Pembayaran Digital dengan QR Indonesia Standard, Cara Milenial Dukung Inklusi Keuangan

9.12.19

Mana yang lebih kamu khawatirkan, ketinggalan dompet atau ketinggalan smartphone? 

Pertanyaan ini saya tanyakan ke lima orang kawan beberapa waktu lalu dalam sebuah obrolan di warung kopi modern. Kelimanya sontak sepakat menjawab bahwa jangan sampai smartphone ketinggalan di rumah. 

"Bisa berabe", katanya. 

Sayapun menginyakan. Rasanya jika tidak ada smartphone di "genggaman" seolah ada rasa ketakutan "fear of missing out", ketinggalan interaksi penting yang kaitannya dengan jejaring dan pekerjaan. Di sisi lain smartphone menjadi alat yang multitasking. Tidak hanya menghubungkan komunikasi antar personal, akses informasi di dunia maya, namun kini telah bertansformasi sebagai penghubung mitra transportasi (layanan ojek online), mempermudah deliverorder makanan dan barang, pemesanan layanan jasa seperti pijat, make up, bengkel dan lain sebagainya, transaksi perbankan juga  menjadi alat transaksi pembayaran.

Saya adalah bagian dari generasi Y atau yang biasa disebut sebagai generasi milenial yang terlahir antara tahun 1983an hingga 1998. Digital native itulah salah satu predikat yang disematkan kepada milenial seperti kami. Dunia digital menjadi keseharian. Menggunakan teknologi seperti internet, komputer dan perangkat mobile dalam memperoleh informasi dan pengetahuan, serta adaptif dalam berbagai kemajuan teknologi menjadi salah satu ciri para digital native.

AIDA to AISAS

Sumber gambar : slideplayer.com
Meski menjadi bagian dari generasi milenial, saya cukup beruntung dapat merasakan fase transformasi teknologi dari analog ke digital. Saat sekolah dasar dulu, saya masih suka asyik berteleponan dengan telepon rumah sehingga hapal betul puluhan nomor telepon kawan. Saya juga merasakan bahwa iklan di televisi yang begitu menggoda sanggup membuat saya langsung menuju ke warung kelontong terdekat untuk membeli produk yang diiklankan. Saya juga mengalami takutnya ketinggalan dompet, dan berdampak susahnya membeli makanan di kantin sekolah atau supermarket.

Era digital telah mengubah perilaku saya sebagai konsumen. Pada teori pengambilan keputusan konsumen, kita mengenal AIDA (Awareness, Interest, Desire and Action) yakni saat saya melihat sebuah produk diiklankan dan kemudian saya tertarik dan merasa membutuhkn produk tersebut, saya akan langsung melakukan aksi dengan membeli produk tersebut di toko. 

Namun, internet dan social media telah mengubah perilaku AIDA ini menjadi AISAS (Awareness, Interest, Search, Action, Share). Yakni, ketika saya melihat iklan suatu produk, kemudian saya tertarik dengan produk tersebut, maka yang saya lakukan kemudian adalah mencari informasi produk di internet. Di internet inilah terjadi interaksi electronic word of mouth di mana kita menemukan informasi produk baik dari produsen maupun dari rekomendasi konsumen yang telah menggunakan produk sebelumnya. Baru setelah saya yakin dengan keunggulan dan terdorong kebutuhan akan pembelian produk itu, maka saya melakukan aksi pembelian. Ternyata proses tidak berhenti di sini. Ada dorongan untuk berbagi pengalaman menggunakan produk melalui internet. Bisa dengan hanya menulis status di facebook, hingga membuat review audio visual di blog dan youtube.

Search dan share menjadi suatu konsep tahapan yang muncul akibat mudahnya mecari informasi dan berbagi lewat sosial media. Itu mengapa AISAS menjadi teori perilaku konsumen era modern.

Cashless to Cardless


Perubahan perilaku konsumen dalam proses pengambilan keputusan pembelian tentu saja diiringi dengan perubahan dalam mengeksekusi minat beli. Saya bukan hanya tidak mau ribet urusan beli barang, namun, juga pada kemudahan proses pembayaran. Pada penelitian yang saya lakukan pada tahun 2017 berjudul Peran Mediasi Citra Merek dan Persepsi Risiko pada Hubungan antara Electronic  Word  of  Mouth  (E-WOM)  dan  Minat  Beli, para milenial sadar betul akan berbagai risiko bertransaksi digital. Meski demikian kami memiliki ekspektasi yang tinggi akan layanan teknologi pembayaran yang aman dan nyaman.

Belajar dari sejarah, manusia pada zaman dahulu menggunakan sistem barter dalam transaksi finansial. Kemudian sistem barter berubah dan digantikan oleh uang logam dan kertas. Namun, dengan teknologi yang semakin maju, sekarang pengunaan uang logam dan kertas pun mulai tergantikan dengan sistem cashless.

Cashless merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan transaksi finansial yang tidak lagi menggunakan uang tunai (baik berupa logam maupun kertas). Hal ini seiring dengan program pemerintah melalui Bank Indonesia yang telah mencanangkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) pada tahun 2014. GNNT ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan instrumen non tunai, sehingga secara bertahap terbentuklah suatu komunitas atau masyarakat yang lebih menggunakan instrumen non tunai (Less Cash Society/LCS) khususnya dalam melakukan transaksi atas kegiatan ekonominya. 

Maka terbentuklah cashless society yang merupakan cara pandang baru di dalam masyarakat dalam memandang hakikat uang, terkait  penggunaanya dalam bertransaksi. Di mana uang dianggap sebagai sebuah alat, dan bukan entitas fisik semata. Kehadiran uang eletronik juga mendorong aktivitas pembayaran elektronik yang tidak lagi membutuhkan bentuk uang secara fisik atau nyata.

Jumlah pengguna internet sebesar 54,7 persen dari total populasi penduduk Indonesia, menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJII) dalam survei "Penetrasi dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2017", telah mendorong banyak perusahaan financial technology untuk membuat layanan keuangan digital  untuk transaksi pembayaran. Implikasinya kehadiran berbagai aplikasi pembayaran digital secara perlahan juga mengurangi penggunaan kartu seperti kartu debit dan kartu kredit atau cardless. Sebagai pengguna, cardless juga dinilai meminimalisasi potensi kehilangan uang maupun kartu fisik.

Fintech pembayaran seperti GOPAY, OVO, Dana, Doku, Midtrans, juga LinkAja yang merupakan perusahaan patungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN)  hadir dengan memberikan layanan dompet digital atau digital wallet. Dompet digital ini memungkinkan penggunanya untuk menyimpan uang di aplikasi, kemudian memanfaatkannya untuk transaksi pembayaran di merchant offline maupun online secara real time. Mobilitas digital payment pun lebih cepat untuk bertransaksi, karena dipermudah oleh teknologi yang multichannel antar pengguna maupun merchant.

Salah satu pengalaman bertransaksi yang cukup sering saya lakukan adalah pembayaran di merchant restauran. Menariknya, merchant memberikan cashback yang terbilang lumayan mulai dari 10-50% untuk sekali transaksi. Pada counter kasir restauran sudah dilengkapai dengan informasi QR code payment. Saya tinggal melakukan pemindaian barcode dengan menggunakan aplikasi digital payment. Kemudian saya masukkan nominal pembayaran, dan autorisasi dengan personal password. Tidak membutuhkan waktu lama, maka proses pembayaran selesai.

Perusahaan Jepang Denso-Wave di tahun 1994 membuat QR Code atau kode QR yakni  sebuah kode matriks (kode dua dimensi) . The “QR” -Quick Response,  memuat berbagai informasi di dalamnya seperti teks, nomor telepon, dan alamat URL, yang biasanya diletakkan pada produk untuk menunjukkan informasi tambahan dari produk tersebut. Kode QR telah menjadi salah satu pilihan untuk sistem pembayaran agar transaksi dapat berjalan lebih cepat, efisien, dan tentunya cashless.

Transformasi Digital Sistem Pembayaran Indonesia


Jika kita perhatikan pembayaran menggunakan QR code payment saat ini punya mesin dan sistem yang berbeda. Selain itu pembayaran dengan QR code rasanya hanya bisa dilakukan di mall-mall atau restauran besar saja. Hampir tidak pernah saya menemukan pembayaran digital dilakukan di pasar dan masih terbatas di toko atau kedai UMKM/UKM.

Penggunaan QR code pada transaksi pembayaran (dokumentasi pribadi)


Maka sebagai langkah awal transformasi digital di sistem pembayaran Indonesia, Bank Indonesia meluncurkan QR Code Indonesia Standard (QRIS) pada bulan Mei 2019. Kehadiran QRIS memungkinkan pembayaran melalui QR akan terinterkoneksi berbagai instrumen sistem pembayaran yang lebih luas dan mengakomodasi kebutuhan spesifik negara serta terinteropabilitas dengan menggunakan satu standar QR Code. 

QRIS akan mampu mendorong efisiensi transaksi, mempercepat inklusi keuangan, membantu percepatan pengembangan ekonomi dan keuangan digital serta memajukan UMKM, yang nantinya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. 

Metode QR code payment sendiri terdiri dari 2 display kode QR di merchant yang kemudian dapat di-scan menggunakan ponsel konsumen. Pertama, statis atau Merchant Presented Mode (MPM). QR code jenis ini ditampilkan melalui stiker atau hasil cetak lain yang dapat digunakan pada tiap transaksi pembayaran. QR Code belum mengandung nominal pembayaran yang harus dibayar, sehingga pengguna perlu memasukkan jumlah nominal pada aplikasinya. Penjual atau merchant harus memastikan terlebih dahulu apakah sudah mendapatkan notifikasi status transaksi, bila sudah artinya transaksi sudah berhasil. 

Yang kedua, dinamis atau Costumer Presented Mode (CPM). QR Code ditampilkan melalui struk yang dicetak mesin EDC atau ditampilkan pada monitor. QR Code yang berbeda dicetak untuk setiap transaksi pembayaran dan telah mengandung nominal pembayaran yang harus dibayar konsumen.

QRIS ini disusun oleh Bank Indonesia dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), dengan menggunakan standar internasional EMV Co.1. Pada tahap pengenalan QRIS akan difokuskan pada QR Code Payment model Merchant Presented Mode (MPM). Mulai 1 Januari 2020 QRIS akan berlaku efektif secara nasional. Saat ini Bank Indonesia terus melakukan sosialisasi penggunaan QRIS salah satunya melalui event #feskabi2019 yang diadakan di Universitas Sebelas Maret Surakarta pada Oktober 2019.

QR Code Indonesia Standard hadir dengan mengusung semangat UNGGUL yang mengandung makna UNiversal, GampanG, Untung, dan Langsung. 

✔️ Universal yakni QRIS dapat berlaku secara nasional dan internasional. Dapat digunakan seluruh lapisan masyarakat untuk melakukan transaksi keuangan elektronik sehari-hari. 

✔️ Unggul  yakni  pengguna QRIS tidak akan mengalami kesulitan dalam menggunakannya karena QRIS dapat langsung ditaping pada ponsel masing-masing.

✔️ Untung yakni QRIS pun memberi keuntungan kepada setiap penggunanya, baik masyarakat kecil, pengusaha maupun perbankan dan fintech

✔️Langsung (real time) yakni transaksi seketika bisa kita lakukan, tidak hanya transaksi jual beli tapi juga transaksi pembayarannya.

Transaksi menjadi lebih mudah, bukan? Nah, pemberlakuan QRIS bagi Penyedia Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) juga untuk mengatasi munculnya monopoli bisnis. Bila sudah terstandarisasi nantinya sistem pembayaran ini dapat diawasi satu pintu oleh regulator dengan lebih baik.  



Milenial Mendukung Inklusi Keuangan


Inklusi keuangan adalah keikutsertaan masyarakat dalam memanfaatkan produk dan jasa keuangan formal seperti sarana menyimpan uang yang aman, transfer, menabung maupun pinjaman dan asuransi. Di Indonesia, masyarakat yang memiliki keleluasaan akses  dengan jasa keuangan terhitung hanya sebesar 36 persen saja. ( Global Findex, 2014)

Itu mengapa para milenial yang merupakan digital native diharapkan secara aktif mendukung inklusi keuangan. Dengan keberadaan QR Code Indonesia Standard (QRIS) maka akan semakin mempermudah para milenial dalam melakukan transaksi menggunakan uang eletronik. Kabar baiknya akan ada empat negara yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina  bekerja sama untuk meningkatkan sistem pembayaran. Hal ini sebagai upaya untuk meningkatkan inklusi keuangan di setiap negara. 

Oiya, jangan lupa! Sebagai pengguna QR code payment kita tetap harus berhati-hati akan pemalsuan kode QR oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Jangan sampai akun pengguna QR code disabotaseyang berujung dengan cyber crime (mengungkap identitas pengguna atau mengganti QR Code berisi virus atau malware).

Maka, setiap stakeholder pada ekosistem pembayaran digital perlu membangun keamanan guna menghindari ancaman kejahatan. Bagi perbankan diharapkan meningkatkan teknologi aplikasi, server, dan sumber daya manusianya.

Berdasarkan informasi yang ditampilkan dalam website resmi OJK, berikut ini adalah beberapa langkah pencegahan yang dapat kita lakukan dalam bertransaksi aman dan nyaman menggunakan QR code

1. Menggunakan pemindai QR code yang memiliki fitur pengamanan. Pengguna aplikasi juga dimungkinkan untuk melihat seluruh URL sebelum membuka situs web terkait dan melakukan analisis apakah alamat yang dituju cukup aman atau berpotensi membahayakan.

2. Tidak sembarangan melakukan pemindaian pada QR code yang tidak dikenal.

3. Periksa QR code secara fisik, untuk memastikan keaslian QR code. Perhatikan apakah fisik QR code tidak ditutupi dengan QR code lain dalam bentuk stiker atau lainnya. Untuk memastikan, tidak ada salahnya pengguna menanyakan pada merchant apakah QR code tersebut benar.


Yuk, para milenial sukseskan transformasi digital sistem pembayaran di Indonesia. Kita #gairahkanekonomi dengan #pakaiQRstandar dan menjadi bagian dari cashless society. Bertransaksi menjadi lebih aman, nyaman dan efisien serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.









Referensi

Amaly, L., & Hudrasyah, H. 2012. Measuring effectiveness of marketing communication using AISAS ARCAS model. Journal of Business and Management, 1(5), 352-364.
Barry, T. E., & Howard, D. J. 1990. A review and critique of the hierarchy of effects in advertising. International Journal of Advertising, 9(2), 121-135.
Noor Eriza, Zahra. 2017. Peran Mediasi Citra Merek dan Persepsi Risiko pada Hubungan antara Electronic  Word  of  Mouth  (E-WOM)  dan  Minat  Beli  (Studi  pada  Konsumen  Kosmetik  E- Commerce di Solo Raya). Jurnal Komuniti Vol 9 No 1

Situs daring

https://www.bi.go.id/id/ruang-media/info-terbaru/Pages/Bank-Indonesia-Terbitkan-Ketentuan-Pelaksanaan-QRIS.aspx (diakses pada 25 Oktober 2019)
https://www.itproportal.com/features/digital-payments-in-2018-how-millennials-are-driving-next-gen-commerce/ (diakses pada 25 Oktober 2019)
https://sikapiuangmu.ojk.go.id/FrontEnd/CMS/Article/10522 (diakses pada 25 Oktober 2019)
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190308142700-83-375574/waspada-bahaya-mengintai-di-era-cashless-society (diakses pada 25 Oktober 2019)
https://kumparan.com/venture/perlahan-tapi-pasti-indonesia-kejarmimpi-menuju-era-cashless-society-1551095668506546886 (diakses pada 26 Oktober 2019)
https://keuangan.kontan.co.id/news/bi-luncurkan-qr-indonesia-standar-sebagai-transformasi-digital-sistem-pembayaran (diakses pada 26 Oktober 2019)
https://www.bi.go.id/id/perbankan/keuanganinklusif/program/Contents/default.aspx (diakses pada 26 Oktober 2019)
https://money.kompas.com/read/2019/08/17/113149726/bi-luncurkan-qr-code-berstandar-indonesia (diakses pada 26 Oktober 2019)




See you on the next blogpost.






Thank you, 




Why do I actually need a personal brand at all?

5.12.19
CARA MEMBANGUN PERSONAL BRANDING


Kenapa sih harus membangun personal branding?

Baca Dulu : Personal Branding Bukan Narsis dan Pamer


Kalau sudah mampir ke tulisan di atas, kamu bisa mendengarkan episode terbaru 
The Late Brunch with Sara di Spotify. 
Episode ini membahas apa saja manfaat membangun personal branding dan bagaimana cara memulainya.



“Your brand is what people say about you when you’re not in the room.”
Jeff Bezos (founder of Amazon) 

Membayar Pajak dengan Mudah dan Nyaman di KPP Pratama Surakarta

2.12.19
KPP PRATAMA SURAKARTA

Jika ditanya "apa yang kamu berikan untuk negara?" Maka, saya akan menjawab "Pajak. Pajak adalah kontribusi saya bagi negara".

Mungkin banyak diantara kita yang masih mengeluh untuk membayar pajak. Pajak memang selalu hadir disetiap aktivitas kehidupan. Mulai dari PBB (Pajak Bumi dan Bangunan), PPN (Pajak Pertambahan Nilai) ketika membeli makanan atau barang, NPWP (pajak penghasilan), pajak kendaraan, juga pajak hadiah jika saya memenangkan lomba blog. Maka, dana untuk membayar pajak perlu dialokasikan khusus setiap tahunnya. 

Yang jadi pertanyaan kemudian, "Mengapa kita harus bayar pajak?" Sri Mulayani, Menteri Keuangan Indonesia menggunakan perumpamaan pajak seperti tulang punggung di tubuh manusia. Tulang punggung pada dasarnya memiliki peran penting untuk menopang tubuh agar semua organ dan bagian lainnya dapat berfungsi dengan baik. Beliau juga mengatakan jika Republik ini ingin bergerak, berdiri tegak, dihormati rakyatnya dan disegani, maka harus ditopang dengan tulang punggung yang kuat. Kalau rapuh, entah osteoporosis, salah bentuk, maka badan ikut kena dampaknya.

Apakah Semua Orang Wajib Bayar Pajak?


Jika dilihat dari istilahnya, pajak adalah kontribusi wajib orang pribadi dan badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dan digunakan untuk keperluan negara bagi  kemakmuran rakyat. Dari pengertian ini, kita dapat mengetahui bahwa wajib pajak adalah orang pribadi maupun badan (sekumpulan orang) baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.

Menurut Eko Budi Setyono, Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Surakarta, dalam acara Ngobrol Santai Pelayanan dan Manfaat Pajak bersama Kawan Dunia Maya (Kaniya) Blogger Kota Solo pada Jumat, 29 November 2019,   bahwa setiap orang wajib melaporkan SPT (Surat Pemberitahuan) Pajak. Namun, belum tentu membayar pajak, karena nantinya akan ada perhitungan-perhitungan tertentu yang akan memutuskan orang tersebut harus membayar pajak atau tidak.

Apakah semua warga negara Indonesia sudah taat pajak?

Dari acara Ngobrol Santai yang saya ikuti kemarin, saya mendapatkan insight mengenai berapa banyak warga Indonesia yang patuh bayar pajak. Dari 257 juta rakyat Indonesia ternyata hanya 30,08 juta wajib pajak yang terdaftar, 12,7 juta wajib pajak yang melaporkan SPT, dan hanya 1,55 juta wajib pajak yang membayar pajak.

Melihat persentase ini, tentu kita menyadari bahwa tingkat kesadaran masyarakat untuk membayar pajak masih rendah. Padahal, 82,5 % dari APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) berasal dari pajak. Pajak yang dibayarkan oleh masyarakat akan dialokasikan untuk banyak sektor, mulai dari ekonomi, pendidikan, agama, kesehatan, hingga perlindungan sosial. 

Membayar Pajak Secara Online Lebih Cepat dan Mudah

Untuk terus memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pajak, maka Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Pusat maupun wilayah secara aktif mengadakan berbagai forum untuk berdiskusi dengan masyarakat. Salah satunya sosialisasi mengenai pelayanan pembayaran pajak yang lebih mudah.  Jika dulu kita harus datang ke kantor dan membuat berbagai dokumen yang rumit, sekarang ini kita dapat membayar pajak secara online.

Melalui Aplikasi E-Billing Online Pajak kita dapat lebih mudah  melakukan pembayaran berbagai KAP (Kode Akun Pajak) , KJS (Kode Jenis Setoran) dan NPWP sekaligus, dengan instan, akurat, dan tanpa perlu antre di bank atau KPP lagi.

Pembuatan E-billing dan Kode E-Billing


Berikut ini adalah langkah-langkah membuat E-billing dan Kode E-Billing

I. Membuat Kode Billing atau Id Billing

Untuk pembuatan kode billing ada 7 petunjuk yang bisa dilakukan untuk dapat membuat kode billing atau id billing, yaitu:

1. Melalui aplikasi online pajak yang merupakan satu-satunya application services provider (asp) yang disahkan direktorat jendral pajak untuk membuat id billing berdasarkan surat keputusan pemerintah.

2. Melalui teller bank tertentu yang telah disetujui, yaitu: bank BNI, Mandiri, BCA, dan Citibank. Kita juga bisa melakukannya lewat Kantor Pos.

3. Melalui SSE2 di situs pajak.go.id atau Direktorat Jendral Pajak online.

4. Melalui SMS id billing bagi pelanggan Telkomsel yaitu dengan menekan *141*500#.

5. Melalui layanan billing di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP).

6. Melalui layanan di nomor 1500200. Ini berlaku untuk wajib pajak pribadi, dan

7. Melalui layanan Internet Banking.


Membayar Pajak Secara Online


Setelah membuat kode billing, selanjutnya kamu bisa melakukan bayar pajak online e-billing melalui beberapa tempat ini, yaitu:

1. Melalui OnlinePajak yang berlaku untuk nasabah CIMB Niaga dan BNI.

2. Melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

3. Melalui teller bank yang bekerja sama.

4.  Melalui Kantor Pos.

5. Melalui Internet Banking.

6. Melalui agen Branchless Banking.

7. Melalui Mobile Banking. (Hanya berlaku untuk nasabah Bank Pembangunan Daerah Bali).

8. Melalui mesin mini ATM yang berada di seluruh KPP atau KP2KP.


Membayar Pajak Nyaman di KPP Pratama Surakarta

KPP PRATAMA SURAKARTA

Meski membayar pajak dapat dilakukan secara online, namun bagi masyarakat yang masih ragu atau merasakan kesulitan membayar secara online, dapat menuju ke KPP di sekitaran tempat tinggal. Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama menjadi salah satu KPP yang mampu memberikan fasilitas kenyamanan dan kemudahan yang unggul bagi masyarakat saat membayar pajak.

KPP PRATAMA SURAKARTA


KPP Pratama Surakarta terbukti berhasil diganjar berbagai penghargaan atas service excellent yang mereka berikan. Salah satunya dengan mengusung kawasan Responsif Gender yakni dengan mewujudkan kondisi kebijakan/ program/ kegiatan pembangunan yang dilakukan dengan memperhatikan berbagai pertimbangan untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan. Tidak hanya untuk laki-laki dan perempuan, namun juga dalam perbedaan usia, sosial ekonomi dan suku bangsa.

Pelaksanaa Responsif Gender ini dapat dilihat dari beberapa fasilitas yang disediakan KPP Pratama Surakarta, antara lain :

1. Ruang prioritas untuk lansia, ibu hamil, ibu dengan anak dan disabilitas

KPP PRATAMA SURAKARTA


2. Kamar mandi khusus disabilitas

KPP PRATAMA SURAKARTA


3. Jalur khusus untuk ibu hamil pada anak tangga. Dengan menempatkan stiker sebagai petunjuk bagi lajur khusus ibu hamil



4. Ruang laktasi yang sangat nyaman

KPP PRATAMA SURAKARTA


5.Ruang day care bagi karyawan yang ingin menitipkan anaknya selama mereka bekerja

KPP PRATAMA SURAKARTA


6. Ruang olahraga dan rekreasi

KPP PRATAMA SURAKARTA


7. Ruang poliklinik

8. Ruang transit, bagi karyawan yang mengalami masalah kesehatan dan tidak mampu untuk bekerja di lantai 2

9. Baby Playroom untuk area bermain anak

KPP PRATAMA SURAKARTA



Beberapa fasilitas lain yang tidak kalah baik yakni adanya Galeri UMKM sebagai area untuk mempromosikan produk UMKM. Juga ada area galeri investasi, kantin, masjid, mini ATM, juga perpustakaan dengan koleksi buku yang beragam.

KPP PRATAMA SURAKARTA


Dengan keberadaan berbagai fasilitas unggul ini, harapannya masyarakat khususnya di Surakarta akan semakin nyaman dan tidak segan untuk membayar pajak di KPP Pratama. 

Maka, jika masih banyak masyarakat yang ragu untuk membayar pajak, kini sudah saatnya kita menyadari bahwa pajak adalah komitmen kita sebagai warga negara untuk berkontribusi pada negara. Karena, seluruh iuran pajak yang kita berikan nantinya akan kembali kepada pada kita melalui fasilitas yang kita nikmati setiap hari. 

Pajak Kita Untuk Kita. Bayar Pajaknya, Awasi Penggunaannya.

SARA NEYRHIZA






Referensi Daring

https://ekonomi.kompas.com/read/2018/07/11/230842726/sri-mulyani-orang-bertanya-kenapa-saya-harus-bayar-pajak.
https://www.pajak.go.id/id/istilah-umum-perpajakan



See you on the next blogpost.






Thank you, 





Bunda Baca Solo 2019, Sara Neyrhiza Ajak Para Bunda Sebagai Pegiat Literasi

28.11.19
DUTA BACA SOLO 2019 ZAHRA NOOR ERIZA


Boleh dibilang prosesnya tidak terlalu lama untuk pada akhirnya mendapatkan predikat ini. Jadi awalnya, setelah mendapatkan info terkait pemilihan Duta Baca Solo 2019, saya mulai menyiapkan artikel. Tepat H-1 saya mengirimkan artikel tersebut ke sekretariat Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Surakarta sebagai penyelenggara kompetisi ini.

Dari hasil seleksi penulisan artikel, maka dipilihlah 10 orang dari kategori Duta Baca Solo 2019 putra, putri dan bunda untuk melakukan presentasi dan wawancara.

Senin, 25 November 2019 sesi presentasi dan wawancara dilakukan bertempat di kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Surakarta dengan menghadirkan tiga orang dewan juri yakni budayawan Hanindawan, Ketua Ikatan Pustawakawan Indonesia Kota Solo, Daryono, dan praktisi media dari Solopos, Yonantha Candra Permana. Dari proses ini, maka dipilihlah 5 orang dari masing-masing kategori untuk maju di final.



Rabu, 27 November 2019 penyelenggaraan final Duta Baca Solo 2019 dilaksanakan di Atrium Paragon Mall Solo. Masing-masing finalis diminta untuk memperkenalkan diri, menyebutkan motivasi mengikuti kompetisi, lalu memilih pertanyaan secara acak yang sudah disiapkan di dalam fish ball. Terakhir, dewan juri juga memberikan pertanyaan untuk menutup sesi ini. 

Untuk membaca liputan mengenai prosesi final pemilihan Duta Baca Solo 2019 dapat dilihat di sini.

BUNDA BACA SOLO 2019 SARA NEYRHIZA

Saya sangat mengapresiasi penyelenggaran pemilihan Duta Baca Solo 2019. Untuk kategori Bunda Baca Solo 2019 saya mendapati para finalis sangat luar biasa dengan ide-ide dan semangat mereka.

Ketika akhirnya saya terpilih sebagai Bunda Baca Solo 2019 saya rasa ini menjadi kesempatan dan tantangan untuk bekerja sama dengan pemerintah, dalam hal ini Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Surakarta untuk bersama-sama menggiatkan literasi bahasa di berbagai kalangan di Kota Solo.

Sebagai bentuk komitmen menyebarkan semangat berliterasi, nantinya setiap aktivitas yang saya lakukan dalam tugas saya sebagai Bunda Baca Solo 2019 akan saya tulis di blog ini. Dan Insya Allah akan saya bukukan diakhir masa jabatan.

Semoga dengan terpilihnya saya sebagai Bunda Baca Solo 2019 saya dapat menjalankan amanah sekaligus terus bersemangat menyebarkan semangat membaca baik itu di rumah, di kampus tempat saya bekerja, juga di lingkungan komunitas maupun masyarakat.

Terima kasih untuk Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Surakarta dan Solopos.fm sebagai pelaksana pemilihan Duta Baca Solo 2019

DUTA BACA SOLO 2019 ZAHRA NOOR ERIZA
 Nadia Sarah Nurani (SMA Negeri 5 Solo) sebagai Duta Baca Putri, lalu Domingga Aryaduta Sukaswanto (Home SchoolingAnak Pelangi) sebagai Duta Baca Putra, dan Zahra Noor Eriza (Laweyan) sebagai Bunda Baca. Sementara itu, Gayatri Tarina Ratna Dewani siswi SMA Al-Azhar Syifa Budi Solo sebagai juara favorit.


Di bawah ini adalah artikel yang saya sertakan dalam pemilihan Bunda Baca Solo 2019.

ORANG TUA AGEN PENGGERAK LITERASI SEJAK DINI
Bunda Rajin Membacakan Buku, Anak Suka Baca Buku



BUNDA DUTA BACA SOLO 2019

"Ada beberapa sekolah dasar yang menguji kemampuan membaca calon muridnya pada tahap seleksi masuk," demikian ujar salah seorang guru TK anak saya pada sebuah rapat pertemuan sekolah dan wali murid. 

Beberapa wali murid terlihat kaget. Mereka sangsi dengan kemampuan anak mereka dalam membaca dan menulis. Buat saya hal ini tidak mengagetkan. Terlebih dengan Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang dijalankan sekolah-sekolah sebagai bagian amanat yang tertuang dalam peta GLN 2016-2019. 

Kementriaan Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan enam literasi dasar yang wajib dikembangkan melalui tripusat pendidikan (keluarga, sekolah dan masyarakat) yakni literasi bahasa, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial serta literasi budaya dan kewarganegaraan. Itu mengapa kemampuan membaca dan menulis dianggap sebagai kemampuan dasar yang harus dimiliki untuk melek literasi lainnya.

Meski demikian, sebagai bagian dari tripusat pendidikan yakni keluarga, saya tidak serta merta kemudian menggembleng anak saya untuk bisa membaca di usia dini. Tidak. 

Secara kontekstual, literasi memang diartikan sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam melakukan pekerjaan. Namun lebih luas, literasi mencakup aspek visual dalam mengenali dan memahami ide atau pesan yang disampaikan secara visual seperti gambar, video dan adegan.

Maka ketika dihadapkan pada kompetensi kemampuan membaca anak, saya tidak tergesa-gesa untuk menetapkan target kemampuan mengeja lancar B-A-C-A sama dengan BACA. Bagi anak saya yang masih balita, target ini terlihat jauh dan merepotkan. Saya tidak ingin membaca menjadi sebuah keharusan, namun anak harus merasakan bahwa membaca adalah suatu hal yang menyenangkan, membuat ketagihan dan akhirnya menjadi kebutuhan.

Sudahkah Orangtua Membacakan Buku?


Sebagai orangtua pola pendidikan yang paling mudah adalah dengan memberikan contoh. Tidak perlu sering memerintah, tetapi anak melihat bukti nyata dari perilaku orang tua. Begitu pula ketika mengajarkan anak gemar membaca, maka mulailah dari memberi tauladan.

Salah satu hal yang bisa dipraktikkan adalah dengan membacakan buku untuk anak. Tidak perlu waktu yang lama. Cukup 20 menit yang berkualitas setiap hari, membacakan buku kepada anak dapat mengenalkan asyiknya membaca buku.

Pada dasarnya, anak menyukai cerita. Dari cerita anak mampu mengembangkan imajinasi dan memahami bagaimana kehidupan ini bekerja. Maka, sebelum mengenalkan apa itu membaca buku, dapat dimulai dengan mengenalkan berbagai cerita menarik dari sebuah buku.

Pertama, orang tua dapat memilih buku dengan gambar yang menarik. Lalu tunjukkan pada anak, gambar dan tulisan yang ada di dalamnya. Hal ini dapat dilakukan bahkan ketika anak masih bayi dan mulai tertarik dengan rangsangan visual yang berwarna-warni. 

Kedua, mulai saja membacakan cerita yang ada di buku tersebut. Baca secara perlahan-lahan sehingga anak dapat belajar memahami jalannya cerita. Sambil membacakan buku, kita tunjukkan berbagai gambar dan tulisan yang ada. Setelah sebuah buku selesai dibacakan, jangan langsung mengakhiri sesi membaca buku ini. Namun, ajak anak untuk menceritakan kembali apa yang baru saja mereka dengar. Hal ini dapat dipraktikkan untuk anak yang sudah mulai dapat berbicara.

Dari aktivitas membacakan buku yang dilakukan orang tua, anak bisa mengenal apa itu buku dan cerita. Anak belajar mendengar, dan memahami jalan cerita. Kemampuan imajinasi dan kreativitas anak juga akan berkembang. Mereka akan mulai banyak bertanya dan tumbuh rasa ingin tahu yang besar. Kedekatan komunikasi dan emosional dengan orang tua juga terjalin. Dan kemudian, anak akan bersemangat dengan hadirnya cerita-cerita lainnya dari berbagai buku.

Jangat kaget, jika kemudian anak akan memiliki perbendaharaan kata yang beragam. Dari ketrampilannya mendengar, anak mengenal berbagai kosa kata baru. Di sinilah anak juga berlatih kemampuan bercerita atau storytelling. Tinggal selanjutnya, bagaimana orang tua lebih kreatif dalam mengemas sesi membacakan buku ini.

Bunda, Penggerak Literasi Sejak Dini


Banyak data yang menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Berdasarkan data Most Littered Nation in The World yang dilakukan Central Connecticut State University (CCSU) pada Maret 2016, Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara perihal minat baca. Meski banyak data lain dengan hasil serupa, namun saya tidak pesimis. Terlebih di era dgital saat ini, membaca tidak lagi sekedar duduk manis baca buku di perpustakaan. Bahkan, perpustakaan sudah menyediakan berbagai e-book yang bisa dinikmati dengan gadget di manpun dan kapanpun.

Maka, yang menjadi PR besar adalah bagaimana menanamkan minat baca ini sedini mungkin. Dan hal ini menjadi tanggungjawab orang tua khususnya ibu. Apa yang harus para bunda lakukan saat ini? Yakni mulai menggairahkan kembali semangat membaca. Lalu menularkan aktivitas ini kepada anak melalui kegiatan membacakan buku dan mendongeng.

Ajak anak untuk ke perpustakaan dan toko buku. Kenalkan anak dengan berbagai pilihan buku yang mempu membangkitkan rasa ingin tahu mereka. Setelahnya, sediakan kesempatan untuk berdiskusi dan berbagi cerita bersama.

Harapannya, aktivitas membaca buku bukan hanya menjadi kesenangan pribadi. Namun sekaligus menjadi bekal bagi anak agar menjadi generasi cerdas yang siap menghadapi tantangan di bangku sekolah maupun dalam pekerjaan. 

Bukankah, buku adalah jendela ilmu, dan membaca adalah kaca mata melihat dunia?


See you on the next blogpost.






Thank you, 



Workshop Konten Kreatif bersama Wikarya SMA N 3 Surakarta

workshop konten kreatif di solo


Seperti kebanyakan orang, SMA memang masa yang paling indah. Pun paling bermanfaat bagi hidup saya. Salah satunya karena dari masa itulah saya mengenal organisasi. Selama di organisasi saya aktif menjadi panitia dan pengurus. Bersosialisasi dengan kawan, berdiskusi, berkarya membuat saya lebih dapat mengeksplorasi kemampuan.

Salah satu organisasi yang saya ikuti adalah Wikarya, sebuah subsie majalah sekolah yang berada di bawah OSIS secara struktural. Selama 1 tahun, saya menjabat sebagai reporter.

kursus mc di semarang


Kebetulan, Sabtu 23 November 2019 saya berkesempatan untuk bertemu para anggota Wikarya di SMA N 3 Surakarta lokasi Kerkoff. Kali ini dengan misi mengedukasi mengenai pembuatan konten kreatif. Selama lebih dari 3 jam, saya menyampaikan mengenai pembuatan blog dan konten tulisan, serta mengulas mengenai tulisan review dan konten review di media sosial. Peserta yang hadir juga praktik langsung membuat konten di instagram. Melalui acara ini, diharapkan para anggota Wikarya dapat produktif dalam menghasilkan konten. Tidak hanya untuk majalah sekolah, tetapi juga mading, blog dan media sosial yang mereka miliki.

Bagi sekolah, kampus ataupun perusahan yang ingin belajar membuat creative content untuk blog, website dan social media, dapat menghubungi saya di 0856 4220 9495

Mari kita bersama-sama meningkatkan kemampuan dalam berliterasi.

sara neyrhiza

See you on the next blogpost.






Thank you, 




Auto Post Signature