Saya takut posting di medsos, takut dikira pencitraan.
Pencitraan. Makin sering terdengar ketika musim kampanye politik. Figur- figur baru yang wajahnya terpampang pada poster dan spanduk di sepanjang jalan raya. Entah dari mana mereka datangnya, tidak ada rekam jejak kontribusi tiba- tiba memasang spanduk besar dengan tagline-tagline yang hiperbola.
Sesaat pasti kita berpikir "Dia itu siapa dan bisa apa ya?"
Bisa jadi figur tersebut selama ini berkontribusi dalam diam, tanpa banyak koar-koar dalam melakukan aksi, kemudian terpanggil untuk melayani lebih kepada masyarakat. Tapi bisa juga, ia adalah orang yang didesain menampilkan citra tertentu untuk suatu kepentingan.
Kemudian, menjadi tidak asing di telinga kita istilah "pencitraan" yang seolah memiliki konotasi negatif - "kelihatan- baik-baiknya- doang".
Di lain pihak, ketika kita belajar personal branding tidak jarang orang mengasumsikan sebagai kegiatan pencitraan. Yang pamerlah, self promotion lah, terlalu mengunggulkan diri sendirilah, dan lain sebagainya. Padahal pencitraan dan personal branding adalah dua hal yang berbeda.
Kegiatan yang dilakukan untuk membentuk atau memoles citra seseorang agar sesuai keinginan publik. Terkadang, value yang diberikan tidak jelas atau bahkan cenderung “kosong”. Ya, hanya sekedar promosi tanpa isi.
Pencitraan sering dikonotasikan sebagai sebuah upaya sesaat, tidak berkesinambungan dan tidak akan pernah ada follow up-nya lagi.
Apa tujuan dari pencitraan ini?
1. Untuk mendapatkan simpati
2. Membangun kepercayaan dalam waktu yang singkat
3. Bisa juga dilakukan untuk menutupi sesuatu yang buruk.
Kegiatan yang lebih memfokuskan pada core competencies yang dimiliki. Yang ditekankan adalah nilai lebih, kemampuan, keunikan atau hasil pencapaian dari dalam diri sendiri, yang kemudian dikembangkan agar publik memiliki persepsi positif mengenai diri kita.
Membangun personal branding tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Perlu adanya konsistensi untuk membangun message yang solid.
Jika kamu tertarik belajar personal branding, kamu bisa mendownload e-book membangun digital personal branding di sini. Gratis.
Untuk melengkapi wawasan lainnya, silakan mendengarkan podcast mengenai Manajemen Kesan di bawah ini
Apakah kita sudah cukup mengenal siapa diri kita sebenarnya? Faktanya, bahkan sampai seseorang dewasa, berkeluarga dan punya anak, masih banyak orang yang belum tahu betul siapa dirinya. Apa yang ia bisa, apa yang dia mau, apa yang bisa dia lakukan untuk membantu orang lain, apa cita- cita hidupnya, semua terasa begitu abstrak, tidak beraturan. Dan ketika sudah buntu akan muncul pertanyaan "Kok aku gini- gini aja ya, kenapa aku kalah dari dia ya, kenapa dia bisa sukses dan aku cuma seperti ini?"
Ada sebuah kutipan dari filsuf Yunani, Aristoteles. “Knowing yourself is the beginning of all wisdom.”. Jika ingin maju dan berkembang, semua harus dimulai dari mengenali diri sendiri. When you know who you are, you know what you need to do.
Pertanyaan selanjutnya, kenapa kita perlu mengenali diri sendiri?
Pertama, untuk kebahagiaan.
Kita akan lebih bahagia jika dapat mengekspresikan diri kita sendiri. Tidak perlu berpura-pura agar diterima orang lain dan lingkungan sekitar.
Kedua, kita akan lebih mampu mengendalikan diri.
Mengenali diri sendiri tidak melulu berkaitan dengan kelebihan, tapi juga kekurangan. Kita jadi tahu batas, apa yang membuat kita marah, tersinggung, patah semangat, lelah, tidak percaya diri, dll.
Ketika mengetahui kekurangan diri, kita bisa fokus memperbaikinya, bukan mengasihani atau menangisi.
Ketiga, mengenal diri sendiri membuat kita fokus.
Nggak mudah goyah hanya karena melihat rumput tetangga lebih hijau. Okeylah ada teman kita yang bisa kuliah S3 di luar negeri, tapi kalau kita meyakini bahwa peran kita ada di sini bersama keluarga atau merawat orang tua, yaudah biarkan... orang lain menempuh jalannya, begitu pula dengan diri kita.
Keempat, lebih berempati kepada orang lain, baik pemikiran atau pilihan hidupnya.
Karena pada akhirnya kita sadar, bahwa setiap orang itu unik, dan punya pilihan hidupnya sendiri.
Kelima, buat kamu yang tertarik membangun personal brand, mengenali diri sendiri juga membantu mengoptimalkan yang kita punya. Nggak mudah ikut-ikutan apa yang jadi tren, nggak buang- buang waktu untuk sesuatu hal yang kita nggak suka, dan bisa fokus ke kelebihan kita
Selasnjutnya, untuk bisa mengenali diri sendiri, kita butuh 1 hal. Be quiet, berdiam diri, luangkan waktu sejenak untuk melihat ke dalam. You cannot and will not be able to know yourself until you take the time to be still. Be quiet and discover your true self.
Yuk, teman- teman.. Ambil sebuah cermin, selembar kertas dan sebuah alat tulis. Identifikasilah 6 hal ini dalam dirimu. Apa sajakah itu?
Menurut Dr Rohmat Mulyana dalam buku "Mengartikulasikan Pendidikan Nilai", nilai adalah bagian keyakinan serta kepercayaan dalam diri seseorang yang menjadi dasar untuk melakukan sutau tindakan, baik kepada diri sendiri ataupun orang lain.
Contoh nilai adalah kejujuran. Jika seseorang memegang nilai kejujuran sebagai keyakinan dalam dirinya, maka dimanapun ia berada akan memegang nilai tersebut. Baik ketika ada orang lain, maupun sedang sendirian.
Minat bisa hadir karena bakat bawaan sejak lahir, atau bisa juga karena keadaan, pertemanan dan lingkungan pekerjaan. Minat juga bisa berbentuk hobi yang kita geluti dalam waktu yang lama. Minat yang diasah terus menerus akan menghasilkan keterampilan yang mumpuni dan bisa menjadi jalan karir bagi seseorang.
Merupakan preferensi bawaan seseorang. Contohnya jika kamu seorang introvert maka kamu menemukan energi dari dalam dirinya sendiri. Berbeda dengan mereka yang ekstrovert yang energi dalam dirinya terstimulus dari lingkungan luar.
Yakni proses biologis dan psikologis yang menjadi sebuah pola dan dapat diprediski setiap hari. Misalnya seperti kapan waktu tidur, waktu makan, dan waktu bekerja. Ternyata setiap orang beda- beda lho. Seperti saya misalnya, termasuk morning person yang suka bekerja di pagi hari dan tidak suka begadang. Sekalinya begadang, tubuh saya jadi lemas seharian danjadi malas- malasan.
Kita harus menemukan apa sih sebenarnya tujuan hidup kita, satu tahun ke dapan, lima tahun, sepuluh tahun bahkan dua puluh tahun yang akan datang. Kita ingin jadi seperti apa, sekeren apa? Kalau sudah tahu apa tujuan hidup kita, langkah selanjutnya adalah menemukan bagaimana cara meraihnya. Jangan memimpikan sesuatu yang kita bahkan tidak tahu bagaimana cara meraihnya. Mimpi boleh setinggi langit, tapi juga harus spesifik, terukur, dapat tercapai dan relevan.
Terakhir dalam proses mengenal dan menemukan diri sendiri kita harus tahu apa potensi kekuatan yang kita miliki. Dunia ini ekuilibrium, jika kita merasa punya kekurangan, kita juga pasti punya kelebihan. Kekuatan ini bukan hanya talenta dan keterampilan tapi juga karakter seperti suka belajar, loyal, menghagai orang lain dan lain sebagainya.
Mengetahui kekuatan diri sendiri adalah pondasi rasa percaya diri. Jadi, jika kamu sering merasa tidak percaya diri, mungkin saja kamu beluem mengenal dirimu dengan baik.
Setiap orang punya ketakutan dan kelemahan, tapi dengan mengenal diri sendiri, kita jadi menyadari kekuatan yang kita miliki untuk melawan ketakutan tersebut. Now go take action and find your true self, starting today.
Pesan verbal dan non verbal ini meliputi kata- kata, tindakan, cara berpakaian, maupun hal - hal yang lain yang dapat memperkuat kesan tersebut.
Bukankah hidup dengan kepalsuan itu menyedihkan?
| Public Speaking, passion hidup saya. |
Jika kita sudah memiliki strong position, jaringan relasi yang cukup banyak, dan pemahaman manajemen event yang baik, maka selanjutnya kita bisa membuat event kita sendiri untuk mempromosikan personal brand.
![]() |
| foto oleh Ranny Afandi |
Temukan image seperti apa yang ingin kita bangun, tentukan strategi untuk mengoptimalkannya, jadi diri sendiri dan pegang teguh nilai yang diyakini, konsisten hingga mencapai tujuan yang diharapkan.
![]() |
| foto oleh Ety Abdoel |

Coba tanyakan juga ke orang terdekat, menurut mereka kita memiliki keunggulan di bidang apa?
Kalau jadi ibu, berarti cuma masak dan ngurusi anak saja ya tugasnya?
Aktualisasi diri (self actualization) adalah kebutuhan dan pencapaian tertinggi seorang manusia. Ketepatan seseorang di dalam menempatkan dirinya sesuai dengan kemampuan yang ada di dalam dirinya. Abraham Maslow -Hierarchy of Needs