Zoom Fatigue, Kelelahan Usai Seminar Online

18.6.20
ZOOM FATIGUE

Seusai menjadi pembicara sebuah seminar online, saya langsung membaringkan tubuh di kasur. Durasi acara selama 2,5 jam, berhasil membuat kepala saya pening, mata mengantuk, dan badan lelah luar biasa. Hampir tidak ada bedanya dengan seminar offline, padahal saya hanya di rumah saja. Duduk manis di depan laptop di atas meja kerja.

Ternyata saya tidak sendiri. Beberapa rekan yang aktif berinteraksi dengan video call mengaku merasakan hal yang sama. Energi terkuras habis, pasca mengikuti rapat dari rumah. Bonus pegal- pegal karena duduk dalam posisi tidak nyaman berjam- jam.

"Zoom Fatigue". Fenomena ini mulai dirasakan sejak video conference mulai jadi kebiasaan saat pandemi. Entah rapat, kuliah ataupun seminar memaksa mata untuk fokus ke layar kecil, mendengarkan pemaparan berjam- jam, yang kemudian memunculkan kelelahan berlebih.

Zoom Fatigue (istilah slang) adalah kelelahan yang terjadi setelah melakukan video conference dalam waktu yang lama.

Dalam komunikasi face-to-face, manusia terbiasa membaca beragam pesan, pesan verbal & non verbal. Otak memroses beragam pesan tersebut, menafsirkan gambaran keseluruhan. Sebagai panduan untuk memberikan respon dan memunculkan keintiman emosional/ koneksi.

Bagaimana komunikasi yang terjadi saat melakukan video conference?

Melalui layar yang sempit, kita hanya bisa melihat penampilan seseorang dari kepala hingga bahu. Pesan nonverbal sangat terbatas. Kita dipaksa untuk fokus ke kata-kata yang disampaikan. Kita menebak- nebak bagaimana respon lawan bicara hanya dengan mengandalkan tatapan mata dan ekspresi wajah.

Sementara saat meeting virtual berlangsung, banyak gangguan yang terjadi. Sinyal tidak bersahabat, kuota yang menipis, noise dari paserta yang lupa me-mute microphonenya, hingga gangguan lingkungan sekitar (anak berlarian, bising kendaraan, dll)

Bagi sebagian orang, distraksi yg berlangsung lama ini bisa menimbulkan rasa bingung, menguras energi, lelah dan merasa tidak mendapatkan apapun.

Itulah juga mungkin yang alasannya beberapa partisipan seminar online, lebih senang bersembunyi di balik foto profil, daripada menampilkan video di layar. Agar lebih santai, dan multitasking ketika menyimak suatu seminar.

ZOOM FATIGUE


Di lain pihak, sebagai pembicara webinar saya sering meraba- raba respon audiens. Ketika layar utama menampilkan slide presentasi, suara di headphone sunyi, saya harus memainkan imajinasi, ber-acting seolah bertatap muka dengan audiens. Sembari hati penuh prasangka, apakah informasi bisa diterima audiens. Juga rasa takut jika koneksi provider menghilang tiba-tiba.

Pada akhirnya, ini adalah proses adaptasi. Saya berlatih menavigasi mental agar lebih siap ketika menghadapi kendala.

Setiap sesi daring menggunakan video conference, entah itu Zoom, Google Meet, Skype, Webex,dll saya berlatih menyiapkan backup system. Laptop, koneksi beda provider, syukur- syukur ada asisten.

Termasuk juga, menyiapkan gimmick agar terbangun interaksi apalagi jika dihadiri ratusan peserta.

Lalu, bagaimana kemudian mengatasi Zoom Fatigue ini? 

1. Hindari multitasking

Melakukan beberapa pekerjaan dalam waktu yang bersamaan akan membuat otak semakin lelah. Sebuah riset yang di tulis pada Journal of Experimental Psychology: Human Perception and Performance menyebutkan bahwa melakukan multitasking mereduksi 40% waktu produktif yang kita miliki. Jadi daripada membuka berbagai tab, atau sibuk mengecek pesan di smartphone , lebih baik untuk tetap fokus pada video conference yang berlangsung.

2. Istirahat sejenak

Ada baiknya mengambil waktu istirahat sejenak 5-15 menit. Matikan layar video, ambil kesempatan untuk minum, ke kamar mandi, memakan cemilan, atau sekedar menggerakkan tubuh yang terasa pegal. Jika kamu adalah moderator atau orang yang memiliki otoritas dalam virtual meeting, maka perlu menyadari kebutuhan biologis ini. Istirahat sejenak akan membuat pikiran partisipan lebih segar dan dapat kembali fokus.

3. Buat aktivitas interaktif

Jika kamu adalah moderator, MC atau narasumber sebuah seminar online, buat sebuah aktivitas yang memancing interaksi audiens. Minta audiens untuk menyalakan video mereka, lalu ajak mereka untuk bertepuk-tangan, bernyanyi, atau membuat sebuah games.
Bisa juga memberi pertanyaan acak kepada beberapa peserta yang hadir, dengan menyelipkan hadiah sebagai hiburan agar tidak mengantuk.


Nah, buat kamu yang mengalami zoom fatigue ini, bagaimana caramu mengatasinya? Boleh dong cerita di kolom komentar...




Referensi

https://www.bbc.com/worklife/article/20200421-why-zoom-video-chats-are-so-exhausting

hbr.org/2020/04/how-to-combat-zoom-fatigue

https://www.nationalgeographic.com/science/2020/04/coronavirus-zoom-fatigue-is-taxing-the-brain-here-is-why-that-happens/



See you on the next blogpost.








Thank you, 

Post Comment
Post a Comment

You made it all the way here! Thanks for reading. :)
(Untuk meninggalkan komentar, sebaiknya jangan memilih Anonymous agar tidak menjadi brokenlink dan saya hapus.
Tulis saja nama dan url Google/facebook biar lebih aman)

Auto Post Signature