The Kubler Ross Change Model Curve

24.4.22

The Kubler  Ross Change Model Curve


Depresi. Tahap terendah ketika ada perubahan dalam hidup kita. Perubahan ini nggak melulu sesuatu yang besar misalnya ganti kerjaan, atau hal menyakitkan seperti putus cinta.

Perubahan bisa dari keinginan kita mengubah kebiasaan. Misalnya dengan mengurangi screen time setiap hari. Di atas jam 19.00 udah nggak pegang hape lagi.

Pasti di minggu- minggu awal akan muncul perasaan gelisah, bingung mau melakukan apa, penasaran ada yang ngechat di WA atau nggak, gatel denger bunyi notifikasi dan parahnya justru jadi uring- uringan karena ada keinginan pegang hape yang tertahan.

Nggak nyaman banget.
Apakah berhasil melawati fase ini? Menjadi sosok yang lebih baik, atau lebih terpuruk lagi?
Lebih bijaksana menggunakan gadget, atau kembali ketagihan scroll sosmed berjam- jam?

Tahapan perubahan nggak selalu sesuai dengan kurva di atas ya. Kubler- Ross juga memberi catatan bahwa ada orang yang melewati (skip) beberapa tahapan. Ada yang mengalami dalam urutan tahapan yang berbeda. Sebagian akan mengalami kembali (berulang) satu tahapan yang sama. Bahkan ada orang yang mungkin akan terjebak pada satu tahapan yang sama dan nggak bisa move on.

Apapun perubahan yang terjadi dalam hidup kita, semoga semakin menguatkan dan menjadikan kita pribadi yang lebih baik.

 

Posted on instagram @neyrhiza : 23 April 2022

Tips Membaca CV Pembicara Saat Jadi Moderator

17.4.22

 

MEMBACAKAN CV PEMBICARA MENJADI MODERATOR


"Acara selanjutnya pemberian materi yang disampaikan pembicara. Berikut saya bacakan CV pembicara hari ini.” Kalimat pengantar ini sangat sering terdengar dari seorang moderator.


Mengenalkan pembicara adalah salah satu tugas yang diemban MC atau moderator baik pada acara seminar, talkshow, diskusi, dan lain sebagainya. Tujuan pengenalan ini agar hadirin merasa lebih familiar dengan pembicara, sekaligus merasa yakin dengan kompetensi, kapabilitas, atau kapasitasnya. Mengenalkan pembicara juga perlu dilakukan dengan menarik dan meyakinkan, bukan sekadar membaca daftar riwayat hidup yang terasa bertele- tela dan membosankan.


Untuk dapat mengenalkan pembicara dengan baik, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan :


1. Pelajari Terlebih Dahulu

Ambil waktu untuk membaca CV yang sudah disiapkan oleh panitia. Pelajari dan buat catatan terutama cara membaca ejaan nama dan gelar pembicara juga istilah asing yang sulit diucapkan (biasanya berkaitan dengan perusahaan tempat bekerja, penelitian yang dilakukan, juga penghargaan yang didapat).


Ingin terlihat mengenal pembicara dengan baik? Coba cari hal- hal menarik yang tidak ditemukan di Google. Caranya? Kita bisa cari riset melalui postingan media sosial pembicara tersebut. Biasanya akan ada cerita atau aktivitas keseharian yang sedikit orang mengetahui.


2. Pilih yang Relevan

Jangan sampaikan semua informasi  pendidikan, pekerjaan dan juga prestasi/ penghargaan yang tertulis pada CV jika jumlahnya terlalu banyak. Apalagi sampai menyebutkan satu-per-satu jenjang pendidikan sejak taman kanak- kanak. Ampun deh, pasti membosankan sekali. 

Cukup pilih 2-3 dari masing- masing kategori informasi yang relevan dengan topik atau materi agar tidak bertele- tele.


  • Pendidikan : Fokus pada pendidikan tingginya saja, S1, S2, S3.
  • Pekerjaan : Pilih pekerjaan yang relevan dengan topik atau hanya pada pekerjaan yang saat ini dilakukan.
  • Penghargaan : Pilih 2-3 penghargaan terbaru, terutama yang masih nyambung dengan topik materi yang disampaikan pembicara tersebut.
  • Penelitian : Pilih 2-3 penelitian terbaru, atau penelitian dengan apresiasi tertinggi.
  • Buku : Pilih buku yang relevan dengan topik. Jika ada, pada buku solo dan bukan antologi.

3. Ngobrol dengan Pembicara

Cari kesempatan untuk ngobrol sejenak dengan pembicara sebelum acara di mulai. Tanyakan "bagaimana ia ingin diperkenalkan" kepada audiens. Jika kita ragu dengan penyebutan nama dan gelar beliau, jangan malu untuk mengkonfirmasi.


4. Gunakan bahasa tutur

Meskipun moderator membaca CV, tapi jangan terlihat "seperti membaca" yang terkesan kaku. Gunakan bahasa tutur yang persuasif sehingga membuat pembicara menjadi sosok menarik yang layak didengarkan oleh audiens.


5. Keep it short and simple

Dari daftar riwayat hidup atau CV yang panjang lebar, buatlah sebuah rangkuman yang bisa moderator baca hanya dalam 1- 2 menit saja.


Contoh mengenalkan narasumber dalam seminar :

Siapa bilang menjadi seorang ibu tidak bisa menjalankan bisnis dari rumah. Hal ini dibuktikan langsung oleh pembicara kita hari ini, Ibu Riani Subrato, S.E, pemilik Butik Pramudia yang menjual beragam produk batik tulis berkualitas yang berhasil diekspor hingga ke mancanegara.

Perempuan lulusan jurusan ekonomi Universitas Indonesia ini juga mendapatkan penghargaan sebagai Wirausahawan Perempuan Berbakat Indonesia di tahun 2022. Dengan segala kesibukan yang ada, Ibu Riani Subrato juga menulis buku berjudul Warisan Leluhur yang mendokumentasikan berbagai pola batik tradisional dari berbagai wilayah di Indonesia.

Tidak sabar untuk belajar seni berwirausaha dari beliau? Kita hadirkan Ibu Riana Subrato, S.E.


Tipe Kepribadian Memengaruhi Gaya Komunikasi

10.4.22

 

Tipe Kepribadian Memengaruhi Gaya Komunikasi

Ketika ngobrol, kok nggak nyambung? 


Bisa jadi bukan materinya yang nggak sesuai, tapi kepribadian dua orang yang berkomunikasi yang kurang cocok. Setiap orang memang memiliki ciri kepribadian yang berbeda. Hal ini sudah jauh dipelajari bahkan sejak 430 SM oleh Hippocrates. Hippocrates adalah seorang ahli pengobatan Yunani yang dipandang sebagai Bapak Kedokteran, di mana ia mengembangkan teori Humorism atau Humourism untuk menjelaskan bagaimana tubuh manusia bekerja. Hippocrates mengenalkan 4 tipe kepribadian pada manusia yang masih menjadi rujukan untuk ilmu psikologi hingga saat ini.  Kita mengenalnya dengan koleris, sanguinis, melankolis dan plegmatis.


Berdasarkan keempat kepribadian tersebut, Erwin Parengkuan, seorang praktisi komunikasi yang juga saya anggap sebagai salah seorang "guru public speaking" mencoba untuk menyederhanakan konsep koleris, sanguinis, melankolis dan plegmatis menjadi si kuat, si gesit, si rinci dan si damai. Hal ini juga dibahas secara mendalam di buku beliau yang baru saja rilis berjudul Understand-inc People 2.0 : Cara Menjadi Ambivert dengan Menavigasi 4 Tipe Kepribadian.


Meski saya belum membaca buku tersebut, beberapa waktu lalu saya beruntung mengikuti sesi webinar bersama Erwin Parengkuan yang diadakan Komunitas Indonesian Social Blogpreneur. Dalam durasi 60 menit, Mas Erwin memberikan gambaran secara umum bagaimana masing- masing tipe kepribadian memiliki "gaya" komunikasi yang berbeda.


Memahami gaya komunikasi dari orang yang kita hadapi kana memudahkan proses komunikasi. Sehingga komunikator bisa menjadi asertif, percaya diri namun memiliki empati, tidak egois. Pada akhirnya komunikasi dapat berlangsung secara efektif, apa yang disampaikan dapat dipahami.


Kepribadian dan gaya komunikasi?


Yuk, membedah lebih jauh bagaimana masing- masing tipe kepribadian memiliki gaya uniknya tersendiri dalam berkomunikasi.


1. Koleris ( si Kuat)

Terlahir sebagai seorang pemimpin yang semakin berenergi ketika bertemu dengan banyak orang. bergerak dengan kemampuan logika, sehingga cenderung abai dengan perasaan orang lain. Ketika berkomunikasi, ia tidak suka berbasa basi, langsung pada pokok pembahasan. Singkat dan spesifik. Koleris suka mendominasi situasi, tidak ragu untuk tampil menonjol. Meski demikian, ia kesulitan menerima masukan dari orang lain. 


2. Sanguinis (si Gesit)

Sanguinis adalah orang yang bersahabat yang menyukai suasana yang nyaman. Dikenal memiliki kepribadian yang periang juga ramah, termasuk dengan orang baru.

Ketika berbicara dengan orang lain, sanguinis cenderung ceplas- ceplos dan kurang terstruktur. Maka penting untuk berhati- hati ketika berbicara dihadapan banyak orang. Jika tidak menyiapkan materi dengan baik, ia akan dianggap tong kosong berbunyi nyaring.


3. Melankolis (si Rinci)

Sosok melankolis adalah penyuka kesendirian. Cenderung sensitif karena mengandalkan feeling daripada thinking. Karena tidak suka berbuat salah dan menyakiti orang lain, ia cenderung berhati- hati sebelum bertindak (bahkan cenderung takut), karena semua hal harus dianalisis terlebih dahulu. Ketika menjelaskan sesuatu ia berbicara secara terperinci dan terstruktur karena sifatnya yang perfeksionis.


4. Plegmatis (si Damai)

Jangan menganggap plegmatis adalah sosok anti sosial yang menjauh dari kerumunan. Justru ia adalah pribadi yang mudah bergaul yang tidak menyukai terlibat konflik. Ia adalah penyuka ketenangan, suasana damai, dan tidak suka menonjolkan diri. Sangat menyenangkan memiliki sahabat seorang plegmatis karena ia sosok pendengar yang baik. Jangan memintanya tampil di depan, karena itu bukanlah hal yang disukainya. Plegmatis lebih memilih diperintah daripada harus tampil di depan dan memerintah orang lain.


Dengan mempelajari keempat tipe kepribadian ini, kita akan belajar menjadi seorang komunikator yang bijaksana. Tidak mudah memberikan penghakiman terhadap orang lain, namun berusaha adaptif dengan siapa saja yang ditemui.


Referensi : Materi  yang disampaikan Erwin Parengkuan dalam webinar Personality Development melalui Komunikasi yang diadakan Komunitas Indonesian Social Blogpreneur, Kamis, 7 April 2022.

Auto Post Signature