Taman Gesang Harus Hidup Kembali

26.3.18
SASAKAWA PEACE FOUNDATION

Sebagai Wong Solo, kapankah kamu terkhir kali datang ke Taman Satwa Taru Jurug atau kini yang lebih akrab disebut Solo Zoo?

Saya terakhir kali ke sana beberapa bulan lalu. Saat itu sedang booming Taman Pelangi Jurug. Itupun karena saya dan keluarga ingin menikmati berbagai lampion di sana. Bukan karena kebun binatang dan aneka flora dan faunanya.

Saya ingat betul, terakhir kali datang ke Jurug, yakni saat saya masih SMP sekitar 15 tahun lalu. Setelahnya, tidak pernah terbersit untuk berkunjung ke sana lagi.

Hal ini bukan tanpa alasan. Yang saya pahami, Kebun Binatang Jurug tidak dikelola dengan baik. Image yang selama ini ada, Jurug adalah kebun binatang yang kotor dengan koleksi satwa yang terbatas. Maka, kemudian sayapun lebih memilih untuk berwisata ke Kota lain.

Dhompet Dhuafa Memberdayakan Pedagang Kecil di Jurug


Sabtu, 24 Maret 2018, saya bersama Komunitas Blogger Solo menghadiri sebuah acara bertajuk Visit Solo Zoo yang diadakan oleh Dompet Dhuafa. Momen ini sekaligus membuat saya kembali menikmati suasana Kebun Binatang Jurug. Meski tidak terlalu banyak perubahan, saya melihat ada sebuah usaha yang besar untuk membangun kebun binatang ini menjadi lebih baik.

Komunitas Blogger Solo di Acara Visit Solo Zoo

Saya turut bahagia, ketika kemudian mendengar bahwa Dompet Dhuafa telah lama membina beberapa UMKM dan pedagang kecil di Kebun Binatang Jurug yang masih belum teroptimalisasikan. 

Masyarakat dan pedagang kecil inilah yang juga membuat Jurug ini tetap hidup. Dalam doa mereka jugalah, yang selalu berharap Jurug ini senantiasa dikunjungi banyak orang yang kemudian membawa rejeki ketika membeli makanan dan minuman yang mereka jual.

Dompet Dhuafa sendiri adalah organisasi nirlaba milik masyarakat global yang berusaha untuk pemberdayaan sosial global. Filosofi filantropi Islam seperti zakat, infaq / sadaqah, waqaf dan dana halal dan hukum lainnya berasal dari donor individu, kelompok atau korporasi.  Semua kegiatan Dompet Dhuafa dilakukan dengan dukungan 60.000 donor setia yang secara ekonomi mapan, profesional dan berpendidikan.

Saat ini Dompet Dhuafa telah memperluas jaringannya di 21 provinsi di Indonesia dan kantor perwakilan di 5negara (Hong Kong, Australia, Jepang, Amerika Serikat dan Korea Selatan).

Taman Gesang Harus Hidup Kembali


Pada acara Visit Solo Zoo, saya juga mendatangi Taman Gesang. Taman Gesang ini didirikan pada tanggal 1 Oktober 1991 oleh perkumpulan pecinta Gesang dari Jepang. 

Ya, Gesang dengan karyanya "Bengawan Solo" telah mampu menumbuhkan cinta para penikmat lagu lintas negara. Taman Gesang inilah buktinya.

Taman Gesang yang terletak di pinggiran Sungai Bengawan Solo (masih di kawasan Jurug) ini memiliki luas 1.564 m2 (32x46 meter) dan dilengkapi dengan gapura, jembatan, jalan paving, panggung keroncong, tribun penonton, aula dan patung Gesang.

Dompet Dhuafa
Area Taman Gesang

Sayangnya, kondisinya saat ini sangat memprihatinkan. Taman terlihat tidak terurus, bangunan sudah mulai lapuk dan tentu saja taman ini tidak pernah difungsikan. Taman Gesang ini tidak lagi "gesang" ( Gesang = Hidup)

Sungguh suatu kepedulian yang tinggi, ketika kemudian Dompet Dhuafa bersama dengan Sasakawa Peace Foundation bersinergi dalam program sosial dan pemberdayaan Taman Gesang ini. Dompet Dhuafa dan Sasakawa Peace Foundation berharap bahwa Taman Gesang dan Kebun Binatang Jurug tidak hanya sebagai tempat wisata, namun juga menjadi pusat pemberdayaan dan edukasi.

Saya masih ingat apa yang dikatakan oleh Ketua Pembina dan Pendiri Yayasan Dompet Dhuafa, Parni Hadi, tahun 2017 lalu saat mengadakan acara aksi Gerakan Senyum Nasional (Genyumnas) di Taman Gesang ini, bahwa 
"Tingkat peradaban suatu bangsa tercermin dalam tingkat kesejahteraan satwa yang berada dalam di kebun binatangnya. Pada tempat tersebut bertemu tiga makhkuk hidup ciptaan Tuhan, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan manusia"

Kalimat ini betul-betul membawa sebuah semangat yang besar untuk membawa Taman Gesang dan Kebun Binatang Jurug menjadi lebih hidup dan dikelola dengan baik.

Saya ingin sekali mengajak keluarga untuk bisa menikmati rindangnya pepohonan Jurug. Tertawa bersama bersyukur akan indahnya ciptaan Tuhan. Insya Allah hal ini akan terwujud.


Rencana revitalisasi Taman Gesang ini telah dijelaskan panjang lebar oleh beberapa narasumber yang hadir di acara Visit Solo Zoo itu, baik dari Dompet Dhuafa, Sasakawa Peace Foundation dan Solo Zoo sendiri. Para blogger yang hadir juga secara aktif  bertukar pikiran dengan mereka.

Untuk menutup rangkaian acara Visit Solo Zoo bersama Blogger Solo, perwakilan Sasakawa Peace Foundation bergerak untuk meninjau lebih lanjut kondisi Kebun Binatang Jurug.


Dengan berjalan kaki kami melihat kondisi kandang satwa satu persatu. Sasakawa Peace Foundation berharap bahwa Kebun Binatang Jurug ini bisa sama baiknya dengan kebun binatang di Jepang,. Berbagai binatang dapat hidup dengan layak dan masyarakat memiliki antusias tinggi untuk berkunjung ke Taman Satwa Taru Jurug ini.


4 comments on "Taman Gesang Harus Hidup Kembali"
  1. Duh, sehabis baca menjadi merasa bersalah karena sudah luama sekali tidak berkunjung kemari...

    ReplyDelete
  2. Saya belum pernah ke Solo Zoo ini, hehe.
    Waktu ke Solo dulu, gak sempat mampir kesini.
    Bukan gak sempat juga sih, tapi pada dasarnya emang gak terlalu suka ke kebun binatang, lebih suka main ke alam kayak curug gitu, hehehe :D
    Semoga gak hanya dompet dhuafa saja ya kak yang ikut andil dalam menjaga kebun binatang ini.
    Semoga banyak organisasi baik pemerintah maupun swasta yang turut andil biar terus terawat kebun binatang ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir ke sini mas. Setuju, Solo belum ada kebun binatang yang bagus. Semoga revitalisasinya bisa optimal

      Delete

You made it all the way here! Thanks for reading.
Please leave your comment below.

Auto Post Signature