Showing posts with label PERSONAL BRANDING. Show all posts
Showing posts with label PERSONAL BRANDING. Show all posts

Strategi Membangun Digital Personal Brand

12.9.22



Personal brand bisa didefinisikan sebagai persepsi mengenai reputasi seseorang di mata orang lain. Reputasi ini dibangun dari kredibilitas, baik itu kemampuan, pekerjaan, jabatan, ketenaran yang melekat pada diri seseorang.

Jeff Bezos, CEO Amazon mengatakan "Personal Brand is what people say about you when you are not in the room"

Personal brand dapat lahir secara alami (by nature). Misalnya karena background keluarga, status sosial atau profesi yang digeluti. Namun, personal brand bisa juga bisa dibentuk berdasarkan strategi tertentu (by design).

Di era digital, berbagai platform media sosial dapat dioptimalkan sebagai saluran untuk melakukan self-promotion. Hal ini dianggap lumrah, karena sifat media sosial yang memungkinkan distribusi pesan yang tidak terbatas ruang dan waktu dengan cost yang lebih terjangkau.

Lantas, bagaimanakan strategi membangun personal brand dengan memanfaatkan platform digital? Selengkapnya dapat ditonton pada video di atas.


 

Perbedaan Pencitraan dan Personal Branding

23.5.21

 

MEMBANGUN DIGITAL PERSONAL BRANDING

Saya takut posting di medsos, takut dikira pencitraan.


Pencitraan. Makin sering terdengar ketika musim kampanye politik. Figur- figur baru yang wajahnya terpampang pada poster dan spanduk di sepanjang jalan raya. Entah dari mana mereka datangnya, tidak ada rekam jejak kontribusi tiba- tiba memasang spanduk besar dengan tagline-tagline yang hiperbola.


Sesaat pasti kita berpikir "Dia itu siapa dan bisa apa ya?"


Bisa jadi figur tersebut selama ini berkontribusi dalam diam, tanpa banyak koar-koar dalam melakukan aksi, kemudian terpanggil untuk melayani lebih kepada masyarakat. Tapi bisa juga, ia adalah orang yang didesain menampilkan citra tertentu untuk suatu kepentingan.


Kemudian, menjadi tidak asing di telinga kita istilah "pencitraan" yang seolah memiliki konotasi negatif - "kelihatan- baik-baiknya- doang".


Di lain pihak, ketika kita belajar personal branding tidak jarang orang mengasumsikan sebagai kegiatan pencitraan. Yang pamerlah, self promotion lah, terlalu mengunggulkan diri sendirilah, dan lain sebagainya. Padahal pencitraan dan personal branding adalah dua hal yang berbeda.


Pencitraan 

Kegiatan yang dilakukan untuk membentuk atau memoles citra seseorang agar sesuai keinginan  publik. Terkadang, value yang diberikan tidak jelas atau bahkan cenderung “kosong”. Ya, hanya sekedar promosi tanpa isi.

Pencitraan sering dikonotasikan sebagai sebuah upaya sesaat, tidak berkesinambungan dan tidak akan pernah ada follow up-nya lagi.


Apa tujuan dari pencitraan ini?

1. Untuk mendapatkan simpati

2. Membangun kepercayaan dalam waktu yang singkat

3. Bisa juga dilakukan  untuk menutupi sesuatu yang buruk.


Personal Branding


Kegiatan yang lebih memfokuskan pada core competencies yang dimiliki. Yang ditekankan adalah nilai lebih, kemampuan, keunikan atau hasil pencapaian dari dalam diri sendiri, yang kemudian dikembangkan agar publik memiliki persepsi positif mengenai diri kita.


Membangun personal branding tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Perlu adanya konsistensi untuk membangun message yang solid.


MEMBANGUN PERSONAL BRANDING

Jika kamu tertarik belajar personal branding, kamu bisa mendownload e-book membangun digital personal branding di sini. Gratis.


membangun digital personal branding


Untuk melengkapi wawasan lainnya, silakan mendengarkan podcast mengenai Manajemen Kesan di bawah ini



See you on the next blogpost.







Thank you, 

6 Langkah Mengenal Diri Sendiri dengan Lebih Baik

10.5.21


Apakah kita sudah cukup mengenal siapa diri kita sebenarnya? Faktanya, bahkan sampai seseorang dewasa, berkeluarga dan punya anak, masih banyak orang yang belum tahu betul siapa dirinya. Apa yang ia bisa, apa yang dia mau, apa yang bisa dia lakukan untuk membantu orang lain, apa cita- cita hidupnya, semua terasa begitu abstrak, tidak beraturan. Dan ketika sudah buntu akan muncul pertanyaan "Kok aku gini- gini aja ya, kenapa aku kalah dari dia ya, kenapa dia bisa sukses dan aku cuma seperti ini?"


Ada sebuah kutipan dari filsuf Yunani, Aristoteles. “Knowing yourself is the beginning of all wisdom.”. Jika ingin maju dan berkembang, semua harus dimulai dari mengenali diri sendiri. When you know who you are, you know what you need to do.


Pertanyaan selanjutnya, kenapa kita perlu mengenali diri sendiri?


Pertama, untuk kebahagiaan. 

Kita akan lebih bahagia jika dapat mengekspresikan diri kita sendiri.  Tidak perlu berpura-pura  agar diterima orang lain dan lingkungan sekitar.


Kedua, kita akan lebih mampu mengendalikan diri. 

Mengenali diri sendiri tidak melulu berkaitan dengan kelebihan, tapi juga kekurangan. Kita jadi tahu batas, apa yang membuat kita marah, tersinggung, patah semangat, lelah, tidak percaya diri, dll.


Ketika mengetahui kekurangan diri, kita bisa fokus memperbaikinya, bukan mengasihani atau menangisi.


Ketiga, mengenal diri sendiri membuat kita fokus. 

Nggak mudah goyah hanya karena melihat rumput tetangga lebih hijau. Okeylah ada teman kita yang bisa kuliah S3 di luar negeri, tapi kalau kita meyakini bahwa peran kita ada di sini bersama keluarga atau merawat orang tua, yaudah biarkan... orang lain menempuh jalannya, begitu pula dengan diri kita.


Keempat, lebih berempati kepada orang lain, baik pemikiran atau pilihan hidupnya. 

Karena pada akhirnya kita sadar, bahwa setiap orang itu unik, dan punya pilihan hidupnya sendiri.


Kelima, buat kamu yang tertarik membangun personal brand, mengenali diri sendiri juga membantu mengoptimalkan yang kita punya. Nggak mudah ikut-ikutan apa yang jadi tren, nggak buang- buang waktu untuk sesuatu hal yang kita nggak suka, dan bisa fokus ke kelebihan kita


Selasnjutnya, untuk bisa mengenali diri sendiri, kita butuh 1 hal. Be quiet, berdiam diri, luangkan waktu sejenak untuk melihat ke dalam. You cannot and will not be able to know yourself until you take the time to be still. Be quiet and discover your true self.


Yuk, teman- teman.. Ambil sebuah cermin, selembar kertas dan sebuah alat tulis. Identifikasilah 6 hal ini dalam dirimu. Apa sajakah itu?


1. Value atau nilai

Menurut Dr Rohmat Mulyana dalam buku "Mengartikulasikan Pendidikan Nilai", nilai adalah bagian keyakinan serta kepercayaan dalam diri seseorang yang menjadi dasar untuk melakukan sutau tindakan, baik kepada diri sendiri ataupun orang lain.

Contoh nilai adalah kejujuran. Jika seseorang memegang nilai kejujuran sebagai keyakinan dalam dirinya, maka dimanapun ia berada akan memegang nilai tersebut. Baik ketika ada orang lain, maupun sedang sendirian.


2. Interest atau minat.

Minat bisa hadir karena bakat bawaan sejak lahir, atau bisa juga karena keadaan, pertemanan dan lingkungan pekerjaan. Minat juga bisa berbentuk hobi yang kita geluti dalam waktu yang lama. Minat yang diasah terus menerus akan menghasilkan keterampilan yang mumpuni dan bisa menjadi jalan karir bagi seseorang.


3. Temprament, watak atau karakter 

Merupakan preferensi bawaan seseorang. Contohnya jika kamu seorang introvert maka kamu menemukan energi dari dalam dirinya sendiri. Berbeda dengan mereka yang ekstrovert yang energi dalam dirinya terstimulus dari lingkungan luar.


4. Biorhythms

Yakni proses biologis dan psikologis yang menjadi sebuah pola dan dapat diprediski setiap hari. Misalnya seperti kapan waktu tidur, waktu makan, dan waktu bekerja. Ternyata setiap orang beda- beda lho. Seperti saya misalnya, termasuk morning person yang suka bekerja di pagi hari dan tidak suka begadang. Sekalinya begadang, tubuh saya jadi lemas seharian danjadi malas- malasan.


5. Goals and mission

Kita harus menemukan apa sih sebenarnya tujuan hidup kita, satu tahun ke dapan, lima tahun, sepuluh tahun bahkan dua puluh tahun yang akan datang. Kita ingin jadi seperti apa, sekeren apa? Kalau sudah tahu apa tujuan hidup kita, langkah selanjutnya adalah menemukan bagaimana cara meraihnya. Jangan memimpikan sesuatu yang kita bahkan tidak tahu bagaimana cara meraihnya. Mimpi boleh setinggi langit, tapi juga harus spesifik, terukur, dapat tercapai dan relevan.


6. Strength

Terakhir dalam proses mengenal dan menemukan diri sendiri kita harus tahu apa potensi kekuatan yang kita miliki. Dunia ini ekuilibrium, jika kita merasa punya kekurangan, kita juga pasti punya kelebihan. Kekuatan ini bukan hanya talenta dan keterampilan tapi juga karakter seperti suka belajar, loyal, menghagai orang lain dan lain sebagainya.


Mengetahui kekuatan diri sendiri adalah pondasi rasa percaya diri. Jadi, jika kamu sering merasa tidak percaya diri, mungkin saja kamu beluem mengenal dirimu dengan baik.


Setiap orang punya ketakutan dan kelemahan, tapi dengan mengenal diri sendiri, kita jadi menyadari kekuatan yang kita miliki untuk melawan ketakutan tersebut. Now go take action and find your true self, starting today.


See you on the next blogpost.







Thank you, 

Membangun Manajemen Kesan di Social Media

24.7.20
MANAJEEN KESAN PERSONAL BRANDING DI SOCIAL MEDIA


Pada umumnya orang ingin menanamkan kesan baik di benak orang lain. Diterima sebagai sosok yang cerdas, kompeten, berwibawa, dan lain- lain. Menampilkan sisi menarik dari diri sendiri memang bisa membawa keuntungan. Bukan hanya diterima di lingkungan sosial, tapi bisa membuka kesempatan. 

Misal nih, mau interview kerja, penting dong untuk membuat diri terlihat menarik di depan HRD. Mau pedekete sama perempuan, yah minimal rapiin pakaian dan mengatur cara bicara biar nggak belepotan. Belum lagi kalau harus presentasi di depan klien, nggak cukup bermodal slide presentasi, tapi juga bagaimana kita membawa diri. Se- simple itu. Artinya ingin terlihat menarik di depan orang lain itu hal yang lumrah.

Di saat era sosmed kaya sekarang ini, terlihat menarik bisa dilakukan juga melalui postingan yang kita publikasikan. Melalui foto dan caption, kita bisa mendesain bagaimana profil diri kita bisa terlihat berbeda dan mencuri perhatian. Hal ini juga menjadi bagian strategi membangun personal brand.

Baca Juga : Manfaat Membangun Personal Branding


The Presentation of Self in Everyday Life


Kalau baca bukunya Erving Goffman yang judulnya The Presentation of Self in Everyday Life, kita bakal menemukan istilah Impression Management - Manajemen Kesan. Goffman sendiri mengartikan bahwa impression management adalah tindakan seseorang dalam mengatur pesan verbal dan nonverbal saat berkomunikasi dengan orang lain, agar tertanam kesan tertentu.

Pesan verbal dan non verbal ini meliputi kata- kata, tindakan, cara berpakaian, maupun hal - hal yang lain yang dapat memperkuat kesan tersebut.

Manajemen kesan ini, ternyata bisa juga diterapkan dalam strategi membangun personal branding di social media. Kita bisa mengatur foto seperti apa yang ingin di tampilkan, pakaian apa yang digunakan, caption apa yang ditulis, termasuk bagaimana berinteraksi dengan follower.

Boleh kah, hal ini dilakukan?

Boleh saja, tapi balik lagi ke motivasi dari tiap orang dalam melakukan manajemen kesan tersebut.

Motivasi Melakukan Impression Management


Di buku Tri Dayakisni dan Hudaniah yang berjudul Psikologi Sosial, dijelaskan ada 3 motivasi primer orang melakukan impression manajemen yakni :

1. Keinginan untuk mendapatkan imbalan materi atau sosial. ✔️
Seperti misalnya ingin dihargai, dipercaya, atau diberi kesempatan untuk melakukan sesuatu atau pekerjaan.

2.  Mempertahankan atau meningkatkan harga diri. ✔️
Motivasi ini ada pada seseorang yang ingin dianggap kompeten terhadap sesuatu, atau mendapat validasi atas apa yang dia bisa dan miliki.

3. Untuk mempermudah pengembangan identitas diri. ✔️
Setiap individu pasti memiliki ciri khusus, yang meliputi nilai yang diyakini, tujuan hidup, passion, dll. Semakin identitas diri ini dikenali, maka semakin terlihat sisi menarik atau unique selling proposition yang menjadi pembeda dengan orang kebanyakan.


Beberapa orang mungkin menganggap bahwa impression management ini adalah tindakan yang manipulatif. Padahal kita sering mendengar nasehat untuk menjadi diri sendiri "be yourself". Tapi coba jujur, deh. Kenyataanya, memang tidak ada kan orang yang bisa menampilkan 100% siapa dirinya. Selalu ada "topeng" yang dia gunakan untuk bisa diterima dan tidak merugikan orang lain.

Impression management bisa juga menjadi bentuk kehati- hatian. Agar di manapun kita bersikap, bertindak, berbicara kita pikirkan dulu dengan baik. Jangan sampai, melepas kontrol terhadap diri kita sendiri yang pada akhirnya justru akan menjadi bumerang.

Sebagai contoh, kalau seseorang terbiasa merokok di kehidupan nyata, tentu ada sebagian orang yang akan berhati- hati ketika merokok di tempat umum. Atau ketika akan mempublikaikan foto sedang merokok di akun instagramnya. Ini bukan karena tidak ingin be yourself, tapi lebih kepada agar kesan yang ditampilkan memang sesuai dengan nilai atau norma sosial.

Contoh lain, perempuan yang ketika di luar rumah berhijab. Meski di rumah melepas hijab dan biasa memakai tanktop dan celana pendek, tapi ia akan berpikir ratusan kali ketika mempublikasikan foto dengan pakaian terbuka. Bukan karena takut dihujat netizen, tapi pasti  ada perasaan tidak nyaman jika bagian tubuhnya dilihat sembarangan orang.

Intinya, dalam membangun manajemen kesan ini, individu berhak mengontrol mana yang ia ingin tunjukkan atau sembunyikan dari orang lain.

Manajemen Kesan di Media Sosial


Bagi yang fokus membangun personal brand, social media dapat digunakan sebagai saluran untuk menyampaikan pesan, untuk mempresentasikan dirinya di hadapan orang lain. Nilai positifnya, sosmed ini memungkinkan untuk menjangkau lebih banyak orang, dan lebih efisien secara biaya.

Jones dan Pitman melalui penelitiannya yang berjudul  Toward a General Theory of Strategic Self-Presentation, menjelaskan bahwa ada 5 strategi manajemen kesan. Mempelajari strategi ini, akan memberikan kita gambaran, bagaimana seseorang membangun kesannya di social media.


1. Ingratiation

Manajemen kesan dibangun dengan cara memuji diri sendiri, memuji orang lain, menyetujui opini orang lain, atau pendapat umum dalam masyarakat. Juga melakukan perbuatan baik seperti memberi bantuan dan hadiah. Tindakan ini dilakukan sebagai upaya untuk menutupi kelemahan dengan kelebihan.


2. Intimidation

Jika kamu pernah melihat akun seseorang yang terlihat vokal, arogan, bersuara keras, bisa jadi ia sedang melakukan strategi ini. Intimadation membuat kesan bahwa ia adalah sosok yang  berbahaya. Menimbulkan rasa takut pada lawan, dengan memberikan ancaman, meluapkan amarah, pamer
kekuasaan atau kekuatan.

3. Self Promotion

Strategi self promotion bertujuan untuk mempelihatkan sisi kompenten seseorang. Memberikan penjelasan deskriptif terhadap sesuatu yang ia kuasai, memperlihatkan prestasi, penghargaan dan sebagainya.

4. Exemplification

Kesan ditampilkan dengan menunjukkan sisi bermoral dan berintegritas. Ia memperlihatkan dirinya  sebagai seseorang yang peduli, disiplin, jujur, dermawan, nasionalis, taat beragama, dll.  Sehingga orang lain akan menjadi hormat dan kagum terhadapnya.


5. Supplication

Manajemen kesan tidak melulu menonjolkan hal yang kuat dan positif. Strategi ini justru menampilkan dirinya sebagai orang yang lemah, tidak berdaya. Menunjukkan ketidakmampuan,  kekurangan, ujian, sehingga orang lain dapat berbelas kasihan kepadanya.


Jika ditanya manakah strategi terbaik dalam membangun personal branding di media sosial dari 5 strategi di atas? Maka,  jawabannya adalah tergantung kepribadian, value dan tujuan orang tersebut. Karena pada akhirnya, personal brand yang baik adalah yang yang dilakukan dengan kejujuran, konsistensi serta didukung integritas di dunia nyata.

Baca Juga : Personal Branding Bukan Narsis dan Pamer


Itulah manusia, selalu punya kebutuhan untuk menunjukkan dirinya dan ingin selalu diterima oleh orang lain. Manusia juga senantiasa mengontrol mana yang ingin ia perlihatkan atau sembunyikan. Asalkan tidak berpura-pura yang membuatnya lelah fisik dan mental dan merugikan orang lain, manajemen kesan sangat bisa dilakukan.


***
Materi di atas saya sampaikan pada Personal Branding Talk "Strategi Impression Management di Social Media"

Untuk jadwal workshop dan seminar lainnya, hubungi 081-328-9192-49

PELATIHAN PERSONAL BRANDING SOLO JOGJA SEMARANG



Dayakisni, T & Hudaniah. 2006. Psikologi Sosial. Malang: Universitas
Muhammadiyah Malang

Ritzer, George et al. 2004. Teori Sosiologi Modern (Terj). Jakarta: Prenada Media.    

Jones, E. E., & Pittman, T. S. 1982. Toward a General Theory of Strategic Self-Presentation. In J. Suls (Ed.), Psychological

See you on the next blogpost.








Thank you, 


Menemukan Signature Style Sesuai Kepribadian

29.4.20
Menemukan Signature Style Sesuai Kepribadian


Saya jadi paham kenapa Mark Zuckerberg dan Steve Job punya banyak baju polosan dengan model dan warna sejenis. Biar nggak ribet milih baju dan efisien waktu.

Karena bener sih, semakin banyak baju malah semakin bingung "Mau pake yang mana, ya?" Dan kalau liat diskonan, selalu punya alasan buat beli baru karena ngerasa nggak punya baju ini dan itu. Pikiran ini makin menjadi, kalau ada undangan menghadiri suatu event dengan ketentuan dresscode tertentu. Udah pasti gatel pengen beli baju baru..hahaha

Gaya hidup minimalis, konmari atau capsule wardrobe memang patut dicoba. Tapi berat guys, tekad harus bulat buat menyingkirkan isi lemari dalam jumlah yang drastis. Nah mungkin bisa dicoba dari mengubah mindset dulu aja kali ya..

Dengan mencari tahu apa signature atau personal style kita. Kalu udah ketemu, selain nggak boros waktu juga nggak boros duit. Karena ketika belanja baju, nggak gampang tergoda beli model ini itu yang pada akhirnya nggak kepake.

Menemukan signature style nggak cuma mencari model baju yang tepat. Tapi juga penerimaan terhadap tubuh yang kita miliki. Selain itu sesuaikan juga dengan kepribadian kita. Jangan karena ingin terlihat bagus, tapi di hati nggak nyaman.

Tertarik menemukan signature style-mu?

Coba temukan signature style-mu dengan mendengarkan The Late Brunch with Sara Neyrhiza episode ini.




Kalau sudah menemukan, gimana sih gaya yang kamu banget?

See you on the next blogpost.







Thank you, 


Jalani Hidup Apa Adanya, Kunci Sukses Membangun Personal Brand

9.4.20

Bukankah hidup dengan kepalsuan itu menyedihkan?

Ada seorang kawan yang sedang merintis suatu usaha di bidang fashion. Untuk mendongkrak bisnis yang dilakukannya, ia ingin membangun personal brand sebagai seorang selebgram. Setiap hari ia sibuk melakukan pemotretan. Lalu mengunggah foto dirinya di instagram. Berbagai spot menarik di kota sudah dijelajahi. Berharap fotonya banyak yang menyukai. Pengennya sih tanpa syarat ketentuan orang- orang menekan tombol follow.

Dua bulan lamanya, jumlah follower di Instagramnya tidak banyak berubah. Sesekali ia tergoda untuk membeli follower palsu atau membeli bot like untuk menaikan jumlah like di tiap postingannya. Kawan saya ini mulai merasa lelah. Effort yang ia keluarkan tidak sebanding dengan impresi yang ia dapatkan. Hatinya mulai pesimis. Logikanya mengatakan bahwa menjadi selebgram tidak tepat buat dirinya.

Mungkin kawan saya ini tidak sendiri. Banyak orang diluar sana kepayahan membangun merek pribadi yang sesuai dengan dirinya. Tidak sedikit yang menilai bahwa personal brand bisa mudah dibangun hanya dengan membuat indah postingan di social media. Melakukan pencitraan. Jumlah follower puluhan ribu otomatis membuat suaranya berpengaruh terhadap keputusan orang lain. Nyatanya tidak sesederhana itu, kan?

Membangun personal brand dimulai dengan mengenal jati diri. Tidak bisa berkiblat pada identitas orang lain. Kita perlu mengenali siapa diri kita yang sebenarnya. Proses mengenal diri sendiri juga tidak mudah. Terkadang kita harus merasa sakit dan kecewa menemukan bahwa begitu banyak kelemahan yang kita miliki. Lalu, merasa tidak percaya diri dengan kelebihan yang terbatas.

Tapi ini harus dihadapi. Karena tidak ada kesempurnaan.

Proses menemukan jati diri inilah yang akan membuat kita sadar. "Oh, ternyata aku bisa ini ya? Aku harus perbaiki kekuranganku di sini. Aku harus optimalkan kekuatanku di bagian ini". Kita nggak bisa sibuk mengasihani diri sendiri, kalau ternyata banyak kekurangan yang kita miliki.

Kita harus fokus pada potensi kelebihan.

Kelebihan inilah yang harus di optimalkan. 

Menemukan Nilai Hidup

Public Speaking, passion hidup saya.

Dalam membangun personal brand ada empat hal dasar yang harus ditemukan. Pertama, adalah visi hidup. Setiap orang hidup pasti punya tujuan. Pengen jadi apa? Pengen kaya, jadi pengusaha sukses, jadi youtuber kreatif dengan 15 juta subscriber? Apapun. Tentukan tujuan hidup yang terukur. Berikan jangka waktu untuk setiap mimpi. Biar bisa di evaluasi, mana yang harus diganti mana yang harus diperjuangkan.

Visi ini nggak bisa didiamkan, ia harus diraih. Dengan berbagai strategi misi yang perlu dilakukan. Kalau mau jadi selebgram, riset dulu selebgram yang udah ada. Apa yang bikin selebgram A, B, C, D menarik. Bukan hanya bermodal foto cantik, tapi bisa saja ada personality yang berbeda. Contohlah Diana Rikasari. Meski gayanya dinilai quirky, nyatanya itu jadi unique selling proposition yang bikin beda dari fashion blogger kebanyakan. Seberapa banyak sih orang yang pede pakai baju polkadot, celana gambar micky mouse, terus pakai sepatu boots pelangi? See, she is a very unique!

Selanjutnya, yang tidak kalau penting, adalah prinsip menjaga nilai. Ada hal baik buruk yang kita yakini. Kalau mau menjalankan bisnis, berarti kita tahu mana sih jalan halal untuk meraih keuntungan. Kalau kerja sebagai blogger, berarti punya prinsip mana brand yang bisa diajak kerja sama mana yang tidak. Kalau sudah ada kesepakatan, berarti kita harus tanggungjawab terhadap brief yang disepakati. Termasuk urusan setor kerjaan. Value yang membuat kita kuat, nggak gampang goyah kalau ada bujuk rayu dan tantangan.

Value ini yang membuat hidup kita tanpa kepura-puraan. Jalani hidup apa adanya sesuai dengan kemampuan kita. Nggak perlu harus berhutang, cuma biar bisa jalan- jalan mahal. Aktif membuat konten di sosmed setiap hari untuk menunjukkan minat kita, tanpa followers palsu yang harus dibeli.

Siapa diri kita yang menentukan apa tindakan kita. 

Misi, visi dan nilai, yang akan mendorong apa yang menjadi gairah hidup, Passion. Personal brand dibangun  dari passion yang kuat. Kita harus mencintai apa yang kita lakukan. Bukan sekedar jadi pekerjaan, tapi jadi kebutuhan dan kesenangan.

Seperti ketika saya membangun podcast. Sering saya mendengar orang mengatakan "Ngapain bikin podcast, emang ada yang dengerin? Orang lebih suka nonton video, jadi vloger aja daripada jadi podcaster" Bikin podcast itu hal yang saya sukai. Saya suka bicara, suka berbagi ilmu. Buat apa ikut- ikutan melakukan hal yang bukan diri kita. Nanti bakal capek sendiri. Nikmati saja melakukan hal yang kita suka, tanpa basa- basi, tanpa modus agar disukai orang lain.

Simple!

Jadi Diri Sendiri Nggak Cukup, Be Authentic!


Kita sering mendengar sebuah kutipan "Be Yourself" Jadilah dirimu sendiri. Saya rasa menjadi diri sendiri saja tidak cukup. Jadi diri sendiri membuat seolah tindakan yang akan mempengaruhi siapa diri kita. Tapi dengan menjadi otentik, siapa diri kita yang mempengaruhi apa yang akan kita lakukan.

Jangan biarkan sikap kita ditentukan oleh orang lain, situasi atau kondisi disekitar. Jangan sedih ketika  jumlah like di postingan instagram terlalu kecil. Jangan pesimis, ketika banyak kritikan buat karya kita. Tidak perlu capek- capek berusaha untuk membuat orang lain terkesan (impress). Tapi buatlah diri kita sendiri terkesan, karena kita sudah berusaha mengeluarkan the best version of ourselves.

Menyadari akan pentingnya menjadi otentik, saya mengapresiasi value yang disampaikan IM3Ooredoo, provider telekomunikasi yang sudah saya pakai sejak 13 tahun lalu. Bahwa  kita diingatkan untuk berani menjalani hidup apa adanya. Ketika kita jujur terhadap nilai yang kita yakini, ternyata kita bisa fokus berkarya, percaya diri menunjukkan kemampuan, tanpa tipu-tipu dan tanpa kepura-puraan.

Video YouTube IM3 Ooredoo di bawah ini juga berhasil bikin saya lebih semangat sebagai digital content creator. Memproduksi podcast dengan topik yang saya sukai, tanpa harus sibuk memikirkan persepsi orang lain. Suka dengan karya saya silakan, nggak juga nggak papa.


Dan bersyukur, kapanpun saja mau upload konten, baik itu podcast, blog, vlog ataupun postingan di social media saya nggak perlu mikirin someting like jenis kuota, waktu kuota, jumlah kuota, dll. Karena saya pakai  Freedom Internet dari IM3 Ooredoo yang simple dan bebas syarat ketentuan. 

Paket Freedom Internet dari IM3 Ooredoo bikin saya bebas internetan kapan dan dimana saja tanpa khawatir kuota nggak bisa dipake atau kepotong. Tanpa tedeng aling-aling, transparan saat saya aktifkan paketnya. Dan itu mempermudah urusan personal atau bisnis yang saya jalani.


Finally, buat siapapun kamu yang pengen membangun personal brand, untuk mendapatkan pekerjaan yang kamu impikan, atau untuk mendukung usaha yang kamu jalani, atau pengen berkarir sebagai artis, politisi dan sebagainya, sekarang saatnya kamu untuk menjadi otentik. Temukan visi dan misi hidupmu, percaya nilai yang kamu yakini, dan optimalkan passion yang kamu punya. Jalani hidup apa adanya, dan fokus dengan apa yang pengen kamu raih. Karena hidup itu simple!


See you on the next blogpost.







Thank you, 


Mempromosikan Personal Brand Melalui Event

18.3.20
CARA MEMBANGUN PERSONAL BRANDING


Sudahkan  menemukan apa passion- mu?

Jika masih ragu apa passion mu, coba cari sebuah aktivitas yang sering kamu lakukan yang memenuhi 4E : Enjoy, Easy, Excellent, dan Earn.

Enjoy : Aktivitas yang membuat kita nyaman dan senang melakukannya.

Easy : Aktivitas yang kita lakukan terasa mudah

Excellent : Aktivitas yang kita lakukan hasilnya baik

Earn : Aktivitas tersebut dapat mendatangkan uang, prestasi, penghargaan dan sebainya.

Sudahkan menemukan satu atau dua aktivitas yang memenuhi 4E di atas? Jika sudah, bisa jadi itu adalah PASSION hidupmu.

Passion ini bisa berwujud profesi, bisa juga berbentuk HOBI. Passion menjadi modal bagi seseorang dalam menentukan PERSONAL BRAND.


Personal Brand memang dapat dioptimalkan dengan social media. Tapi faktanya, branding bagus di social media saja tidak cukup. Jika ingin kompetensi kita teruji dan diakui, maka kita perlu berinteraksi secara langsung (face to face) dengan target market  atau komunitas masyarakat yang kita tuju di dunia nyata. Interaksi tatap muka dapat membuktikan kemampuan yang kita miliki baik secara verbal maupun nonverbal. Salah satu interaksi tatap muka yang digunakan untuk mempromosikan personal brand adalah melalui EVENT.

Jika berkesempatan berinteraksi dengan target market kita, kemudian mereka yakin dan merasa puas, mereka akan dengan suka rela membicarakan kita, merekomendasikan kepada orang lain, termasuk memberi ulasan positif di social media. Dalam dunia marketing disebut dengan word of mouth.

Lantas, bagamana mempromosikan personal brand melalui event?

Mulailah dengan menjadi pembicara tamu (guest speaker)

Ajak kawan, atau suatu komunitas untuk berkolaborasi mengadakan suatu event. Rekomendasikan secara suka rela diri sendiri untuk menjadi pembicara di acara tersebut.

Dengan menjadi guest speaker, kita akan memperoleh beberapa keuntungan?

1. Kita dianggap mampu dan menguasai bidang yang menjadi keahlian kita.
2. Bertemu dengan orang- orang baru di luar lingkar pertemanan dan komunitas kita.
3. Mengamati aktivitas manajemen event yang dilakukan panitia. Kita bisa belajar bagaimana panitia mengkoordinasi pembicara, peserta, promosi event, dll yang nantinya berguna saat kita membuat event sendiri.
4. Kita tidak perlu khawatir tentang logistik pengorganisasian acara, seperti lokasi, katering, peserta, tetapi personal brand kita dapat terekspos kepada audiens yang ditargetkan.

Jika kita sudah memiliki strong position,  jaringan relasi yang cukup banyak, dan pemahaman manajemen event yang baik, maka selanjutnya kita bisa membuat event kita sendiri untuk mempromosikan personal brand.

Jadi jika sebelumnya kita menumpang di event komunitas lain, sekarang saatnya membuat event mandiri.

Membuat Event Mandiri


PELATIHAN PERSONAL BRANDING


Apa saja yang perlu dipersiapkan untuk membuat event mandiri untuk mempromosikan personal brand?

1. Pilih event yang tepat

Sebelum merencanakan sebuah event, cari tahu dulu apa event yang membuat kita nyaman dari segi modal (pembiayaan) dan teknis pelaksanaan.

Jenis event yang dapat dipilih seperti :
- Live streaming (Youtube/ instagram)
- Virtual events (Kulwap)
- Seminar dan workshop
- Pameran
- Talkshow, dll

2. Uji kelayakan event

Jika event ini kita buat secara mandiri, maka ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan

a. Berapa biaya atau modal yang kita miliki
b. Berapa banyak orang yang akan terlibat membantu kita
c. Bagaimana memasarkan event tersebut agar banyak orang yang tertarik datang

3. Promosikan event

Manfaatkan berbagai platform digital untuk mempromosikan event. Baik yang gratis maupun berbayar.
Ide promosi event menggunakan social media, selengkapnya dapat di dengarkan melalui Podcast The Late Brunch With Sara Neyrhiza di bawah ini




4. Deskripsikan event secara persuasif

Temukan sebuah alasan yang kuat mengapa orang harus datang ke event kita. Sampaikan melalui berbagai postingan di social media. “Avoid empty, superfluous words that don’t give the reader useful information.”
Jelaskan juga profil dari pembicara yang hadir. Siapa mereka dan mengapa mereka relevan, atau membawa perspektif penting ke topik event.

 Baca Juga : Public Speaking Workshop


5. Pilih lokasi event yang ideal

Setelah menentukan jumlah target orang yang hadir, selanjutnya pilih lokasi yang ideal. Tidak perlu terlalu besar, namun memiliki fasilitas yang memadai. Saat ini sudah banyak hotel dan restauran yanng menyediakan meeting room dengan harga terjangkau. Biasanya kita hanya perlu membayar biaya konsumsi, pihak hotel akan memberikan fasilitas tempat gratis, beserta perlengkapan seperti lcd proyektor, screen, alat tulis, dll.

6. Dokumentasikan acara

Jangan lupa untuk mendokumentasikan acara yang nantinya dapat kita unggah di social media, blog atau website. Mereka yang tidak hadir di acara  kita, tetap akan mengetahui informasi event yang kita buat.

Bagaimana, sudah siap membuat acaramu sendiri?

See you on the next blogpost.







Thank you, 

Your Brand = Your Image + Your Mission + Your Values + Your Vision

14.1.20
PRAKTISI KOMUNIKASI
foto oleh Ranny Afandi
Apakah personal branding sekedar pamer skill?

Banyak yang mungkin mengambil kesimpulan bahwa branding adalah aktivitas promosi kelebihan yang dimiliki seseorang. Tidak ubahnya seperti sebuah barang yang hanya dinilai dari segi utilitas atau kebermanfaatannya saja. Apakah memang sesederhana itu?

Jika menggunakan analogi sebuah produk, ketika wanita lebih memilih membeli tas channel seharga ratusan juta rupiah daripada tas merek lokal seharga ratusan ribu rupiah, apa sebenarnya yang dicari oleh konsumen? Apakah hanya sekedar fungsi tas dalam membawa barang? Atau ada hal lainnya? Temukan alasan mengapa perempuan rela membeli tas ratusan juta di sini


You are your own brand


Diri kita tidak hanya sekedar "thing". Setiap orang begitu unik, berbeda antara satu dengan lainnya. Jika seseorang lebih sukses dibandingkan dengan yang lain, berarti ada hal-hal dalam dirinya yang lebih unggul. 

Nilai unggul ini yang belum disadari banyak orang. Maka, ketika memutuskan untuk membangun merek sendiri, maka saatnya untuk memadukan berbagai elemen diri untuk mencapai suatu visi kesuksesan. Sukses ini beragam bentuknya, bisa penghargaan, kesempatan, manfaat, materi, relasi, kekuasaan dan lain sebagainya.

Your Brand = Your Image + Your Mission + Your Values + Your Vision


Lantas bagaimana menggambarkan sebuah personal branding? Personal branding dibangun dengan pondasi image atau citra diri. Pahami dulu konsep diri kita, siapa diri kita, potensi yang kita miliki, passion dan temukan hal unik yang berbeda dari orang kebanyakan (selling unique propotition).

Mission. Ketika membangun branding, tidak cukup hanya dengan bekerja, bergabung di komunitas, atau update portofolio di instagram. Namun, buatlah sebuah misi, atau rangkaian aktivitas yang digunakan untuk membentuk merek diri. Contohnya, jika ingin dikenal sebagai penyanyi seriosa muda, selain rajin berlatih, cobalah untuk sering mengikuti kompetisi, bersosialisasi sesama penyanyi, dan rajin mangupload video dokumentasi aktivitas menyanyi. Buat orang lain mengenal siapa diri kita dengan lebih baik. Misi= langkah-langkah dalam mencapai visi.

Value, nilai yang diyakini seseorang. Keunikan seseorang bukan hanya dari skill, tapi juga value hidupnya. Value yang menjadi penjaga, pengawas dalam bertindak profesional.  Inilah yang membuat seseorang sesuai jalurnya. Memahami mana yang baik dan buruk, mana yang harus diprioritaskan mana yang harus ditinggalkan. Jika nilai ini selalu dipegang, ia akan memiliki integritas dalam mencapai visinya.

Strategi branding tidak akan dapat kita evaluasi jika sedari awal kita tidak menetapkan visi atau tujuan. Maka, ketika memutuskan membangun merek sendiri, maka tentukan di awal apa ujungnya, apa goals yang ingin dicapai. Buat target-target yang reliable sehingga branding tidak sekedar omong kosong belaka.

Sama seperti membangun sebuah produk, tentu perlu riset yang mendalam hingga akhirnya produk itu siap dipasarkan. Begitu pula dengan personal branding. 

Temukan image seperti apa yang ingin kita bangun, tentukan strategi untuk mengoptimalkannya, jadi diri sendiri dan pegang teguh nilai yang diyakini, konsisten hingga mencapai tujuan yang diharapkan.

Baca Juga : Personal Branding Bukan Narsis


Dengarkan Podcast : Mengapa Perlu Membangun Personal Branding



***
PEMBICARA PUBLIC SPEAKING

Minggu, 12 Januari 2020 saya berkesempatan menjadi pembicara dalam acara bertajuk Event Collaboration Marketing Yourself : Developing Your Personal Brand yang diadakan Kumpulan Emak Blogger Solo (KEB). Dengan semangat women empowerment, KEB menggandeng SPEAKING.id , sebuah ruang belajar public speaking yang saya dirikan sejak awal 2019. Di acara yang sama, juga menghadirkan brand manager Ro.Na, brand fashion muslimah Indonesia, yang memberikan materi bagaimana membangun personal style untuk menguatkan citra diri.

KUMPULAN EMAK BLOGGER

SARA NEYRHIZA

foto oleh Ety Abdoel


See you on the next blogpost.






Thank you, 


Why do I actually need a personal brand at all?

5.12.19


CARA MEMBANGUN PERSONAL BRANDING


Kenapa sih harus membangun personal branding?

Baca Dulu : Personal Branding Bukan Narsis dan Pamer


Kalau sudah mampir ke tulisan di atas, kamu bisa mendengarkan episode terbaru 
The Late Brunch with Sara di Spotify. 
Episode ini membahas apa saja manfaat membangun personal branding dan bagaimana cara memulainya.







“Your brand is what people say about you when you’re not in the room.”
Jeff Bezos (founder of Amazon) 

Membangun Personal Branding Bukan Narsis dan Pamer

25.10.19
PERSONAL BRANDING WORKSHOP


Beberapa hari lalu saya mencoba untuk berinteraksi dengan follower di instagram. Saya menanyakan kepada mereka, "mereka mengenal saya sebagai apa?" Tidak menyangka ternyata banyak juga yang ikutan berpartisipasi. Dari hasil respon teman-teman di instagram, ternyata banyak jawaban yang seragam. Mereka mengenal saya sebagi blogger, dosen, podcaster, dubber, MC yang kalau dilihat semua hal tersebut saya tuliskan dengan rapi di biodata profil instagram. Sebagian yang lain berkomentar tentang kepribadian saya, seperti perfeksionis, tidak jam, juga multitasking.



Heran dengan respon yang saya terima?

Boleh dibilang tidak. Karena hampir semua jawaban tersebut memang branding yang saya bangun. Akan jadi aneh, bila kemudian teman-teman mengatakan saya orang yang ahli masak, jago matematika, pintar menjahit atau hobi berkebun.

Tidak Percaya Diri Membangun Branding


Kamis, 24 Oktober 2019 saya menjadi pembicara dalam pelatihan personal branding yang diadakan oleh Rumah Kreatif BUMN Solo. Peserta yang hadir kebanyakan adalah wirausaha. Baik kuliner, fashion, ataupun dibidang jasa. Bagi mereka urusan brand bukan hal yang baru, karena selama ini bergelut dalam usaha membangun merek produk  yang mereka miliki.

Bagaimana dengan personal branding? Mungkin banyak diantara pemilik usaha yang belum menyadari bahwa personal branding memberikan kekuatan lebih bagi produk mereka. Kesan personal dalam benak konsumen menjadi motivasi konsumen membeli sebuah produk. Sebagai contoh, cake-cake milik artis. Apa yang sebenarnya membuat kita penasaran untuk membeli? 

Branding dari pemiliknya cake mendorong kita mencoba cake milik artis tersebut. 

Contoh lain dapat kita lihat bagaimana kuatnya personal branding Alffy Rev dan Linca Angelica, mampu membuat bukunya yang berjudul Senja dan Pagi menjadi laris manis. Para penggemar milenal yang mengidolakan pasangan ini yang sering disematkankan sebagai "relationship goal anak muda" membuat membeli buku mereka menjadi sebuah keharusan dan pengakuan jika mereka adalah fans yang loyal.

Personal branding dapat terbentuk secara alami (natural) atau buatan (by design). Jika kita tidak memiliki background keluarga yang tersohor seperti Gempi, Rafathar, atau Angela Tanoesoedibjo, kita tetap bisa membangun citra diri dengan baik. Terlebih platforam digital menyediakan ruang untuk menunjukkan eksistensi.

Dari brolan dengan beberapa peserta pelatihan, saya menyadari bahwa kendala utama dalam strategi membangun branding dalah ketidak percayadiri-an dalam menunjukkan diri mereka. Banyak orang menyadari bahwa dirinya memiliki potensi bakat dan skill. Namun, untuk menunjukkan diri, masih banyak orang merasa takut. Takut dengan penilaian buruk dari orang lain. Ibarat sebuah produk, Bagaimana bisa terjual jika kita tidak percaya bahwa produk itu akan laku.

Baca Juga : Apa Untungnya Membangun Personal Branding


Membangun Personal Branding Mulai dari Mana?


Branding yourself as a product.


Hal sederhana yang saya coba terapkan setelah mempelajari ilmu personal branding. Tidak perlu menciptakan sosok baru, tapi cukup temukan "siapa dirimu'

Dimulai dari skill yang kita miliki, kepribadian yang melekat pada diri, passion yang membuat kita berbinar hingga akhirnya membentuk sebuah identitas diri yang berbeda dengan orang lain. Personal branding menunjukkan "nilai jual" kita yang berguna dalam membangun relasi dan kepercayaan sehingga mendatangkan kesempatan.

Coba tanyakan juga ke orang terdekat, menurut mereka kita memiliki keunggulan di bidang apa?

Jika dulu terasa sulit membuat orang mengenal kita, maka internet membuka kesempatan ini menjadi lebih mudah. Buat diri kita ditemukan radar. Sekali orang lain mengetik nama kita di internet, kemudian menekan tombol klik, maka foto kita akan ditemukan (minimal). Syukur-syukur ada buah pikiran dan hasil karya kita yang bermanfaat bagi banyak orang.

Personal branding tidak merekayasa siapa diri kita. Tapi membuat gambaran positif diri lebih terlihat dan tertanam di benak orang lain. Masak iya orang nggak ada sisi baiknya sama sekali?

Itu kenapa ketika ditanya, dari mana memulai strategi personal branding? Maka mulailah dengan menemukan siapa dirimu.

Baca Juga : Strategi Membangun Kesan Untuk Personal Branding


CONTENT CREATOR SOLO


See you on the next blogpost.






Thank you, 

Menemukan Passion untuk Aktualisasi Diri

14.5.18
CONTENT CREATOR JAWA TENGAH

Kalau jadi ibu, berarti cuma masak dan ngurusi anak saja ya tugasnya?

Wah, kalau memang seperti itu takdir seorang wanita yang telah menjadi ibu, pasti sangat membosankan sekali hidupnya. Menjadi ibu bukan berarti hidup kita menjadi terbatas. Justru, wanita harus lebih menggali potensinya. Semakin dia berilmu, semakin baik dia dalam mendidik anaknya.

Bukankah madrasah pertama seorang anak adalah ibunya?

Jadi, penting disadari setiap wanita bahwa menjadi ibu tidak membatasinya dalam mengaktulisasikan diri. Dia tetap dapat meningkatkan potensi dirinya melalui perannya sebagai individu, istri dan ibu dan terus mengembangkan passionnya.

Mengenal Apa itu Passion


Kamis, 3 Mei 2018 saya mengundang Komunitas Ibu Profesional Solo Raya. di program talkshow dengan segmen bernama Inspirasi Pagi. Kebetulan ada Mbak Wahyu Mardhatillah selaku Ketua IP Solo Raya,  Mbak Ririm Windiari, Manager Sejuta Cinta IP Solo Raya dan Mbak Deasy, Humas IP Solo Raya. Topik yang kami bahas di episode kali ini adalah Upgrade Diri Melalui Peran dan Passion.


Baca Juga : Insiprasi Pagi, Talkshow Terbaik KPID Jateng Award 2018


Di awal, Mbak Wahyu menjelaskan pentingnya setiap wanita memahami perannya hadir di dunia. Sehingga, dia mengetahui bagaimana caranya untuk hidup dan bermanfaat bukan hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga orang lain.

Bagi saya pribadi, memahami peran hidup sangatlah penting. Terutama, ketika memutuskan mengambil tiga peran sekaligus baik di ranah domestik, publik dan sosial. Ketika saya memahami peran saya, saya menjadi mengerti bagaimana cara mengatur prioritas agar hidup lebih seimbang.

Apakah sulit?

Tentu saja sulit dan saya masih harus belajar banyak. Terutama dalam manajemen waktu dan emosi.

Dalam menjalankan peran tersebut, kita akan menemukan apa yang menjadi passion kita. Ketiga narasumber saya menjelaskan menurut Abah Rama atau Rama Royani, penemu Talent Mapping bahwa setiap orang harus mampu memetakan bakatnya. Ada dua sumber bakat yang dimiliki manusia yakni panca indra dan sifat. 

Selama ini, mungkin kita memahami bahwa bakat sering berkaitan dengan aktivitas panca indra seperti memasak, menjahit, berolah raga, menyanyi dan lain sebagainya. Namun, ternyata sifat-sifat positif manusia seperti suka memimpin, teliti, disiplin, dan lain sebagainya juga merupakan bakat manusia.

Kembali Mbak Wahyu menjelaskan bahwa, bakat menjadi potensi kekuatan. Dan kekuatan bisa muncul jika memenuhi 4E yakni Enjoy, Easy, Excellent, dan Earn.

Enjoy : Jika kita merasa nyaman dan menikmati melakukan suatu aktivitas.

Easy : Jika aktivitas yang kita lakukan tersebut terasa mudah sehingga menyenangkan ketika dilakukan

Excellent : Jika kita dapat melakukan secara optimal, berkinerja baik ketika melakukan aktivitas tersebut.

Earn : Jika aktivitas tersebut dapat menghasilkan sesuatu, entah itu karya, uang, prestasi dan sebagainya.

Menemukan Passion untuk Aktualisasi Diri


Ketika belajar di Kelas Matrikulasi Ibu Profesional saya juga melakukan talent mapping ini dengan mengakses website www.temubakat.com milik Abah Rama. Pada website tersebut saya menjawab berbagai pertanyaan dengan cepat dan apa adanya. 

Hasil dari Talent Mapping Test yang saya lakukan tersebut, membuat saya lebih mengenal siapa diri saya. Hasil yang keluar, tidak jauh dengan apa yang saya rasakan. Begitu pula ketika saya konfirmasi dengan keluarga , mereka mengatakan bahwa itulah sosok saya di mata orang lain.


Saya juga menggunakan website ini  untuk menganalisa kepribadian saya. Dan hasilnya juga sama. Commander adalah sifat yang menjadi bakat saya. Saya suka menjadi leader dan memastikan semua berjalan sesuai rencana dan target. Terkadang saya harus mengabaikan perasaan orang lain, untuk mencari suatu kebenaran dan mencapai tujuan bersama.

Selain itu, saya melihat bahwa creator juga menjadi bakat saya. Tentu saja, blogging salah satu contoh aktivitasnya.

Aktivitas ngeblog ini juga menjadi hal yang selalu membuat saya enjoy dan senang ketika melakukannya. Dan ketika blog ini dapat menghasilkan, saya anggap itu sebagai bonus akan keseriusan menjalani passion yang dicintai. 

Ketika seseorang sudah menemukana passionnya, dia akan mudah mengaktualisasikan diri. 

Aktualisasi diri (self actualization) adalah  kebutuhan dan pencapaian tertinggi seorang manusia. Ketepatan seseorang di dalam menempatkan dirinya sesuai dengan kemampuan yang ada di dalam dirinya. Abraham Maslow -Hierarchy of Needs
Jujur terhadap diri sendiri, memahami passion yang dimiliki membuat saya lebih percaya diri untuk memaksimalkan kekuatan. Setiap orang memiliki kelemahan, namun ketika kita hanya sibuk mengeluhkan kekurangan, kita tidak dapat menghasilkan apapun. Setelahnya, hidup kita menjadi sia-sia.


Nah, saya jadi penasaran, kira-kira apakah kamu sudah memetakan bakat yang kamu miliki? Passion apa yang membuatmu menikmati hidup?

Yuk, share di kolom komentar.


Catatan Siaran Sara Neyrhiza di segmen Inspirasi Pagi, Program Gesma Kirana bersama Komunitas Ibu Profesional Solo Raya

Kamis,  3 Mei 2018

Pukul 09.00- 10.00 WIB

97.6 GESMA FM 




Auto Post Signature