Penerima Manfaat Panti Sosial Wanita Wanodyatama Surakarta

21.4.19

SARA NEYRHIZA

"Lihat perempuan yang itu, Mbak! Dia baru sembuh dari retak tulang belakang. Dia memanjat tembok setinggi 4 meter untuk kabur. Tapi akhirnya jatuh. Tiga bulan di rawat di rumah sakit, kami juga yang merawat. Mulai dari memandikan sampai menyuapi." Saya melirik seorang perempuan bertubuh kecil. Dia sedang tertawa bersama teman-temannya.

Sepenggal kisah ini saya dengar dari Bu Ninik. Beliau adalah salah seorang staf pendamping di Panti Pelayanan Sosial Wanita Wanodyatama Surakarta.

Ini adalah kali pertama saya mengunjungi panti sosial. Sebuah situasi yang begitu asing. Tidak pernah ada dalam wawasan saya bagaimana puluhan perempuan berkumpul di panti ini.

Ada sekitar 120 perempuan yang berasal dari berbagai wilayah di Jawa Tengah. Mereka di bawa ke panti oleh Satpol PP. 

"Saya di bawa ke sini karena berdagang nasi kucing, Mbak," ujar seorang porempuan berusia 50 tahunan kepada saya. Si Ibu ini juga bercerita kalau dia harus meninggalkan anaknya yang berusia 3 tahun di Jepara bersama suaminya. Sang anak menderita asma dan sering kambuh. Sembari bercerita, saya mendengar suara paraunya menahan tangis. "Anak saya minta sebuah apel, itu saja saya tidak bisa membelikan karena tidak punya uang," pengakuan ibu itu kembali.

Dada saya sesak, menahan perih di dalam.

Pagar ini dibuat untuk mencegah penghuni panti kabur


Tentang Panti Sosial Wanodyatama

PANTI SOSIAL WANITA WANODYATAMA

Kembali saya mengobrol dengan Bu Ninik untuk mengenal panti Wanodyatama lebih dekat. Panti ini menampung perempuan yang memiliki latar belakang hampir sama. Mereka terlibat dunia prostitusi. Baik yang berusia belasan sampai yang sudah eyang-eyang berusia 60 tahunan.

Namun tidak semua kisah sama.

Ada diantara mereka yang terjerumus di pekerjaan tersebut karena dijual oleh orang tuanya. Ada juga yang mendapatkan pelecehan dari kakeknya, juga keluarga terdekat. Lainnya, ada yang hidup di jalanan dan terbiasa dengan pergaulan bebas. Atau mereka yang terdesak kehidupan ekonomi yang berat sehingga memilih pekerjaan yang salah. Semua cerita tentu tidak ada yang menyenangkan. Bukanlah kehidupan yang ringan untuk dijalani.

Bagaimana dengan yang sudah lanjut usia? Menurut Bu Ninik, awalnya mereka membuka jasa pijat. Meski akhir berakhir ke palayanan seksual juga. Uang yang didapat tidak seberapa. Hanya cukup untuk menyambung hidup di hari itu.

Setelah berada di panti ini, para perempuan atau yang biasa disebut Penerima Manfaat harus mengikuti berbagai peraturan dan jadwal pendidikan. Tidak ubahnya seperti mengikuti diklat, banyak aktivitas yang mereka lakukan. Mulai dari belajar kelompok, diskusi, olahraga, pengajian, solat berjamaah, juga hiburan seperti karaoke.

Minimal mereka tinggal di panti ini selama enam bulan. Akan lebih lama jika mereka melakukan pelanggaran.

"Pelanggaran seperti apa, Bu?' tanya saya pada Bu Ninik lagi. "Bermacam-macam. Bisa berkelahi, merokok atau kadang ada yang mengoplos minuman soda dengan CTM agar teler."

Saya kembali menarik nafas dalam-dalam.

Tidak mudah tentu saja hidup di panti ini. Ada saat mereka harus menahan rindu dan ingin kembali ke keluarga. Maka ada jadwal di mana penghuni panti bisa menelpon keluarga mereka. Ternyata ada beberapa perempuan yang tengah hamil. Juga seorang ibu yang harus terpisah dengan anaknya yang berusia satu bulan.

Mereka yang sudah keluar bisa saja kembali tertangkap. Namun, diantaranya banyak juga yang akhirnya  berhasil berubah menjadi lebih baik. Tidak sedikit yang sukses menjalani dagang dan bisnis. Juga sebagai karyawan yang bekerja di kantor-kantor.

Tentu saja semua adalah pilihan.


Rise From Adversity

DOSEN ILMU KOMUNIKASI UMS

Jika bukan karena event dari mahasiswa Manajemen Event, mungkin saya tidak akan pernah ke Panti Wanodyatama. Mata kuliah yang saya ampu ini, mengangkat tema tentang pemberdayaan masyarakat di semester ini. Itu mengapa kelompok mahasiswa yang menamai diri mereka We Can Organizer, mencoba mewujudkan tema melalui sebuah event bertajuk Rise From Adversity - Bangkit Dari Keterpurukan.

Acara mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta ini diselenggarakan Rabu, 18 April 2019 mulai pukul 08.00 hingga 15.00. Acara terdiri dari talkshow dan mini competition berupa lomba makeup dan fashion show.

Saya bersama Mbak Admira Eka seorang Psikolog, berkesempatan untuk menjadi pembicara. Jujur saja, ketika berhadapan dengan Penerima Manfaat di panti ini saya merasa deg-degan. Ada kebingungan mengenai apa yang harus saya sampaikan. Memberi motivasi rasanya seperti angin lalu. Mereka yang ada di sini memiliki kehidupan yang jauh lebih berat dari yang dapat saya pahami.

Setelah 5 menit awal berinterkasi, saya menyadari bahwa saya harus belajar mendengarkan mereka dan berbagi keceriaan. Cukuplah kami bersenang-senang dan saling mengenal.

Paling tidak perjumpaan yang sebentar ini memberi pembelajaran bagi saya. Rasa syukur akan kehidupan yang diberikan Tuhan. Selama ini mungkin kita terlalu sibuk dengan urusan di zona nyaman. Tapi kita tidak menyadari, ada banyak orang yang sungguh-sungguh berjuang untuk terbebas dari belenggu di hidup mereka.

Dari sini saya juga belajar akan pentingnya saling menguatkan dan mendukung. Kita akan tumbuh semakin tinggi, jika kita mengajak orang lain untuk tumbuh bersama.


Hari Kartini 2019


Tulisan ini tepat saya publikasikan di Hari Kartini, 21 April 2019 . Tidak biasanya saya merasa sentimentil dengan harinya para perempuan ini. Pertemuan saya dengan para penghuni Panti Pelayanan Sosial Wanita Wanodyatama betul-betul membekas di hati.

Sekali lagi, saya belajar tentang arti menguatkan dan saling mendukung. Tidak perlulah kita menjatuhkan dengan sesama perempuan. Tidak perlu juga kita memaksakan pilihan hidup kita pada orang lain. Mari belajar menghargai pilihan hidup orang lain. Jika memang salah, maka ingatkan dengan cara yang santun dan beradab.

Semoga hidup kita di dunia yang hanya sementara ini dapat bermanfaat bagi banyak orang.

Untuk para perempuan di Indonesia, karena Kita Berdaya, Mari Kita Berguna. Selamat Hari Kartini

Bundafluencer SGM Eksplor, Menjadi Bunda Digital Sayang Keluarga

1.4.19
BUNDAFLUENCER SGM EKSPLOR

 Kalau mau punya anak cerdas, ibunya juga harus cerdas. Eh, bener nggak sih?

Iya, dong! Sosok ibu adalah teladan sekaligus pendidik. Tingkah laku sang ibu akan menjadi panutan buah hati mereka. Termasuk kebiasaan hidup sehat sehari-hari. Jika sang ibu, menjaga kesehatan dengan baik, peduli terhadap nutrisi keluarga, memenuhi asupan yang bergizi setiap hari, maka kebiasaan baik ini akan mewujudkan tumbuh kembang anak yang optimal.

Tetapi tidak sesederhana itu.

Kadang sebagai ibu, saya sudah mencoba menyiapkan berbagai menu yang bernutrisi tinggi. Tapi ada kalanya anak mogok makan, anak menjadi picky eater, kadang anak mudah sakit tertular temannya di sekolah. Kalau sudah kaya gini, menjaga anak tumbuh dan berkembang dengan baik itu jadi PR yang berat!

Baca Juga : Kenalan, Yuk! dengan Mombassador SGM Eksplor


Indonesia Darurat DHA dan Stunting


BUNDAFLUENCER SGM EKSPLOR
Ibu Ade, Brand Director SGM
Kemarin, saya diundang di acara Kick Off Bundafluencer SGM Eksplor. Ada beberapa informasi yang dipaparkan kepada kami para peserta terkait dengan kondisi anak-anak di Indonesia.

Ternyata 8 dari 10 anak di Indonesia itu kekurangan DHA. Data ini sesuai dengan hasil penelitian British Journal of Nutrition.

Jelas, ini bukan perkara sepele. Anak-anak yang mengalami defisit DHA, yakni asam lemak omega 3, akan mengalami beberapa akibat, seperti :

1. Menurunnya kinerja otak dan konsentrasi ✔️
2. Tidak optimalnya perkembangan dan pertumbuhan otak ✔️
3. Berkurangnya imunitas✔️

Bagaimana dengan stunting?


Stunting di Indonesia menduduki peringkat ke-empat di dunia. Stunting merupakan masalah kekurangan gizi kronis yang ditandai dengan tinggi badan anak yang lebih rendah dari standar usianya. 

Mengapa terjadi stunting?

Hal ini terjadi karena kurangnya asupan gizi dalam waktu cukup lama yang disebabkan oleh pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi, terutama dalam periode emas seribu hari pertama kehidupan. Seribu hari pertama kehidupan dihitung sejak 9 bulan anak di dalam kandungan ibu hingga 2 tahun kehidupannya.

Melihat persoalan ini tentu para orang tua harus waspada. Perlu kesadaran yang tinggi akan pemberian nutrisi yang baik. Makanan bergizi bukanlah makanan yang mahal. Yang terpenting, makanan tersebut memenuhi porsi gizi seimbang. Rekomendasi dari American Academics of Pedriatics, untuk anak usia 4-8 tahun setidaknya perlu  mengkonsumsi 0,8 gram Omega 3/hari dan 10 gram Omega 6/ hari. Makanan yang tinggi Omega 3 dan 6 antara lain seperti ikan tuna, ikan lele, ikan salmon dan tempe.

Selain didapat dari makanan yang berizi, meminum susu pertumbuhan juga membantu memenuhi kebutuhan asam lemak dan DHA lho!✔️

Bundafluencer SGM Eksplor, Belajar Manajemen Gadget untuk Anak

BUNDAFLUENCER SGM EKSPLOR

Saya senang sekali belajar tentang nutrisi anak di acara Bundafluencer bersama 54 bunda lainnya di Hermitage Hotel Jakarta, yang diadakan oleh SGM Eksplor Minggu, 31 Maret 2019.

Bundafluencer sendiri merupakan para Bunda yang sekaligus aktif sebagai Influencer. Bundafluencer adalah program SGM Eksplor yang menyeleksi secara khusus Mombassasor SGM Eksplor yang nantinya bertugas untuk turut mengedukasi masyarakat akan pentingnya pemenuhan nutrisi anak dan keluarga.

Baca Juga : Serunya Mombassador SGM Eksplor Batch 7


Acara ini juga menghadirkan beberapa narasumber. Salah satunya adalah Firesta Fariza, seorang psikolog Klinis Anak & Direktur Kinik Psikologi Anak Mentari Anakku.

Firesta Fariza menjelaskan bagaimana manajemen gadget yang bijak bagi anak. Kita tahu dong, anak zaman sekarang banyak yang digital native. Meski bermain gadget juga bermanfaat, namun kalau berlebihan juga tidak baik.

Anak-anak yang kecanduan gadget, akan menunjukkan beberapa dampak negatif seperti gangguan konsentrasi, agresivitas, juga konsumtif. 

Nah, itu kenapa sebagai ibu kita harus atur baik-baik penggunaan gadget. Untuk anak usia di bawah 2 tahun sebaiknya tidak menggunakan gadget sama sekali. Untuk anak 2-6 tahun masimal 1 jam/ hari dalam menggunakan gadget. Dan anak usia 6-12 tahun maksimal 2 jam/ hari.

Gimana nih, Bunda, berapa jam anak youtube-an setiap hari?

Terkait penggunaan gadget ini, Firesta Fariza mengingatkan tiga hal yaitu perhatikan lama waktunya, awasi penggunaanya dan perhatikan kontennya.

Bundafluencer SGM Eksplor, Membuat Konten yang Baik

SARA NEYRHIZA BLOGGER KOTA SOLO

Menjadi bunda era milenial, harus melek digital. Bisa dibilang para Bundafluencer SGM Eksplor memang aktif bersosialisasi di dunia maya. Tapi tetep dong, mainan sosmed harus yang bermanfaat. Syukur-syukur bisa mengedukasi dan menginspirasi perempuan lainnya.


Di acara Kick Off Bundafluencer kemarin, juga dihadirkan dua orang influencer tanah air. Mereka adalah Jonathan End dan Vendryana, istri Bena Kribo. Pas banget tuh, kedua narasumber langsung memberi tips bagaimana cara memproduksi konten yang baik dan sekaligus mendapatkan engagement yang tinggi dari audience.

Caranya ?
📌 Jujur sama diri sendiri 
(Bersikap apa adanya, dan tidak perlu malu untuk berbagi kegelisahan)

📌 Perhatikan audience sosmed
(Pilih gaya bahasa yang sesuai dengan audience. Riset juga informasi-informasi yang bermanfaat untuk mengedukasi audience)

📌 Personal Branding
(Branding diri sendiri sesuai dengan passion)

Kira-kira, instagram Bunda memang sudah terkonsep dengan baik atau asal posting aja nih?

Di sesi ini kami para Bundafluencer juga ditantang untuk membuat postingan instagram dengan storytelling yang baik. Dan postingan saya ini, berhasil menjadi salah satu yang terbaik dan berhak mendapat voucher belanja. :)


Intinya, meskipun sekarang kita sudah disibukkan dengan berbagai aktivitas, jangan pernah lupa dengan tugas utama kita sebagai ibu. Termasuk dalam pemberian nutrisi anak. Tentu boleh, kita aktif di dunia nyata, dunia maya dan mengikuti perkembangan zaman. Namun, tetap harus bijaksana dalam menggunakan berbagai teknologi yang ada.

Setuju kan, Bunda?


See you on the next blogpost.





Thank you, 

Auto Post Signature