Berani Bicara di Depan Umum, Apa yang Harus Dipersiapkan?



Public speaking atau berbicara di depan umum, bukan hal yang asing, kan ?
Kita sudah terbiasa melakukannya bahkan sejak kecil, misalnya ketika memperkenalkan diri di depan kelas saat tahun ajaran baru. Public speaking adalah aktivitas komunikasi. Artinya ada proses mentransfer pesan (verbal dan non verbal) di hadapan orang banyak.

Buat mahasiswa, public speaking itu sangat PENTING. 

Ketika public speaking diterapkan dengan baik, banyak keuntungan yang didapat

1. Perhatian dari dosen karena performa di kelas lebih baik dari teman lainnya. Nilai jadi bagus
2. Mendapatkan kepercayaan dari anggota organisasi. Dipercaya menjadi pengurus atau mendapat amanah memimpin proyek
3. Ketika KKN dan magang bisa lebih mudah bersosialisasi dan menyalurkan ide ke orang lain.
4. Mampu mempresentasikan kemampuan diri dengan baik saat ujian pendadaran, bahkan wawancara kerja

Buat masyarakat secara umum yang bekerja dan terlibat dalam kehidupan sosial (kantor, organisasi, komunitas) public speaking juga tidak kalah penting.


Tapi ternyata, nggak semua orang berani tampil di depan umum. Ada yang merasa grogi, cemas, khawatir, bahkan ada beberapa orang menderita Glossophobia  atau fobia public speaking.

Selengkapnya tentang Glossophobia bisa didengarkan di podcast ini



Baca Juga : Apa itu Glossophobia


Takut terlihat buruk di depan audiens, takut dikira sok pede, sok tahu, dan semua pikiran negatif lainnya itu sebenarnya adalah TOXIC, yang menghambat kita maju, yang mengubur kepercayaan diri.

Kita nggak bisa menyenangkan semua orang. Karena nggak ada yang sempurna. Bahkan sekelas Steve Jobs, Guy Kawasaki, Tung Desem Waringin, Merry Riana, Najwa Shihab aja banyak yang nggak suka dengan penampilan mereka.

Artinya apa?

Kita HANYA BISA MENGUSAHAKAN untuk menyampaikan informasi secara benar, sehingga audiens menjadi paham. Kalau audiens nggak suka, atau menurut mereka penampilan kita jelek, ya itu urusan mereka.

Tapi nggak boleh pasrah ya.

Tetep harus BERUSAHA TAMPIL DENGAN BAIK.


Jadi sebenarnya keberanian berbicara di depan umum itu lahir dari MINDSET.

Dalam kehidupan, ada beberapa  mitos public speaking yang sering dipercayai.

Mitos public speaking apa aja?

1. Public speaking itu BAKAT DARI LAHIR

2. Kalau tampil deg- degan, grogi, artinya kita gagal

3. Materi yang WOW adalah segalanya.

Percayalah, semua itu MITOS.

Selengkapnya tentang mitos public speaking bisa di dengarkan pada podcast di bawah ini



Persiapan Public Speaking

Quote ini selalu saya pegang "Orang yang tidak melakukan persiapan, berarti sedang mempersiapkan kegagalan"

Jadi, selama ini orang berpikir harus menyiapkan materi yang bagus, biar dipuji audiens, biar kelihatan pinter. 

Kita lihat hasil penelitian yang dilakukan  Albert Mehrabian 

93% dari semua makna sosial dalam komunikasi tatap muka justru diperoleh dari isyarat-isyarat nonverbal seperti suara dan ekspresi wajah.  Komunikasi nonverbal juga dianggap lebih dipercaya daripada  komunikasi verbal, terutama ketika pesan verbal dan nonverbal yang tidak konsisten.

Merujuk penelitian ini, komunikasi verbal (lisan dan tulisan) itu pengaruhnya cuma 7%.

Maka, dalam proses BERLATIH agar BERANI BICARA fokuskan terlebih dahulu ke proses penyampaian pesan nonverbal.

Pesan NonVerbal dalam Public Speaking


Apa aja pesan non verbal itu? Ada banyak. Untuk tahap awal, fokuskan di 3 hal berikut ini



1. Postur : Tunjukkan bentuk tubuh yang percaya diri. Tegak tapi santai. Jaga kontak mata dengan audiens.

2. Suara : Pelajari intonasi dan tone (nuansa suara). mainkan dinamika suara, kapan tinggi, kapan rendah, kepan keras, kapan lirih. Pelajari tempo juga agar tidak bicara terlalu cepat atau lambat.

Jika semakin terlatih, maka pelajari teknik suara diafragma agar suara bulat, dan powerful.

Suara diafragma seperti apa?




3. Ekspresi wajah : Ketika seorang pembicara tampil pertama kali di hadapan audiens, cobalah untuk tersenyum dengan tulus. Senyum yang tulus ini akan berguna untuk membangun koneksi. Hal ini juga sebagai cara untuk menunjukkan simpati dan minat pada audiens. 

Latih fleksibilitas ekspresi wajah yang akan memperkuat informasi yang diucapkan dengan kata- kata.

Memahami Audiens Public Speaking


Tahap selanjutnya dalam persiapan public speaking adalah memahami audiens. Cari tahu geografi, demografi, psikologi dan perilaku mereka.

Contoh : Kalau audiens kalangan dosen atau pejabat, maka siapkan penampilan yang terlihat profesional. Berikan pemaparan berbasis data. Jangan terlalu banyak guyonan.

Beda kalau audiensnya adalah anak sekolah usia belasan. Maka tampil dengan ceria, semangat. Berikan materi yang mudah dipahami (hindari banyak istilah asing atau ngomong dengan campuran bahasa asing). Boleh menyelipkan jokes ala anak muda.

Latihan Sebelum Public Speaking


Tentukan mau pakai metode apa? Metode public speaking ada empat yaitu manuskrip, memoriter, ekstemporan dan impromtu.


Persiapkan Penampilan


Dan yang terakhir, persiapkan penampilan secara keseluruhan.

Kalau orang bilang dont judge a book by its cover, bisa dibilang hal ini tidak berlaku di lapangan. Nyatanya, You Are Judged by Your Appearance. Suka nggak suka, you are being judged by how you look, how you dress, and how you carry yoursel.

Bahkan dalam 3 detik pertama kita tampil di depan orang lain, mereka akan memberikan penilaian kepada kita. Audiens akan menentukan, bakal percaya sama kita, atau memilih tidak peduli.

Lalu, kita harus gimana?

Tersenyum tulus dan percaya diri. ✔️

Pilih pakaian yang baik dan sesuai dengan konteks acara.✔️

Itu kenapa pada tahap persiapan public speaking, pikirkan juga kita mau berpakaian seperti apa. Nggak harus baju baru, tapi baju yang sesuai dengan kebutuhan. Kapan harus profesional (blazer, long pants), kapan harus kasual (kemeja, jeans, sporty shoes), kapan terlihat agamis (pengajian, kegiatan keagamaan), dll.

Apalagi kalau kita bekerja untuk orang lain, katakalah perusahaan atau brand. tanyakan ke mereka ingin kita memakai baju model apa dan warna apa agar sesai dengan brand personality.

Dalam mempersiapkan penampilan, pastikan juga sesuai dengan signature style kita. Agar kita nyaman dalam bekerja.

Baca Juga : Apa itu Signature Style


So, teman- teman itu tadi beberapa persiapan agar kita tampil berani berbicara di depan umum. Ingat, sebaiknya jangan hanya berkonsentrasi menghapal materi. Persiapkan hal lain juga yang tidak kalah penting. Dan jangan lupa latihan, latihan dan latihan.

Materi ini saya sampaikan di Kulwap Berani Bicara yang diadakan oleh mahasiswa Manajemen Event Universitas Muhammadiyah Surakarta, pada Rabu 20 Mei 2020.

See you on the next blogpost.







Thank you, 

Post Comment
Post a Comment

You made it all the way here! Thanks for reading. :)
(Untuk meninggalkan komentar, sebaiknya jangan memilih Anonymous agar tidak menjadi brokenlink dan saya hapus.
Tulis saja nama dan url Google/facebook biar lebih aman)

Auto Post Signature