Cara Moderator Memperkenalkan Empat Narasumber dalam Acara Non-Talkshow

27.10.26


Beberapa waktu lalu, saya mendapat kesempatan menjadi moderator dalam sebuah kegiatan edukasi ke sekolah yang diadakan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Surakarta. Acara tersebut menghadirkan empat narasumber. Berbeda dengan talkshow yang biasanya melibatkan percakapan atau diskusi antar narasumber, acara ini memiliki format pemaparan materi. Setiap narasumber menyampaikan materi secara bergantian sesuai dengan topik dan susunan acara.


Dalam situasi seperti ini, moderator perlu memahami cara memperkenalkan seluruh narasumber tanpa membuat pembukaan terlalu panjang. Bagaimana caranya?


1. Pahami Format Acara dan Peran Moderator

Sebelum acara dimulai, pastikan kita memahami susunan acara, urutan narasumber, topik yang akan disampaikan, serta durasi setiap sesi. Pada acara non-talkshow, moderator tidak harus membangun percakapan dengan seluruh narasumber. Peran utamanya adalah membuka sesi, memperkenalkan narasumber, mengantarkan audiens menuju materi yang akan disampaikan, serta menjaga pergantian sesi berjalan dengan tertib.


Pemahaman ini penting agar moderator tidak menggunakan pola pembawaan yang kurang sesuai dengan format acara.


2. Perkenalkan Narasumber Secara Singkat

Ketika ada empat narasumber yang hadir sekaligus dan posisi sudah di atas panggung, apakah moderator perlu membacakan profil masing-masing secara lengkap?


Tidak selalu. Moderator cukup menyebutkan nama, jabatan atau latar belakang yang relevan, serta topik materi yang akan disampaikan. Informasi tersebut membantu audiens mengenali narasumber sekaligus memahami gambaran materi yang akan mereka terima.


Misalnya, moderator dapat memperkenalkan keempat narasumber dengan redaksi berikut:


“Bapak dan Ibu, pada kesempatan ini kita akan belajar bersama empat narasumber yang akan berbagi pengetahuan dan pengalaman sesuai bidang masing-masing. Narasumber pertama, Ibu A, selaku Kepala Dinas X, yang akan menyampaikan materi tentang pencegahan stunting. Selanjutnya, Bapak B, seorang ahli gizi yang akan membahas pemenuhan gizi keluarga. Berikutnya, Ibu C, selaku praktisi kesehatan, yang akan menyampaikan materi tentang pola hidup sehat.Dan narasumber keempat, Bapak D dari instansi X, yang akan membahas peran masyarakat dalam mendukung program kesehatan.”


Nama, jabatan, dan topik dalam contoh tersebut tentu perlu disesuaikan dengan narasumber yang hadir serta tema kegiatan.


 3. Gunakan Bridging untuk Memulai Sesi Materi


Setelah memperkenalkan seluruh narasumber, moderator perlu mengarahkan audiens menuju sesi pemaparan materi.Tidak perlu membuat pengantar yang panjang. Cukup gunakan kalimat transisi yang jelas, kemudian persilakan narasumber pertama sesuai susunan acara.


Contohnya:


“Bapak dan Ibu, itulah empat narasumber yang akan berbagi pengetahuan bersama kita hari ini. Mari kita simak pemaparan materi yang telah disiapkan. Untuk mengawali sesi ini, kami persilakan Ibu A menyampaikan materi tentang pencegahan stunting. Kepada Ibu A, kami persilakan.”


Kalimat tersebut membantu acara beralih dari sesi pembukaan menuju penyampaian materi secara alami.


4. Jaga Transisi Antar Narasumber


Tugas moderator tidak berhenti setelah mempersilakan narasumber pertama. Ketika satu narasumber selesai menyampaikan materi, moderator perlu mengapresiasi pemaparan tersebut dan mengantarkan audiens ke narasumber berikutnya.


Contohnya:


“Terima kasih kepada Ibu A atas pemaparan yang telah disampaikan. Selanjutnya, kita akan mendengarkan materi mengenai pemenuhan gizi keluarga yang akan disampaikan oleh Bapak B. Kepada Bapak B, kami persilakan.”


Jika waktu memungkinkan dan format acara mendukung, moderator juga dapat menyampaikan satu kalimat singkat untuk menghubungkan materi sebelumnya dengan materi berikutnya. Namun, hindari memberikan komentar panjang apabila acara memang dirancang untuk pemaparan materi secara bergantian.


Memperkenalkan beberapa narasumber dalam satu acara sebenarnya tidak harus rumit. Kuncinya adalah memahami format acara, memilih informasi yang relevan, dan menggunakan kalimat penghubung yang tepat.


Sebagai moderator, kita perlu menyesuaikan cara memandu dengan kebutuhan acara. Kalau memandu talkshow, moderator membutuhkan kemampuan membangun percakapan dan menjaga diskusi, sedangkan acara pemaparan materi lebih menekankan kejelasan alur, ketepatan pengantar, dan transisi antarsesi.


Dengan persiapan yang baik, moderator dapat membantu narasumber menyampaikan materi dengan nyaman sekaligus membuat audiens lebih mudah mengikuti jalannya acara.

Jadi Juri Lomba Membaca Nyaring

LOMBA MEMBACA NYARING READ ALOUD


Membaca nyaring atau read aloud bukan hanya membacakan tulisan dalam sebuah buku. Ada intonasi suara, ekspresi wajah, gestur, dan interaksi yang membuat cerita terasa hidup. Apalagi jika yang dibacakan adalah anak paud dan TK, cara kita membawakan cerita bisa membuat mereka ikut berimajinasi, merasakan suasana, bahkan penasaran dengan halaman berikutnya.


Semenjak bergabung dengan kepengurusan Tim Penggerak PKK Kota Surakarta, saya bisa berkontribusi dalam penyusunan program kerja. Pada 2025, saya mengusulkan untuk diadakan pelatihan membaca nyaring dan mendapat kesempatan menjadi salah satu trainernya. Pelatihan membaca nyaring tersebut diikuti oelh guru dan kader PKK Kota Surakarta. Setahun kemudian, saya kembali terlibat, kali ini sebagai salah satu juri Lomba Membaca Nyaring Tahun 2026.


Ada pengalaman yang berbeda ketika berada di dua posisi tersebut. Saat menjadi trainer, saya berbagi pengetahuan dan mengajak peserta berlatih. Sementara sebagai juri, saya berkesempatan melihat bagaimana keterampilan itu dipraktikkan dan dikembangkan oleh para peserta.


Lomba Membaca Nyaring Tahun 2026 diikuti oleh 15 peserta perwakilan kecamatan di Kota Surakarta. Saya menjadi salah satu juri bersama Mbak Anis Masita dari Pobee Indonesia dan Mas Rifai dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surakarta.


LOMBA MEMBACA NYARING READ ALOUD


Melihat bagaimana setiap peserta membawakan cerita dengan caranya sendiri sangat menyenangkan. Membaca nyaring memang memiliki teknik yang bisa dipelajari, tetapi setiap orang juga punya karakter suara, ekspresi, dan gaya bercerita yang berbeda.

Yang pasti, membaca nyaring bukan hanya soal membaca dengan lancar atau pakai suara yang ekspresif. Pembaca perlu memahami isi cerita, menentukan intonasi yang sesuai, memainkan ekspresi, dan menjaga interaksi agar pendengar tetap mengikuti alur cerita.


Hal-hal tersebut perlu dilatih. Kita mungkin sudah terbiasa membaca buku untuk diri sendiri, tetapi membacakan buku kepada anak membutuhkan pendekatan yang berbeda. Ada pendengar yang perlu diajak memperhatikan gambar, diberi waktu untuk menebak cerita, atau dilibatkan melalui pertanyaan sederhana. Di sinilah keterampilan membaca nyaring menjadi menarik. Buku yang sama bisa menghadirkan pengalaman berbeda, bergantung pada bagaimana cerita itu disampaikan.


Senang sekali bisa bergabung di Pokja II TP PKK Kota Surakarta yang memang berfokus pada peningkatan keterampilan dan literasi. Bagi saya, kegiatan seperti ini penting karena membangun budaya membaca membutuhkan proses yang berkelanjutan. Pelatihan memberikan bekal, lomba membuka ruang praktik, dan kegiatan membaca sehari-hari menjadi tempat untuk terus menerapkan keterampilan tersebut.


LOMBA MEMBACA NYARING READ ALOUD


LOMBA MEMBACA NYARING READ ALOUD




Auto Post Signature