Persiapan Menjadi Virtual Teacher



Virtual Education - Online-based education : A form of education which is outside the classroom or partially outside the classroom that is based on taking advantage of the telematic potential of the Internet to carry out formal or other types of education, by means of learning activities supported by virtual learning environments

Himbauan  bekerja, belajar dan beribadah di rumah akibat Covid-19, akhirnya menjadi kepastian bahwa pembelajaran tatap muka ditiadakan demi kebaikan bersama. Tentu saja, para pengajar dibuat pusing tujuh keliling. Menggunakan sistem kebut semalam, para pengajar baik itu guru maupun dosen, belajar berbagai platform pembelajaran daring.

Beberapa metode belajar online mulai diuji coba. Mulai dari membuat konten dan di upload di youtube, diskusi via WhatsApp, mengisi presensi via Google Form, sampai melakukan pembelajaran interaktif via Zoom/ Google Meet yang berhasil menyedot banyak kuota.

Bayangkan, ini tidak terjadi di satu mata pelajaran/ mata kuliah saja. Tapi semua. Para orang tua di rumah langsung berubah jadi guru, harus melek digital, sampai sedia budget khusus untuk beli pulsa khusus buat sekolah online.

Juni 2020, pemerintah mulai mengenalkan konsep New Normal. Pekerja mulai masuk kantor, meski protokol kesehatan diterapkan secara ketat. Namun, kegiatan belajar mengajar di sekolah dan kampus belum bisa dilaksanakan, meski lokasi sekolah berada di zona hijau. Skenario ini (mungkin saja) sampai akhir tahun 2020.

Baca Juga : Apa itu New Normal


Mau tidak mau, suka dan tidak suka, pembelajaran berbasis online harus berlanjut. Entah bagaimana ribetnya proses penerimaan siswa baru yang terjadi di sekolah, tapi para pengajar jelas harus menyingsingkan lengan lebih tinggi untuk bekerja keras.

Virtual Teacher for Virtual Learning


Virtual education memaksa hadirnya virtual teacher agar siap membuat virtual classroom untuk melaksanakan virtual learning. Sebuah konsep baru yang sudah diterapkan beberapa bulan terakhir.

Apakah virtual teacher sudah siap? Harus siap.

Perilaku baru dalam melakukan pembelajaran online harus segera dipahami oleh pengajar dan sekolah/ kampus. Ketika pengajar sebagai komunikator utama serta sekolah sebagai pihak yang menyiapkan infrastruktur sudah siap, maka proses virtual learning ini dapat diterapkan dengan baik. Adaptasi harus dilakukan untuk bisa menghasilkan pembelajaran yang efektif.

Lantas, apa yang perlu dilakukan guru dan sekolah dalam menyiapkan Virtual Learning yang efektif

1. Penggunaan Online Learning Platform


Dalam proses komunikasi, media menjadi salah satu faktor penentu dalam keberhasilan komunikasi. Sebelum melakukan pembelajaran online, maka guru sebaiknya memilih media apa yang akan digunakan. Katakan guru memilih menggunakan Zoom, maka baik guru maupun siswa harus paham betul bagaimana mengoperasikannya. 

Seperti misalnya :

Bagaimana membuat akun di Zoom?
Bagaimana bergabung dengan meeting room?
Bagaimana mengaktifkan dan menonaktifkan microphone dan video di Zoom?
Bagimana menyajikan slide presentasi?
Bagaimana menggunakan fitur chat?

Ketika pengajar dan siswa sudah paham dalam penggunaan media, maka gangguan dalam komunikasi akan dapat diatasi atau diminimalisasi.

Begitu pula jika guru memilih menggunakan media sosial berbagi video seperti Youtube untuk mengunggah kontennya. Maka, guru sebaiknya menyediakan channel khusus dan mengkategorisasikan materinya  dalam bentuk playlist.

Ada pula sebuah platform jejaring sosial yang memungkinkan penggunanya untuk berbagi materi, tugas dan melakukan diskusi secara rapi dan terorganisasi seperti Google Classroom dan Schoology.  

Jika pada akhirnya hanya menggunakan aplikasi WhatsApp/ Line untuk berbagi materi dan diskusi, itu juga tidak masalah. Asalkan sistem belajar diatur dengan rapi. Seperti kapan jadwal belajar, kapan mengumpulkan tugas serta aturan mengobrol di grup di luar jam- jam belajar agar suasana tetap kondusif.

2. Perilaku Pengajar dan Siswa di Virtual Classroom


Beberapa guru mungkin akan memilih untuk melakukan pembelajaran online interaktif (real time) dengan platform penyedia video conference seperti Zoom, Webex dan Google Meet.

Platform ini tentu saja memiliki banyak keterbatasan. Maka baik guru dan siswa juga patut memahami bagaimana behaviour/ perilaku pengajar dan siswanya di platform tersebut.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses belajar menggunakan video conference ini :

1. Pastikan untuk mengisi kuota internet sebelum melakukan kegiatan belajar.

2. Memahami bahwa pengguna tidak dapat 100% bisa mengandalkan kemampuan sinyal provider komunikasi. Maka gangguan komunikasi seperti sinyal terputus, delay, akan wajar terjadi dalam proses pembelajaran.

3. Menyiapkan backup system. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa alat komunikasi (laptop dan handphone) juga jaringan komunikasi menjadi faktor terpenting dalam proses pembelajaran online. Maka, tidak ada salahnya baik pengajar maupun siswa menyiapkan back system, jika sewaktu- waktu alat/ koneksi utama yang digunakan dalam proses belajar mengalami gangguan.

Pengajar jyga dapat mengunggah materinya di penyimpanan online seperti Google Drive, DrpBox, dll yang bisa diakses sewaktu- waktu.

4. Kemampuan konsentrasi seseorang dalam menyimak materi audio visual sangat terbatas. 

Rata- rata seseorang dapat fokus berkonsentrasi pada sebuah konten audio visual maupun penjelasan naratif audio visual yang disampaikan seorang guru terbatas pada durasi 10- 15 menit.

5. Adanya "zoom fatigue" yang harus diantisipasi.

Istilah slang ini mengacu pada kondisi kelelahan yang dialami seseorang ketika terlalu lama melakukan video conference. 

Baik pengajar maupun sisiwa dapat mengambil waktu jeda beberapa menit, ketika sudah dilanda kelelahan ketika lama menatap layar laptop/ handphone milik mereka.

Selengkapnya : Apa itu Zoom Fatigue dan Cara Mengatasinya


3. Pembuatan Konten yang Menarik dan Interaktif


PR selanjutnya bagi para pengajar adalah bagaimana membuat konten yang efektif untuk media belajar siswanya. Saat ini sudah banyak aplikasi pendukung yang bisa digunakan untuk membuat video audio visual dengan mudah. Tidak melulu harus menampilkan wajah pengajar, tapi kita bisa  cukup menyediakan slide power point, dan tinggal mengisi suaranya (voice over). 

Beberapa handphone sudah disematkan fitur bawaan seperti screenrecorder. Kalaupun tidak ada, kita bisa mengunduhnya dengan gratis di Playstore, atau menggunakan software seperti OBS (Open Broadcaster Software) atau Camtasia jika ingin membuat video bermodalnya slide presentasi di laptop/ PC.

Jika kemudian pengajar memilih menggunakan model pembelajaran interaktif dengan video conference, maka perlu dibuat sebuah rundown dalam setiap sesi belajar. Kapan harus memaparkan materi, kapan melakukan diskusi, kapan kuis, dan kapan harus jeda istirahat. Semua ini dilakukan agar proses belajar online lebih dinamis.

Akhirnya, saya bisa mengatakan bahwa menjadi pengajar virtual tidak mudah. Namun, inilah masa depan. Tidak ada yang menjamin bahwa model ini tidak diadaptasi secara keberlanjutan. Mengingat baik guru maupun murid juga merasakan efisiensi dan fleksibilitas dalam aktivitas belajar.

Selanjutnya adalah bagaimana kemudian mengevaluasi apakah model belajar ini terbukti efektif mengubah kemampuan kognitif, afektif, maupun psikomotorik siswa belajar.


***
Rabu, 24 Juni 2020 saya menjadi pembicara dalam sebuah webinar berjudul "Public Speaking for Teacher" yang diadakan oleh SMP Muhammadiyah Program Khusus Kota Barat Surakarta. Saya mengapresiasi semangat para guru dan SMP Muhammadiyah Program Khusus dalam mempersiapkan pembelajaran daring yang efektif bagi siswa- siswi mereka. Karena pada akhirnya, mereka yang memiliki semangat belajar, dan adaptif terhadap perubahan, merekalah yang akan menang menghadapi tantangan. Sukses selalu!




See you on the next blogpost.








Thank you, 


Zoom Fatigue, Kelelahan Usai Seminar Online

ZOOM FATIGUE

Seusai menjadi pembicara sebuah seminar online, saya langsung membaringkan tubuh di kasur. Durasi acara selama 2,5 jam, berhasil membuat kepala saya pening, mata mengantuk, dan badan lelah luar biasa. Hampir tidak ada bedanya dengan seminar offline, padahal saya hanya di rumah saja. Duduk manis di depan laptop di atas meja kerja.

Ternyata saya tidak sendiri. Beberapa rekan yang aktif berinteraksi dengan video call mengaku merasakan hal yang sama. Energi terkuras habis, pasca mengikuti rapat dari rumah. Bonus pegal- pegal karena duduk dalam posisi tidak nyaman berjam- jam.

"Zoom Fatigue". Fenomena ini mulai dirasakan sejak video conference mulai jadi kebiasaan saat pandemi. Entah rapat, kuliah ataupun seminar memaksa mata untuk fokus ke layar kecil, mendengarkan pemaparan berjam- jam, yang kemudian memunculkan kelelahan berlebih.

Zoom Fatigue (istilah slang) adalah kelelahan yang terjadi setelah melakukan video conference dalam waktu yang lama.

Dalam komunikasi face-to-face, manusia terbiasa membaca beragam pesan, pesan verbal & non verbal. Otak memroses beragam pesan tersebut, menafsirkan gambaran keseluruhan. Sebagai panduan untuk memberikan respon dan memunculkan keintiman emosional/ koneksi.

Bagaimana komunikasi yang terjadi saat melakukan video conference?

Melalui layar yang sempit, kita hanya bisa melihat penampilan seseorang dari kepala hingga bahu. Pesan nonverbal sangat terbatas. Kita dipaksa untuk fokus ke kata-kata yang disampaikan. Kita menebak- nebak bagaimana respon lawan bicara hanya dengan mengandalkan tatapan mata dan ekspresi wajah.

Sementara saat meeting virtual berlangsung, banyak gangguan yang terjadi. Sinyal tidak bersahabat, kuota yang menipis, noise dari paserta yang lupa me-mute microphonenya, hingga gangguan lingkungan sekitar (anak berlarian, bising kendaraan, dll)

Bagi sebagian orang, distraksi yg berlangsung lama ini bisa menimbulkan rasa bingung, menguras energi, lelah dan merasa tidak mendapatkan apapun.

Itulah juga mungkin yang alasannya beberapa partisipan seminar online, lebih senang bersembunyi di balik foto profil, daripada menampilkan video di layar. Agar lebih santai, dan multitasking ketika menyimak suatu seminar.

ZOOM FATIGUE


Di lain pihak, sebagai pembicara webinar saya sering meraba- raba respon audiens. Ketika layar utama menampilkan slide presentasi, suara di headphone sunyi, saya harus memainkan imajinasi, ber-acting seolah bertatap muka dengan audiens. Sembari hati penuh prasangka, apakah informasi bisa diterima audiens. Juga rasa takut jika koneksi provider menghilang tiba-tiba.

Pada akhirnya, ini adalah proses adaptasi. Saya berlatih menavigasi mental agar lebih siap ketika menghadapi kendala.

Setiap sesi daring menggunakan video conference, entah itu Zoom, Google Meet, Skype, Webex,dll saya berlatih menyiapkan backup system. Laptop, koneksi beda provider, syukur- syukur ada asisten.

Termasuk juga, menyiapkan gimmick agar terbangun interaksi apalagi jika dihadiri ratusan peserta.

Lalu, bagaimana kemudian mengatasi Zoom Fatigue ini? 

1. Hindari multitasking

Melakukan beberapa pekerjaan dalam waktu yang bersamaan akan membuat otak semakin lelah. Sebuah riset yang di tulis pada Journal of Experimental Psychology: Human Perception and Performance menyebutkan bahwa melakukan multitasking mereduksi 40% waktu produktif yang kita miliki. Jadi daripada membuka berbagai tab, atau sibuk mengecek pesan di smartphone , lebih baik untuk tetap fokus pada video conference yang berlangsung.

2. Istirahat sejenak

Ada baiknya mengambil waktu istirahat sejenak 5-15 menit. Matikan layar video, ambil kesempatan untuk minum, ke kamar mandi, memakan cemilan, atau sekedar menggerakkan tubuh yang terasa pegal. Jika kamu adalah moderator atau orang yang memiliki otoritas dalam virtual meeting, maka perlu menyadari kebutuhan biologis ini. Istirahat sejenak akan membuat pikiran partisipan lebih segar dan dapat kembali fokus.

3. Buat aktivitas interaktif

Jika kamu adalah moderator, MC atau narasumber sebuah seminar online, buat sebuah aktivitas yang memancing interaksi audiens. Minta audiens untuk menyalakan video mereka, lalu ajak mereka untuk bertepuk-tangan, bernyanyi, atau membuat sebuah games.
Bisa juga memberi pertanyaan acak kepada beberapa peserta yang hadir, dengan menyelipkan hadiah sebagai hiburan agar tidak mengantuk.


Nah, buat kamu yang mengalami zoom fatigue ini, bagaimana caramu mengatasinya? Boleh dong cerita di kolom komentar...




Referensi

https://www.bbc.com/worklife/article/20200421-why-zoom-video-chats-are-so-exhausting

hbr.org/2020/04/how-to-combat-zoom-fatigue

https://www.nationalgeographic.com/science/2020/04/coronavirus-zoom-fatigue-is-taxing-the-brain-here-is-why-that-happens/



See you on the next blogpost.








Thank you, 

Alat Rekaman Podcast yang Saya Pakai


ALAT REKAMAN PODCAST YANG BAGUS


"Mbak, enaknya beli alat apa ya buat rekaman podcast?" Pertanyaan ini sering kali datang kepada saya. Ketika saya jawab, "Rekaman pake handphone saja dulu. Nanti kalau udah konsisten, baru mikir investasi alat. Biar nggak boros", rasanya jawaban ini tidak pernah memuaskan.

Rekaman podcast pakai handphone bisa kok. Pilih tempat yang sepi dan gunakan teknik rekaman yang bener. 

Bisa dilihat di video di bawah ini.



Meski begitu, saya sudah sering jujur, bahwa untuk seluruh episode podcast monolog di The Late Brunch with Sara Neyrhiza tidak ada yang pake hape merekam suaranya. Kenapa? Pertama karena ada alat rekaman tersedia di rumah. Kedua, saya ingin hasil audio yang lebih bagus.

Alat rekaman podcast yang saya punya, bukan milik saya, tapi milik suami. Suami saya adalah seorang sound engineer dan music scoring composer. Pekerjaan sehari- harinya ya bikin musik, itu mengapa ia punya perlengkapan rekaman suara yang cukup komplet.

Kami memiliki dua studio. Meski demikian, seluruh podcast, direkam di lantai dua rumah kami. Biar praktis, dan bisa rekaman kapan aja tanpa berpindah lokasi. 

Jadi seperangkat alat yang saya tulis ini, disiapkan bukan hanya untuk kepentingan saya bikin podcast. Tapi juga untuk kerjaan saya sebagai dubber dan voice over talent, plus kerjaan suami saya bikin musik .

Intinya, alat sebanyak ini bukan investasi saya ketika bikin podcast. Alat sudah ready, baru saya produksi podcast. 

Tahu sendiri lah pekerjaan content creator itu rentan dengan kejenuhan. Jadi saya cuma pengen menekankan, coba dulu, ikuti alurnya, lihat antusiasme pendengar, jika yakin baru melangkah jauh untuk investasi alat. :)

ALAT REKAMAN PODCAST YANG BAGUS

PODCAST RECORDING SET


Standart Production


Computer
Intel i3 8GB Ram Harddisk 2T

Audio Interface
M Audio Delta 1010LT 

Mixer
Tapco Mix5

Mic
Shure SM57

Headphone
Samson SR 850 

Nuitrik Cable and interConnection

Speaker

Multimedia Speaker

Software Recording Avid Pro Tools


Studio Pro


Computer
Lenovo ThinkCentre i3

Audio Interface
EMU 0404USB (For studio production)

Mic
Samson C01

Klotz Cable interConnection

Preamp 
Behringer T1953 Tube

ISK Headphone Amps

Headphone 
Phillips SHP2000

Speaker
Yamaha HS50 Monitoring Speakers

Software Recording Avid Pro Tools



Portable Recorder


Laptop i5

Soundcard Behringer UMC 404

Mic SM57 dan Samson C01

Headphone
Samson SR 850
Behringer HPS 1000

Software Recording Avid Pro Tools



Manakah yang saya pakai untuk rekaman podcast ? Saya pakai yang standart production. 


Baca artikel tentang PODCAST lainnya DI SINI



See you on the next blogpost.







Thank you, 



Tanya Jawab Bikin Podcast Buat Pemula


BIKIN PODCAST BAGI PEMULA DENGAN MUDAH


Q&A Pengen Bikin Podcast nih...


1. Bedanya sama penyiar radio?
Bisa jadi diri sendiri dan nentuin apapun sendiri. Suka- suka kamu.
Nggak ada batasan topik, format, narasumber, durasi, dll

2. Suaraku jelek nih?
Nggak ada suara jelek, yang penting pe-de.

Baca Juga : Latihan Suara Diafragma Agar Suara Bulat


3. Kalau direkam suaraku makin jelek?
Itu suara kita yang sebenernya, yang didengerin orang lain sehari- hari.

Baca Juga : Rekaman Podcast dengan Handphone


4. Di podcast ngomongin apa?
Yang dikuasai, yang disuka. Nggak perlu ngangkat tema berat biar dikata pinter.
Kalau gak menguasai, malah keliatan bingung pas ngomong.

5. Kok ngomongku belepotan ya?
Ditulis dulu naskahnya. Buat tahap awal bisa kata- per kata. Semakin terlatih, tinggal bikin bullet point.


Baca Juga : Cara Membuat Naskah Podcast


6. Aku nggak suka ngomong?
Podcast nggak cocok buatmu. 

7. Harus beli microphone bagus untuk podcast?
Mulai pake hape dulu aja. Cara ngerekamnya yang bener, jangan kebanyakan gerak pas pegang hape dan pilih tempat sepi.

8. Durasi podcast berapa jam?
Pendengar gampang bosen. Ideal di 15-20 menit.

9. Bikin podcast gratis?
Gratis. Ada platform namanya Anchor.

Baca Juga : Membuat Podcast dengan Mudah dan Gratis


10. Biar bisa didengerin di Spotify bayar berapa?
Kalau pake Anchor langsung terdistribusi di Spotify. Gratis

Baca Juga : Membuat Podcast di Spotify


11. Kok pendengarku dikit ya?
Udah sering promo, apa dianggurin aja podcastnya?

Baca Juga : Bikin Audiogram Untuk Promosi Podcast di Instagram

12. Bisa dapet duit dari podcast?
Bisa, tapi pikirin duit entar dulu. Bikin dulu aja 1 episode nyaman nggak?

13. Ngedit podcast pake apa?
Di hape bisa pake wave editor. Di PC bisa pake adobe audition, contoh aja. Aplikasi/ software editing audio banyak.

14. Kalau mau interview narasumber persiapannya apa?
Pilih topik, janjian, siapin draft pertanyaan, setting alat, uji coba.

15. Topik podcast paling disuka?
Komedi, cerita misteri, sosial budaya, olahraga, seni dan hiburan ( Data Spotify Februari 2020)

16. Platform mendengarkan podcast?
Paling tinggi di Spotify, tapi bisa juga dengerin di Anchor, Google Podcast, Apple Podcast, dll

17. Format podcast apa aja?
Monolog (solo podcast), interview, conversational, fictional storytelling, non- fictional storytelling, repurpose content, hybird, dll

18. Gimana bikin suara bulat dan ramah untuk podcast?
Untuk bikin suara bulat coba pake teknik suara diafragma yang biasa dipakai penyiar radio, MC dan voice talent lainnya. Kalau pengen terdengar ramah bisa pakai teknik smiling voice yakni berbicara sambil tersenyum.

19. Bagaimana tips membuat narasi bicara yg santai dan ngalir?
Setiap rekaman buat naskah atau full improvisasi?
Coba buat naskah kata- per- kata. Dibaca dengan teknik manuskrip. Bayangkan sedang berbicara secara personal (bukan lagi ceramah atau bukan lagi ngajar).
Coba rekam dulu sedikit, dengarkan, evaluasi. Kebanyak orang suka bikin project, pengennya langsung jadi dalam sekali proses. Ketika proses uji coba ini, posisikan sebagai pendengar. "nyaman nggak dengan gaya bertutur demikian"
Kemampuan storytelling itu bertumbuh ya mas, jadi semakin dilatih semakin bisa.
Rekaman suara lebih susah, karena kita gak berhadapan langsung dengan pendengar atau audiens. Artinya, mainkan juga theater of mind - imajinasi.

20. Apa perlu dibagi- bagi segment tiap episode podcast?
Yang pelu diperhatikan pertama itu bukan segmen, tapi alur dari podcast tersebut.
Kita mau bikin alur seperti apa, induktif, deduktif, campuran?
Kalau mau punya beberapa segmen dalam episode, baiknya mengkombinasikan beberapa format. Misal pas awal monolog, di tengah ada interview. Coba dengerin podcast Gina dan Kinos di Spotify, sebagai referensi.

21. Bagaimana cara 5 detik pertama pendengar langsung merhatiin, lalu tahu-tahu 15 menit berlalu?
Sifat podcast yang auditif ini memang mudah bikin pendengar bosan.
Dan tahan atau gak tahan mendengarkan suatu episode, balik ke preferensi masing- masing. Contoh, saya gak tahan lama- lama dengerin podcast yang kebanyakan ngakak- ngakak. Bikin kuping sakit. Nggak tahan juga kalau kebanyakan ehm--am--ehm--ehm, sebagai pendengar saya kelamaan nunggu dia berpikir.
Tapi ada tuh temen saya yang suka denger podcast humor, lucu karena menurutnya seru dan rame. Di sini berarti kesukaan tiap orang beda- beda.
Tapi ada beberapa poin yang bisa di highlight
1. Judul episode yang eyecatching
2. Gaya bertutur yang berdinamika
3. Materi bahasan menarik dan unpredictable
4. Untuk podcast fiction, bisa dengan penguatan musik dan sound effect.

22. Untuk podcast, haruskah bicaranya seperti penyiar radio yg dikasih jeda, ada backsound, terus bicara lagi?
Bebas saja, tidak ada aturan baku. Kalau pake backsound, usahan tidak lebih keras dari voice overnya. Dan sebaiknya tidak perlu insert lagu seperti layaknya siaran radio.




Boleh dilanjutkan dikolom komentar dan akan saya jawab kemudian.


Pikiran Ini Membunuhmu

MENGATASI TAKUT PUBLIC SPEAKING


Dalam sebuah perkuliahan, saya meminta seorang mahasiswa untuk mempresentasikan ide sebuah project.
Dia maju ke depan kelas. Diam. Saya tunggu semenit, dua menit. Wajahnya mulai berubah memerah. 

"Ayuk, bisa dimulai," kata saya.
Dia masih diam. Masih menunggu beberapa menit. Lalu mencullah satu kata, dua kata, satu kalimat. Dan kemudian kembali terdiam.
Tubuhnya mulai mengeluarkan keringat. Postur tubuhnya tidak nyaman, bergerak tidak teratur sambil tersenyum dipaksakan. Dia memaksakan diri berbicara, meski terbata-mata. Lalu kembali diam.

Beberapa saat mengamati perilakunya, saya justru introspeksi diri.
Apakah saya yang duduk di depannya terlihat sangat menakutkan? Apakah kehadiran saya, mengintimidasinya? Apakah standar saya terlalu tinggi dalam memberikan penilaian?
Beberapa pertanyaan datang sangat cepat di kepala.
Apakah dia sedang tidak sehat? Apakah belum siap dengan tugasnya? Apakah ada masalah di kelompoknya?

Setelah menunggu beberapa waktu dan tidak terjadi perubahan, saya minta dia untuk duduk. Di akhir perkuliahan, saya ajak ngobrol.

Ketika saya tanya "Ada apa?" 
Dia mengatakan bahwa selama ini mengalami kesulitan untuk berbicara di depan umum. "Kepala saya kosong, saya bingung mau ngomong apa, Bu. Saya takut kelihatan jelek di depan banyak orang."

Spontan, saya mengasihaninya. Diusianya yang beranjak 22 tahun, ternyata ia masih harus bergulat dengan ketakutan ini. Yang membuat saya heran, di saat lain dia terlihat cukup percaya diri ketika berkumpul dengan teman- temannya, pun ketika mengajukan pertanyaan di tengah perkuliahan. 
Ke mana keberanian itu?

Public speaking, berbicara di depan umum bukan sekadar keberanian menyampaikan isi pikiran di hadapan banyak orang.
Tapi lebih pada keberanian menerima respon tak terduga dari orang lain. Tidak selalu feed back positif yang diterima. Bisa saja audiens bosan, sibuk main handphone, atau pergi meninggalkan ruangan diam- diam.

Saya sadar, sebagai komunikator kita ingin dianggap baik, terlihat tanpa cela, membuat audiens terkesan. Tapi mind set ini yang membuat diri terasa berat.

Takut terlihat buruk.

Pada akhirnya membuat kita tertekan. Pikiran dipenuhi dengan ketakutan mengecewakan audiens. Semakin dipikirkan semakin membuat hilang fokus, hati menjadi tidak tenang, dan pada akhirnya  kehilangan kontrol ke tubuh kita sendiri.
Deg-degan, cemas, keluar keringat dingin, tubuh bergetar, bahkan bisa saja sampai pingsan. Pikiran ini membunuhmu, membunuh percaya dirimu.

Tidak ada public speaker yang sempurna. Kita tidak bisa mengendalikan apa kesan audiens terhadap diri kita. Bahkan jika kita berbicara lancar, tampil elegan dengan baju mahal, atau menyajikan power point dengan efek transisi mengagumkan.

Kita hanya bisa mengendalikan diri sendiri. Mencoba untuk melakukan apa tugas kita dengan baik. Agar audiens paham apa yang kita sampaikan.

Tidak perlu menampilkan kelucuan, agar audiens tertawa. Tidak harus terlihat anggun, agar dinilai berkelas, tidak harus berbicara mix english bahasa, agar audiens terkesan dengan bilingualisme yang mumpuni.

Coba.

Yakinkan diri, bahwa kita bisa tampil dengan baik. Latih, latih dan latih untuk lebih bersiap.
Fokuskan apa yang yang ingin kita sampaikan. Bukan apa yang audiens pikirkan.

Jika gagal, coba lagi. Berani untuk coba berbicara, berani salah, berani dikoreksi, berani coba lagi, dan seterusnya.

Skill ini akan menjadi (lebih) bisa karena terbiasa.


Baca Juga : Fobia Public Speaking


See you on the next blogpost.







Thank you, 


Podcaster indonesia, Konsisten untuk Kreatif

SARA NEYRHIZA
SARA NEYRHIZA

Suara Merdeka Cetak, 31 Mei 2020
Sri Syamsiyah

Auto Post Signature