Memilih PAUD yang Tepat Bagi Anak

10/3/17
Di usia si kecil menginjak 2 tahun 7 bulan, akhirnya saya memutuskan untuk memasukkan dia ke PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini ) atau Kelompok Bermain. Sebelumnya, saya telah lebih dahulu melakukan berbagai riset terkait tingkat kognitif, afektif dan psikomotorik si kecil. Apakah sudah layak dan selaras dengan rekomendasi pemerintah terkait PAUD. Anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No 20/2003 ayat 1 adalah anak usia 0-6 tahun.


Di Indonesia, PAUD dijabarkan sebagai pendidikan awal untuk mengembangkan moral dan agama, motorik halus, dan kasar, kecerdasan, sosio emosional dan komunikasi, sesuai dengan tahapan perkembangan anak ( Permendiknas No 58 Tahun 2009).

Berdasarkan hasil evaluasi dan di dukung berbagai pertimbangan saya dan suami sebagai orang tua, akhirnya kami mantab memasukkan si kecil ke sekolah.

Namun, tentu saja ketika memilih PAUD yang "dirasa" tepat, memang tidak mudah. Ada berbagai aspek yang kami pikirkan.

1. Lokasi Dekat Rumah

Hal ini menjadi pertimbangan, agar lebih efektif dan efisien dalam mengantar dan menjemput anak ke dan dari sekolah. Faktor emosional lainnya, saya merasa lokasi sekolah yang dekat dengan rumah akan membuat hati saya sebagai ibunya menjadi lebih tenang. Paling tidak jika terjadi "sesuatu" saya atau ayahnya dapat segera menuju lokasi.

2. Lingkungan  Sekolah

Kondisi sekolah menjadi pertimbangan yang besar. Hal ini terkait 
a. Lingkungan dalam sekolah (ruang kelas, fasilitas, permainan yang disediakan, keamanan sekolah)
b. Lingkungan di luar sekolah (akses dengan jalan raya, aktivitas tetangga sekitar sekolah)

3. Kurikulum Pengajaran

Saya memahami bahwa si kecil tidak perlu menjadi mahir berhitung, apalagi membaca di PAUD. Namun, 1 catatan penting sebagai orang tua, saya ingin agar si kecil mendapatkan bimbingan terkait agama dan moral. Minimal sekolah mengajari mereka bermacam-macam doa harian, sembahyang, mengenal alqu'an dan lain-lain. Sehingga apa yang diajarkan di rumah dapat selaras dengan di sekolah.
4. Pengajar

Terkait pengajar ada beberapa hal yang saya perhatikan :

a. Pengajar adalah lulusan / sarjana pendidikan PAUD. Atau minimal dipimpin oleh sarjana PAUD, agar pelaksanaan belajar dan mengajar memang sesuai dengan standar pendidikan.

Pict : theodysseyonline.com

b. Seluruh pengajar adalah WANITA. Ini adalah pertimbangan subyektif saya, karena melihat berbagai pemberitaan di media, saya cenderung percaya dengan pengajar wanita dibanding laki-laki untuk mengajar anak saya di PAUD.

c. Rasio jumlah pengajar dan murid. Jangan sampai 1 guru mengajar 20 anak. Hal ini akan mengurangi efektivitas mengajar dan pengawasan terhadap anak. Terlebih usia anak balita masih membutuhkan pengawasan ketat.

5. Fasilitas Pendukung

PAUD tempat anak saya bersekolah saat ini menyediakan snack dan makan siang. Selain itu, karena keterbatasan waktu yang saya miliki, si kecil dapat di sekolah hingga pukul 12.30. Sekolah sekaligus melayani jasa daycare.

6. Biaya yang terjangkau

Dengan berbagai tuntutan di atas, apakah kita akan mendapatkan PAUD dengan biaya murah?
Ya, saya harus pandai-pandai memilih PAUD berkualitas dengan SPP terjangkau.

Pict :peoplegist.com

Saya melakukan survey hingga ke 5 sekolah. Beberapa sekolah membebankan uang gedung yang tidak sedikit bahkan hingga 10 juta rupiah. Nominal sekian tentu tidak murah. Saya harus jeli dalam menghitung efektivitas anggaran. Bahasa mudahnya, "apakah biaya semahal itu sebanding dengan pengajaran yang akan anak saya terima?"

Akhirnya setelah menghitung baik-baik, saya menemukan PAUD dengan biaya masuk hanya 1 juta rupiah (termasuk buku, seragam, dan biaya fasilitas) dan SPP perbulan Rp 220.000,-(sudah termasuk biaya makan)

Memilih PAUD memang tidak mudah, apalagi ini adalah kali pertama saya mempercayakan tanggungjawab anak kepada orang lain di luar keluarga. Saya melakukan trial error selama 1 minggu. 

Setelah 1 pekan masa penjajakan, saya melihat si kecil merasa nyaman di sekolah. Dia selalu bersemangat ke sekolah setiap hari senin hingga jumat pukul 08.00 hingga 12.30 .Meski demikian saya selalu memantau aktivitasnya di sekolah, baik melalui gurunya atau berkomunikais langsung dengan anak. Semoga sekolah PAUD ini bermanfaat buatnya.

10 comments on "Memilih PAUD yang Tepat Bagi Anak"
  1. Sekarang banyak PAUD yang ngajarin baca, nulis, berhitung. Konon katanya, atas permintaan ortu. Tapi kan kasian anaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, PAUD buat belajar mandiri aja. Kalau pusing berhitung, bisa males sekolah

      Delete
  2. murah mba segitu aku juga pusing cariin tk buat anakku akhirnya skrg uda dpt deh 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, lumayan mbak..setelah cari2 dapet juga yang murah

      Delete
  3. Noted..
    PAUD di dekat rumah tuh rata-rata masuk jam 8 pulang jam 10 Mak, dan sudah diajarin alfabet, berhitung... kalau aku sich maunya biar dia main dulu, belajar yang enggak calistunglah.... aku masih bingung soal masukin Juna ke PAUD... hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertimbangannya gak ada yang jaga mbak..daripada pake ART

      Delete
  4. Setuju, mba.

    Tapi anakku ngga paud sih langsung RA. Cari yg deket, ngajarin agama, kenal ma gurunya, sama yg pasti tuh harganya ga terlalu mahal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penuh pertimbangan ya mbak. Kita sebagai ibunya pengennya dapet yang baik2..

      Delete
  5. kriteria saya nomor satu juga dekat rumah Mbak. Secara anak kecil, kalo PAUD saja jauh jaraknya..kasian kelamaan di jalan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau kejauhan males juga ya mbak yang anter jemput

      Delete

Terima kasih sudah berkenan meninggalkan komentar.
Komentar Anda termoderasi.
Salam

Auto Post Signature