Mana yang Didahulukan: Pembukaan MC atau Menyanyikan Indonesia Raya?

13.5.26


Pertanyaan ini terdengar sederhana ya, tapi nyatanya masih sering bikin bingung, bahkan bagi mereka yang sudah puluhan kali menjadi Master of Ceremony (MC). Di satu acara, MC membuka dengan sambutan hangat terlebih dahulu. Di acara lain, hadirin langsung diminta berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan. Mana yang benar?


Jawabannya bukan soal kebiasaan atau selera, karena ternyata ada aturan hukum yang mengaturnya.


Apa itu acara resmi?

Sebelum membahas urutan acara, penting untuk kita memahami apa yang dimaksud dengan acara resmi menurut hukum Indonesia. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan, acara resmi didefinisikan sebagai:

Acara yang diatur dan dilaksanakan oleh pemerintah atau lembaga negara dalam melaksanakan tugas dan fungsi tertentu dan dihadiri oleh Pejabat Negara dan/atau Pejabat Pemerintahan serta undangan lain.


Artinya, acara resmi bukan sekadar acara yang terasa “formal” karena semua peserta berpakaian rapi. Acara resmi memiliki definisi hukum yang spesifik: diselenggarakan oleh pemerintah atau lembaga negara, dalam rangka pelaksanaan tugas tertentu, dan dihadiri oleh pejabat negara atau pejabat pemerintahan.


Contohnya: pelantikan pengurus organisasi yang bernaung di bawah lembaga pemerintah, rapat koordinasi dinas, upacara hari besar nasional (di luar upacara bendera), atau pembukaan kegiatan resmi tingkat kecamatan dan kelurahan.


Karena termasuk dalam kategori acara resmi, maka seluruh penyelenggaraannya, termasuk susunan acara, harus mengikuti tata keprotokolan yang berlaku.


Memahami UU No 9 Tahun 2010 Pasal 28


Tata urutan acara resmi yang bukan upacara bendera diatur secara eksplisit dalam Pasal 28 UU No. 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan. Pasal ini menyatakan:


Tata urutan acara bukan upacara bendera sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 dalam Acara Kenegaraan atau Acara Resmi, antara lain, meliputi:

a. menyanyikan dan/atau mendengarkan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya

 b. pembukaan

c. acara pokok

d. penutup


Jawaban dari pertanyaan di atas sudah jelas: menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya didahulukan sebelum pembukaan oleh MC.


Bukan MC yang membuka terlebih dahulu, lalu mengajak hadirin berdiri untuk Indonesia Raya. Urutan yang benar adalah sebaliknya, Indonesia Raya mengawali seluruh rangkaian acara, baru kemudian MC menyampaikan pembukaan.


Lah, terus, masak iya, MC tiba-tiba langsung menyuruh audiens berdiri? Nah, biasanya Mc melakukan PRE-Opening terlebih dahulu, seperti mengondisikan audiens, menyambut tamu yang datang, atau bisa juga menyampaikan tata tertib acara.


Mengapa urutan ini penting?


Ini bukan hanya formalitas ya, namun dalam pelaksanaannya punya makna.


Menyanyikan Lagu Kebangsaan di awal acara adalah bentuk penghormatan kepada negara sebelum acara apa pun dimulai. Jadi bukan cuma “pengisi waktu” sambil nunggu pejabat datang, bukan juga pelengkap agar acara terasa resmi. Indonesia Raya adalah titik awal sekaligus pernyataan kolektif bahwa acara ini diselenggarakan dalam semangat kebangsaan dan tanggung jawab kenegaraan.


Ketika urutan ini dibalik atau diabaikan, bukan hanya soal estetika acara yang terganggu. Secara hukum, acara tersebut tidak mengikuti tata keprotokolan yang ditetapkan undang-undang.


PELATIHAN MC DAN PROTOKOLER
Pelatihan Master of Ceremony untuk Kader PKK se- Kecamatan Laweyan Surakarta



Cara menjadi MC formal


Banyak orang berpikir bahwa menjadi MC yang baik cukup dengan suara yang enak, pembawaan yang percaya diri, dan kemampuan membaca teks tanpa belibet. Padahal, untuk acara resmi, itu baru setengah dari kompetensi yang dibutuhkan.


Seorang MC formal yang profesional perlu menguasai tiga hal sekaligus:


1. Pengetahuan keprotokolan

MC harus tahu aturan mainnya, termasuk memahami pasal-pasal dalam UU Keprotokolan yang mengatur urutan acara, tata tempat, dan tata penghormatan. Tanpa pemahaman ini, MC bisa secara tidak sengaja melanggar protokol yang justru membuat acara terlihat tidak profesional di mata pejabat dan tamu undangan yang paham.


2. Etika dan kepekaan situasi

Acara resmi melibatkan pejabat negara, tamu kehormatan, dan audiens dengan latar belakang beragam. MC harus bisa membaca suasana, tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam, serta menjaga nada dan pilihan kata yang tepat sepanjang acara.


3. Kemampuan komunikasi yang efektif

Tentu saja, kemampuan berbicara tetap menjadi fondasi. Artikulasi yang jelas, intonasi yang tepat, dan kemampuan mengalihkan situasi dengan tenang ketika ada gangguan teknis.


Pemahaman tentang keprotokolan bukan cuma dimiliki oleh staf protokoler di istana atau kantor pemerintahan pusat. Di tingkat kecamatan, kelurahan, hingga organisasi masyarakat seperti PKK, kegiatan resmi berlangsung hampir setiap bulan. Jadi nggak ada salahnya kan, kita yang berkecimpung di berbagai event dan keorganisasian belajar bagaimana menjadi MC yang benar.



Tips Jadi Public Speaker dengan Audiens Mayoritas Laki- laki

19.2.26
PELATIHAN PUBLIC SPEAKING TRAINER KOMUNIKASI INDONESIA PALING BAGUS


Membuka 2026, saya ingin menuliskan pengalaman sebagai seorang trainer. Alhamdullilah, sudah ratusan event saya handle, di mana audiens sengatberagam. Tidak jarang, saya berdiri di depan audiens yang mayoritas atau bahkan seluruhnya laki-laki. Salah satu pertanyaan yang sering saya dengar, "Mbak Sara, gimana rasanya 'menguasai' panggung yang isinya bapak-bapak atau peserta laki-laki semua? Enggak grogi?"


Jujur, di awal karier, ada perasaan terintimidasi. Namun, seiring berjalannya waktu dan jam terbang di SPEAKING.id, saya menyadari bahwa audiens laki-laki memiliki karakteristik unik. Mereka cenderung sangat logis, menghargai efisiensi, dan butuh bukti sebelum memberi kepercayaan. Beberapa hal berikut ini saya coba lakukan untuk membangun interaksi efektif dengan audiens laki- laki :


1. Gunakan Bahasa Logika dan Data

Audiens laki-laki umumnya lebih cepat "nyambung" dengan angka, hasil nyata, dan alur pemikiran yang runut. Hindari terlalu banyak basa-basi emosional di awal. Langsung masuk ke poin utama: apa masalahnya, apa datanya, dan apa solusinya.


Contoh Kalimat: "Bapak-bapak, riset menunjukkan bahwa kegagalan komunikasi di level manajerial dapat menyebabkan penurunan produktivitas tim hingga 25%, itulah mengapa hari ini kita tidak hanya belajar bicara, tapi belajar bagaimana memastikan instruksi kita dieksekusi dengan presisi."


2. Tegas dan Percaya Diri (Power Posing)

Secara psikologis, audiens laki-laki merespons otoritas. Ini bukan berarti kita harus galak, tapi kita harus menunjukkan bahwa kita "ahli" di bidang tersebut. Perhatikan body language seperti gunakan suara lantang, berdiri tegak, gunakan gerakan tangan yang terbuka namun pasti, dan jangan ragu melakukan kontak mata.


Contoh Kalimat: "Saya ingin kita semua sepakat pada satu prinsip ini, bahwa kepemimpinan yang kuat dimulai dari kemampuan mendengarkan, dan selama dua jam ke depan, saya akan memandu rekan- rekan di sini untuk menguasai teknik tersebut dengan standar profesional yang sudah kami uji di berbagai instansi."




3. Gunakan Analogi yang Dekat dengan Dunia Mereka

Untuk mencairkan suasana dan mempermudah pemahaman, gunakan analogi yang relevan dengan minat umum laki-laki, seperti olahraga, otomotif, atau strategi bisnis. Ini adalah teknik soft-selling dalam komunikasi yang membuat mereka merasa kita "satu frekuensi".


Contoh Kalimat: "Membangun sebuah sistem komunikasi dalam perusahaan itu ibarat menyetel mesin mobil F1, setiap komponen harus sinkron dengan presisi milidetik agar saat kita tancap gas di pasar yang kompetitif, mesin tidak mengalami overheat atau mogok di tengah jalan."


4. Berikan Apresiasi dan Libatkan Ego yang Positif

Laki-laki sangat menghargai pengakuan atas kompetensi mereka. Jangan menggurui, tapi ajak mereka berdiskusi. Berikan panggung bagi mereka untuk berbagi pengalaman, lalu bingkai pengalaman tersebut dengan teori komunikasi yang Anda miliki.


Contoh Kalimat: "Saya tahu Bapak-bapak di sini adalah para praktisi yang sudah kenyang pengalaman di lapangan, oleh karena itu saya sangat tertarik mendengar bagaimana cara kita menangani komplain pelanggan sebelum nanti kita bedah bersama dari sudut pandang strategi service excellence."


Menjadi trainer perempuan di depan audiens laki-laki justru memberikan keuntungan tersendiri. Kita bisa memberikan perspektif yang berbeda (lebih detail dan empatik) namun tetap dalam bingkai profesionalisme yang kuat. Kuncinya bukan pada siapa yang lebih dominan, tapi pada seberapa besar nilai (value) yang bisa kita berikan kepada mereka.


Semoga catatan kecil dari pengalaman saya di neyrhiza.com ini bermanfaat untuk Anda yang ingin naik kelas dalam dunia public speaking!

Auto Post Signature