Tips Jadi Public Speaker dengan Audiens Mayoritas Laki- laki

19.2.26
PELATIHAN PUBLIC SPEAKING TRAINER KOMUNIKASI INDONESIA PALING BAGUS


Membuka 2026, saya ingin menuliskan pengalaman sebagai seorang trainer. Alhamdullilah, sudah ratusan event saya handle, di mana audiens sengatberagam. Tidak jarang, saya berdiri di depan audiens yang mayoritas atau bahkan seluruhnya laki-laki. Salah satu pertanyaan yang sering saya dengar, "Mbak Sara, gimana rasanya 'menguasai' panggung yang isinya bapak-bapak atau peserta laki-laki semua? Enggak grogi?"


Jujur, di awal karier, ada perasaan terintimidasi. Namun, seiring berjalannya waktu dan jam terbang di SPEAKING.id, saya menyadari bahwa audiens laki-laki memiliki karakteristik unik. Mereka cenderung sangat logis, menghargai efisiensi, dan butuh bukti sebelum memberi kepercayaan. Beberapa hal berikut ini saya coba lakukan untuk membangun interaksi efektif dengan audiens laki- laki :


1. Gunakan Bahasa Logika dan Data

Audiens laki-laki umumnya lebih cepat "nyambung" dengan angka, hasil nyata, dan alur pemikiran yang runut. Hindari terlalu banyak basa-basi emosional di awal. Langsung masuk ke poin utama: apa masalahnya, apa datanya, dan apa solusinya.


Contoh Kalimat: "Bapak-bapak, riset menunjukkan bahwa kegagalan komunikasi di level manajerial dapat menyebabkan penurunan produktivitas tim hingga 25%, itulah mengapa hari ini kita tidak hanya belajar bicara, tapi belajar bagaimana memastikan instruksi kita dieksekusi dengan presisi."


2. Tegas dan Percaya Diri (Power Posing)

Secara psikologis, audiens laki-laki merespons otoritas. Ini bukan berarti kita harus galak, tapi kita harus menunjukkan bahwa kita "ahli" di bidang tersebut. Perhatikan body language seperti gunakan suara lantang, berdiri tegak, gunakan gerakan tangan yang terbuka namun pasti, dan jangan ragu melakukan kontak mata.


Contoh Kalimat: "Saya ingin kita semua sepakat pada satu prinsip ini, bahwa kepemimpinan yang kuat dimulai dari kemampuan mendengarkan, dan selama dua jam ke depan, saya akan memandu rekan- rekan di sini untuk menguasai teknik tersebut dengan standar profesional yang sudah kami uji di berbagai instansi."




3. Gunakan Analogi yang Dekat dengan Dunia Mereka

Untuk mencairkan suasana dan mempermudah pemahaman, gunakan analogi yang relevan dengan minat umum laki-laki, seperti olahraga, otomotif, atau strategi bisnis. Ini adalah teknik soft-selling dalam komunikasi yang membuat mereka merasa kita "satu frekuensi".


Contoh Kalimat: "Membangun sebuah sistem komunikasi dalam perusahaan itu ibarat menyetel mesin mobil F1, setiap komponen harus sinkron dengan presisi milidetik agar saat kita tancap gas di pasar yang kompetitif, mesin tidak mengalami overheat atau mogok di tengah jalan."


4. Berikan Apresiasi dan Libatkan Ego yang Positif

Laki-laki sangat menghargai pengakuan atas kompetensi mereka. Jangan menggurui, tapi ajak mereka berdiskusi. Berikan panggung bagi mereka untuk berbagi pengalaman, lalu bingkai pengalaman tersebut dengan teori komunikasi yang Anda miliki.


Contoh Kalimat: "Saya tahu Bapak-bapak di sini adalah para praktisi yang sudah kenyang pengalaman di lapangan, oleh karena itu saya sangat tertarik mendengar bagaimana cara kita menangani komplain pelanggan sebelum nanti kita bedah bersama dari sudut pandang strategi service excellence."


Menjadi trainer perempuan di depan audiens laki-laki justru memberikan keuntungan tersendiri. Kita bisa memberikan perspektif yang berbeda (lebih detail dan empatik) namun tetap dalam bingkai profesionalisme yang kuat. Kuncinya bukan pada siapa yang lebih dominan, tapi pada seberapa besar nilai (value) yang bisa kita berikan kepada mereka.


Semoga catatan kecil dari pengalaman saya di neyrhiza.com ini bermanfaat untuk Anda yang ingin naik kelas dalam dunia public speaking!

Post Comment
Post a Comment

You made it all the way here! Thanks for reading. :)
(Untuk meninggalkan komentar, sebaiknya jangan memilih Anonymous agar tidak menjadi brokenlink dan saya hapus.
Tulis saja nama dan url Google/facebook biar lebih aman)

Auto Post Signature