Kalo kamu terbiasa menggunakan Anchor.fm untuk membuat podcast, pasti tahu dong kalau Anchor memang udah all in one. Satu aplikasi bisa membantu merekam suara, editing, publikasi dan distribusi ke platform lain.
Kalo kamu terbiasa menggunakan Anchor.fm untuk membuat podcast, pasti tahu dong kalau Anchor memang udah all in one. Satu aplikasi bisa membantu merekam suara, editing, publikasi dan distribusi ke platform lain.
Pandemi, justru bikin makin kreatif. Iya, soalnya kalau pasrah dengan situasi, keadaan jadi makin sulit. Dengan berbagai new habit, saya juga dituntut jadi SMART BUYER. Kalau beli apapun harus efektif dan efisien. Jangan sampai salah pilih dan menambah cost. Apalagi buat saya yang seorang entrepreneur.
Kebetulan saya punya usaha di bidang pelatihan komunikasi. Ketika ada pembatasan aktivitas sosial, saya pun harus mengubah pola pengajaran yang seharusnya dilakukan face to face. Maka, salah satu opsi terbaik yang saya pilih adalah mengubah kelas luring menjadi daring.
Pelatihan berbasis online memang bukan hal baru. Banyak e-commerce jasa yang lebih dulu menyediakan program pelatihan online yang memungkinkan peserta mengakses kelas kapan dan di mana saja. Karena sistem pelatihan serupa sudah menjamur, maka saya memilih untuk membuka kelas interaktif. Kelas private yang memungkinkan murid belajar one on one dengan trainer dalam durasi tertentu. Kelas tentu saja tidak hanya memberi teori, tapi juga praktik, sekaligus diskusi interaktif.
Beberapa kawan saya dari kalangan profesional juga banyak membuka model kelas serupa. Mengingat model belajar blended learning atau hybrid menjadi hal yang lumrah di masa depan. Era digital adalah peluang yang nggak boleh dilewatkan.
Di tulisan ini, saya akan mencoba berbagi pengalaman, persiapan apa saja yang harus dilakukan jika ingin membuka kelas online interaktif dengan maksimal.
Setelah menentukan format pelatihan berupa pelatihan online interaktif, trainer bisa melakukan riset audiens. Memetakan apa saja kebutuhan pasar yang bisa kita penuhi. Setelah melakukan riset inilah, kita bisa menyusun program yang relevan dengan kebutuhan tersebut. Setelahnya kita bisa menentukan besaran biaya pelatihan, sesuai dengan modal dan margin yang diharapkan.
Sama seperti pembelajar sekolah formal maka pengajar maupun trainer wajib menyusun kurikulum dan silabus, agar pembelajaran yang dilakukan bisa tersusun secara sistematis. Sebagai pengajar kita harus menyiapkan detail capaian pembelajaran, materi yang diajarkan, sarana belajar yang digunakan, durasi pembelajaran, bahan referensi sampai dengan asesmen untuk melihat kemajuan murid selama kelas berlangsung.
Membuka kelas online bukan berarti minim modal. Nyatanya agar kelas bisa maksimal trainer membutuhkan dukungan alat yang tidak sedikit. Mulai dari laptop, earphone/ headset, juga dukungan kamera video yang mumpuni. Kebutuhan alat akan meningkat tergantung kompleksitas program pelatihan.
Seperti misalnya ketika saya membuka kelas podcast maka saya juga harus menyiapkan mikrofon eksternal, mixer, software editing untuk menyediakan hasil audio yang prima.
Untuk bisa interaktif, menggunakan software atau platform video conference adalah keharusan. Mulai dari zoom, google meet, webex, dll yang bisa diakses secara gratis maupun berbayar. Trainer juga sebaiknya mempelajari berbagai fitur yang ada. Mulai dari mengaktifkan kamera, menggunakan virtual background, mengaktifkan microphone, membagikan materi berupa slide, video, audio dan lain sebagainya.
Semua persiapan di atas akan menjadi percuma manakala koneksi internet tidak optimal. Namanya juga pelatihan online, maka internet menjadi senjata utama. Sangat tidak profesional jika kendala terjadi karena kualitas jaringan internet yang buruk. Maka sebelum membuat kelas online interaktif, pilih provider internet yang hemat, kuota besar, paling murah dengan paket lengkap.
Provider favorit saya yang jelas gokil performanya adalah smartfren GOKIL MAX. Thank to God, yang sudah mempertemukan saya dengan provider GOKIL TO the MAX satu ini, disaat provider wifi sering PHP gangguan ini itu.
Ketika kebutuhan internet makin tinggi, ternyata saya sering kecewa sama wifi yang sering ngadat. Katanya unlimited, tapi kalau udah akhir bulan kecepatan aksesnya jadi menurun. Belum lagi kalau turun hujan, bisa jelek banget kualitasnya. Ini jelas nggak menguntungkan buat saya yang punya bisnis pelatihan online. So, pilihan saya pakai smartfren GOKIL MAX adalah pilihan terbaik.
Setelah menggunakan smartfren GOKIL MAX setiap hari, saya jadi tahu kalau provider internet satu ini memang punya banyak keunggulan yang nggak dimiliki provider lain.
Kalau nggak percaya, lihat deh hasil speed test di bawah ini
Melihat performanya, smartfren GOKIL MAX jadi pilihan tepat dan solusi terbaik buat para profesional dan entrepreneur yang ingin bikin kelas online. Untuk teman - teman pastikan kalian pilih kartu smartfren GOKIL MAX yang sesuai dengan wilayah kalian ya, dan jangan lupa untuk isi ulang paket/beli voucher GOKIL MAX di nomor smartfren GOKIL MAX kalian ya! untuk bisa menikmati Kuota Lokal di Zona GOKIL MAX kalian masing - masing.
Makin praktis dan efisien buat isi ulang pulsa/paket internet lewat aplikasi Mysmartfren! Kamu Pun juga bisa ikutan Loyalty Program Rejeki WOW Periode 3 dari tanggal 21 September 2021 - 14 Januari 2022 karena ada hadiah langsung yang lebih menarik.
Buat kamu yang pengen dapet Rejeki WOW dan benefit Rejeki Depan Mata berupa hadiah langsung, yuk ikuti saya pakai smartfren juga!
Gimana caranya?
| Tampilan Oasis di Aplikasi My Smartfren |
GOKIL banget kan pakai smartfren?
Dengan menggunakan smartfren GOKIL MAX, bukan cuma bisa dapetin kuota besar dengan harga hemat aja, tapi jaringan internetnya juga maksimal dijamin bisnis kelas onlinemu makin lancar. Untuk informasi lengkap smartfren follow @smarfrenworld ya!
Saat seorang mahasiswa maju presentasi di depan kelas, saya melihat mata dan kepalanya yang tertunduk lesu. Entah karena kurang tidur, sedang bersedih atau memang tidak berminat pada sesi presentasi tersebut. Ketika mulai berbicarapun, suaranya terdengar lirih. "Mbak, tolong lebih keras ya.", ujar saya mengingatkan. Meski volume suaranya bertambah, tapi pembawaannya seperti tidak berenergi. Teman- teman yang lain sibuk berbicara sendiri. Dia yang sedang presentasi seolah terlupakan.
Bahasa tubuh kita tidak selalu terlihat percaya diri. Kita sering tidak sadar, apa yang kita lakukan menimbulkan kesan negatif dibenak audiens. Akibatnya, audiens menjadi bosan, hilang minat dan tidak acuh terhadap apa yang komunikator sampaikan.
Saat public speaking, komunikator bukan hanya menyampaikan pesan verbal melalui lisan. Secara bersamaan pesan nonverbal juga disampaikan melalui ekspresi wajah, suara dan gerak tubuh saat berbicara.
Apa yang ditangkap melalui indra komunikan, kemudian akan memengaruhi persepsi audiens terhadap diri komunikator. Oleh karena itu penting bagi seorang pewicara publik, mampu menyampaikan pesan verbal dan nonverbal dengan baik. Kelihaian ini akan membuatnya terlihat percaya diri, materi yang disampaikan dapat dipercaya dan dipahami dengan baik.
Bicara mengenai public speaking, berikut ini adalah lima bahasa tubuh yang sebaiknya dihindari saat berhadapan dengan audiens.
Facial expression adalah hal pertama yang dilihat audiens. Ketika wajah kita terlihat galak, angkuh, arogan, sedih dan tidak bersemangat, hal ini akan dinilai negatif oleh hadirin. Agar tidak dinilai demikian, cobalah pasang senyum yang tulus ketika berdiri di hadapan audiens. Meskipun tubuh sedang lelah, atau mental sedang tidak baik- baik saja, tetapi ketika melakukan public speaking kita harus bersikap profesional.
Suara lirik memberikan makna bahwa komunikator tidak cukup percaya diri dengan dirinya. Suara lirih juga menunjukkan power yang rendah. Cobalah untuk bersuara lantang, terlebih saat membuka sesi public speaking. Suara yang lantang akan memberi nyawa pada informasi yang kita sampaikan. Lantang ya, bukan berteriak.
Grogi berbicara di depan umum? Semua orang mengalaminya. Tapi usahakan, hal itu tidak terlihat. Rasa percaya diri bisa dimulai dari cara kita menatap audiens. Tatap mata audiens satu persatu. Jangan fokuskan pandangan pada naskah yang dibawa, atau langit- langit ruangan, yang membuat kita seolah melamun dan menerawang jauh.
Jaga kontak mata dengan audiens, agar mereka menyadari bahwa kehadiran mereka berarti bagi kita. Menjaga kontak mata juga menimbulkan chemistry, interaksi emosional dan adanya rasa saling menghargai.
Postur tubuh seseorang dapat menunjukkan level percaya dirinya. Daripada membungkuk atau membusung, cobalah jaga tubuh agar memiliki berat yang seimbang antara kaki kanan dan kiri. Kunci tulang belakang sehingga tubuh terlihat tegak dan siap.
Seperti membetulkan jilbab atau rambut, menggosok hidung, meremas- remas tangan, yang memperlihatkan rasa gugup kita di depan audiens. Coba latih di depan kaca dengan berbicara secara santai. Gerakkan tangan seperlunya mengikuti materi yang kita sampaikan secara lisan.
Itu tadi lima hal yang sebaiknya dihindari saat public speaking.
Kira- kira manakah yang paling sering kamu lakukan?
Sejak a.be.ge dulu (baca : remaja) saya suka segala sesuatu tentang perawatan wajah dan tubuh. Namanya juga masih muda dan belum berpenghasilan, saat itu saya selalu memakai bahan- bahan alami yang bisa ditemukan di kulkas dan dapur biar murah meriah. Seperti misalnya, pakai lendir lidah buaya untuk menjaga kulit wajah tetap lembab, parutan tomat untuk membuat wajah lebih segar, dan pakai ampas kopi untuk menghilangkan kotoran di badan layaknya body scrub.
Diantara semua bahan, saya selalu suka membersihkan tubuh dengan ampas kopi. Sebelum mandi sore, saya balurkan di tangan, kaki bahkan wajah, lalu memijatnya dengan lembut. Aroma kopi yang menenangkan berhasil membuat momen scrubbing menjadi lebih menyenangkan.
Sekarang, disaat waktu luang juga tidak sebanyak saat muda dulu, saya jadi meninggalkan ritual scrubbing dengan ampas kopi ini. Jujur saja, memang ribet membuatnya. Dan sisa ampas, sering kali mengotori kamar mandi. Sayapun kini lebih memilih body scrub yang ada dipasaran. Harga juga terjangkau, bisa langsung pakai, dan nyaman dikulit karena butirannya tidak sekasar kopi asli.
Kalau saya lihat, memang tidak banyak body scrub dipasaran dengan wangi kopi. Tetapi beberapa waktu lalu, saya sempat lihat akun instagram @scarlett_whitening. Ternyata ada dua varian anyar dengan aroma kopi, Brightening Shower Scrub dan Body Scrub. Nggak perlu menunggu lama, saya langsung tertarik mencoba. Sudah berbulan- bulan saya pakai produk Scarlett Whitening by Felicya Angelista, dan selalu puas dengan kualitas produknya yang memang selalu bisa diandalkan kalau soal keawetan wanginya.
Saya nggak nyangka sih, ritual mandi jadi seasyik ini. Coffee Scarlett Brightening Shower Scrub bakal selalu masuk dalam daftar belanja bulanan. Shower Scrub ini punya ketahanan wangi yang oke banget. Berjam- jam setelah mandi (asal nggak berkeringan banyak ya) bakal tetep awet menempel di tubuh.
Sama seperti varian lain yang sudah saya coba yakni Mango dan Pomegrante, Coffee Shower Scrub ini punya tekstur gel lembut dengan warna kecoklatan. Butiran scrubnya halus dan nyaman diaplikasikan di kulit. Nggak terasa sakit atau perih untuk pemakaian sehari- hari.
Busanya nggak terlalu banyak, itu berarti kandungan SLS atau detergennya nggak banyak. Aman buat kamu yang punya kulit sensitif dan gampang teriritasi. Efek Glutathione, Vitamin E, Niacinamide dan Kojic Acid nya juga semakin bisa kamu rasakan, kalau rutin memakainya.
Melengkapi segarnya mandi dengan Coffee Shower Scrub, saya juga rajin pakai Coffee Body Scrub. Sama seperti shower scrubnya yang wanginya aweeettttt banget, body scrub ini juga bikin pecinta aroma kopi ketagihan untuk pake lagi dan lagi.
Scarlett Body Scrub Coffee punya butiran yang halus. Mengandung Glutathione, Vitamin E, Niacinamide dan Kojic Acid yang membantu mengangkat sel kulit mati, mencerahkan, melembabkan, dan menutrisi kulit. Nggak perlu khawatir soal keamanan karena semua produk Scarlett Whitening sudah terdaftar di BPOM dan no animal tested.
Glutathione adalah antioksidan yakni zat yang berfungsi untuk memerangi radikal penyebab kerusakan di sel tubuh yang memiliki efek antimelanogenesis, yaitu mampu melawan pembentukan pigmen melanin sebagai pemberi warna kulit. Karena, semakin banyak pigmen melanin seseorang, maka akan semakin gelap warna kulitnya. (Sumber : klikdokter.com)
Cara pemakaian :
Agar penggunaan body scrub Coffee ini bisa maksimal, kamu bisa mengaplikasikannya di kulit selama 2-3 menit baru kemudian di bilas dengan air bersih. Dan lakukan rutin 2-3 kali dalam seminggu.
Sukak banget pakai dua produk Scarlett Whitening varian kopi ini. Wangi dan kemampuannya melembabkan kulit adalah poin penting yang bikin saya nggak ragu buat repurchase. Harganya cukup terjangkau, seluruh produk harga satuannya Rp 75.000,- aja. Tapi kalau pengen lebih hemat saya saranin kamu beli paket hemat yang isinya 5 item harganya 300.000 (udah dapet box exclusive+free gift).
Beli produk Scarlett Whitening secara online juga dijamin aman dalam pengemasan karena produk akan dilapisi bubble wrap ekstra tebal untuk menghindari bocor ketika proses pengiriman.
Tertarik membeli Scarlett Brightening Shower Scrub dan Body Scrub Coffee ?
Yuk, temukan di Shopee dengan mencari official store "Scarlett_whitening".
Menjadi pengajar abad 21 tantangannya sungguh besar. Kehadiran pandemi, sekaligus menjadi penyadar bahwa teknologi tidak bisa dipisahkan dalam kegiatan belajar mengajar. Kalau hanya sebatas aktivitas mengajar, saya rasa teknologi sudah berbaik hati memudahkan pekerjaan guru menjadi lebih efisien. Tapi mengajar saja tidak cukup. Mendidik murid, memilih model pengajaran yang berpihak pada mereka dan membimbing proses belajar peserta didik, itu yang jadi PR besar.
Video di atas merekam aktivitas saya sebagai moderator webinar yang diadakan oleh KOCO School Indonesia dengan tema Adaptasi Model Pedagogi Pada Guru Abad 21. Hadir sebagai narasumber :
Beberapa waktu lalu saya berkesempatan menjadi pembicara di acara Bincang Digital yang diadakan Ruang Guru, kerja sama dengan Kemeterian Komunikasi dan Informatika dan Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi. Tema yang saya bawakan mengenai Budaya Digital dan Fenomenanya dalam Masyarakat.
Budaya digital terbentuk dari cara kita berinteraksi, berperilaku, berpikir dan berkomunikasi dalam lingkungan masyarakat ketika menggunakan teknologi dan internet. Namun sayangnya, tidak semua orang memahami bagaimana menggunakan teknologi ini secara bijaksana dan beretika. Ketika seseorang memiliki budaya digital yang lemah, maka bisa memunculkan pelanggaran terhadap hak digital orang lain.
Hak digital sendiri dapat dibedakan menjadi tiga yakni hak untuk mengakses, hak untuk berekspresi dan hak untuk merasa aman (SAFEnet, 2019). Meskipun kita memiliki hak asasi untuk bisa berekspresi di dunia maya, namun kebebasan ini selalu dibatasi oleh hak orang lain. Bebas tetapi tetap berbatas.
Selengkapnya mengenai bahasan ini, bisa ditonton di video berikut.
Kebanyakan orang, ngerasa nggak nyaman ketika mendengar hasil rekaman suaranya sendiri. Padahal hasil rekaman suara inilah suara kita yang sebenarnya, yang didengar orang lain setiap hari. Suara yang direkam, hanya merambat melalui udara, sehingga tidak melalui tahap penyesuaian tulang- tulang di kepala atau rongga telinga. Sehingga biasanya akan terdengar lebih cempreng, dan pitchnya lebih tinggi. (Sumber : https://hellosehat.com/sehat/informasi-kesehatan/kenapa-suara-di-rekaman-berbeda/)
Nggak masalah kok, kalau memang kita punya suara yang cempreng. Tidak ada suara yang jelek, semua unik. Hanya memang ada yang sudah terlaltih ada yang belum.
Makanya buat kamu yang bekerja dengan mengoptimalkan suara, sebenarnya ada beberapa tips untuk membuat suaramu lebih enak didengar. Apa yang saya tulis di bawah ini, berdasarkan pengalaman saya merekam suara ketika menjadi voice over talent, podcaster, ataupun membuat konten audio visual.
Bagaimana caranya agar suara lebih enak didengar saat direkam?
Seperti saat baru bangun tidur, kondisi lelah, atau setelah makan pedas
Saat bangun tidur, suara terdengar lebih kering/ serak. Tenggorokan juga terasa sakit, apalagi jika belum makan dan minum apapun. Begitu pula saat lelah, pitch suara cenderung lebih rendah dan kurang power/ bertenaga. Dan untuk beberapa orang yang sensitif, akan mengalami tenggorokan berlendir bahkan batuk setelah mengkonsumsi makanan pedas.
Naskah akan membuat kita lebih siap saat proses merekam suara. Sehingga kita bisa fokus pada proses menghasilkan suara, bukan berpikir materi apa yang mau disampaikan.
Merekam suara boleh dilakukan dengan berdiri ataupun duduk. Pastikan tubuh kita dalam posisi yang tegak dan nyaman.Hindari membungkuk, atau bersandar. Agar pernapasan dan suara yang dihasilkan lebih leluasa.
Pemanasan bukan hanya untuk kamu yang mau berolahraga. Ketika akan merekam suarapun, otot wajah dan rongga mulut juga perlu melakukan pemanasan. Apalagi jika naskah yang akan kita baca dalam jumlah banyak.
Pemanasan yang dilakukan misalnya dengan senam wajah. Lafalkan huruf vokal dan konsonan sembari mulut dibuka lebar- lebar. Lakukan juga hamming (bergumam) 3- 5 kali. Ambil napas dalam- dalam dan hembuskan perlahan ulangi 3- 5 kali, untuk menguatkan otot penapasan dan otot perut.
Apa yang membuat merekam suara dengan berbicara sehari- hari itu berbeda? Yakni pada teknik presentingnya. Ketika merekam suara, kita akan membuat vokal kita lebih berintonasi, tertata rapi dan enak untuk didengarkan.
Saat merekam suara, jangan lupakan teknik vokal seperti intonasi, tone dan aksentuasi, sehingga suara lebih berdinamika. Salah satu teknik yang sering digunakan disebut dengan smiling voice, yakni berbicara dengan memasukkan ekspresi tersenyum.
Semakin banyak latihan dan mencoba, kita akan semakin mengenal karakter suara kita sendiri. Kita jadi tahu, harus "mengubahnya seperti apa" agar bisa terdengar lebih baik dan enak didengar, dan ini perlu latihan tentu saja.
Itu tadi beberapa tips yang bisa dicoba, jika ingin mereka suara dengan hasil yang lebih baik. Semoga bisa membantu ya...
Tujuan latihan ini bukan supaya anak jago ngomong cas- cis- cius. Nanti dulu, dan bersabar.
Ditahap awal, anak- anak perlu belajar mengenal dirinya dengan baik. Tampil berani berbicara di depan umum adalah sebuah proses menunjukkan kemandirian dan kesempatan untuk didengar. Tidak perlu terlalu banyak target, biarkan anak :
Jadi kalu anak masih malu- malu, bingung, nggak tahu harus ngomong apa, banyak ketawa- ketiwi, ya nggak papa.
Public speaking adalah aktivitas mengkomunikasikan ide, gagasan, opini dan perasaan di hadapan banyak orang. Umumnya, berbicara di depan umum memiliki tujuan : memberikan informasi, memberikan pengajaran, memotivasi, mengajak/ persuasi, memimpin dalam suatu proyek atau tugas tertentu dan menghibur orang lain.
Belajar public speaking tidak harus melalui kursus atau pelatihan. Orang tua bisa kok melatih dari rumah. Khususnya melatih anak -anak yang sudah mampu berbicara dengan lancar. Nah, kira- kira apa saja yang orang tua bisa lakukan untuk melatih public speaking pada anak sejak dini?
Sampaikan pada anak, mengapa anak harus berlatih public speaking. Jika anak belum paham apa itu public speaking, orang tua bisa menyampaikan bahwa ini adalah "latihan percaya diri" atau "latihan bercerita". Bawa suasana menjadi menyenangkan ya, jangan terlalu formal dan kaku layaknya sekolah. Orang tua bisa membangun suasana yang menyenangkan seperti sedang bermain.
Meski begitu, ajak anak untuk belajar fokus dan mau mendengarkan apa yang orang tua sampaikan.
Jangan cuma teriak "Gini lho, Dek..Kamu harus ini, harus itu" Tapi nggak dikasih contoh. Ya, gimana anak bisa ngerti? Coba berikan contoh apa yang harus anak lakukan. Misalnya, ibu mencontohkan bagaimana caranya bercerita sambil membawa sebuah boneka. Minta anak untuk melihat dan mengamati.
Setelah mengamati contoh yang diberikan orang tua, anak bisa mencoba menirukan apa yang sebelumnya ia lihat. Minta anak untuk melakukan hal yang sederhana, seperti misalnya : mempekenalkan diri, cerita mengenai mainan kesukaan, bercerita tentang cita- cita, dan lain sebagainya.
Jika anak melakukan kesalahan jangan buru- buru dikoreksi. Biarkan anak merasa nyaman menyampaikan apapun yang ada dipikirannya.
Agar sesi latihan lebih menyenangkan, anak bisa menggunakan alat bantu seperti boneka, flash card, buku, dll. Alat bantu ini juga sebagai penyalur energi, mana kala anak merasa grogi, dan butuh "teman".
Ketika anak berani mencoba, coba rekam penampilan mereka. Kemudian ajak anak untuk melihat penampilannya. Saat anak mengamati hasil rekaman, kita bisa mulai beri masukan jika ada kekurangan.
"Nanti adek coba bicara lagi, tapi wajahnya yang semangat ya. Kalau cemberut, nanti dikira habis nangis lho.."
Beri pujian ketika anak bisa tampil dengan baik. Sehingga ia merasa bahwa hasil kerja kerasnya mendapatkan apresiasi dari orang lain.
Untuk anak yang sudah fasih baca tulis, kita bisa meminta anak menuliskan terlebih dahulu apa yang ingin mereka sampaikan. Sehingga, mereka bisa berlatih berbicara dengan lebih rapi dan runtut.
Itu tadi beberapa hal yang bisa orang tua lakukan untuk melatih public speaking pada anak sejak dini.
Kemampuan berbicara itu perlu dilatih. Bisa karena terbiasa. Jika anak berani menyampaikan ide- ide di kepalanya, ia akan lebih mudah bersosialisasi dengan orang lain. Iapun juga tidak segan untuk menunjukkan kemampuannya di sekolah.
Jika ingin belajar public speaking secara private dan online dan membutuhkan pengajar profesional, silakan akses www.SPEAKING.id untuk informasi selengkapnya.
2021, di tengah keinginan untuk terhubung dengan sesama pegiat literasi bahasa lainnya, saya mencoba menghubungi dua orang kawan. Mbak Asri Pujihastuti, Guru SMKN7 Surakarta yang saya kenal ketika mengikuti seleksi Bunda Baca Kota Solo, dan Mbak Titi Setyoningsih, dosen FKIP Universitas Sebelas Maret yang lebih dulu saya kenal saat tergabung dengan Duta Cerita. Ketika menawarkan gagasan ini, saya hanya bilang bahwa "mungkin akan menyenangkan kalau kita bisa menyemangati para orang tua dan masyarakat pada umumnya untuk lebih cinta sama buku."
Mbak Asri dan Mbak Titi bukan orang baru diranah tulis menulis. Mereka sudah terbiasa menulis buku ajar bahkan novel. Sehingga bak gayung bersambut, mereka menyetujui untuk bersama- sama menginisiasi lahirnya Komunitas Read Aloud Solo Raya. Visinya cukup sederhana 'Mulai dari Membaca Dukung Literasi Bahasa' Jadi ya nggak muluk- muluk. Suka baca dulu aja deh, mulai dari rumah, mulai dari menularkan ke anak sendiri, baru kita bergerak untuk menginfluence orang lain.
Sejarah singkat lahirnya Komunitas Read Aloud Solo Raya ini, ditulis dengan apik oleh Mbak Mannisa, jurnalis Radar Solo, Jawa Pos yang menghubungi saya beberapa waktu lalu. Melalui sambungan telpon, ia bertanya dari awal bagaimana komunitas ini berdiri, program dan aktivitasnya, hingga cita- cita ke depan ke arah mana komunitas ini di bawa.
Sejujurnya, memang masih panjang untuk menjaga ke-konsistensi-an komunikasi dalam komunitas ini. Terlebih dengan situasi pandemi saat ini, rasanya setiap orang masih harus menahan diri berjumpa tatap muka. Tapi, kami akan mencoba perlahan, bagaimana semangat cinta buku ini bisa semakin tertularkan.
Melihat lebih dekat komunitas ini di www.instagram.com/readaloudsoloraya
Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Di mana kita berada, harus menjaga tata krama/ sopan santun.
Itulah yang harus kita lakukan jika ingin hidup aman dan nyaman ketika bersosialisasi dengan masyarakat. Karena sopan di satu tempat bisa saja tidak sopan d itempat yang lain. Misalnya saja ketika kita makan di restauran di Jepang. Jika kita menyeruput makanan dengan keras hingga terdengar orang lain, itu adalah hal yang wajar. Bahkan, sang koki akan merasa senang karena itu menjadi bukti bahwa makanan buatannya sangat lezat dan memuaskan konsumen. Beda halnya ketika kita makan di Indonesia. Menyeruput makanan di meja makan bisa dianggap perbuatan tidak sopan. Bahkan mengangkat piring saat makan saja akan dianggap aneh, kelihatan "gragas" kalau orang Jawa bilang.
Itulah salah satu contoh bahwa sopan santun itu bersikap relatif, tergantung di mana kita berada. Meski begitu, kita tidak boleh melupakan yang namanya etika dan etiket. Etika adalah pedoman perilaku yang sifatnya mutlak. Sedangkan etiket adalah pedoman tingkah laku ketika berinteraksi dengan orang lain yang sifatnya relatif. Contohnya, jika kita kentut saat rapat, bisa jadi kita melanggar etika. Tapi jika kita kentut di dalam kamar dan itu sendirian, maka hal ini menjadi tidak masalah karena tidak ada orang lain yang terganggu.
Etika dan etiket bukan hanya berlaku di dunia nyata. Tapi sebaiknya juga kita jaga saat berinteraksi di dunia maya. Apalagi, jumlah waktu yang kita habisnkan untuk berinternet ternyata sangat banyak. Rata- rata orang Indonesia menghabiskan waktu 8 jam 52 menit berselancar di internet ( We are Social Januari 2021). Ngapain aja di internet? Mungkin bisa scrolling media sosial, nonton video di youtube, mendengarkan podcast, mengikuti webinar, mengirim email dan lain sebagainya.
Dalam berinternet kita tidak sendirian. Ada kalanya kita berinteraksi dengan pengguna yang lain melalui tombol like, komentar, saling mengirim pesan lewat instan messaging, dan lain sebagainya. Interaksi ini tidak selalu berjalan positif. Bahkan tidak jarang, seseorang melakukan tindakan bullying, mengeluarkan hate speech atau perbuatan merugikan lainnya seperti melanggar privasi dan penipuan.
Berinterkasi diinternet tetap diikat dengan pedoman perilaku, yang disebut dengan Netiket (Network Etiquette). Bahwa pada dasarnya, ketika berinterkasi di internet kita tidak sedang berhadapan dengan huruf, angka dan layar semata. Namun ada karakter manusia sesungguhnya, Manusia ini bisa sakit hati, marah, dan benci jika mendapatkan perlakukan yang tidak baik dari orang lain.
Internet memang memudahkan jempol kita mengetikkan sesuatu, tanpa melalui proses berpikir logis. Belum lagi ada fenomena seperti echo chamber, filter buble, framing, the death of expertise, hingga hoaks, yang membutuhkan kecakapan lebih dalam menganalisi informasi yang diterima.
Faktanya, memang tidak semua informasi di dunia maya adalah fakta. Begitu banyak informasi palsu (disinformasi dan misinformasi) yang membuat orang menjadi salah sangka, berburuk sangka bahkan melakukan tindakan yang merusak. Informasi faktapun, bisa juga disalahgunakan untuk menyerang pribadi atau kelompok tertentu (malinformasi).
Melihat fenomena yang terjadi inilah, maka sudah menjadi tugas kita bersama untuk mampu menambah amunisi dan menyiapkan perisai diri melalui kecakapan dalam beripikir logis atau critical thinking. Kita tidak dapat mengendalikan informasi yang ada di internet. Namun, kita bisa mengendalikan informasi apa yang kita konsumsi.
Kesadaran akan pentingnya kemampuan berpikir logis dan kritis ini, menjadi salah satu alasan hadirnya program Indonesia Makin Cakap Digital 2021. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menargetkan 12,4 juta warga Indonesia makin cakap digital pada tahun 2021. Peluncuran program ini sekaligus menandai pelaksanaan kelas literasi digital secara simultan di 34 provinsi Indonesia dan 514 kabupaten dan kota. Materi kelas literasi digital didasarkan pada 4 pilar utama, yaitu Etis Bermedia Digital, Aman Bermedia Digital, Cakap Bermedia Digital, dan Budaya Bermedia Digital.
Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk terlibat sebagai Key Opinion Leader pada webinar yang diadakan untuk Kabutan Bojonegoro dan Sidoarjo pada 29 dan 31 Mei 2021 yang lalu.
Pada kelas daring tersebut saya membawakan tema Positif, Kreaif dan Aman Berinternet serta Digital Content : Do and Don't.
Melalui dua materi tersebut saya memberikan pengalaman sekaligus wawasan bagaimana ketika menjadi digital content creator yang notabene konsumen sekaligus produsen konten digital, harus mempu menjaga etika, etiket sekaligus keamanan. Baik saat berinteraksi dengan sesama pengguna internet, maupun saat mengunggah berbagai data. Karena sejatinya apa yang kita lakukan di internet akan meninggalkan jejak digital, baik aktif maupun pasif yang tidak bisa dihapus. Maka, daripada kita meninggalkan jejak yang tercela baik dalam bentuk komentar, maupun konten provokasi lainnya, bukankah akan lebih positif jika kita menyebar konten edukasi yang menginspirasi.
Pada akhir, ketika berinterkasi dengan sesama manusia di internet, saya berusaha untuk memagang sebuah prinsip "Jika tidak mampu menginspirasi, lebih baik jangan menyakiti".
Semoga program Indonesia Makin Cakap Digital ini akan membawa wawasan baru bagi masyarakat Indonesia. Bahwa di manapun kita berada selalu berpegang teguh pada norma, etika dan nilai agama.