Belajar Literasi Digital dengan Tular Nalar

 

TULAR NALAR

Saya mengenal Tular Nalar beberapa waktu lalu saat menjadi salah satu fasilitator untuk program Training of Trainer Tular Nalar untuk dosen perguruan tinggi. Ketika terlibat di dalamnya, saya menjadi lebih paham bahwa literasi digital adalah keterampilan esensial saat ini. Wajib diperkenalkan sedini mungkin, karena internet sudah menjadi bagian hidup masyarakat.


Sejak balita, anak sudah mampu mengakses gadget milik orang tuanya. Semakin bertambah dewasa kebutuhan akan teknologi informasi juga meningkat. Anak sekolah dasar sudah akrab dengan social media. Meski demikian, banjir informasi digital tidak diimbangi dengan bekal kecakapan memanfaatkan informasi secara bijak. Terbukti, banyak informasi palsu atau hoaks yang berhasil membuat masyarakat terpolarisasi.


Belum lagi tentang hujatan kebencian dan provokasi. Hasil riset Microsoft dalam Digital Civility Index yang dirilis akhir Februari 2021 lalu menyebutkan, bahwa Indonesia menjadi negara dengan tingkat kesopanan yang paling rendah di Asia Tenggara. Netizen Indonesia tidak segan untuk mengeluarkan hinaan dan cacian, bahkan memproduksi konten yang menimbulkan ketidaknyamanan pada orang lain. Bukankah hal ini sangat miris? 


Memahami pentingnya literasi digital dan kemampuan berpikir kritis, maka hadirlah Tular Nalar. Sebuah program inisiatif dari Mafindo, Love Frankie dan Ma'arif Institute serta didukung oleh Google.org yang bertujuan untuk menumbuhkan nalar kritis masyarakat agar tahu, tanggap dan tangguh menghadapi berbagai permasalahan sosial.


Pentingnya Berpikir Kritis


Berpikir kritis atau critical thinking didefinisikan sebagai proses dan kemampuan yang digunakan untuk memahami konsep, menerapkan, mensintesis dan mengevaluasi informasi yang diperoleh atau informasi yang dihasilkan. Dengan menggunakan nalar kritis kita bisa  melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Keputusan yang diambil lebih adil dan bisa dipertanggungjawabkan. 


Dalam kehidupan digital, berpikir kritis dapat digunakan dalam menganalisis segala bentuk informasi yang kita dapatkan di dunia maya. Nyatanya, banyak informasi yang diputar balikkan, fakta yang dikaburkan, infromasi salah yang membuat mispersepsi. Kita mengenalnya sebagai hoaks atau hoax.


Hoaks dapat berwujud dalam 3 jenis informasi : 


  1. Misinformasi : Informasinya salah, tapi orang yang menyebarkannya percaya bahwa informasi itu benar. Penyebaran informasi dilakukan TANPA ada tendensi untuk merugikan orang lain.
  2. Disinformasi : Informasi yang tidak benar dan orang yang menyebarkannya juga tahu jika informasi itu tidak benar. Informasi ini merupakan kebohongan yang sengaja disebarkan untuk menipu, mengancam, bahkan membahayakan pihak lain. 
  3. Malinformasi : Informasinya sebetulnya benar. Sayangnya, informasi itu digunakan untuk mengancam keberadaan seseorang atau sekelompok orang dengan identitas tertentu. Malinformasi bisa dikategorikan ke dalam hasutan kebencian.


Berpikir kritis bisa diajarkan sedini mungkin. Baik dari orang tua kepada anaknya, guru kepada siswa, dosen kepada mahasiswa, juga berbagai elemen komunitas dan organisasi. Untuk menyediakan ruang belajar literasi media dan digital, serta menumbuhkan semangat berpikir kritis yang bisa diakses siapa saja dan di mana saja, maka hadirlah sebuah portal belajar online www.tularnalar.id



TularNalar.id

4 Maret 2021 dilaksanakan launching website tularnalar.id. Acara dikemas secara virtual dengan menggunakan teknologi Virtual Reality. Website Tular Nalar menampilkan user interface yang nyaman. Di dalamnya terdapat berbagai materi mengenai cara berpikir kritis yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata.


Materi Tular Nalar disusun oleh para pakar dari berbagai dosen lintas kampus serta peneliti yang fokus di isu sosial. Materi ini dibagi dalam 8 tema pilihan yakni :

• BERDAYA INTERNET (sebagai wujud kapasitas dasar)

• INTERNET DI RUANG KELAS (Internet bagi para guru)

• INTERNET DAN KELUARGA

• INTERNET DAN KESEHATAN

• INTERNET KEBENCANAAN 

• MENJADI WARGA DIGITAL (Internet dan Active Citizenship)

• INTERNET DAMAI (untuk isu-isu toleransi dan multikulturalisme)

• INTERNET MERANGKUL SESAMA (Internet dan Disabilitas) :


Materi pembelajaran online Tular Nalar sangat interaktif. Pengguna bisa melakukan beberapa tahap belajar berikut ini : 

  • 1. Menyaksikan video sesuai dengan tema ✔️
  • 2. Memahami penjelasan tema dengan mendalam ✔️
  • 3. Menyelesaikan kuis dari tiap tema ✔️


✔️ Untuk menambah pengetahuan, kita juga bisa mempelajari glosarium berbagai istilah dalam ranah literasi digital.


Dengan hadirnya website tularnalar.id ini semoga kita bisa lebih bersemangat dalam mempelajari literasi media dan digital. Mau memilih dan memilah informasi di dunia maya, serta tidak malas untuk melakukan pengecekan fakta terhadap informasi yang diterima.





Referensi :

https://edukasi.kompas.com/read/2021/03/07/144034371/netizen-indonesia-sangat-tidak-sopan-ini-kata-pakar-unpad?page=all.



See you on the next blogpost.








Thank you, 

Post Comment
Post a Comment

You made it all the way here! Thanks for reading. :)
(Untuk meninggalkan komentar, sebaiknya jangan memilih Anonymous agar tidak menjadi brokenlink dan saya hapus.
Tulis saja nama dan url Google/facebook biar lebih aman)

Auto Post Signature