10 Tips Menjadi Pembicara Online Profesional

29.7.20
TIPS MENJADI PEMBICARA ONLINE


Sejak virtual meeting dan virtual learning merebak karena pembatasan aktivitas akibat pandemi, sekarang muncul banyak pembicara online. Pembicara yang biasanya tampil di seminar dan workshop, kini harus berdiam di rumah dan memakai teknologi video conference untuk membagikan ilmu mereka. Pembicara online di sini nggak melulu para pakar, praktisi ataupun motivator ya. Tetapi termasuk juga para guru, dosen, juga para profesional. Intinya sih yang selama ini melakukan public speaking face to face di hadapan audiens, berubah menjadi pembicara online melalui video conference.

Nah, kali ini saya ingin memberi beberapa tips menjadi pembicara online yang profesional. Profesional di sini bukan cuma, kaya secara wawasan dan pengetahuan, tetapi juga kesiapan dalam sarana dan prasarana.

Pembicara online khususnya yang menggunakan video conference platform : Zoom, Google Meet, Cisco Webex, Teams, Skype, Youtube Streaming, dll. Dan bukan kuliah WhatsApp atau Live di Instagram

Tips Menjadi Pembicara Online

Untuk menjadi pembicara online yang baik ada beberapa hal yang perlu dilakukan baik pada saat persiapan maupun pada saat tampil.

1. Menyiapkan sistem virtual yang baik

  • Lebih direkomendasikan menggunakan desktop atau laptop, daripada hadphone. Karena interface (tampilan visual untuk pengguna) yang lebih nyaman.
  • Pastikan laptop baterai full atau nyolok dengan stop kontak.
  • Isi pulsa paket data/ wifi yang mencukupi
  • Gunakan headset. Jangan mengandalkan microphone dari laptop. Selain suara nggak jelas, pembicara jadi kesannya lebih "ngoyo" kaya teriak- teriak ketika berbicara.

2. Siapkan backup system 

  • Kalau saya sedia laptop/ handphone cadangan, dengan provider komunikasi yang berbeda. Saya pernah tuh mengalami, sinyal provider tiba-tiba menghilang. Dari 4 G+ langsung berubah jadi H dan otomatis video saya berhenti.
  • Lalu kemudian buat akun yang berbeda, dan masuk ke meeting room yang aktif, akun kedua ini jadi asisten kita
  •  Ketika akun utama bermasalah, langsung pindah ke perangkat kedua tanpa butuh waktu lama.

3. Pahami cara kerja platform

Nggak lucu jadinya kalau tampil, tapi masih bingung cara pakai platformnya. Ngemute microphone nggak tahu, cara share presentasi bingung.

Pelajari :
  • Limitasi durasi
  • Limitasi peserta
  • Fungsi tiap fitur ( video, audio, share screen, chat, dan fitur interaksi lainnya)

4. Pilih lokasi yang nyaman di rumah

  • Tentukan posisi nyaman, dengan background yang tidak terlalu ramai. Bisa membuat virtual background dengan warna yang kontras dengan pakaian yang digunakan.
  • Hindari area terlalu berisik atau dekat perangkat elektronik
  • Kalau nggak punya ruang khusus, komunikasikan dengan orang rumah agar nggak brisik
  • Sebaiknya tidak memilih tempat dekat kamar mandi keluarga :)

5. Siapkan materi 

 Jika butuh slide presentasi, buat slide yang sederhana dan nyaman dibaca audiens

  •  Tulis poin- poin yg punya power saja
  •  Sedehanakan teks dan tabel dengan gambar, diagram atau grafik
  •  Pilih font yang mudah dibaca, size minimal 30
  •  Warna teks dan background kontras

6. Uji Coba/ Gladi resik

  • Agar yakin sistem berjalan baik, lakukan uji coba maksimal H-1. Mulai dari perangkat, koneksi, sampai tampilan slide presentasi
  • Lakukan uji coba 15 menit sebelum acara bersama panitia.

7. Visual yang fresh 

  • Gunakan pakaian rapi profesional layaknya bertatap muka offline.
  • Bagi perempuan usahakan pakai makeup biar seger. Tips tambahan, agar wajah gak pucet pilih warna lipstik ngejreng daripada yg nude atau pastel

8. Kontrol pesan verbal dan non verbal

Kalau bertatap muka langsung dengan audiens, mungkin kita bisa bergerak bebas mengeksplorasi ruangan di mana kita tampil. 

Tapi karena kita dibatasi oleh frame layar dan lancar tidaknya koneksi, maka pembicara online harus menyesuaikan diri.

Beberapa hal ini bisa diperhatikan pembicara online saat tampil :
  • Tubuh tegak, siap, santai, tapi tidak terlihat menyepelekan seperti menopang dagu
  • Jaga ekspresi wajah. Ramah dan antusias
  • Tatapan mata pada kamera, bukan ke wajah peserta
  • Hindari terlalu banyak gerak dan gestur
  • Bicara jelas, perlahan, tempo sedang
  •  Posisikan kaki dengan nyaman (bebas, karena nggak kelihatan di layar)

9. Pahami fenomena zoom fatigue

Baca Dulu : Apa Itu Zoom Fatigue


  • Minta rundown beberapa hari sebelum acara. Pelajari berapa lama durasi acara, durasi presentasi dan durasi tanya jawab.
  • Ambil istirahat  1- 2 menit setiap 45 menit saat tampil untuk menghindari zoom fatigue. Matikan layar, minum, rileksasikan tubuh, ke kamar mandi jika dibutuhkan

10. Siapkan minum

Siapkan segelas air putih di samping laptop atau komputer, sehingga ketika dibutuhkan tidak perlu jalan jauh ke dapur. Jika dibutuhkan boleh juga menyiapkan permen.

  • Bicara panjang lebar itu bikin tenggorokan kering
  • Minum juga untuk mengembalikan fokus
  • Minum hanya ketika break,  video dimatikan atau out of frame
  • Jika tidak memungkinkan, ketika akan minum permisi dahulu kepada peserta

Special notes
  • Jangan lupa Berdoa
  • Semoga diberi kemudahan
  • Jika sudah melakukan persiapan, tetap ada kendala, berarti semua atas izinNya
  • Semoga partisipan yang hadir bisa paham apa yg disampaikan pembicara, peserta antusias, panitia puas.

Itu tadi beberapa persiapan dan tips menjadi pembicara online. Semoga bisa membantu ya...
Jika ada yang ingin ditambahkan, bisa dituliskan di kolom komentar..

Baca Juga : Persiapan Virtual Teacher

See you on the next blogpost.








Thank you, 

Membangun Manajemen Kesan di Social Media

24.7.20
MANAJEEN KESAN PERSONAL BRANDING DI SOCIAL MEDIA


Pada umumnya orang ingin menanamkan kesan baik di benak orang lain. Diterima sebagai sosok yang cerdas, kompeten, berwibawa, dan lain- lain. Menampilkan sisi menarik dari diri sendiri memang bisa membawa keuntungan. Bukan hanya diterima di lingkungan sosial, tapi bisa membuka kesempatan. 

Misal nih, mau interview kerja, penting dong untuk membuat diri terlihat menarik di depan HRD. Mau pedekete sama perempuan, yah minimal rapiin pakaian dan mengatur cara bicara biar nggak belepotan. Belum lagi kalau harus presentasi di depan klien, nggak cukup bermodal slide presentasi, tapi juga bagaimana kita membawa diri. Se- simple itu. Artinya ingin terlihat menarik di depan orang lain itu hal yang lumrah.

Di saat era sosmed kaya sekarang ini, terlihat menarik bisa dilakukan juga melalui postingan yang kita publikasikan. Melalui foto dan caption, kita bisa mendesain bagaimana profil diri kita bisa terlihat berbeda dan mencuri perhatian. Hal ini juga menjadi bagian strategi membangun personal brand.

Baca Juga : Manfaat Membangun Personal Branding


The Presentation of Self in Everyday Life


Kalau baca bukunya Erving Goffman yang judulnya The Presentation of Self in Everyday Life, kita bakal menemukan istilah Impression Management - Manajemen Kesan. Goffman sendiri mengartikan bahwa impression management adalah tindakan seseorang dalam mengatur pesan verbal dan nonverbal saat berkomunikasi dengan orang lain, agar tertanam kesan tertentu.

Pesan verbal dan non verbal ini meliputi kata- kata, tindakan, cara berpakaian, maupun hal - hal yang lain yang dapat memperkuat kesan tersebut.

Manajemen kesan ini, ternyata bisa juga diterapkan dalam strategi membangun personal branding di social media. Kita bisa mengatur foto seperti apa yang ingin di tampilkan, pakaian apa yang digunakan, caption apa yang ditulis, termasuk bagaimana berinteraksi dengan follower.

Boleh kah, hal ini dilakukan?

Boleh saja, tapi balik lagi ke motivasi dari tiap orang dalam melakukan manajemen kesan tersebut.

Motivasi Melakukan Impression Management


Di buku Tri Dayakisni dan Hudaniah yang berjudul Psikologi Sosial, dijelaskan ada 3 motivasi primer orang melakukan impression manajemen yakni :

1. Keinginan untuk mendapatkan imbalan materi atau sosial. ✔️
Seperti misalnya ingin dihargai, dipercaya, atau diberi kesempatan untuk melakukan sesuatu atau pekerjaan.

2.  Mempertahankan atau meningkatkan harga diri. ✔️
Motivasi ini ada pada seseorang yang ingin dianggap kompeten terhadap sesuatu, atau mendapat validasi atas apa yang dia bisa dan miliki.

3. Untuk mempermudah pengembangan identitas diri. ✔️
Setiap individu pasti memiliki ciri khusus, yang meliputi nilai yang diyakini, tujuan hidup, passion, dll. Semakin identitas diri ini dikenali, maka semakin terlihat sisi menarik atau unique selling proposition yang menjadi pembeda dengan orang kebanyakan.


Beberapa orang mungkin menganggap bahwa impression management ini adalah tindakan yang manipulatif. Padahal kita sering mendengar nasehat untuk menjadi diri sendiri "be yourself". Tapi coba jujur, deh. Kenyataanya, memang tidak ada kan orang yang bisa menampilkan 100% siapa dirinya. Selalu ada "topeng" yang dia gunakan untuk bisa diterima dan tidak merugikan orang lain.

Impression management bisa juga menjadi bentuk kehati- hatian. Agar di manapun kita bersikap, bertindak, berbicara kita pikirkan dulu dengan baik. Jangan sampai, melepas kontrol terhadap diri kita sendiri yang pada akhirnya justru akan menjadi bumerang.

Sebagai contoh, kalau seseorang terbiasa merokok di kehidupan nyata, tentu ada sebagian orang yang akan berhati- hati ketika merokok di tempat umum. Atau ketika akan mempublikaikan foto sedang merokok di akun instagramnya. Ini bukan karena tidak ingin be yourself, tapi lebih kepada agar kesan yang ditampilkan memang sesuai dengan nilai atau norma sosial.

Contoh lain, perempuan yang ketika di luar rumah berhijab. Meski di rumah melepas hijab dan biasa memakai tanktop dan celana pendek, tapi ia akan berpikir ratusan kali ketika mempublikasikan foto dengan pakaian terbuka. Bukan karena takut dihujat netizen, tapi pasti  ada perasaan tidak nyaman jika bagian tubuhnya dilihat sembarangan orang.

Intinya, dalam membangun manajemen kesan ini, individu berhak mengontrol mana yang ia ingin tunjukkan atau sembunyikan dari orang lain.

Manajemen Kesan di Media Sosial


Bagi yang fokus membangun personal brand, social media dapat digunakan sebagai saluran untuk menyampaikan pesan, untuk mempresentasikan dirinya di hadapan orang lain. Nilai positifnya, sosmed ini memungkinkan untuk menjangkau lebih banyak orang, dan lebih efisien secara biaya.

Jones dan Pitman melalui penelitiannya yang berjudul  Toward a General Theory of Strategic Self-Presentation, menjelaskan bahwa ada 5 strategi manajemen kesan. Mempelajari strategi ini, akan memberikan kita gambaran, bagaimana seseorang membangun kesannya di social media.


1. Ingratiation

Manajemen kesan dibangun dengan cara memuji diri sendiri, memuji orang lain, menyetujui opini orang lain, atau pendapat umum dalam masyarakat. Juga melakukan perbuatan baik seperti memberi bantuan dan hadiah. Tindakan ini dilakukan sebagai upaya untuk menutupi kelemahan dengan kelebihan.


2. Intimidation

Jika kamu pernah melihat akun seseorang yang terlihat vokal, arogan, bersuara keras, bisa jadi ia sedang melakukan strategi ini. Intimadation membuat kesan bahwa ia adalah sosok yang  berbahaya. Menimbulkan rasa takut pada lawan, dengan memberikan ancaman, meluapkan amarah, pamer
kekuasaan atau kekuatan.

3. Self Promotion

Strategi self promotion bertujuan untuk mempelihatkan sisi kompenten seseorang. Memberikan penjelasan deskriptif terhadap sesuatu yang ia kuasai, memperlihatkan prestasi, penghargaan dan sebagainya.

4. Exemplification

Kesan ditampilkan dengan menunjukkan sisi bermoral dan berintegritas. Ia memperlihatkan dirinya  sebagai seseorang yang peduli, disiplin, jujur, dermawan, nasionalis, taat beragama, dll.  Sehingga orang lain akan menjadi hormat dan kagum terhadapnya.


5. Supplication

Manajemen kesan tidak melulu menonjolkan hal yang kuat dan positif. Strategi ini justru menampilkan dirinya sebagai orang yang lemah, tidak berdaya. Menunjukkan ketidakmampuan,  kekurangan, ujian, sehingga orang lain dapat berbelas kasihan kepadanya.


Jika ditanya manakah strategi terbaik dalam membangun personal branding di media sosial dari 5 strategi di atas? Maka,  jawabannya adalah tergantung kepribadian, value dan tujuan orang tersebut. Karena pada akhirnya, personal brand yang baik adalah yang yang dilakukan dengan kejujuran, konsistensi serta didukung integritas di dunia nyata.

Baca Juga : Personal Branding Bukan Narsis dan Pamer


Itulah manusia, selalu punya kebutuhan untuk menunjukkan dirinya dan ingin selalu diterima oleh orang lain. Manusia juga senantiasa mengontrol mana yang ingin ia perlihatkan atau sembunyikan. Asalkan tidak berpura-pura yang membuatnya lelah fisik dan mental dan merugikan orang lain, manajemen kesan sangat bisa dilakukan.


***
Materi di atas saya sampaikan pada Personal Branding Talk "Strategi Impression Management di Social Media"

Untuk jadwal workshop dan seminar lainnya, hubungi 081-328-9192-49

PELATIHAN PERSONAL BRANDING SOLO JOGJA SEMARANG



Dayakisni, T & Hudaniah. 2006. Psikologi Sosial. Malang: Universitas
Muhammadiyah Malang

Ritzer, George et al. 2004. Teori Sosiologi Modern (Terj). Jakarta: Prenada Media.    

Jones, E. E., & Pittman, T. S. 1982. Toward a General Theory of Strategic Self-Presentation. In J. Suls (Ed.), Psychological

See you on the next blogpost.








Thank you, 


Perbedaan Starts, Streams, dan Listeners Podcast di Spotify

15.7.20
Perbedaan Starts, Streams, dan Listeners Podcast di Spotify
Dashboard statistik di Anchor


Bagi podcaster pemula, atau siapapun yang mulai membuat podcast di Spotify, pasti merasa bahwa jumlah pendengar menjadi motivasi dalam konsistensi membuat podcast. Gampangnya sih gini, semakin banyak yang dengerin, semakin bersemangat kita bikin konten.

Meski begitu, menarik perhatian pendengar itu gampang-gampang susah. Nggak ada rumus pastinya, semuanya hanya bisa dicoba. 

Salah satu platform favorit buat dengerin podcast itu Spotify. Apalagi kalau kamu udah bikin podcast dengan mudah dan gratis via Anchor, podcastmu bisa langsung terdistribusi ke Spotify.

DATA PENDENGAR PODCAST DI ANCHOR
Dashboard statistik di Anchor

Di Anchor sendiri sebenarnya sudah ada data yang menampilkan statistik pendengar. Data statistik pendengar yang ditampilkan antara lain :

- Akumulasi jumlah podcast didengarkan
- Top episode
- Regional geografi pendengar podcast
- Listening platform
- Demografi pendengar berdasarkan usia dan jenis kelamin

Selain menggunakan data di Anchor, kita juga bisa mengecek statistik pendengar melalui Spotify. Tapi sebelumnya mendaftar dulu melalui https://podcasters.spotify.com/
Setelah sinkronisasi dilakukan, maka kemudian kita akan melihat beberapa informasi yang menunjukkan starts, streams, listeners dari podcast yang kita miliki.


Lantas, apa perbedaan starts, streams, listeners, dan follower pada data statistik pendengar podcast di Spotify?

  • Starts : Jumlah berapa kali tombol play podcast di tekan (1 detikpun dihitung)

  • Streams : Jumlah berapa kali podcast didengarkan (minimal selama 60 detik)

  • Listeners (unique listeners) : Jumlah orang yang mendengarkan podcastmu (1 pendengar dapat melakukan klik tombol play, atau stream  lebih dari 1 kali)

  • Follower : Jumlah orang yang klik tombol "follow". Podcast kita akan ditambahkan ke library pendengar, dan library pendengar akan diperbarui ketika podcast yang difollow merilis episode baru.

Bagi saya, melihat statistik pendengar ini sangat penting. Karena kita sebagai podcaster jadi tahu bagaimana caranya untuk menarik perhatian audiens dan membuat mereka nyaman mendengarkan hingga akhir episode.

Riset ini jadi pertimbangan ketika membuat konten. Apakah kita akan fokus pada topik idealis, atau akan berusaha bernegosiasi dengan selera atau market pendengar.


See you on the next blogpost.








Thank you, 

Membangun Empati di Kelas Virtual

3.7.20
PELATIHAN PEMBICARA ONLINE


Kegelisahan pembicara online.


Bagi saya, tidak masalah jika audiens tidak berpakaian rapi, atau background berantakan. Tapi keberanian memunculkan wajah pada layar video adalah salah satu upaya untuk saling menghargai proses komunikasi/ proses belajar yang sedang berlangsung.

Meski terbiasa siaran radio dan podcast, atau melakukan IG Live dan bikin vlog, nyatanya video conference memberikan tantangan tersendiri ketika memunculkan theater of mind.

Ketika melihat ada rupa di layar video dan tidak disembunyikan dengan foto profil atau background hitam, sebagai pembicara/ pengajar online, saya merasa dan bisa tahu bahwa saya sedang mengajak bicara seseorang. Tidak frustasi, meraba- raba, "apakah koneksi lancar? Apakah slide presentasi dapat ditampilkan? Apakah materi bisa dipahami?"

Meski respon dari audiens terbatas, hal ini akan membantu secara emosional bahwa proses belajar daring ini berjalan dua arah. Hal ini menjadi penting karena keterbatasan pesan non verbal yang ditampilkan. Kita hanya bisa mengandalkan membaca ekspresi wajah dan tatapan mata sebagai bentuk komunikasi. Karena jika microphone tidak di-mute, tentu akan berisik dan bikin sakit telinga.

Jika kemudian pesan nonverbal "dari kepala hingga bahu ini disembunyikan", bagaimana proses komunikasi ini bisa adil? Belum lagi jika terjadi gangguan di tengah jalan. Ketika layar video terbuka, maka audienspun dapat secara langsung memberikan feed back kepada pengajar. Kendala bisa dicari solusinya.

Seperti komunikasi face- to- face, bukankah akan lebih nyaman ketika seseorang yang kita ajak bicara menatap kita dan tidak membuang muka? Menjaga eye contact akan memunculkan koneksi, empati, dan pertukaran intelektual.

Tentu, saya memahami bahwa gangguan pembelajaran online begitu besar, baik itu jaringan komunikasi, lingkungan atau kelelahan yang di alami individu kala menatap layar kecil terlalu lama atau yang biasa disebut dengan zoom fatigue.

Itu mengapa, memang dibutuhkan skenario yang interaktif dalam sebuah sesi belajar online. Durasi yang tidak terlalu lama, serta menyematkan jeda untuk bisa sekedar minum atau ke kamar mandi bagi pengajar maupun partisipan. Dan syukur- syukur ada giveaway, kalau ada sponsornya, buat hore- hore pengganti biaya pulsa :)




See you on the next blogpost.








Thank you, 


Keterampilan yang Wajib Dimiliki Millennial di Era Industri 4.0

2.7.20
SARA NEYRHIZA


Industri 4.0 yang serba digital membuka banyak peluang sekaligus tantangan. Kemajuan teknologi, bukan hanya mempermudah kebutuhan manusia, tapi juga menjadi ancaman. Lihat saja, sekarang banyak pekerjaan yang terotomatisasi dengan sistem digital dan robot.

Kalau dulu, mau buka rekening di bank, kita harus bertemu dengan customer service dan datang langsung ke kantor cabang. Tapi sekarang, semua bisa tersolusikan hanya dengan aplikasi di smartphone. Ini hanya satu contoh profesi yang lambat laun mulai tergantikan dengan kemudahan sistem komunikasi dan informasi.

Bidang pekerjaan sepert travel agent misalnya, juga mulai surut dengan adanya online travel agent. Yang bisa menyelesaikan kebutuhan pemesanan transportasi, akomodasi, sampai pilihan tempat wisata dalam hanya beberapa langkah akses aplikasi. Pembayar juga bisa dilakukan otomatis dengan mobile banking yang juga tersemat di gawai.

Melihat hal ini, bukan tidak mungkin bahwa di masa depan makin banyak profesi dan pekerjaan yang tergeser oleh kecanggihan digital. Maka, mau tidak mau manusia sebagai sumber daya yang terbarukan, harus mau selalu belajar dan meningkatkan kompetensinya.

Keterampilan Wajib di Era Industri 4.0


Bicara mengenai kebutuhan di masa depan, apa saja sebenarnya skills yang dibutuhkan para millenial dan  pekerja profesional untuk menjawab tantangan industri 4.0?

1. Problem Solving


Untuk dapat memiliki kecapakan dalam memecahkan masalah, seseorang harus mampu memiliki kemampuan berpikir kritis (critical thinking) dan berpikir kreatif (creative mind). Melihat permasalahan tidak sekedar menjadi kendala, namun tantangan untuk meningkatkan kemampuan diri.

Masalah yang hadir juga harus ditelaah baik- baik. Di sinilah kemampuan berpikir kritis dibutuhkan. melihat masalah dari berbagai sudut pandang, tekun melaukan riset dan observasi, serta berpikiran terbuka untuk menemukan solusi.

Untuk terbiasa berpikir kritis, maka kemampuan literasi menjadi faktor terpenting. Rajin membaca, menggali pengetahuan baru, serta tidak malas untuk mencoba keterampilan yang belum dikuasai sebelumnya.

2. Ability to Compromising


Kemapuan untuk berkompromi adalah skills yang perlu dimiliki di era kolaborasi saat ini. Kesadaran bahwa manusia tidak bisa hidup dan bekerja sendirian, menuntut untuk bisa bekerja sama dan bertukar pikiran dengan orang lain. Dengan memiliki kemampuan kompromi dan kolaborasi, seseorang akan terbuka dengan berbagai kesempatan baru. Ia tidak akan sibuk dengan dunianya sendiri.

3. Networking dan Communication Skills


Kemajuan teknologi juga membuka banyak akses untuk bertemu dengan orang baru di luar circle yang kita miliki. Seseorang perlu mempeluas jaringan pertemanan dan profesionalnya untuk bisa meningkatkan karir dan pencapaian hidupnya.

Untuk bisa bersosialisasi dengan baik, maka keterampilan komunikasi wajib untuk dimiliki. Keterampilan komunikasi bukan hanya sebatas kemampuan berbicara, public speaking atau kemampuan menulis. Namun yang tidak kalah penting adalah kemampuan berkomunikasi lintas budaya dengan menggunakan bahsa asing.

Bahasa Inggris adalah salah satu bahasa asing yang sudah wajar untuk dikuasai. Kemampuan bahasa asing yang mumpuni, akan membuka akses pada pergaulan Internasional. Paling tidak, kita tidak memiliki kendala bahasa jika harus melakukan interaksi dengan orang lain berbeda budaya dan kebangsaan, karena bahasa Inggris adalah bahasa Internasional.


Belajar Bahasa Inggris di The British Institute 


Mempelajari bahasa Inggris bisa dilakukan siapa saja, artinya tidak ada batasan usia. Salah satu lembaga pelatihan bahasa Inggris yang teruji kualitasnya selama lebih dari 36 tahun adalah The British Institute, yang tersertifikasi oleh the University of Cambridge English, untuk menjalankan kursus pelatihan CELTA (Certificates in Teaching English to Speakers of Other Languages).

Selain mengikuti perkembangan terbaru dalam pelatihan guru dan metodologi pengajarannya, The British Institute memiliki beberapa pilihan sistem pembelajaran seperti Classroom, Online dan Blended Learning.

Pilihan kelas yang ditawarkan juga sangat variatif, sehingga bisa disesuaikan dengan kebutuhan, antara lain :

Children
Pre Teen
Teen
Global English
Exam Preparation for TOEFL or IELTS test
Recruitment and Job promotion test
Workshop
In House Training
Private Class
Blended Learning
Online Learning
CELTA
Teacher Training


Jika kamu ingin belajar dan meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris, maka The British Institute yang berlokasi di Gading Walk – Mall Kelapa Gading, bisa jadi pilihan. Lokasinya yang strategis sangat mudah diakses dengan LRT Jabodetabek, dengan stasiun Mall Kelapa Gading. Karena lokasinya di mall, maka akan mudah jika ingin mencari makanan dan hiburan setelah kelas usai.

Menyenangkan pastinya belajar bahsa Inggris di The British Institute, karena adanya fleksibilitas dalam sistem belajar. Jadwal kelas yang bervariasi dan dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan karena The British Institute  memiliki kelas mulai dari Senin sampai dengan Sabtu mulai pukul 10 pagi sampai pukul 8 malam.

Oiya, sekarang belajar di The British Institute bisa kapan saja dan di mana saja, karena tersedia kelas online juga. Pastinya didukung tenaga pengajar baik asing maupun lokal yang berpengalaman dan memiliki standard kualifikasi serta sertifikasi internasional.

Kebetulan saya juga berkesempatan mengikuti kelas online ini. Acara ini dikoordinasi oleh Komunitas Indonesian Social Blogpreneur dan memberi kesempatan beberapa blogger untuk meningkatkan keterampilan menulisnya dalam bahasa Inggris. Walau tidak bisa bisa full mengikuti 6 jam pertemuan, namun kelas yang saya ikuti sangat menyenangkan dan interaktif dengan platform Zoom. Pengajar memandu peserta untuk mengerjakan soal- soal yang disediakan setelah diberikan materi pembelajaran. Kelas ini saya rekomendasikan buat kamu yang ingin belajar di rumah, tapi tetap ingin fokus belajar.


BELAJAR BAHASA INGGRIS DI TBI
Sesi belajar online bersama Ms. Andrea dari The British Institute


Nah, selanjutnya kalau kamu  ingin tanya lebih jauh mengenai program dan biaya belajar bahasa Inggris di The British Institute bisa menghubungi informasi di bawah ini :

Info : 0812 1212 6112 / 021 – 4587 5400/87
Email : satya.hindarto@tbi.co.id
Website : www.tbi.co.id
Instagram : tbikelapagading

Facebook: TBI Kelapa Gadin
Apakah saat ini kamu sudah memiliki keterampilan problem solving, ability to be compromising, networking dan communication? Kalau belum, yuk segera asah agar kamu bisa bersaing dan sukses di era industri 4.0.


See you on the next blogpost.








Thank you, 



Auto Post Signature