Showing posts with label CAREER. Show all posts
Showing posts with label CAREER. Show all posts

Kantor Baru SPEAKING.id di 2024

1.1.24

SPEAKING id pelatihan komunikasi public speaking pengembangan diri

Lahir dari keluarga pedagang, sejak SMA kelas 2 menekuni bidang ilmu komunikasi, jadi praktisi dan pengajar, finally di 2024 akhirnya memutuskan untuk "nyemplung" sebagai entrepreneur. Wah, bener ya ternyata, 24/7 selalu mikir. nggak bisa sesantai biasanya..ha.ha.ha


Di 2018, setelah menutup usaha event organizer yang bisa dibilang hobi sejak zaman kuliah, saya mendirikan SPEAKING.id lembaga pelatihan komunikasi dan pengembangan diri. Alhamdulillah, respon dari pasar sangat bagus. Terlebih, dengan jangkauan media sosial, eksposur SPEAKING.id tidak terbatas pada geografi tertentu. Kami mendapat banyak klien di berbagai kota di Indonesia.


SARA NEYRHIZA ZAHRA NOOR ERIZA PRAKTISI KOMUNIKASI


Di tahun 2024 ini SPEAKING.id menempati gedung baru. Tepat terletak di Jalan Kapten Pattimura No. 40, Surakarta. Kantor yang lama kami fokuskan sebagai studio rekaman dam ruang pembelajaran daring.


Dengan adanya kantor baru, maka saya juga memperbarui segala sistem manajemen usaha yang ada. Meski bergerak dengan small team, saya rasa itu adalah pilihan paling bijak untuk saat ini. Mengingat, kami masih dalam tahap merintis untuk menjangkau pasar lokal dan nasional, sekaligus membuat sistem manajemen usaha yang efektif.


Sama, seperti pemilik usaha lainnya, saya mencurahkan banyak energi di SPEAKING.id. Sebagai CEO - Chief Everything Officer :) - saya masih bertanggung jawab pada banyak hal. Tim yang ada saya optimalkan berkaitan dengan aktivitas customer relation dan digital promotion. Aspek yang berkaitan dengan keuangan dan strategi masih menjadi tugas utama saya.


Ketika belajar berbisnis, saya menyadari satu hal. Apa yang saya pelajari di bangku perkuliahan saat mengambil program magister pemasaran, ternyata tidak memberikan dampak signifikan terhadap pemahaman saya tentang bisnis dan konsumen. Apa yang saya lakukan saat ini, lebih didasarkan pada learning by doing. Entah memang bangku perkuliahan masih didominasi dengan teori- teori dan pengajar yang bukan praktisi, atau memang perkembangan teknologi khususnya digital yang membutuhkan kemampuan belajar dan adaptasi yang cepat.


Menjadi entrepreneur menjadi sangat menantang. Terlebih dengan mengandalkan modal pribadi, saya paham sekali bahwa segala risiko dari usaha menjadi tanggung jawab pribadi sepenuhnya. Saya hanya ingin mencoba. Jika berhasil, maka inilah jalan hidup yang saya pilih, menjadi profesional sekaligus wirausaha. Tapi, kalau nantinya gagal, paling nggak saya sudah mencoba.


Kantor baru, semoga semangat selalu baru. 


Menemukan Potensi Diri dan Sebuah Refleksi

27.10.20

 


KOMUNITAS IBU PROFESIONAL


Sebulan sudah saya berusia 30 tahun. Rasanya baru kemarin saya berlarian di tengah lapangan atau berebut naik prosotan. Tapi kini, gantian saya yang mulai membersamai anak bermain ular tangga, atau menonton kartun kesukaan.


Bukankah waktu cepat berlalu? Tapi apakah diri kita sama dengan yang dulu? Atau sudah jauh melesat lebih tinggi, meski masih berjuang untuk meraih mimpi- mimpi yang lain?


Saya merekam podcast ini saat malam hari. Di tengah suasana yang sepi dan rintik hujan di luar rumah, disaat seperti ini saya mengingat banyak hal dalam hidup.


Kenangan membawa saya pada usia belia. Sejak balita, ibu saya begitu semangat mendukung saya menari dari satu panggung ke panggung yang lain. Saat kecil pula saya mencita-citakan menjadi seorang penari profesional. Saat itu, kegiatan inilah yang membuat saya bergairah dan berbinar.


Hingga kemudian diusia 8 tahun saya ditugaskan untuk melakukan pidato di sekolah. Pertama kalinya dalam hidup saya berbicara di depan seluruh siswa dan guru. Masih teringat jelas dikepala  bagaimana antusiasnya saya saat itu. Meski jantung begitu deg-degan dan tangan mengeluarkan keringat dingin, tapi rasanya begitu bahagia melihat audiens di depan saya. Tepuk tangan mereka seolah menyulut kobaran api semangat.


Di titik itulah saya menemukan hal lain yang membuat lonjakan energi berlipat ganda. Saya masih suka menari, tapi public speaking membuat saya lebih hidup. Saya menemukan potensi lain diri saya.


Menemukan potensi diri memang bukan hal yang mudah. Saya beruntung, bisa menemukan potensi dan passion cukup dini. Sehingga ketika memilih karir, dan menjalani kehidupan saya lebih tahu apa yang saya mau.


Baca Juga : Menemukan Passion Untuk Aktualisasi Diri


Tapi kenyataannya. Tidak jarang, seseorang salah langkah dan harus mulai dari awal lagi. Bahkan tidak jarang, ada yang sampai dewasa belum mengetahui potensi diri sendiri sehingga tidak tahu harus mulai “melangkah” dari mana.


Ketika mungkin kita merasa clueless tentang tujuan hidup, merasa tidak berprestasi, bukan berarti kita tidak memiliki potensi diri. Yang harus diyakini adalah bahwa timing setiap orang memang berbeda-beda. Bisa saja hari ini, bisa saja tahun depan, atau nanti suatu saat ketika anak sudah dewasa. Tidak ada yang terlambat.


Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk menemukan potensi diri?


1. Niatkan diri untuk menjadi lebih baik

“Semua tindakan diawali dari niat.” Kesannya klise mendengar ungkapan ini. Tapi memang dari niat inilah yang menjadi landasan buat kita menemukan potensi dan berubah menjadi lebih baik. Tidak ada kata terlambat. Tidak ada patokan usia, selagi kita meniatkan sesuatu, maka kita bisa berkembang.


2.Mengenali diri sendiri

Langkah selanjutnya yang bisa kita  lakukan untuk menemukan potensi diri adalah dengan belajar mengenali diri sendiri. Menemukan diri bukan berarti hanya menemukan potensi kekuatan saja, tetapi juga menemukan keterbatasan kita. 


Untuk dapat mengenali diri sendiri, kita bisa menggunakan konsep Jouhary Windows. Kita coba bertanya pada diri sendiri dan orang terdekat mengenai kepribadian, kelebihan dan kelemahan.

Semakin kita mengenali siapa diri kita, pada akhirnya kita juga akan semakin mengerti apa potensi yang dimiliki.


3. Menentukan tujuan

Hidup tanpa tujuan? Hati- hati bisa tersesat.

Sepertinya mustahil bagi seseorang untuk menjalani kehidupan tanpa tujuan. Sebuah tujuan akan menentukan ke arah mana kita akan berjalan. 

Tujuan yang kita tetapkan bukan sekedar tujuan besar dan umum seperti “Ingin menjadi orang sukses” ingin masuk surga, ingin jadi orang kaya" atau sejenisnya. Tapi juga tujuan-tujuan kecil yang nantinya juga akan membantu kamu memncapai tujuan besar dalam hidup.


4. Mulai dari hal kecil

Ada sebuah kisah menarik.


Seorang pembuat jam berkata pada jam yang dibuatnya.  "Hai jam, apa kamu sanggup berdetik paling tidak 31.104.000 kali selama setahun?"

" Haa....mana saya sanggup?" kata jam terperanjat.

" Bagaimana kalau 86.400 kali dalam sehari? tanya si pembuat jam lagi.

" 86.400 kali? Dengan jarum yang ramping seperti ini?"jawab jam penuh dengan  keraguan.

" Bagaimana kaalu 3600 kali dalam 1 jam?" tanya si pembuat jam kemudian.

" Dalam 1 jam harus berdetik 3600 kali? banyak sekali itu. Jam masih merasa ragu dengan kemampuannya.

Dengan penuh kesabaran tukang jam berkata lagi pada si jam "Kalau begitu sanggupkah kamu berdetik satu kali setiap detik?"

" Oh, kalau begitu aku sanggup!" kata jam penuh dengan semangat.

Maka setelah selesai dibuat, jam itu berdetik satu kali setiap detik.

Dan tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu,dan sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh jam itu telah berdetik tanpa henti. Dan tanpa disadarinya dia telah berdetik sebanyak 31.104.000 kali.

(kisah dikutip dari sini : https://sites.google.com/site/blognanonano/home/coretan-kisah/kisah-seorang-pembuat-jam)


Ada kalanya kita ragu dalam melakukan sesuatu. Dan merasa hal tersebut terlalu berat. Tapi ternyata setelah kita mencoba, kita bisa melakukannya. Meskipun perlahan, tapi jangan berhenti mencoba dan berusaha. Di sinilah kita membuktikan, bahwa kita dapat melakukan lebih dari yang kita pikirkan.


Proses menemukan dan mengembangkan potensi memang tidak mudah. Kadang kita merasa gagal, adakalanya kita lelah atau mungkin membandingkan dengan kemampuan orang lain. Hal ini wajar. Tapi jangan membuatmu berhenti. Tetap lakukan apa yang sudah kamu mulai walau terasa berat.


Jika merasa kita menemukan kelemahan dari dalam diri. Tenang, hidup ini ekuilibrium/ keseimbangan. Jika kita punya kelemahan pasti ada kelebihan yg juga kita miliki.


Jangan bosan untuk selalu belajar. Cari semangat dari orang- orang yang menyukai hal yang sama dengan kita. Masuk dalam komunitas, berbagi ilmu melalui video, kulwap atau webinar, livestreaming mungkin. Berbagi ilmu dan pengetahuan sedikit yang kita mampu, sebagai bagian dari proses belajar.


Lambat laun kita akan menemukan hal yang kita bisa dan sukai, hal yang kita sukai dan senang melakukannya. Lalu kemudian hal tersebut bisa membawa pada karir yang baik, pencapaian tertentu dan pastinya membuat kita bahagia. Kita menyebutnya dengan passion.


Ada satu kutipan Ali bin Abi Tholib yang saya pegang "Yakin ada sesuatu yang menantimu, setelah banyak kesabaran yang kau jalani. Yang akan membuatmu lupa betapa pedihnya rasa sakit".


***


Naskah podcast ini saya sampaikan dalam salah satu materi orientasi Komunitas Ibu Profesional.

Juga bisa didengarkan dengan klik tombol play di bawah ini.



See you on the next blogpost.








Thank you, 

Keterampilan yang Wajib Dimiliki Millennial di Era Industri 4.0

2.7.20
SARA NEYRHIZA


Industri 4.0 yang serba digital membuka banyak peluang sekaligus tantangan. Kemajuan teknologi, bukan hanya mempermudah kebutuhan manusia, tapi juga menjadi ancaman. Lihat saja, sekarang banyak pekerjaan yang terotomatisasi dengan sistem digital dan robot.

Kalau dulu, mau buka rekening di bank, kita harus bertemu dengan customer service dan datang langsung ke kantor cabang. Tapi sekarang, semua bisa tersolusikan hanya dengan aplikasi di smartphone. Ini hanya satu contoh profesi yang lambat laun mulai tergantikan dengan kemudahan sistem komunikasi dan informasi.

Bidang pekerjaan sepert travel agent misalnya, juga mulai surut dengan adanya online travel agent. Yang bisa menyelesaikan kebutuhan pemesanan transportasi, akomodasi, sampai pilihan tempat wisata dalam hanya beberapa langkah akses aplikasi. Pembayar juga bisa dilakukan otomatis dengan mobile banking yang juga tersemat di gawai.

Melihat hal ini, bukan tidak mungkin bahwa di masa depan makin banyak profesi dan pekerjaan yang tergeser oleh kecanggihan digital. Maka, mau tidak mau manusia sebagai sumber daya yang terbarukan, harus mau selalu belajar dan meningkatkan kompetensinya.

Keterampilan Wajib di Era Industri 4.0


Bicara mengenai kebutuhan di masa depan, apa saja sebenarnya skills yang dibutuhkan para millenial dan  pekerja profesional untuk menjawab tantangan industri 4.0?

1. Problem Solving


Untuk dapat memiliki kecapakan dalam memecahkan masalah, seseorang harus mampu memiliki kemampuan berpikir kritis (critical thinking) dan berpikir kreatif (creative mind). Melihat permasalahan tidak sekedar menjadi kendala, namun tantangan untuk meningkatkan kemampuan diri.

Masalah yang hadir juga harus ditelaah baik- baik. Di sinilah kemampuan berpikir kritis dibutuhkan. melihat masalah dari berbagai sudut pandang, tekun melaukan riset dan observasi, serta berpikiran terbuka untuk menemukan solusi.

Untuk terbiasa berpikir kritis, maka kemampuan literasi menjadi faktor terpenting. Rajin membaca, menggali pengetahuan baru, serta tidak malas untuk mencoba keterampilan yang belum dikuasai sebelumnya.

2. Ability to Compromising


Kemapuan untuk berkompromi adalah skills yang perlu dimiliki di era kolaborasi saat ini. Kesadaran bahwa manusia tidak bisa hidup dan bekerja sendirian, menuntut untuk bisa bekerja sama dan bertukar pikiran dengan orang lain. Dengan memiliki kemampuan kompromi dan kolaborasi, seseorang akan terbuka dengan berbagai kesempatan baru. Ia tidak akan sibuk dengan dunianya sendiri.

3. Networking dan Communication Skills


Kemajuan teknologi juga membuka banyak akses untuk bertemu dengan orang baru di luar circle yang kita miliki. Seseorang perlu mempeluas jaringan pertemanan dan profesionalnya untuk bisa meningkatkan karir dan pencapaian hidupnya.

Untuk bisa bersosialisasi dengan baik, maka keterampilan komunikasi wajib untuk dimiliki. Keterampilan komunikasi bukan hanya sebatas kemampuan berbicara, public speaking atau kemampuan menulis. Namun yang tidak kalah penting adalah kemampuan berkomunikasi lintas budaya dengan menggunakan bahsa asing.

Bahasa Inggris adalah salah satu bahasa asing yang sudah wajar untuk dikuasai. Kemampuan bahasa asing yang mumpuni, akan membuka akses pada pergaulan Internasional. Paling tidak, kita tidak memiliki kendala bahasa jika harus melakukan interaksi dengan orang lain berbeda budaya dan kebangsaan, karena bahasa Inggris adalah bahasa Internasional.


Belajar Bahasa Inggris di The British Institute 


Mempelajari bahasa Inggris bisa dilakukan siapa saja, artinya tidak ada batasan usia. Salah satu lembaga pelatihan bahasa Inggris yang teruji kualitasnya selama lebih dari 36 tahun adalah The British Institute, yang tersertifikasi oleh the University of Cambridge English, untuk menjalankan kursus pelatihan CELTA (Certificates in Teaching English to Speakers of Other Languages).

Selain mengikuti perkembangan terbaru dalam pelatihan guru dan metodologi pengajarannya, The British Institute memiliki beberapa pilihan sistem pembelajaran seperti Classroom, Online dan Blended Learning.

Pilihan kelas yang ditawarkan juga sangat variatif, sehingga bisa disesuaikan dengan kebutuhan, antara lain :

Children
Pre Teen
Teen
Global English
Exam Preparation for TOEFL or IELTS test
Recruitment and Job promotion test
Workshop
In House Training
Private Class
Blended Learning
Online Learning
CELTA
Teacher Training


Jika kamu ingin belajar dan meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris, maka The British Institute yang berlokasi di Gading Walk – Mall Kelapa Gading, bisa jadi pilihan. Lokasinya yang strategis sangat mudah diakses dengan LRT Jabodetabek, dengan stasiun Mall Kelapa Gading. Karena lokasinya di mall, maka akan mudah jika ingin mencari makanan dan hiburan setelah kelas usai.

Menyenangkan pastinya belajar bahsa Inggris di The British Institute, karena adanya fleksibilitas dalam sistem belajar. Jadwal kelas yang bervariasi dan dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan karena The British Institute  memiliki kelas mulai dari Senin sampai dengan Sabtu mulai pukul 10 pagi sampai pukul 8 malam.

Oiya, sekarang belajar di The British Institute bisa kapan saja dan di mana saja, karena tersedia kelas online juga. Pastinya didukung tenaga pengajar baik asing maupun lokal yang berpengalaman dan memiliki standard kualifikasi serta sertifikasi internasional.

Kebetulan saya juga berkesempatan mengikuti kelas online ini. Acara ini dikoordinasi oleh Komunitas Indonesian Social Blogpreneur dan memberi kesempatan beberapa blogger untuk meningkatkan keterampilan menulisnya dalam bahasa Inggris. Walau tidak bisa bisa full mengikuti 6 jam pertemuan, namun kelas yang saya ikuti sangat menyenangkan dan interaktif dengan platform Zoom. Pengajar memandu peserta untuk mengerjakan soal- soal yang disediakan setelah diberikan materi pembelajaran. Kelas ini saya rekomendasikan buat kamu yang ingin belajar di rumah, tapi tetap ingin fokus belajar.


BELAJAR BAHASA INGGRIS DI TBI
Sesi belajar online bersama Ms. Andrea dari The British Institute


Nah, selanjutnya kalau kamu  ingin tanya lebih jauh mengenai program dan biaya belajar bahasa Inggris di The British Institute bisa menghubungi informasi di bawah ini :

Info : 0812 1212 6112 / 021 – 4587 5400/87
Email : satya.hindarto@tbi.co.id
Website : www.tbi.co.id
Instagram : tbikelapagading

Facebook: TBI Kelapa Gadin
Apakah saat ini kamu sudah memiliki keterampilan problem solving, ability to be compromising, networking dan communication? Kalau belum, yuk segera asah agar kamu bisa bersaing dan sukses di era industri 4.0.


See you on the next blogpost.








Thank you, 



Apa itu Work From Home? Ini Kelebihan dan Kekurangannya

6.4.20

Lebih banyak untungnya apa ruginya sih Work From Home itu?

Sejak ada himbauan terkait physical distancing, untuk mengurangi penyebaran vidur COVID 19, istilah work from home (WFH) mulai sering didenger. Sebenarnya istilah ini sudah ada jauh- jauh hari. Cuma, mungkin kini makin sering kita menggunakannya.

Beberapa perusahaan memang mengizinkan karyawan untuk kerja dari rumah. Bekerja secara remote sering kali dianggap lebih efektif sekaligus mampu meningkatkan produktivitas pekerja. Di sisi lain, karyawan lebih leluasa dalam mengatur work life balancenya. Nggak melulu ngurusin kerja tapi juga keluarga.

Work from home, bukan hal baru buat saya. Beberapa pekerjaan saya sebagai voice over talent dan dubber nyatanya memang dilakukan di rumah. Yang bikin beda, WFH kali ini karena totally at home, nggak bisa keluar rumah. Jadi pressurenya jelas beda. Apalagi anak ikutan di rumah 24/7, jelas menantang untuk urusan manajemen waktu dan emosi.

Baca Juga : Sudahkah Menemukan Passionmu?


Ngomongin soal tantangan WFH, emang sih semua itu ada plus dan minusnya. So, di episode Podcast The Late Brunch with Sara Neyrhiza  kali ini, saya pengen ngomongin untung ruginya WFH sekaligus memberi tips bagaimana tetap produktif kala bekerja di rumah. Minimal sih, tetep rajin bangun pagi dan nggak rebahan sepanjang waktu.

Buat kamu yang menikmati WFH juga, yuk ceritain aktivitas kamu selama #dirumahaja

Kalau kamu mau dengerin The Late Brunch with Sara Neyrhiza episode "Untung Rugi Work From Home" silakan klik tombol play di bawah ini.




See you on the next blogpost.







Thank you, 



Mengatasi Mitos dan Ketakutan Berbicara di Depan Umum

14.11.18
BERANI BERBICARA DI DEOAN UMUM


Berbicara di depan umum apakah susah?

Susah!
Menurut saya.

Kesulitan terbesar terletak bagaimana menyampaikan pesan yang ber"value", serta membuat audience memahami nilai tersebut.

Mungkin kita sudah terbiasa berbicara di depan banyak audience, seperti saat presentasi tugas di perkuliahan. Namun, bukan berarti pengalaman tersebut menjadikan kita sebagai public speaker yang baik. Itu belum cukup.

Goal dari seorang public speaker tidak hanya sebatas memberikan informasi ke audience, atau menjelaskan pemikiran dihadapan orang banyak. Namun, public speaker harus mampu meninggalkan kesan dan nilai melalui kata-kata yang mereka sampaikan untuk  mengubah emosi audience, mengubah sikap hingga mengajak mereka untuk bertindak sesuatu.

Seni Mempengaruhi Melalui Kata-kata

Retorika atau seni berbicara sebenarnya bukan hal yang baru kok. Kalau kita melihat sejarah, retorika yang masuk dalam ilmu bahasa (linguistik) ini, bertujuan membantu dalam mempersuasi atau membujuk orang lain.

Retorika adalah komunikasi dua arah (face to face) dengan satu atau lebih orang. 
Retorika diartikan sebagai seni membangun argumentasi dan seni berbicara “the art of constructing arguments and speech making”.

Retorika ini bisa menjadi dasar keilmuan ketika seseorang belajar menjadi public speaker. Aristoles seorang filsuf Yunani, memberika tiga rules dasar dalam mempersuasi orang lain.

1. Ethos (Kredibilitas)


Hal pertama sebelum sesorang public speaker menyampaikan pemikiran dihadapan audience, dia harus memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup terhadap topik tersebut. Jadi jangan sampai, bicara omdo alias "omong doang", sementara kita tidak paham apa yang dibicarakan. Bagaimana mempengaruhi orang lain, jika kita sendiri tidak mengerti?

2. Logos (Logika)


Agar pesan dapat diterima dengan baik oleh audience, pastikan pesan tersebut dapat diterima oleh nalar atau logika. Berikan bukti-bukti konkret, agar pesan mudah dipahami dan kemudian diyakini kebenarannya oleh audience.

3. Pathos (Emosi)


Agar audience selalu perhatian dan menerima persuasi tersebut, seorang public speaker harus mempu membangun ikatan emosi dengan audiencenya. Jangan buat jarak terlalu jauh dengan audience, seolah-olah audience sebagai pihak penerima yang tidak mengerti apa-apa. Buat audience terlibat, jalin interaksi, dan tanyakan apa yang mereka butuhkan.

TIPS PERCAYA DIRI BERBICARA DI DEPAN UMUM

Mengatasi Ketakutan dalam Public Speaking


Tidak bisa dipungkiri bahwa public speaking menjadi momok bagi sebagian orang. 
Mengkomunikasikan pikiran saja sudah sulit, masih harus mempengaruhi orang lain.

Ada empat hal dasar yang bisa dipelajari untuk menjadi public speaker yang baik. Saya sudah pernah menuliskannya di sini.

Meski demikian, banyak mitos yang masih juga dipercaya banyak orang terkait ketrampilan berbicara. 

1. Pembicara yang baik itu bakat dari lahir.


Memang beberapa orang dapat berbicara dengan mudah di depan khalayak. Sama seperti sesorang memiliki bakat menggambar, atau menyanyi tanpa harus bersusah payah.

Tetapi sebagian besar public speaker yang handal, memiliki kemampuan yang mumpuni karena sering berlatih. Jam terbang yang menguji kemampuan mereka. Bukan hanya sekedar pasrah terhadap bakat dari lahir. Practice and practice.

2. Takut berbicara di depan umum adalah hal negatif.


Apakah saya masih grogi ketika bicara di depan mahasiswa atau mengisi seminar? Jawabannya, IYA. Sampai detik ini jantung saya masih deg-degan, tangan menjadi dingin dan nafas lebih cepat jika saya akan naik panggung.

Dan itu sangat NORMAL.

Terlebih jika audience adalah sosok yang dianggap lebih tinggi secara status sosial atau kemampuan intelektual.

Tetapi jangan jadikan hal tersebut menjadi alasan. Seorang public speaker yang baik harus dapat mengubah kondisi "deg-degan" tersebut menjadi lecutan untuk tampil lebih fokus dan prima. Beberapa psycologist menjelaskan, ketakutan yang dirasakan seseorang dapat membantu meningkatkan perhatian dan konsentrasi, mempertajam pikiran dan meningkatkan energi.

Jadikan ketakutan itu sebagai stimulus untuk tampil dengan lebih baik.

Baca Juga : Temukan Passionmu dengan Cara Ini!


Ketakutan saat berbicara di depan umum seharusnya tidak menjadi kendala, khususnya bagi seorang profesional. 

Ada enam hal yang bisa dipraktikkan untuk melawan ketakutan ketika berbicara di depan umum.

1. Berdoa


2. Deep Breathing


Rasa takut yang berlebih kadang mengakibatkan reaksi fisik yang tidak terkontrol, seperti berkeringat, jantung berdetak lebih kencang atau mungkin rasa mules yang datang tiba-tiba. Cobalah kontrol reaksi tersebut dengan duduk sejenak dan tarik nafas dalam-dalam kemudian hembuskan perlahan. Kuasai emosi dan tubuhmu untuk dapat bertindak dengan normal.


3. Mengubah fokus


Kebanyakan orang berusaha fokus pada penampilan luar, sepeti cara berbicara, baju yang dipakai, gestur ketika berbicara, hal yang memalukan yang mungkin terjadi dan sebagainya. Cobalah untuk fokus pada pesan yang ingin disampaikan ke audience. Alihkan pikiran  dari how we feel and look to the message we want to share with our audience.

4. Visualizing


Visualization atau mental rehearsal sering digunakan oleh para atlet sebagai latihan sebelum mereka bertanding. Hal ini juga dapat dipraktikkan oleh public speaker untuk meningkatkan performa mereka. 

Cobalah beberapa hari sebelum jadwal tampil, alokasikan 10-15 menit untuk bersantai sambil menutup mata dan membayangkan ruangan tempatmu akan tampil, audience di auditorium, bayangkan juga dirimu sedang tampil penuh percaya diri, tersenyum dan tampil dengan baik di atas panggung.

Bayangkan hal-hal positif yang mempu memperkuat rasa percaya dirimu.

5. Afirmasi positif untuk diri sendiri


Daripada berpikiran tentang mind going blank atau audience getting bored, cobalah untuk berikan sugesti positif ke diri sendiri seperti "Aku pakar kok di topik ini. Aku pasti bisa" "Aku sudah mempersiapkan dengan baik, semua akan berjalan lancar". 

Berpikir hal positif akan membuatmu lebih siap ketika pada akhirnya akan terjadi kesalahan pada saat tampil.

6. Bangun informasi yang jelas


Stop berpikir untuk memberikan banyak informasi penting bagi audience, sehingga membuat kepala penuh dengan hal-hal kompleks terkait materi. Buat informasi menjadi lebih sederhana dan jelas. Sampaikan poin-poin yang penting sehingga pesan lebih efektif di terima audience.



Buat saya pribadi, pengalaman berbicara di depan umum selalu menjadi pembelajaran untuk tampil dikesempatan selanjutnya. Ketika selesai tampil, saya selalu berusaha mengevaluasi apa saja yang harus diperbaiki. Jangan pernah bosan belajar dan berlatih karena situasi tidak pernah sama. Baik keilmuan, setting tempat hingga audience yang dihadapi. 

Ketakutan pasti dirasakan. Tapi jadikan booster untuk tampil dengan optimal. Bayangkan semangat audience yang membayar dan datang "hanya" untuk melihat penampilanmu. Jangan lupa untuk selalu percaya diri akan kemampuan yang kamu miliki.

How well people perceive you and the conclusion that they make about your professionalism and character will be largely influenced by your confidence when presenting yourself.


Seminar Dare to Speak Well in Public and Relation
Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammdiyah Surakarta
3 November 2018


BLOGGER KOTA SOLO SARA NEYRHIZA

Referensi : 

Dan Nimmo, Komunikasi Politik: Komunikator, Pesan, dan Media. 1989. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Morissan dan Andy Corry, Teori Komunikasi: Komunikator, Pesan, Percakapan, dan Hubungan . 2009. Bogor: Ghalia Indonesia


Let's be friends!


Instagram | Facebook | Twitter

See you on the next blogpost.





Thank you,


Yang Muda Yang Berdaya. Sekarang Giliranmu!

26.10.18
INDONESIA BERDAYA DOMPET DHUAFA

Minggu lalu, saya berdiskusi dengan mahasiswa di kelas mengenai tingkat turn over yang tinggi dikalangan karyawan milenial. Seperti yang kita tahu, bahwa generasi Y atau para milenial kelahiran tahun 80 hingga 90an awal  memang saat ini cukup mendominasi lapangan pekerjaan.

Berdasarkan data BPS di tahun 2016, dari total jumlah angkatan kerja di Indonesia yang mencapai 160 juta, hampir 40% di antaranya tergolong millennials yakni sebesar 62,5 juta.

Generasi ini dikenal sebagai generasi yang cakap dalam menggunakan teknologi. Mereka juga memiliki kreativitas yang tinggi, dan cepat belajar.

Meski demikian, generasi milenial dianggap gemar berpindah tempat kerja. Salah satu hal yang perlu dikritisi dari para milenial ini adalah semangat juang mereka yang cukup rendah. Cenderung mudah menyerah. Jika ada ketidak nyamanan terjadi di tempat kerja, mereka akan lebih memilih untuk out daripada menghadapinya.

Tentu saja hal ini akan mempengaruhi pilihan-pilihan profesi yang disenangi para milenial. Pekerjaan yang banyak memiliki tantangan seperti petani misalnya, akan sangat jarang dilirik oleh mereka.


Buat Apa Jadi Petani?

Pertanyaan ini juga terbersit dibenak saya. Apa enaknya kembali ke desa dan mengolah lahan? Sementara segala kemudahan dan kenyamanan hidup bisa ditemukan dengan hidup diperkotaan.

Saya dan kebanyakan masyarakat lupa, bahwa pertanian merupakan sektor primer dalam perekonomian Indonesia. Pertanian juga memiliki peran nyata dalam menyumbang devisa negara melalui ekspor.

Namun ternyata minat para pemuda untuk menjadi petani sangatlah rendah. Sosiolog pedesaan asal Belanda Prof. Ben White, Ph.D, Guru Besar emeritus dari Institutes of Social Studies, Denhaag,  telah melakukan penelitian dari tahun 70an yang menyebutkan bahwa masa depan pertanian semakin terancam dengan berkurangnya minat pemuda untuk menjadi petani. Apalagi dalam pendidikan di sekolah para remaja tidak diajarkan untuk jadi petani, (sumber: ugm.ac.id).

Ini pula kenyataan yang ada di sekitar kita. Semakin sedikit pemuda yang ingin bekerja di desa sebagai petani.

Mungkin saatnya kita bisa belajar dari Agung Kharisma, seorang Sarjana Pendidikan Pertanian berusia 27 tahun. Jika kebanyakan pemuda merantau ke kota, dia justru mengabdi di desa untuk mengedukasi para petani. Agung mengajak masyarakat desa untuk kembali bertani, memberdayakan lahan yang ada, dan mengelola para petani menjadi satu kelompok tani yang solid dan produktif.

Pemuda ini berhasil meyakinkan para penduduk lokal tentang kekayaan dan potensi yang ada di kampungnya sendiri. Agung juga  mengubah mindset petani setempat bahwa di kampung sendiri mereka bisa berdaya dan mandiri secara ekonomi. 

Hebatnya lagi, Agung tidak hanya membimbing soal teknik mengolah lahan. Ia pun sedikit demi sedikit menanamkan nilai-nilai kerja keras, mengubah kebiasaan para petani, memotivasi, bahkan mendampingi para petani agar tetap terjaga kerjanya dengan bingkai keislaman yang kuat seperti shalat dan mengaji.

Baca Juga : Taman Gesang, Riwayatmu Kini


Indonesia Berdaya Dompet Dhuafa

Agung merupakan mitra dari Dompet Dhuafa.  Dompet Dhuafa melalui program Indonesia Berdaya (IB) berusaha membangun masyarakat produktif di Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Subang, Jawa Barat. Program yang sudah berjalan sekitar tiga tahun ini merupakan upaya Dompet Dhuafa untuk memberdayakan masyarakat di sektor perekonomian.

Indonesia Berdaya mengembangkan program dengan membeli lahan 10 hektare di kawasan Cirangkong, Subang, yang dijadikan Kluster Pertanian dan akan digarap oleh masyarakat setempat.
Tentu saja ini menjadi bukti nyata peran Dompet Dhuafa dalam memberdayakan dan mengangkat potensi lokal daerah. Pembelian lahan ini paling tidak memiliki dua dampak positif.  Pertama adalah menyelamatkan lahan produktif dari tangan asing dan yang kedua adalah memberdayakan masyarakat sekitar melalui pemanfaatan lahan tersebut.

Hasil dari program Indonesia Berdaya ini sangat baik. buah-buahan hasil Kluster Indonesia Berdaya sudah dapat dipasarkan hingga ke berbagai kota. Hasil penjualannya menjadi sumber pendapatan bagi para petani lokal hingga mereka bisa berdaya di kampungnya sendiri.

Saatnya Pemuda Berdaya

Saat ini kita tidak lagi perlu mengangkat senjata untuk berjuang. Namun, pemuda Indonesia dapat berjuang menjaga kemerdekaan dengan membangun bangsa ini menjadi lebih baik.

Jika selama ini kita terlalu sibuk dengan urusan pribadi, maka sekarang saatnya kita berdaya untuk membangun masyarakat dan lingkungan sekitar. Kita dapat lebih kritis melihat berbagai permasalahan sosial. Berbekal ilmu pengetahuan pemuda hadir dengan membawa solusi.

Siapa lagi yang berdaya, jika bukan kita. Generasi milenial atau setelahnya pasti akan mendapat dukungan teknologi yang lebih mutakhir. Maka, tidak ada alasan untuk tidak bergerak maju. Bersama berdaya membangun Indonesia, dimulai dari sekitar kita.

Selamat Hari Sumpah Pemuda. Yang Muda Yang Berdaya.


Referensi :
http://www.dompetdhuafa.org/post/detail/385/buka-lahan-untuk-berdayakan-masyarakat-dan-potensi-lokal
http://marketeers.com/karyawan-milenial-yang-loyal/



Let's be friends!

Instagram | Facebook | Twitter

See you on the next blogpost.





Thank you,

Menemukan Passion untuk Aktualisasi Diri

14.5.18
CONTENT CREATOR JAWA TENGAH

Kalau jadi ibu, berarti cuma masak dan ngurusi anak saja ya tugasnya?

Wah, kalau memang seperti itu takdir seorang wanita yang telah menjadi ibu, pasti sangat membosankan sekali hidupnya. Menjadi ibu bukan berarti hidup kita menjadi terbatas. Justru, wanita harus lebih menggali potensinya. Semakin dia berilmu, semakin baik dia dalam mendidik anaknya.

Bukankah madrasah pertama seorang anak adalah ibunya?

Jadi, penting disadari setiap wanita bahwa menjadi ibu tidak membatasinya dalam mengaktulisasikan diri. Dia tetap dapat meningkatkan potensi dirinya melalui perannya sebagai individu, istri dan ibu dan terus mengembangkan passionnya.

Mengenal Apa itu Passion


Kamis, 3 Mei 2018 saya mengundang Komunitas Ibu Profesional Solo Raya. di program talkshow dengan segmen bernama Inspirasi Pagi. Kebetulan ada Mbak Wahyu Mardhatillah selaku Ketua IP Solo Raya,  Mbak Ririm Windiari, Manager Sejuta Cinta IP Solo Raya dan Mbak Deasy, Humas IP Solo Raya. Topik yang kami bahas di episode kali ini adalah Upgrade Diri Melalui Peran dan Passion.


Baca Juga : Insiprasi Pagi, Talkshow Terbaik KPID Jateng Award 2018


Di awal, Mbak Wahyu menjelaskan pentingnya setiap wanita memahami perannya hadir di dunia. Sehingga, dia mengetahui bagaimana caranya untuk hidup dan bermanfaat bukan hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga orang lain.

Bagi saya pribadi, memahami peran hidup sangatlah penting. Terutama, ketika memutuskan mengambil tiga peran sekaligus baik di ranah domestik, publik dan sosial. Ketika saya memahami peran saya, saya menjadi mengerti bagaimana cara mengatur prioritas agar hidup lebih seimbang.

Apakah sulit?

Tentu saja sulit dan saya masih harus belajar banyak. Terutama dalam manajemen waktu dan emosi.

Dalam menjalankan peran tersebut, kita akan menemukan apa yang menjadi passion kita. Ketiga narasumber saya menjelaskan menurut Abah Rama atau Rama Royani, penemu Talent Mapping bahwa setiap orang harus mampu memetakan bakatnya. Ada dua sumber bakat yang dimiliki manusia yakni panca indra dan sifat. 

Selama ini, mungkin kita memahami bahwa bakat sering berkaitan dengan aktivitas panca indra seperti memasak, menjahit, berolah raga, menyanyi dan lain sebagainya. Namun, ternyata sifat-sifat positif manusia seperti suka memimpin, teliti, disiplin, dan lain sebagainya juga merupakan bakat manusia.

Kembali Mbak Wahyu menjelaskan bahwa, bakat menjadi potensi kekuatan. Dan kekuatan bisa muncul jika memenuhi 4E yakni Enjoy, Easy, Excellent, dan Earn.

Enjoy : Jika kita merasa nyaman dan menikmati melakukan suatu aktivitas.

Easy : Jika aktivitas yang kita lakukan tersebut terasa mudah sehingga menyenangkan ketika dilakukan

Excellent : Jika kita dapat melakukan secara optimal, berkinerja baik ketika melakukan aktivitas tersebut.

Earn : Jika aktivitas tersebut dapat menghasilkan sesuatu, entah itu karya, uang, prestasi dan sebagainya.

Menemukan Passion untuk Aktualisasi Diri


Ketika belajar di Kelas Matrikulasi Ibu Profesional saya juga melakukan talent mapping ini dengan mengakses website www.temubakat.com milik Abah Rama. Pada website tersebut saya menjawab berbagai pertanyaan dengan cepat dan apa adanya. 

Hasil dari Talent Mapping Test yang saya lakukan tersebut, membuat saya lebih mengenal siapa diri saya. Hasil yang keluar, tidak jauh dengan apa yang saya rasakan. Begitu pula ketika saya konfirmasi dengan keluarga , mereka mengatakan bahwa itulah sosok saya di mata orang lain.


Saya juga menggunakan website ini  untuk menganalisa kepribadian saya. Dan hasilnya juga sama. Commander adalah sifat yang menjadi bakat saya. Saya suka menjadi leader dan memastikan semua berjalan sesuai rencana dan target. Terkadang saya harus mengabaikan perasaan orang lain, untuk mencari suatu kebenaran dan mencapai tujuan bersama.

Selain itu, saya melihat bahwa creator juga menjadi bakat saya. Tentu saja, blogging salah satu contoh aktivitasnya.

Aktivitas ngeblog ini juga menjadi hal yang selalu membuat saya enjoy dan senang ketika melakukannya. Dan ketika blog ini dapat menghasilkan, saya anggap itu sebagai bonus akan keseriusan menjalani passion yang dicintai. 

Ketika seseorang sudah menemukana passionnya, dia akan mudah mengaktualisasikan diri. 

Aktualisasi diri (self actualization) adalah  kebutuhan dan pencapaian tertinggi seorang manusia. Ketepatan seseorang di dalam menempatkan dirinya sesuai dengan kemampuan yang ada di dalam dirinya. Abraham Maslow -Hierarchy of Needs
Jujur terhadap diri sendiri, memahami passion yang dimiliki membuat saya lebih percaya diri untuk memaksimalkan kekuatan. Setiap orang memiliki kelemahan, namun ketika kita hanya sibuk mengeluhkan kekurangan, kita tidak dapat menghasilkan apapun. Setelahnya, hidup kita menjadi sia-sia.


Nah, saya jadi penasaran, kira-kira apakah kamu sudah memetakan bakat yang kamu miliki? Passion apa yang membuatmu menikmati hidup?

Yuk, share di kolom komentar.


Catatan Siaran Sara Neyrhiza di segmen Inspirasi Pagi, Program Gesma Kirana bersama Komunitas Ibu Profesional Solo Raya

Kamis,  3 Mei 2018

Pukul 09.00- 10.00 WIB

97.6 GESMA FM 




Tips Menjaga Produktivitas Kerja

30.4.18
Masih dalam rangka memperingati Hari Kartini 2018, saya ingin mengangkat topik terkait peran perempuan di ranah publik. Perempuan sekarang tidak lagi melulu urusan "masak, macak, manak". Meski mencintai dan merawat keluarga adalah hal utama, tetapi perempuan juga layak mengaktualisasikan dirinya. Saya pribadi merasa, bahwa cita-cita yang dibangun sejak kecil janganlah terpendam dan tenggelam karena status istri atau menjadi seorang ibu. Perempuan tetaplah harus memiliki ruang-ruang kreativitas dan produktif menghasilkan sesuatu.


#SKYTALK ini merangkum program acara talkshow radio yang saya lakukan setiap hari Kamis di Radio Gesma FM. Program bertajuk Inspirasi Pagi kai ini sengaja mengundang sosok perempuan yang aktif di ranah publik bernama Paramita Sari Indah Widarini, Public Relation Manager Syariah Hotel Solo.

Kawan saya ketika duduk di bangku kuliah ini memang sedang fokus menggeluti karirnya. Melepas statusnya sebagi jurnalis, dan berkecimpung di dunia kehumasan membawa dirinya menemukan hal-hal baru yang lebih menantang.

Dalam obrolan selama 60 menit di "udara", saya mencoba menggali bagaimana Mbak Mita ini menjaga produktivitasnya dalam bekerja.

1. Terus Belajar


Jangan pernah malas untuk belajar dan mencoba hal baru. Terlebih bekerja di industri dengan persaingan yang ketat, menuntut untuk selalu berinovasi dalam meraih ceruk konsumen yang besar. Mbak Mita juga menjelaskan bahwa kemajuan teknologi juga harus diikuti oleh kemajuan sumber daya manusia. Tidak ada kata sulit, yang ada hanyalah rasa malas yang menghantui. Maka jika ingin menjadi lebih baik, belajar adalah kuncinya.

2. Manajemen Emosi yang Baik


Bertemu dengan banyak orang, menuntut diri untuk pandai memanajemen emosi. Meski hati sedang galau, tetapi jika harus bertugas, perasaan harus dinomer duakan. Digantikan dengan profesionalitas.

3. Menjaga Diri dengan Baik


Jika perempuan sudah meniatkan diri untuk berkarir di ranah publik, ia harus siap bersosialissi dengan siapapun, entah itu perempuan maupun laki-laki. Kita tidak bisa menjamin bahwa setiap orang memiliki hati yang bersih. Disitulah perempaun wajib menjaga dirinya. jangan sampai karena dalih pekerjaan, batas-batas pergaulan yang sehat dan berakhlak menjadi tersamarkan.

4. Manajemen Waktu


Selain berkarya di ranah publik, ranah domestik tidak akan pernah lepas dari tanggung jawab perempuan. Artinya, jika sibuk bekerja diluar, perempuan tetap harus memiliki waktu untuk berkumpul bersama keluarga. ManAjemen waktu yang baik akan membuat kehidupan menjadi seimbang. Mana yang cari uang, mana yang pernuh kebersamaan dengan keluarga, mana yang bersenang-senang dengan teman, semua haruslah selaras.

Menutup talkshow tanggal 19 Mei 2018 kemarin, saya dan Mbak Mita sepakat, bahwa untuk terus menjaga produktivitas perempuan di ranah publik, kita perlu menjaga keseimbangan dalam berbagai ranah kehidupan k. Baik itu pribadi, sosial maupun profesional. Semuanya saling berhubungan dan tidak bisa terpisahkan.

Maka, untuk para kartini masa kini, sudah seharusnya untuk terus bergerak dan berkarya. Jangan jadikan pekerjaan rumah tangga menjadi penghambat. Gunakan waktu-waktu luang yang kita miliki untuk menghasilkan sesuatu yang berharga untuk masa depan dan untuk warisan.



Catatan Siaran Sara Neyrhiza di segmen Inspirasi Pagi, Program Gesma Kirana

Kamis, 19 April 2018

Pukul 09.00- 10.00 WIB

97.6 GESMA FM 


Baca Juga : #SKYTALK Episode 1 Cara Mendapatkan Uang dari Blog


Baca Juga : #SKYTALK Episode 2 Tips Menjadi Guru Masa Kini


Baca Juga : #SKYTALK Episode 3 Promosi Efektif Melalui Instagram


Baca Juga : #SKYTALK Episode 4 Cari Tahu Perbedaan Pikun, Demensia dan Alzheimer


Guru Masa Kini, yang Seperti Apa?

2.4.18
Teknologi semakin maju, murid yang lebih pintar dan guru yang harus lebih kretif menjadi tantangan saat ini bagi dunia pendidikan. Inilah sebuah gambaran ketika, saya berdiskusi di udara bersama Mbah Heni Surya dan Mbak Yulia dari Komunitas Guru Belajar Solo Raya di segmen Insiprasi Pagi, Radio Gesma FM.


Siswa Zaman Old vs Siswa Zaman Now


Teknologi memberikan kemudahan kepada para siswa untuk mengakses berbagai macam informasi. Dampaknya, siswa menjadi lebih kaya akan referensi dan wawasan. Salah satu perubahan perilaku yang terlihat, yakni para siswa cenderung lebih kritis dalam menerima pengajaran di sekolah. Meraka akan lebih aktif dalam memberikan analisis dan tanggapan terhadap pengetahuan yang mereka terima.

Berbeda dengan murid zaman dahulu yang lebih pasif di sekolah. Mereka lebih banyak menggunakan referensi dari guru dan buku dalam menambah pengetahuan mereka.Teknologi sudah ada, namun tidak banyak merubah perilaku keseharian para siswa. Ritme kegiatan belajar mengajar juga cenderung monoton. Siswa hadir, duduk manis di bangku, mendengarkan penjelasan dari guru, mengerjakan PR dan ulangan, ujian dan selesai.

Karakteristik siswa yang berbeda inilah menuntut guru yang mengajar di sekolah untuk berubah. Berubah dalam metode pengajaran mereka. Jika guru masih menggunakan model yang sama seperti dulu, jangan heran jika murid menjadi bosan dan hilang semangat belajarnya. Murid akan mencari kesenangan belajar lainnya melalui media internet tanpa memiliki kemampuan filter terhadap berbagai informasi yang mereka dapatkan.

Lantai, bagaimana sosok guru masa kini yang disukai para murid?


Obrolan saya bersama Mbak Heni dan Mbak Yulia masih terus berlanjut. Saya cukup penasaran, bagaimana kemudian guru-guru di sekolah bertransformasi menjadi "Guru yang Kekinian". Apa saja yang para guru lakukan untuk mengimbangi para murid mereka atau bahkan selangkah lebih maju dari murid mereka?


1. Guru masa kini, mengikuti perkembangan teknologi


Guru zaman now dilarang untuk gaptek. Melalui teknologi guru juga dapat mengakses informasi lebih dahulu sehingga mereka mendapatkan referensi yang banyak untuk mengajar. Guru tidak hanya menambah wawasan dari buku, namun mereka juga harus terbuka dengan berbagai jurnal penelitian, e-book, diskusi online hingga video-video di youtube yang bermanfaat.

Melalui teknologi guru juga dapat mengamati aktivitas para siswanya, termasuk juga berkomunikasi dengan wali murid di rumah.

2. Guru masa kini, memahami murid


Setiap anak adalah unik. Penting bagi guru untuk memahami murid mereka satu per satu. Apa yang menjadi minat dan fokus para murid. Tentu saja, tidak semua murid memiliki kesenangan yang sama akan matematika, atau dengan bahasa atau dengan seni. Guru masa ini harus mempu membaca potensi dari anak didiknya. Sehingga guru dapat memfasilitasi para murid dalam belajar.

3. Guru masa kini, berkolaborasi


Perlu adanya perubahan dalam model belajar mengajar. Guru dapat melibatkan muridnya untuk belajar bersama. 

Bukan lagi zamannya guru berdiri di samping papan tulis dari awal hingga akhir kelas. Namun sudah saatnya guru melibatkan murid dalam aktivitas belajar yang kolaborati dan menyenangkan. Contohnya seperti aktivitas eksperimen, outingclass dan lain sebagainya.

SARA NEYRHIZA

Dengan berkembangnya metode belajar mengajar dari guru dan murid zaman now, diharapkan akan mampu mencetak generasi yang jujur. Jujur akan potensi diri masing-masing. Para murid akan lebih memahami siapa diriya, apa potensinya apa minat belajarnya. Sehingga ketika sudah lulus dari sekolah, murid akan lebih terarah dan memahami tujuan hidup atau karir pekerjaan mereka.

Tidak mudah memang menjadi guru masa kini. Mereka dituntut untuk selalu belajar dan belajar. Namaun, saya pribadi percaya bahwa proses mendidik dan mengajar adalah sebuah pengabdian dan cita-cita. Dengan misi mencetak generasi yang lebih baik di masa depan.




#SKYTALK EPISODE 2
Catatan Siaran Sara Neyrhiza di segmen Inspirasi Pagi, Program Gesma Kirana.
Kamis, 29 Maret 2018
Pukul 09.00- 10.00 WIB
97.6 GESMA FM 

SARA NEYRHIZA



Auto Post Signature