak bisa mencoba menirukan apa yang sebelumnya ia lihat. Minta anak untuk melakukan hal yang sederhana, seperti misalnya : mempekenalkan diri, cerita mengenai mainan kesukaan, bercerita tentang cita- cita, dan lain sebagainya.


Jika anak melakukan kesalahan jangan buru- buru dikoreksi. Biarkan anak merasa nyaman menyampaikan apapun yang ada dipikirannya.



4. Gunakan alat bantu

Agar sesi latihan lebih menyenangkan, anak bisa menggunakan alat bantu seperti boneka, flash card, buku, dll. Alat bantu ini juga sebagai penyalur energi, mana kala anak merasa grogi, dan butuh "teman".



5. Rekam untuk sesi evaluasi

Ketika anak berani mencoba, coba rekam penampilan mereka. Kemudian ajak anak untuk melihat penampilannya. Saat anak mengamati hasil rekaman, kita bisa mulai beri masukan jika ada kekurangan.

"Nanti adek coba bicara lagi, tapi wajahnya yang semangat ya. Kalau cemberut, nanti dikira habis nangis lho.."



6. Beri apresiasi

Beri pujian ketika anak bisa tampil dengan baik. Sehingga ia merasa bahwa hasil kerja kerasnya mendapatkan apresiasi dari orang lain.



7. Tulis naskah bila perlu

Untuk anak yang sudah fasih baca tulis, kita bisa meminta anak  menuliskan terlebih dahulu apa yang ingin mereka sampaikan. Sehingga, mereka bisa berlatih berbicara dengan lebih rapi dan runtut.



Itu tadi beberapa hal yang bisa orang tua lakukan untuk melatih public speaking pada anak sejak dini.

Kemampuan berbicara itu perlu dilatih. Bisa karena terbiasa. Jika anak berani menyampaikan ide- ide di kepalanya, ia akan lebih mudah bersosialisasi dengan orang lain. Iapun juga tidak segan untuk menunjukkan kemampuannya di sekolah.


Jika ingin belajar public speaking secara private dan online dan membutuhkan pengajar profesional, silakan akses www.SPEAKING.id untuk informasi selengkapnya.


See you on the next blogpost.







Thank you, 

Komunitas Read Aloud Solo Raya

8.7.21

 

SARA NEYRHIZA ZAHRA NOOR ERIZA ZEFRINA KHALILA

PEGIAT LITERASI BAHASA KOTA SOLO JAWA TENGAH INDONESIA


2021, di tengah keinginan untuk terhubung dengan sesama pegiat literasi bahasa lainnya, saya mencoba menghubungi  dua orang kawan. Mbak Asri Pujihastuti, Guru SMKN7 Surakarta yang saya kenal ketika mengikuti seleksi Bunda Baca Kota Solo, dan Mbak Titi Setyoningsih, dosen FKIP Universitas Sebelas Maret yang lebih dulu saya kenal saat tergabung dengan Duta Cerita. Ketika menawarkan gagasan ini, saya hanya bilang bahwa "mungkin akan menyenangkan kalau kita bisa menyemangati para orang tua dan masyarakat pada umumnya untuk lebih cinta sama buku." 


Mbak Asri dan Mbak Titi bukan orang baru diranah tulis menulis. Mereka sudah terbiasa menulis buku ajar bahkan novel. Sehingga bak gayung bersambut, mereka menyetujui untuk bersama- sama menginisiasi lahirnya Komunitas Read Aloud Solo Raya. Visinya cukup sederhana 'Mulai dari Membaca Dukung Literasi Bahasa' Jadi ya nggak muluk- muluk. Suka baca dulu aja deh, mulai dari rumah, mulai dari menularkan ke anak sendiri, baru kita bergerak untuk menginfluence orang lain.


Sejarah singkat lahirnya Komunitas Read Aloud Solo Raya ini, ditulis dengan apik oleh Mbak Mannisa, jurnalis Radar Solo, Jawa Pos yang menghubungi saya beberapa waktu lalu. Melalui sambungan telpon, ia bertanya dari awal bagaimana komunitas ini berdiri, program dan aktivitasnya, hingga cita- cita ke depan ke arah mana komunitas ini di bawa.


Sejujurnya, memang masih panjang untuk menjaga ke-konsistensi-an  komunikasi dalam komunitas ini. Terlebih dengan situasi pandemi saat ini, rasanya setiap orang masih harus menahan diri berjumpa tatap muka. Tapi, kami akan mencoba perlahan, bagaimana semangat cinta buku ini bisa semakin tertularkan.


Melihat lebih dekat komunitas ini di www.instagram.com/readaloudsoloraya



See you on the next blogpost.







Thank you, 

Etika dan Etiket Berinternet

15.6.21


ETIKA DAN ETIKET BERINTERNET

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Di mana kita berada, harus menjaga tata krama/ sopan santun.


Itulah yang harus kita lakukan jika ingin hidup aman dan nyaman ketika bersosialisasi dengan masyarakat. Karena sopan di satu tempat bisa saja tidak sopan d itempat yang lain. Misalnya saja ketika kita makan di restauran di Jepang. Jika kita menyeruput makanan dengan keras hingga terdengar orang lain, itu adalah hal yang wajar. Bahkan, sang koki akan merasa senang karena itu menjadi bukti bahwa makanan buatannya sangat lezat dan memuaskan konsumen. Beda halnya ketika kita makan di Indonesia. Menyeruput makanan di meja makan bisa dianggap perbuatan tidak sopan. Bahkan mengangkat piring saat makan saja akan dianggap aneh, kelihatan "gragas" kalau orang Jawa bilang.


Itulah salah satu contoh bahwa sopan santun itu bersikap relatif, tergantung di mana kita berada. Meski begitu, kita tidak boleh melupakan yang namanya etika dan etiket. Etika adalah pedoman perilaku yang sifatnya mutlak. Sedangkan etiket adalah pedoman tingkah laku ketika berinteraksi dengan orang lain yang sifatnya relatif. Contohnya, jika kita kentut saat rapat, bisa jadi kita melanggar etika. Tapi jika kita kentut di dalam kamar dan itu sendirian, maka hal ini menjadi tidak masalah karena tidak ada orang lain yang terganggu.


Etika dan etiket bukan hanya berlaku di dunia nyata. Tapi sebaiknya juga kita jaga saat berinteraksi di dunia maya. Apalagi, jumlah waktu yang kita habisnkan untuk berinternet ternyata sangat banyak. Rata- rata orang Indonesia menghabiskan waktu 8 jam 52 menit berselancar di internet ( We are Social Januari 2021). Ngapain aja di internet? Mungkin bisa scrolling media sosial, nonton video di youtube, mendengarkan podcast, mengikuti webinar, mengirim email dan lain sebagainya.


Dalam berinternet kita tidak sendirian. Ada kalanya kita berinteraksi dengan pengguna yang lain melalui tombol like, komentar, saling mengirim pesan lewat instan messaging, dan lain sebagainya. Interaksi ini tidak selalu berjalan positif. Bahkan tidak jarang, seseorang melakukan tindakan bullying, mengeluarkan hate speech atau perbuatan merugikan lainnya seperti melanggar privasi dan penipuan.


Berinterkasi diinternet tetap diikat dengan pedoman perilaku, yang disebut dengan Netiket (Network Etiquette). Bahwa pada dasarnya, ketika berinterkasi di internet kita tidak sedang berhadapan dengan huruf, angka dan layar semata. Namun ada karakter manusia sesungguhnya, Manusia ini bisa sakit hati, marah, dan benci jika mendapatkan perlakukan yang tidak baik dari orang lain.


Internet memang memudahkan jempol kita mengetikkan sesuatu, tanpa melalui proses berpikir logis. Belum lagi ada fenomena seperti echo chamber, filter buble, framing, the death of expertise, hingga hoaks, yang membutuhkan kecakapan lebih dalam menganalisi informasi yang diterima.


Faktanya, memang tidak semua informasi di dunia maya adalah fakta. Begitu banyak informasi palsu (disinformasi dan misinformasi) yang membuat orang menjadi salah sangka, berburuk sangka bahkan melakukan tindakan yang merusak. Informasi faktapun, bisa juga disalahgunakan untuk menyerang pribadi atau kelompok tertentu (malinformasi).


Melihat fenomena yang terjadi inilah, maka sudah menjadi tugas kita bersama untuk mampu menambah amunisi dan menyiapkan perisai diri melalui kecakapan dalam beripikir logis atau critical thinking. Kita tidak dapat mengendalikan informasi yang ada di internet. Namun, kita bisa mengendalikan informasi apa yang kita konsumsi.





Kesadaran akan pentingnya kemampuan berpikir logis dan kritis ini, menjadi salah satu alasan hadirnya program Indonesia Makin Cakap Digital 2021. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menargetkan 12,4 juta warga Indonesia makin cakap digital pada tahun 2021. Peluncuran program ini sekaligus menandai pelaksanaan kelas literasi digital secara simultan di 34 provinsi Indonesia dan 514 kabupaten dan kota. Materi kelas literasi digital didasarkan pada 4 pilar utama, yaitu Etis Bermedia Digital, Aman Bermedia Digital, Cakap Bermedia Digital, dan Budaya Bermedia Digital. 


Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk terlibat sebagai Key Opinion Leader pada webinar yang diadakan untuk Kabutan Bojonegoro dan Sidoarjo pada 29 dan 31 Mei 2021 yang lalu.

Pada kelas daring tersebut saya membawakan tema Positif, Kreaif dan Aman Berinternet serta Digital Content : Do and Don't.


Melalui dua materi tersebut saya memberikan pengalaman sekaligus wawasan bagaimana ketika menjadi digital content creator yang notabene konsumen sekaligus produsen konten digital, harus mempu menjaga etika, etiket sekaligus keamanan. Baik saat berinteraksi dengan sesama pengguna internet, maupun saat mengunggah berbagai data. Karena sejatinya apa yang kita lakukan di internet akan meninggalkan jejak digital, baik aktif maupun pasif yang tidak bisa dihapus. Maka, daripada kita meninggalkan jejak yang tercela baik dalam bentuk komentar, maupun konten provokasi lainnya, bukankah akan lebih positif jika kita menyebar konten edukasi yang menginspirasi.


Pada akhir, ketika berinterkasi dengan sesama manusia di internet, saya berusaha untuk memagang sebuah prinsip "Jika tidak mampu menginspirasi, lebih baik jangan menyakiti".


Semoga program Indonesia Makin Cakap Digital ini akan membawa wawasan baru bagi masyarakat Indonesia. Bahwa di manapun kita berada selalu berpegang teguh pada norma, etika dan nilai agama.


Download Materi : Digital Content Do and Don't






See you on the next blogpost.







Thank you, 

Teknik Storytelling dalam Reading Aloud

31.5.21

 

TRAINER READ ALOUD

Read aloud atau membacakan buku secara nyaring, bisa menjadi aktivitas yang seru bersama anak. Tenang, kita nggak perlu waktu lama, cukup 10 menit. Jadi, kalaupun seharian sibuk, kita tetap bisa mengalokasikan waktu minimal sebelum anak tidur.


Agar aktivitas read aloud ini semakin menyenangkan, seorang pembaca buku sebaiknya juga memelajari bagaimana membawakan buku dengan cara yang lebih kreatif. Sehingga anak yang dibacakan buku juga tidak cepat bosan.


Beberapa waktu lalu saya menjadi pemateri webinar berjudul "Membangun Percaya Diri dengan Aktivitas Read Aloud". Saya membawakan materi mengenai teknik storytelling dalam read aloud. Meski mendongeng dan membaca buku adalah dua aktivitas berbeda, kita tetap bisa kok membaca buku dengan cara yang sama menyenangkannya dengan mendongeng.


Selengkapnya, silakan tonton video di bawah ini.



See you on the next blogpost.







Thank you, 

Perbedaan Pencitraan dan Personal Branding

23.5.21

 

MEMBANGUN DIGITAL PERSONAL BRANDING

Saya takut posting di medsos, takut dikira pencitraan.


Pencitraan. Makin sering terdengar ketika musim kampanye politik. Figur- figur baru yang wajahnya terpampang pada poster dan spanduk di sepanjang jalan raya. Entah dari mana mereka datangnya, tidak ada rekam jejak kontribusi tiba- tiba memasang spanduk besar dengan tagline-tagline yang hiperbola.


Sesaat pasti kita berpikir "Dia itu siapa dan bisa apa ya?"


Bisa jadi figur tersebut selama ini berkontribusi dalam diam, tanpa banyak koar-koar dalam melakukan aksi, kemudian terpanggil untuk melayani lebih kepada masyarakat. Tapi bisa juga, ia adalah orang yang didesain menampilkan citra tertentu untuk suatu kepentingan.


Kemudian, menjadi tidak asing di telinga kita istilah "pencitraan" yang seolah memiliki konotasi negatif - "kelihatan- baik-baiknya- doang".


Di lain pihak, ketika kita belajar personal branding tidak jarang orang mengasumsikan sebagai kegiatan pencitraan. Yang pamerlah, self promotion lah, terlalu mengunggulkan diri sendirilah, dan lain sebagainya. Padahal pencitraan dan personal branding adalah dua hal yang berbeda.


Pencitraan 

Kegiatan yang dilakukan untuk membentuk atau memoles citra seseorang agar sesuai keinginan  publik. Terkadang, value yang diberikan tidak jelas atau bahkan cenderung “kosong”. Ya, hanya sekedar promosi tanpa isi.

Pencitraan sering dikonotasikan sebagai sebuah upaya sesaat, tidak berkesinambungan dan tidak akan pernah ada follow up-nya lagi.


Apa tujuan dari pencitraan ini?

1. Untuk mendapatkan simpati

2. Membangun kepercayaan dalam waktu yang singkat

3. Bisa juga dilakukan  untuk menutupi sesuatu yang buruk.


Personal Branding


Kegiatan yang lebih memfokuskan pada core competencies yang dimiliki. Yang ditekankan adalah nilai lebih, kemampuan, keunikan atau hasil pencapaian dari dalam diri sendiri, yang kemudian dikembangkan agar publik memiliki persepsi positif mengenai diri kita.


Membangun personal branding tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Perlu adanya konsistensi untuk membangun message yang solid.


MEMBANGUN PERSONAL BRANDING

Jika kamu tertarik belajar personal branding, kamu bisa mendownload e-book membangun digital personal branding di sini. Gratis.


membangun digital personal branding


Untuk melengkapi wawasan lainnya, silakan mendengarkan podcast mengenai Manajemen Kesan di bawah ini



See you on the next blogpost.







Thank you, 

Read Aloud, Metode Menyenangkan untuk Melatih Anak Gemar Membaca Buku

14.5.21
ZAHRA NOOR ERIZA
Gambar diambil dari akun instagram @gmb_indonesia

Beberapa waktu lalu saya diundang menjadi narasumber sebuah online talkshow bertajuk GMB - Talk yang diinisiasi oleh Gerakan Menulis Buku Indonesia dalam rangka memperingati Hari Buku Anak Sedunia. Acara ini mengangkat tema "Read Aloud :  Metode Menyenangkan untuk Melatih Anak Gemar Membaca Buku" Secara pribadi saya senang sekali bisa hadir di acara ini, terlebih saya bisa mengenalkan aktivitas Reading Aloud yang sudah saya geluti sejak memiliki anak.  


Untuk merangkum sesi gelar wicara yang dipandu Ririn Setyowati, Content Manager GMB-Indonesia dan berlangsung selama 90 menit, saya mencoba menulis transkripnya di bawah ini dengan menggunakan daftar pertanyaan yang disusun oleh tim GMB.



Selama masa pandemi ini, kita sering sekali menjumpai ajakan untuk para orang tua melakukan Read Aloud. Sebenarnya, apa sih yang dimaksud Read Aloud ini?

Read Aloud atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan membacakan nyaring, adaah aktivitas membaca buku dengan cara disuarakan. Jadi bukan dibaca di dalam hati. 


Apa perbedaan metode Read Aloud dengan metode mengajar membaca untuk anak lainnya?

Read Aloud melibatkan 3 elemen dalam aktivitasnya yakni pembaca buku, yang dibacakan buku dan buku itu sendiri. Kegiatan ini berfokus pada tujuan agar anak mencintai buku, jadi tidak secara langsung bertujuan mengajari anak baca tulis. Namun harapannya, dengan mengenal berbagai huruf dan kata yang tercetak pada buku, akan menstimulasi secara tidak langsung kemampuan literasi bahasa pada anak.


Kenapa metode Read Aloud bisa menjadi semacam tren saat pandemi, ya? Apakah metode

Read Aloud ini memang baru ada saat pandemi berlangsung?

Saya rasa kegiatan membaca nyaring sudah sering dilakukan oleh para guru di sekolah dan juga orang tua di rumah. Namun, memang saat pandemi ini distribusi informasi dan ajakan mengenai manfaat read aloud ini cukup masif. Mulai dari banyaknya online training bagi para praktisi read aloud, webinar literasi, sampai juga keterlibatan para penerbit yang memberikan akses bukunya untuk dibacakan nyaring dan mengizinkan untuk upload konten di media sosial. Para orang tuapun juga bisa mendokumentasikan kegiatan read aloudnya di media sosial tanpa takut melanggar hak cipta (karena izin dari penerbit tadi). Sehingga semakin banyak orang tua lain yang juga tetarik melakukan hal yang sama. Terutama saat pandemi dimana intensitas kebersamaan anak dan orang tua cenderung meningkat.


Siapa saja yang bisa melakukan Read Aloud? Apakah hanya Ibu yang disarankan menerapkan metode ini?

Siapa saja yang mampu membaca buku dapat  melakukan aktivitas read aloud ini. Di lingkungan keluarga mulai dari orang tua, kakek nenek, kakak, bahkan ARTpun bisa melakukannya.


Kenapa memilih menerapkan metode Read Aloud? Apa yang membuat mbak Sara mempraktekkan metode ini?

Pertama, karena saya suka membaca buku sejak kecil. Sehingga, saya tahu betul bahwa membaca memberi banyak manfaat bagi saya baik saat sekolah maupun ketika berkarir. Kedua, read aloud menjadi momen untuk menjaga bonding dengan anak. Ketika seharian sibuk bekerja, saya bisa tatap menjalin kualitas komunikasi dengan berdiskusi pada anak melalui read aloud sebelum tidur. Ketiga, tugas saya sebagai Bunda Baca membuat saya ingin menularkan semangat membaca buku ini kepada banyak orang. 


Maka, saya sering mendokumentasikan kegiatan read aloud ini melalui video yang saya unggah di instagram dan youtube. Harapannya, bisa mendorong para orang tua untuk melakukan hal yang sama dengan putra- putrinya di rumah.


Dari pengalaman pribadi mempraktikan Read Aloud bersama Lila - putri mbak Sara, sebenarnya apa saja pengalaman berkesan yang tercipta ketika mbak Sara dengan Lila sedang membaca bersama?

Saya bisa mengamati kemampuan anak secara langsung. Bagaimana dia menyimak bacaan, bagaimana ia berimajinasi, juga saat kami mendiskusikan sesuatu. Pada akhirnya, read aloud ini bukan hanya aktivitas satu arah dari Ibu ke anak, tetapi anak juga bisa bertanya dan beropini. Saya juga jadi paham apa cerita yang ia suka. Sehingga bisa mencarikan buku- buku yang membuat Lila antusias.


Apakah Lila pernah menolak ajakan untuk membaca buku bersama? Bagaimana cara mbak Sara menanggapinya?

Lila akan menolak membaca buku yang dia tidak suka. Jadi jika 2 lembar awal buku tidak menarik buatnya, dia akan minta ganti. Bagi saya hal ini tidak masalah, karena sama seperti orang dewasa, anak- anak berhak memilih apa yang ia suka.


Biasanya buku-buku anak apa saja yang mbak Sara bacakan?

Buku- buku untuk read aloud memang punya karakteristik khusus. Seperti : buku dengan ilustrasi, cerita yang tegas dan teks yang sederhana atau sesuaikan dengan kemampuan membaca anak. Selain itu  juga memilih buku dengan tema kesukaan anak. Kalau anak saya suka cerita binatang dan fantasi.


Bagaimana cara pemilihan buku-buku untuk dibaca bersama? Apakah ada momen berdiskusi dengan anak untuk memilih buku?

Karena saya sudah paham selera anak, maka ketika membeli buku saya akan tawarkan ke anak dia suka atau tidak. Jika menggunakan aplikasi buku digital seperti Let's Read, saya akan memberi kesempatan anak memilih sendiri cerita yang menarik buatnya untuk dibacakan.


Apa perubahan atau mungkin manfaat yang Mbak Sara amati dari Lila ketika menerapkanmetode Read Aloud?

Banyak manfaat yang saya rasakan, mulai dari kontrol penggunakan gadget yang baik. Jadi anak punya alternatif kegiatan selain bermain smartphone di rumah. Anak juga mampu membaca tanpa harus mengajarkan membaca dengan ekstra keras. Dan pastinya, anak jadi cakap berkomunikasi. Dia tidak malu bertanya maupun berargumentasi.


Apa saja tips yang perlu diketahui untuk memilih buku untuk dibacakan saat melakukan kegiatan Read Aloud?

Ada beberapa tips ketika saya memilih buku :

1. Pilih buku sesuai dengan kemampuan membaca anak.

2. Pilih buku dengan ukuran yang cukup besar agar teks terlihat jelas

3. Buku dengan ilustrasi gambar akan lebih baik karena mampu menstimulasi imajinasi anak

4. Pilih buku dengan cerita yang menarik dan engaging, sehingga akan terbuka ruang- ruang diskusi dengan anak


Apa saja tips yang perlu diketahui sebelum mengajak anak melakukan Read Aloud?

Pertama, adalah memilih buku yang tepat, karena buku akan menjadi alat utama dalam aktivitas read aloud. Berbeda dengan storytelling, yang bisa menggunakan alat bantu apapun.

Kedua, baca buku terlebih dahulu sebelum melakukan read aloud sehingga pembaca buku akan paham jalan ceritanya.

Ketiga, posisikan anak dalam keadaan yang nyaman. Orang tua harus jeli melihat kondisi anak. Jangan sampai dia dalam suasana hati yang buruk, mengantuk atau sedang lapar saat dibacakan buku.

Keempat, tunjuk dengan jari ketika membaca teks pada buku. Jangan melakukan improvisasi di luar cerita buku. Jika menemukan kosa kata baru, berikan penjelasan apa arti kosa kata tersebut.

Kelima, ajak anak berdiskusi. Atau jawab pertanyaan anak, kapan saja anak membutuhkan jawaban. Jangan terobsesi menyelesaikan buku, karena interaksi dengan anak inilah yang jauh lebih penting.


Selain menjadi Ibu, Mbak Sara juga merupakan perempuan yang berkarir. Mungkin kondisi seperti itu juga terjadi pada banyak orang tua. Apa saja tips manajemen waktu yang mungkin dapat diterapkan bagi para orang tua dengan kondisi seperti itu?

Melakukan read aloud itu tidak butuh waktu lama. Paling cuma 6- 10 menit. Luangkan waktu sebentar saja dan cobalah rutin melakukannya setiap hari. Saya rasa dengan durasi yang tidak lama ini sebenarnya tidak merepotkan, kembali ke orang tua apakah mau atau tidak.


Untuk mengikuti sesi talkshow selengkapnya, silakan menonton kanal YouTube Gerakan Menulis Buku Indonesia di bawah ini.



See you on the next blogpost.







Thank you, 

Review Multipurpose Tinted Sunscreen Kolaborasi BLP dan Avoskin

12.5.21

 

MUTLIPURPOSE TINTED SUNSCREEN


Seneng deh menjadi salah satu blogger yang berkesempatan mencoba produk ini. Produk yang udah ditunggu- tunggu banyak orang. Bukan cuma karena manfaatnya yang berhasil simplify my daily routine, tapi juga menjadi kebanggaan menikmati inovasi kece dari dua brand kosmetik dalam negeri yang kualitasnya nggak diragukan lagi.


Jarang lho, ada dua brand yang bergerak di bisnis yang sama tapi mau kolaborasi bareng. BLP a.k.a By Lizzie Parra yang lebih dikenal dengan produk make upnya, dan Avoskin, salah satu brand skin care terbaik asal Jogja yang unggul dengan produk perawatan kulit dari bahan alami. Kedua brand yang punya keunggulan masing- masing ini, berhasil melahirkan sebuah hybrid product bernama Multipurpose Tinted Sunscreen.


Mengenal Lebih Dekat Multipurpose Tinted Sunscreen


Yuk coba kita bedah dari namanya. Multipurpose Tinted Sunscreen, Multipurpose = banyak fungsi, Tinted = berwarna, Sunscreen = tabir surya, secara definisi kita bisa bilang produk ini adalah tabir surya yang memiliki "tone" warna (bukan bening atau  translucent/ transparan) dan memiliki banyak fungsi. Kenapa disebut hybrid product? Multipurpose Tinted Sunscreen ini mampu menggabungkan fungsi skincare dan makeup sekaligus. 


Sebelum hadir dipasaran tanggal 26 April 2021, produk ini sudah melalui tahap uji  secara dermatologis, diklaim aman digunakan untuk ibu hamil dan menyusui. Disematkan label non- comedogenic, selain nyaman dipakai setiap hari tanpa menyumbat pori- pori kulit, juga bisa dipakai semua jenis kulit. SPF 50 dan PA++++ di dalamnya diklaim mampu memberikan perlindungan ideal dari paparan sinar matahari.


Kandungan Multipurpose Tinted Sunscreen

MULTIPURPOSE TINTED SUNSCREEN
This image taken from beautinesia.id with adding text


Sehari- hari saya nggak pernah meninggalkan penggunaan BB Cushion dan Sunscreen untuk memberikan efek flawless pada wajah. Meskipun saya bekerja dari rumah, dua produk ini mampu membuat tampilan saat saya mengajar online atau ketika menjadi pembicara webinar terlihat lebih cerah dan segar. Kenapa nggak pakai foundation? Karena saya nggak suka kesan berat di wajah, yang bikin lebih gampang berkeringat.


Tapi, sejak mencoba Multipurpose Tinted Sunscreen, saya jadi yakin banget untuk meninggalkan ritual menggunakan 2 produk tadi karena lebih boros waktu. Cukup dengan 1 produk, sekarang saya bisa mendapat manfaat sunscreen, plus membuat wajah segar dan tetap terasa ringan.


Multipurpose Tinted Sunscreen ini termasuk dalam kategori hybrid sunscreen. Kok bisa? Kalau kita cek komposisinya ada kombinasi UV filter dari physical (Titanium Dioxide dan Zinc Oxide) dan chemical (Ethylhexyl Methoxycinnamate dan Ethylhexyl Salicylate). Nah, dengan adanya kombinasi UV filter ini, dia bisa memberikan perlindungan maksimal terhadap paparan sinar matahari. Kandungan UV filter Titanium Dioxide atau Zinc Oxide tidak akan menurun atau rusak saat terpapar sinar matahari. Namun, Titanium Dioxide ini hanya memberikan perlindungan pada kulit dari UVB dan sebagian spektrum UVA. Sementara Zinc Oxide mampu memberikan perlindungan pada seluruh spektrum UVA dan UVB.


Apa saja manfaat skincare yang bisa didapatkan?


1. Kandungan Centella Asiatica dan minyak squalene (vegan) berfungsi untuk menjaga kelembapan. Centella asiatica juga berfungsi sebagai antioksidan yang membantu mengurangi beberapa efek kerusakan kulit  akibat sinar matahari.


2. Kandungan Salicylic Acid (BHA)  berfungsi sebagai antiinflamasi dan memberikan perawatan untuk jerawat di wajah dan pustula (jerawat bernanah).


3. Kandungan Niacinamide membantu untuk mencerahkan kulit, mengatasi jerawat dan mencegah garis halus di wajah.


Kemasan Multipurpose Tinted Sunscreen

Kalau soal kemasan, saya nggak pernah kecewa dengan produk BLP. Karena dengan harga yang affordable, kemasan produknya selalu terlihat mahal. Begitu juga dengan Multipurpose Tinted Sunscreen ini. Kemasan utama berbentuk pump, yang memudahkan untuk mengeluarkan krim di dalamnya. Lubangnya nggak terlalu besar, jadi kita bisa ngontrol  krim yang keluar supaya nggak boros. Warna kemasan luar juga disesuaikan dengan warna shadenya.


Nah, karena tutupnya berwarna putih sering kali habis pake produk ini, tutupnya jadi sering belepotan sisa produk yang berbekas di tangan. Saya jadi harus lap- lapin tutupnya setelah pake biar nggak jadi noda ketika harus dimasukkan kembali ke pousch atau tas. 


Produk ini hadir dalam dua kemasaran berbeda 30 gr dan 5 gr yang lebih simple kalau mau dibawa ke kantor atau saat traveling.


Tekstur Multipurpose Tinted Sunscreen


Karena saya nggak suka pakai foundation yang terasa berat, saya jadi ngerasa cocok banget dengan Multipurpose Tinted Sunscreen yang ringan dipakai seharian ini, meskipun harus diaplikasikan ulang tiap 4 jam seperti sunscreen pada umumnya dengan kandungan SPF 50. Kandungan silikon di dalamnya berfungsi sebagai oil control, sekaligus membuat formulasi produk semakin lembut, sehingga memudahkan dibuild ke kulit wajah. Yang lebih suka lagi,  silikon ini juga bersifat water-resistant, sehingga ‘lapisan’ yang terbentuk oleh silikon akan mengunci kelembapan yang memperkuat ketahanan warna make up, dan mencegah riasan luntur karena keringat.


Buat kulit saya yang berminyak, Multipurpose Tinted Sunscreen nggak memberikan efek berminyak yang lebay. Karena biasanya saya pakai setting atau compact powder untuk membuat wajah jadi matte finish. 


Pilihan Shades Multipurpose Tinted Sunscreen


Ada 5 shades yang bisa disesuaikan dengan skin tone kamu, yakni : light, beige, medium, honey dan sand -> cocok untuk kulit terang sampai gelap. Lima shades ini dapat digunakan oleh 2-3 skin tone yang berbeda.



Setelah mencoba kelima shade ini, saya paling cocok dengan beige dan medium. Beige ini satu tingkat di atas warna kulit saya, tapi justru bikin wajah lebih seger dan mampu menyamarkan pori- pori kulit wajah yang lumayan besar. Kalau shade medium, ini pas dengan warna kulit saya. Cuma, kemampuan coveragenya kurang oke, dan bikin tektur kulit asli wajah tetep kelihatan. Jadi pilih mana? Ya, dua- duanya deh..hehehe


Be In The Moment! Multipurpose Tinted Sunscreen akan jadi kesayangan yang bakal saya pakai setiap hari. Karena terbukti nggak bikin iritasi di kulit saya yang sensitif. Untuk cara pemakaian, sama lah ya dengan sunscreen pada umumnya. Aplikasikan 2 ruas jari ke wajah dan leher 15 menit sebelum keluar rumah.


Kamu bisa dapatkan Multipurpose Tinted Sunscreen di berbagai e-commerce  dengan harga 189.000 untuk kemasan 30 gram dan 59.000 untuk kemasan 5 gram.


Pasti pengen segera mencoba, kan? Cobain buruan!


review multipupose tinted sunscreen



See you on the next blogpost.







Thank you, 

Auto Post Signature