Showing posts with label BLOG & SOCIAL MEDIA. Show all posts
Showing posts with label BLOG & SOCIAL MEDIA. Show all posts

Cerita Menjadi Digital Content Creator

25.9.20

PRAKTISI ILMU KOMUNIKASI

Internet adalah ladang mencari duit. Saya nggak pernah menyangka awalnya. Tapi inilah kenyataan (dan pilihan) yang saya ambil. Saya pikir, saya akan asyik kerja kantoran, mungkin jadi humas atau bekerja di industri penyiaran. 

Saya nggak belok dari passion, masih menemukan connecting the dot-nya. Cuma kaget saja, bahwa melalui internet saya menemukan banyak hal. Diawali dari ngeblog, akhirnya mencoba profesi baru yang biasa disebut dengan content creator.

Pekerjaan membuat konten nggak sekadar bergaya di depan kamera. No, saya bukan pembuat konten video. Saya membuat konten tulisan dan suara. Okey, memang sesekali bikin vlog, cuma...yah...belum suka. Orang bilang ini preferensi. Nggak suka, kalau disuruh di depan kamera ya ayuk aja. :)

Video ini adalah rekaman sebuah program siswa jurusan broadcast SMKN7 Surakarta. Nama acaranya Inspirasi Remaja. Lewat obbrolan dengan Mbak Anez selaku Master of Ceremony, saya bercerita mengenai profesi yang saya geluti. And why become a content creator is valuable.

Kamu bisa menontonnya pada video di bawah ini.



 

See you on the next blogpost.








Thank you, 

Membangun Manajemen Kesan di Social Media

24.7.20
MANAJEEN KESAN PERSONAL BRANDING DI SOCIAL MEDIA


Pada umumnya orang ingin menanamkan kesan baik di benak orang lain. Diterima sebagai sosok yang cerdas, kompeten, berwibawa, dan lain- lain. Menampilkan sisi menarik dari diri sendiri memang bisa membawa keuntungan. Bukan hanya diterima di lingkungan sosial, tapi bisa membuka kesempatan. 

Misal nih, mau interview kerja, penting dong untuk membuat diri terlihat menarik di depan HRD. Mau pedekete sama perempuan, yah minimal rapiin pakaian dan mengatur cara bicara biar nggak belepotan. Belum lagi kalau harus presentasi di depan klien, nggak cukup bermodal slide presentasi, tapi juga bagaimana kita membawa diri. Se- simple itu. Artinya ingin terlihat menarik di depan orang lain itu hal yang lumrah.

Di saat era sosmed kaya sekarang ini, terlihat menarik bisa dilakukan juga melalui postingan yang kita publikasikan. Melalui foto dan caption, kita bisa mendesain bagaimana profil diri kita bisa terlihat berbeda dan mencuri perhatian. Hal ini juga menjadi bagian strategi membangun personal brand.

Baca Juga : Manfaat Membangun Personal Branding


The Presentation of Self in Everyday Life


Kalau baca bukunya Erving Goffman yang judulnya The Presentation of Self in Everyday Life, kita bakal menemukan istilah Impression Management - Manajemen Kesan. Goffman sendiri mengartikan bahwa impression management adalah tindakan seseorang dalam mengatur pesan verbal dan nonverbal saat berkomunikasi dengan orang lain, agar tertanam kesan tertentu.

Pesan verbal dan non verbal ini meliputi kata- kata, tindakan, cara berpakaian, maupun hal - hal yang lain yang dapat memperkuat kesan tersebut.

Manajemen kesan ini, ternyata bisa juga diterapkan dalam strategi membangun personal branding di social media. Kita bisa mengatur foto seperti apa yang ingin di tampilkan, pakaian apa yang digunakan, caption apa yang ditulis, termasuk bagaimana berinteraksi dengan follower.

Boleh kah, hal ini dilakukan?

Boleh saja, tapi balik lagi ke motivasi dari tiap orang dalam melakukan manajemen kesan tersebut.

Motivasi Melakukan Impression Management


Di buku Tri Dayakisni dan Hudaniah yang berjudul Psikologi Sosial, dijelaskan ada 3 motivasi primer orang melakukan impression manajemen yakni :

1. Keinginan untuk mendapatkan imbalan materi atau sosial. ✔️
Seperti misalnya ingin dihargai, dipercaya, atau diberi kesempatan untuk melakukan sesuatu atau pekerjaan.

2.  Mempertahankan atau meningkatkan harga diri. ✔️
Motivasi ini ada pada seseorang yang ingin dianggap kompeten terhadap sesuatu, atau mendapat validasi atas apa yang dia bisa dan miliki.

3. Untuk mempermudah pengembangan identitas diri. ✔️
Setiap individu pasti memiliki ciri khusus, yang meliputi nilai yang diyakini, tujuan hidup, passion, dll. Semakin identitas diri ini dikenali, maka semakin terlihat sisi menarik atau unique selling proposition yang menjadi pembeda dengan orang kebanyakan.


Beberapa orang mungkin menganggap bahwa impression management ini adalah tindakan yang manipulatif. Padahal kita sering mendengar nasehat untuk menjadi diri sendiri "be yourself". Tapi coba jujur, deh. Kenyataanya, memang tidak ada kan orang yang bisa menampilkan 100% siapa dirinya. Selalu ada "topeng" yang dia gunakan untuk bisa diterima dan tidak merugikan orang lain.

Impression management bisa juga menjadi bentuk kehati- hatian. Agar di manapun kita bersikap, bertindak, berbicara kita pikirkan dulu dengan baik. Jangan sampai, melepas kontrol terhadap diri kita sendiri yang pada akhirnya justru akan menjadi bumerang.

Sebagai contoh, kalau seseorang terbiasa merokok di kehidupan nyata, tentu ada sebagian orang yang akan berhati- hati ketika merokok di tempat umum. Atau ketika akan mempublikaikan foto sedang merokok di akun instagramnya. Ini bukan karena tidak ingin be yourself, tapi lebih kepada agar kesan yang ditampilkan memang sesuai dengan nilai atau norma sosial.

Contoh lain, perempuan yang ketika di luar rumah berhijab. Meski di rumah melepas hijab dan biasa memakai tanktop dan celana pendek, tapi ia akan berpikir ratusan kali ketika mempublikasikan foto dengan pakaian terbuka. Bukan karena takut dihujat netizen, tapi pasti  ada perasaan tidak nyaman jika bagian tubuhnya dilihat sembarangan orang.

Intinya, dalam membangun manajemen kesan ini, individu berhak mengontrol mana yang ia ingin tunjukkan atau sembunyikan dari orang lain.

Manajemen Kesan di Media Sosial


Bagi yang fokus membangun personal brand, social media dapat digunakan sebagai saluran untuk menyampaikan pesan, untuk mempresentasikan dirinya di hadapan orang lain. Nilai positifnya, sosmed ini memungkinkan untuk menjangkau lebih banyak orang, dan lebih efisien secara biaya.

Jones dan Pitman melalui penelitiannya yang berjudul  Toward a General Theory of Strategic Self-Presentation, menjelaskan bahwa ada 5 strategi manajemen kesan. Mempelajari strategi ini, akan memberikan kita gambaran, bagaimana seseorang membangun kesannya di social media.


1. Ingratiation

Manajemen kesan dibangun dengan cara memuji diri sendiri, memuji orang lain, menyetujui opini orang lain, atau pendapat umum dalam masyarakat. Juga melakukan perbuatan baik seperti memberi bantuan dan hadiah. Tindakan ini dilakukan sebagai upaya untuk menutupi kelemahan dengan kelebihan.


2. Intimidation

Jika kamu pernah melihat akun seseorang yang terlihat vokal, arogan, bersuara keras, bisa jadi ia sedang melakukan strategi ini. Intimadation membuat kesan bahwa ia adalah sosok yang  berbahaya. Menimbulkan rasa takut pada lawan, dengan memberikan ancaman, meluapkan amarah, pamer
kekuasaan atau kekuatan.

3. Self Promotion

Strategi self promotion bertujuan untuk mempelihatkan sisi kompenten seseorang. Memberikan penjelasan deskriptif terhadap sesuatu yang ia kuasai, memperlihatkan prestasi, penghargaan dan sebagainya.

4. Exemplification

Kesan ditampilkan dengan menunjukkan sisi bermoral dan berintegritas. Ia memperlihatkan dirinya  sebagai seseorang yang peduli, disiplin, jujur, dermawan, nasionalis, taat beragama, dll.  Sehingga orang lain akan menjadi hormat dan kagum terhadapnya.


5. Supplication

Manajemen kesan tidak melulu menonjolkan hal yang kuat dan positif. Strategi ini justru menampilkan dirinya sebagai orang yang lemah, tidak berdaya. Menunjukkan ketidakmampuan,  kekurangan, ujian, sehingga orang lain dapat berbelas kasihan kepadanya.


Jika ditanya manakah strategi terbaik dalam membangun personal branding di media sosial dari 5 strategi di atas? Maka,  jawabannya adalah tergantung kepribadian, value dan tujuan orang tersebut. Karena pada akhirnya, personal brand yang baik adalah yang yang dilakukan dengan kejujuran, konsistensi serta didukung integritas di dunia nyata.

Baca Juga : Personal Branding Bukan Narsis dan Pamer


Itulah manusia, selalu punya kebutuhan untuk menunjukkan dirinya dan ingin selalu diterima oleh orang lain. Manusia juga senantiasa mengontrol mana yang ingin ia perlihatkan atau sembunyikan. Asalkan tidak berpura-pura yang membuatnya lelah fisik dan mental dan merugikan orang lain, manajemen kesan sangat bisa dilakukan.


***
Materi di atas saya sampaikan pada Personal Branding Talk "Strategi Impression Management di Social Media"

Untuk jadwal workshop dan seminar lainnya, hubungi 081-328-9192-49

PELATIHAN PERSONAL BRANDING SOLO JOGJA SEMARANG



Dayakisni, T & Hudaniah. 2006. Psikologi Sosial. Malang: Universitas
Muhammadiyah Malang

Ritzer, George et al. 2004. Teori Sosiologi Modern (Terj). Jakarta: Prenada Media.    

Jones, E. E., & Pittman, T. S. 1982. Toward a General Theory of Strategic Self-Presentation. In J. Suls (Ed.), Psychological

See you on the next blogpost.








Thank you, 


Membuat Audiogram Untuk Promosi Podcast di Instagram

12.5.20
PROMOSI PODCAST DI INSTAGRAM

Gimana, sudah tertarik merekam suara dengan handphone dan bikin podcastmu sendiri? Atau sudah mulai promosi podcast di social media?

Kalau masih bingung gimana caranya podcastmu ada di Spotify, kamu bisa cari tulisan saya membuat podcast di Spotify. Tenang, bikin naskah podcast, terus merekam podcast dengan hape itu nggak susah. Kamu pasti bisa melakukannya. Karena yang lebih susah itu adalah cari pendengar.

Kita ngomong, kan pengennya didengar. Syukur- syukur bisa membawa manfaat bagi orang lain. Kalau niatnya cuma curhat doang, juga nggak papa. Tapi kalau ada yang dengerin curhatmu, pasti lebih senang, kan? Kaya podcast cerita dewasa di Spotify milik saya yang berjudul #KalauCinta. Awalnya iseng, ternyata banyak yang mendengarkan.

So, nggak ada salahnya kok mempromosikan podcastmu sendiri. Dengan pede promosi, kesempatan untuk ketemu podcaster lain juga makin besar. Bisa saling tukar pikiran, atau menemukan inspirasi satu dengan lainnya.

Salah satu cara mempromosikan podcast adalah dengan boosting di social media. Nah, supaya promosimu nggak cuma gambar doang, atau males ribet bikin video, ada alternatif membuat promosi podcast dengan AUDIOGRAM.

Apa itu Audiogram?


Banyak sih aplikasi yang bisa digunakan untuk bikin audiogram. Audiogram sendiri adalah sebuah audio clip yang dilengkapi dengan wave form (grafik gelombang yang mempresentasikan sinyal audio) Jadi file audiomu akan dikonversikan ke dalam bentuk video.

Kalau belum ada bayangan, coba lihat video di bawah ini


Baca Juga : Membuat Naskah Podcast yang Benar

Promosi Podcast di Instagram dengan Audiogram?


Jadi buat kamu para podcaster, audiogram ini semacam sneak peek dari episode podcastmu. Daripada gambar statis, pasti audio akan lebih menarik untuk membuat followermu berhenti nyekrol lini masa. Semacam, catch people’s eyes and get them to stop scrolling long enough to have a listen to your audio content. Pembuatannya juga lebih sederhana.

Kalau followermu penasaran dengan versi fullnya, kamu bisa arahkan orang untuk klik episode podcastmu di Anchor, Spotify, Google Podcast atau official websitemu.

Cara Bikin Audiogram?


Diantara banyak aplikasi, saya paling suka pakai HEADLINER. Selain banyak fitur yang mendukung, Headliner ini juga gratis, dengan catatan 1 email akan mendapatkan gratis 10 kali pembuatan video. Jadi kalau mau lebih itu, pakai aja beberapa email sekaligus :p

Ada beberapa hal menarik dari Headliner ini, seperti :

1. Bisa menambahkan subtitle otomatis.
2. Punya beberapa  pilihan animasi audio spektrum
3. Bisa bagiin audiogram langsung ke beberapa social media 
4.  Bisa masukin teks, gambar, dan animasi dalam video 
5. Ada berbagai opsi pengeditan video dan transisi seperti fade in, fade out, dll.

Sebenarnya, untuk membuat audiogram kamu bisa pakai berbagai aplikasi edit video yang ada. Tapi kalau pengen gampang dan nggak ribet, Headliner sangat membantu. Sebagai catatan, kalau pengen lebih banyak fitur terbuka kamu harus memiliki akun PRO yang artinya ada biaya per tahun yang harus dibayar.

Bagaimana membuat audiogram di Headliner?


1. Buka melalui desktop di Headliner.app

2. Daftar untuk bisa masuk dengan klik tombol sign up

3. Pilih Audiogram Wizard 


4. Upload file audio (mp3 atau wav) dengan durasi maksimal 2 jam. Lalu kemudian tentukan bagian audio yang ingin dibuat audiogram


5. Pilih rasio audiogram (square, lanscape atau portrait)


6. Pilih template yang disediakan. Di bagian ini kita bisa memasukkan gambar, waveform, teks, dll



7. Di bagian advance editor, kita bisa menambahkan beberapa media lain yang dibutuhkan untuk melengkapi audiogram



8. Export video, lalu download audiogram kita

Itu tadi beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membuat audiogram podcast. Kita dapat menggunakannya untuk promosi podcast di instagram, facebook, twitter bahkan youtube.

Kalau kamu tertarik mendengarkan berbagai episode podcast saya, silakan mengunjungi www.thelatebrunchshow.com


See you on the next blogpost.







Thank you, 



Workship Blogging Bersama Sara Neyrhiza dan Komunitas Guru Belajar Solo Raya

16.10.19
BLOGGER KOTA SOLO SARA NEYRHIZA

Senang rasanya jika apa yang kita geluti bisa ditransfer ke orang lain. Jadi ketrampilan kita bisa bermanfaat bagi banyak orang. Jika orang lain kemudian mendapatkan hal positif dari apa yang kita lakukan, tentu kebaikannya akan kembali ke diri kita sendiri. Amal jariyah.

Blogging, dunia yang saya geluti sejak 7 tahun lalu, rasanya masih menjadi salah satu aktivitas yang saya cintai. Terlebih di era digital saat ini, kita juga dituntut untuk memproduksi konten yang positif. Dengan semangat mendukung gerakan literasi digital inilah maka saya bersama SPEAKING.id mencoba untuk menularkan semangat literasi digital di berbagai sekolah dan komunitas.

BLOGGER SOLO SARA NEYRHIZA

KOMUNITAS GURU BELAJAR

SARA NEYRHIZA

Minggu, 13 Oktober 2019 saya bersama SPEAKING.id memberikan workshop blogging bersama Komunitas Guru Belajar Solo Raya. Acara yang dilaksanakan di Rumah Kreatif BUMN Solo ini berlangsung kurang lebih selama 4 jam. Para peserta yang hadir berlatih secara langsung bagaimana membuat blog dengan platform blogspot dan kemudian dilanjutkan dengan mencostumize template blog mereka sendiri. Tidak lupa para peserta juga praktik membuat postingan di blog.

Meski terbilang masih materi basic dalam blogging, namun harapannya setelah acara ini usai, para peserta dapat terus aktif membuat konten di blog mereka sendiri. Sehingga karya tulisan mereka tidak selesai pada paper saja, namun dapat didistribusikan melalui blog ini.


See you on the next blogpost.






Thank you, 

Perbedaan Misinformasi, Disinformasi dan Malinformasi, Sudah Tahu, kan?

16.9.19
CENTER FOR DIGITAL SOCIETY UGM


Masih lekat diingatan saya pemberitaan peristiwa yang terjadi di Manokwari, Papua Barat, pada Senin 19 Agustus 2019. Banyak media mengabarkan rentetan kejadian yang terjadi di sana. Massa yang berunjuk rasa memblokade beberapa ruas jalan, kemudian melemparkan pecahan botol,  merobohkan papan reklame dan tiang lampu lalu lintas  serta membakar Gedung DPRD Papua Barat.

(Sumber : https://nasional.republika.co.id/berita/pwihn7409/dua-emhoaks-empicu-rusuh-manokwari)

Aksi yang dilakukan massa ini adalah respon peristiwa pengamanan mahasiswa di asrama Papua yang ada di Surabaya pada Sabtu 17 Agustus 2019. Peristiwa tersebut bermula dari isu mengenai perusakan bendera Merah Putih yang dipasang di asrama. Sebelum polisi melakukan penangkapan, massa yang menggunakan atribut ormas lebih dulu melakukan pengepungan asrama.

(Sumber : https://news.detik.com/berita/d-4671601/kapolri-ada-hoax-korban-tewas-yang-picu-mobilisasi-massa-di-manokwari)

Lantas, bagaimana peristiwa di Surabaya dapat meluas hingga ke Papua? Menurut Kapolri Jenderal Tito Karnavian, kerusuhan di Manokwari, Papua Barat, dan adanya mobilisasi massa di Jayapura, Papua, dipicu peredaran berita bohong atau hoaks, terutama di media sosial. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo juga menjelaskan bahwa sejumlah akun media sosial turut menyebarkan video berkonten provokasi.

(Sumber : https://nasional.republika.co.id/berita/pwihn7409/dua-emhoaks-empicu-rusuh-manokwari)

Belajar dari peristiwa ini, ternyata sangat luar biasa bukan dampak daripada penyebaran berita hoak ini? Terlebih keberadaan teknologi internet yang meniadakan batas ruang dan waktu. Di manapun kita berada asalkan terhubung dengan internet dapat menjadi penerima informasi yang belum tentu kebenarannya. Parahnya, terkadang kita tidak sadar bahwa berita tersebut palsu.

Survei  terhadap 2032 pengguna internet di Indonesia menunjukkan bahwa 81.25% responden menerima hoaks melalui Facebook, sekitar 56.55% melalui WhatsApp, sebanyak 29.48% melalui Instagram, dan tak kurang dari 32,97% responden menerima hoaks di Telegram. DailySosial (2018).

Memahami Perbedaan Misinformasi, Disinformasi dan Malinformasi


Hoaks bisa diartikan sebagai informasi yang direkayasa, baik dengan cara memutarbalikkan fakta atau pun mengaburkan informasi, sehingga pesan yang benar tidak dapat diterima seseorang. Hoaks merupakan kekacauan informasi yang sering dipahami sebagai misinformasi dan disinformasi.

Menurut Buku Panduan Melawan Hasutan Kebencian diterbitkan Pusat Studi Agama dan Demokrasi, Yayasan Paramadina, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia dan International Foundation for Electoral Systems.) berikut adalah perbedaan misinformasi, disinformasi dan malinformasi.


Misinformasi.

Salah informasi. Informasinya sendiri salah, tapi orang yang menyebarkannya percaya bahwa informasi itu benar. Penyebaran informasi dilakukan TANPA ada tendensi untuk merugikan orang lain.

Contohnya seperti video penculikan anak yg viral beberapa waktu lalu. Tanpa mengecek kebenarannya, seseorang langsung menyebarkan informasi tersebut dengan maksud baik, agar orang lebih berhati-hati dan tidak menjadi korban.

Disinformasi

Informasi yang tidak benar dan orang yang menyebarkannya juga tahu jika informasi itu tidak benar. Informasi ini merupakan kebohongan yang sengaja disebarkan untuk menipu, mengancam, bahkan membahayakan pihak lain. 

Malinformasi

Informasinya sebetulnya benar. Sayangnya, informasi itu digunakan untuk mengancam keberadaan seseorang atau sekelompok orang dengan identitas tertentu. Malinformasi bisa dikategorikan ke dalam hasutan kebencian.

Contohnya seperti hasutan kebencian terhadap kelompok minoritas agama atau orientasi seksual tertentu. 

Sumber : Buku Panduan Melawan Hasutan Kebencian

Bersikap Skeptis dan Kritis Terhadap Informasi


Banjir informasi itulah yang terjadi. Informasi bisa dengan sangat mudah kita peroleh di era digital saat ini. Maka untuk dapat bersikap kritis, perlu adanya kemampuan dalam menganalisis informasi yang diterima. Atau dalam hal ini disebut sebagai literasi digital. Yakni pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan mulai dari menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.

Selain membangun sikap kritis, tidak ada salahnya kita juga bersikap skeptis, tidak mudah percaya akan informasi yang diterima. Dan berusaha mengenali dan menggali kebenaran atas informasi-informasi lebih dalam lagi.

CENTER FOR DIGITAL SOCIETY UGM

Menjadi generadi digital yang positi, etis dan kreatif, inilah misi yang dingkat dalam event Digital Goes to Campus yang diadakan Center for Digital Society (CfDS), Universitas Gajah Mada dan BEM Fakultas Komunikasi dan Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta. Kebetulan dalam acara ini, saya hadir sebagai pembicara bersama Diah Angendari, Dosen Ilmu Komunikasi UGM dan Fedryno Geza, Manajer Event dan Media Sosial CfDS.

ZAHRA NOOR ERIZA


Kepada 150 peserta yang hadir, kami bertiga sepakat bahwa penting bagi generasi muda, sekaligus generasi digital untuk mampu memahami keberadaan informasi yang ada. Kemampuan analisis informasi, serta kepatuhan pada etika nantinya akan menjadi bekal untuk menghasilkan konten-konten yang kreatif dan menarik. Istilahnya kontennya nggak omong kosong, tapi ada isinya.


Baca Juga : Penyiar Radio Era Digital


Maka, bagi siapapun yang kini aktif sebagai content creator, yuk bersama-sama belajar dengan baik memanfaat informasi yang ada. Lalu secara bijaksana menghasilkan konten-konten yang informatif, mengedukasi serta mengajak kepada hal-hal yang baik.



See you on the next blogpost.






Thank you, 

Menulis Review Produk yang Baik, Jangan Asal Copy!

17.3.19
MENULIS REVIEW PRODUK DENGAN BAIK


Suka nggak belanja online? Suka dong, itu jawaban saya. Akhir-akhir ini, saya sering beli kosmetik di e-commerce. Selain harganya lebih murah, pilihan merek dan varian juga lebih lengkap.

Tetapi sebelum belanja online, saya harus baca review dulu. Saya cari tahu dulu tuh, bagaimana pengalaman orang lain dalam memakai produk yang saya inginkan. Kalau banyak review positif, saya beli deh. Kalau ternyata banyak ulasan negatif, saya pikir-pikir lagi.

Baca Juga : Kenapa Baca Review Dulu, Sebelum Beli Kosmetik?


Kebiasaan membaca review ini juga saya lakukan jika ingin menginap di suatu hotel. Biasanya saya tracking performa suatu hotel/ penginapan di aplikasi macam traveloka, tripadvisor, agoda dan sebagainya.

Kalau kamu pernah membaca tulisan saya di sini, kamu akan menemukan bahwa  perilaku konsumen era digital itu unik. Mereka akan mencari pertimbangan saat akan membeli suatu produk dengan cara membaca review di internet. Persis seperti yang saya lakukan. Hal ini disebut dengan electronic word of mouth (EWOM) atau rekomendasi mulut-mulut melalu media elektronik dan internet.

Sebagai blogger, saya juga memanfaatkan era EWOM ini. Antusiasme yang tinggi para pembaca, membuat tulisan review memiliki traffic yang tinggi di blog. Sebenarnya, memberi review bisa dilakukan di berbagai media. Bisa juga melalui status dan caption di media sosial. Termasuk dengan memanfaatkan media cetak seperti koran dan majalah.

Apa itu Review Produk?


Review produk adalah ulasan atau testimoni mengenai kualitas suatu produk barang atau jasa berdasarkan pengalaman faktual pengguna. 

Teknisnya, seseorang menggunakan suatu produk, kemudian menuliskan pengalaman tersebut serta memberikan penilai berdasarkan tingkat kepuasaan yang ia rasakan.

Produk yang diberikan ulasan sangat beragam, mulai dari kosmetik, peralatan rumah tangga, buku, film, lagu, juga layanan jasa seperti e-commerce, restauran, hotel dan masih banyak lainnya.

Tujuan Review Produk


1. Memberikan informasi kepada calon pengguna lainnya

Informasi ini akan memberikan gambaran mengenai merek, fungsi dan manfaat dari suatu produk. 

2. Memperkenalkan merek/ brand awareness

Banyak perusahaan melibatkan konsumen, blogger atau key opinion leader untuk memberikan ulasan positif terhadap suatu produk. Meskipun sebuah brand memiliki official website atau official account di social media, namun review dari pengguna dianggap lebih obyektif dan efektif membangun brand awareness dalam benak masyarakat.

3. Memberikan persuasi

Sebuah tulisan review produk dapat secara sengaja (terencana) atau tidak terencana memberikan suatu dorongan atau motivasi kepada konsumen dalam melakukan keputusan pembelian. Seperti apa yang saya sebutkan di atas, ketika banyak ulasan positif pada suatu produk, hal itu membuat saya semakin yakin untuk membeli produk tersebut.

Niatan seseorang dalam menulis review tidak selalu karena motif promosi seperti yang dilakukan perusahaan. Banyak penulis atau konsumen yang secara suka rela dan senang hati serta tidak dibayar untuk memberikan ulasan terhadap suatu barang atau jasa. Bagi sebagian orang, menulis review adalah bagian dari membantu orang lain dalam mendapatkan informasi yang benar.


Baca Juga : Review Safi White Expert. Banyak yang Cocok!


Apa yang Diinginkan Pembaca dari Sebuah Review Produk?


Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Bright Local, 84% orang percaya terhadap review online yang mereka baca. Sehingga penilaian pada sebuah tulisan review menjadi rekomendasi personal bagi pembacanya. Ada beberapa hal yang diinginkan oleh pembaca saat membaca tulisan review produk, yakni :

1. Alasan mengapa kamu butuh produk tersebut
2. Kesan pertama
3. Pengalaman menggunakan produk
4. Pro dan kontra dari produk
5. Siapakah target market dari produk
6. Apakah produk tersebut efektif dan berkualitas
7. Saran dan rekomenadasi

Persiapan dalam Menulis Review Produk


Sering kali saya membaca review produk yang bagus, lengkap dan sangat informatif. Tetapi tidak sedikit yang menuliskannya dengan asal-asalan seperti hanya mencopy informasi dalam kemasan barang.

Jika kamu ingin menulis sebuah review produk yang terstuktur dan rapi, kita perlu melakukan beberapa hal berikut ini. 

1. Lakukan Riset Sebelum Menulis Review Produk


Jika mendengar kata riset, jangan beranggapan bahwa kita akan menulis skripsi atau tesis. Bukan! Riset di sini berarti kita sedang mengumpulkan data guna menjadi bahan tulisan.

Riset yang kita lakukan akan mengumpulkan dua macam data :

1. Data primer : Data ini berasal dari pengalaman kita sendiri dalam menggunakan suatu produk barang atau jasa. Agar data semakin lengkap tidak ada salahnya kita juga mencari data dari pengalaman penggunaan orang lain.

2. Data sekunder : Yakni informasi yang kita dapat melalui data yang terdokumentasi di buku, di internet dan lain sebagainya. Termasuk informasi yang disediakan oleh perusahaan yang ditampilkan pada official website.

2. Melakukan pengujian


Bagaimana caranya kamu bisa menulis review produk yang baik kalau kamu nggak tahu barang apa yang ingin kamu ulas?

Pengujian di sini berarti kita secara sadar menggunakan produk tersebut. Jika kita ingin mengulas suatu film berarti kita harus menontonnya. Kalau ingin mengulas buku, berarti kita harus membaca buku tersebut.

Cobalah untuk meluangkan waktu untuk menggunakan produk yang ingin kamu ulas. Dengan mencoba sendiri produk secara langsung, nantinya akan mempermudah dalam menulis review produk. Tulisan yang dihasilkan juga lebih jujur,  kredibel dan genuine.


3. Memahami demografi pembaca


Mengenali siapa yang akan membaca review produkmu itu penting. Hal ini membantu dalam menentukan gaya bahasa dalam tulisan. Jika pembaca kita banyak dari kalangan pelajar, hindari diksi yang menyulitkan. Berikan sudut pandang yang sesuai dengan demografi pembaca juga. Sehingga konten dalam tulisan akan sesuai dengan apa yang pembaca butuhkan.

Contohnya, katakanlah pembaca tulisan kita adalah pelajar SMA. Jika ingin menuliskan suatu review skin care, coba cari keunggulan dari skin care tersebut yang relevan  bagi pembaca pelajar SMA. Harga barang tentu menjadi poin yang tidak boleh ketinggalan, mengingat pelajar SMA umumnya memiliki anggaran yang terbatas dalam belanja skin care.


4. Menyiapkan Kerangka Review Produk


Seperti jenis tulisan lainnya, menyiapkan kerangka akan mempermudah kita dalam menulis ulasan produk lho. Kerangka tulisan akan membuat review menjadi terstruktur dan mendetail.

Tuliskan mulai dari hal-hal yang bersifat umum ke hal-hal yang bersifat khusus.

Contoh menulis kerangka review produk seperti di bawah ini :

a. Judul Review Produk
b. Nama Produk
c. Background/ alasan kondisi menggunakan produk
d. Diskripsi Produk
- Manfaat Produk /Klaim
- Kemasan Produk
- Formula
- Harga
e. Performance
f. Kesimpulan

5. Menyiapkan Konten Visual 

Agar tulisan review produk tidak membosankan karena hanya berupa teks, lengkapi pula dengan konten visual seperti gambar, infografis, juga video. Selain membuat tulisan semakin lengkap, konten visual ini akan menjadi bukti bagi pembaca bahwa kamu memang menggunakan produk tersebut.

Konten visual juga dapat memperjelas hal-hal yang sulit digambarkan melalui bahasa tekstual.
TIPS FOTO PRODUK
Sesi foto untuk materi review

Menulis Review Produk dengan Mudah


Setelah menyiapkan beberapa hal di atas, sekarang saatnya menulis review produk. Apa saja yang harus di tulis dalam review produk?

Kita lihat, yuk!

1. Mendiskripsikan produk secara lengkap


Mulailah dengan menuliskan first impression terhadap produk tersebut. Jika kita akan menulis review buku, coba perhatikan sampulnya, ilustrasi, kualitas kertasnya dan lain sebagainya.

Lalu deskripsikan lebih mendetail, sehingga pembaca dapat mengimajinasikan seolah-olah ia sedang merasakan/ menikmati produk tersebut.

2. Masukkan gambar pendukung


Lengkapi tulisan kita dengan gambar yang sudah kita siapkan sebelumnya.

3. Menuliskan kelebihan dan kekurangan


Berikan ulasan berdasarkan pengalaman yang kita rasakan. Jika produk tersebut memberikan banyak dampak positif maka jelaskanlah pada pembaca. Begitu pula sebaliknya.

Menuliskan kekurangan produk memang membutuhkan ketrampilan tersendiri. Cobalah menuliskan kekurangan secara elegan dan baik. Dibeberapa kasus, tidak semua produsen mampu menerima kritik dengan baik. Jangan sampai penulis justru dianggap melakukan marketing hitam dan dituduh melanggar UU ITE.

Terlebih lagi jika review produk tersebut adalah pesanan suatu brand (sponsored post/ advertorial). Penulis/ blogger harus pandai-pandai dalam mengemas tulisan. Jika ada kekurangan tidak perlu ditutupi, namun kemaslah dengan baik. Sehingga pembaca akan lebih fokus pada kelebihan produk.

Saya pernah punya pengalaman seperti ini. Suatu kali saya di hire untuk menulis review produk skin care dengan kandungan vitamin C. Ternyata setelah memakainya pada wajah, justru saya mengalami iritasi. Maka kemudian saya bereksperimen lagi dengan memakai produk tersebut pada leher. 

Lantas, bagaimana cara saya menuliskan ulasan produk tersebut? Saya tulis seperti ini "Produk vitamin C ini sepertinya tidak cocok jika saya pakai di wajah. Tapi ternyata, begitu saya pakai di leher hasilnya memuaskan. Jadi, produk vitamin C ini tetap bisa saya gunakan. Seneng deh, akhirnya wajah dan leher tidak belang" - Seperti ini, saya mencoba memberikan rekomendasi lain, ketika pada pemakaian yang seharusnya hasilnya tidak cukup baik.


4. Memberi Bukti


Review produk berfungsi sebagai bahan pertimbangan untuk konsumen dalam memutuskan suatu pembelian. Maka, penting bagi reviewer membuktikan bahwa layak atau tidak produk itu dibeli. 

Misalnya kita mereview smartphone, maka berikan bukti berupa foto atau video saat menggunakan berbagai fitur di smartphone tersebut.

5. Lakukan Komparasi 


Untuk membuat ulasan lebih lengkap, kita bisa melakukan komparasi dengan produk lainnya. Sama seperti ketika menuliskan kekurangan suatu produk, melakukan komparasi dengan produk beda varian atau mungkin kompetitor perlu dilakukan dengan bahasa yang baik.

6. Berikan kesimpulan

Sumber Gambar : https://www.humanproofdesigns.com

Tidak jarang suatu produk memiliki beberapa poin kelebihan dan kekurangan. Pada akhir ulasan, reviewer dapat memberikan kesimpulan akhir sesuai dengan tingkat kepuasan yang dirasakan. 
Pada intinya, pembaca menginginkan ulasan yang jujur. Maka, bersikaplah obyektif mengenai produk yang di ulas, jika bagus katakan bagus, jika tidak katakan tidak.


Yang perlu dipahami adalah produk yang bagus untuk seseorang, belum tentu bagus untuk orang yang lain. Hal ini sangat dipengaruhi oleh selera, pengalaman, referensi, juga kondisi yang berbeda -beda pada tiap individu. Maka review produk itu juga bersifat subjektif. Lantas, dimanakan letak obyektifitas penulis? Yakni, pada kejujuran memberikan penilaian berdasarkan pengalaman yang dia rasakan. Jangan menuliskan kebohongan atas sebuah produk yang belum pernah kita pakai.


Nah, itu tadi informasi bagaimana menulis review produk dengan baik. Semoga bermanfaat ya...


Informasi ini disampaikan pada KulWap Rumah Belajar Literasi Ibu Profesional Solo Raya.



See you on the next blogpost.





Thank you, 

Cara Mendapatkan Uang dari Blog. Blogger Pemula Wajib Tahu!

25.12.18



Berikut ini adalah FAQ yang sering ditanyakan kepada saya. Meski dibilang pengetahuan saya masih cetek alias dangkal, tapi rasanya sesuatu yang sedikit ini lebih membahagiakan kalau bisa dibagi-bagi. Syukur-syukur menghasilkan manfaat bagi yang membaca.

Dunia blogging terasa sangat menyenangkan terlebih di era digital saat ini. Maka, untuk kamu yang ingin terlibat di dalamnya dan mencoba mencari peruntungan, semoga informasi cara mendapatkan uang dari blog ini dapat membantu.

Menghasilkan Uang dari Tulisan

Apakah kamu hobi menulis?

Jika IYA, pasti percaya kan jika tulisan bisa menghasilkan uang. Bukan hanya bagi profesi penulis saja, tapi juga profesi lainnya, seperti BLOGGER.

Blogger ini umumnya menggunakan platform blog seperti blogspot atau wordpress atau tumblr sebagai media untuk menulis. Bisa juga melalui website user generated content seperti Hipwee, Kompasian, Blog Detik, Brilio, Kumparan dan lain sebagainya. Tentu saja untuk menjalankannya dibutuhkan jaringan internet.

Sumber gambar : bloggingbasics101.com

Apakah Blogger masih menjanjikan?

Untuk era digital saat ini, menjadi blogger masih menjanjikan. Ditambah lagi jika didukung dengan pengelolaan social media yang baik. Umumnya, blogger bekerja bukan hanya melalui platform blog saja tetapi juga melalui akun social media seperti facebook, twitter dan instagram.

Selain itu, blogger juga dituntut memiliki kemampuan lebih seperti desain grafis dan membuat konten audio visual. Semakin lengkap ketrampilan yang dimiliki, maka semakin beragam konten yang dapat disajikan dalam satu tulisan. 

Baca Juga : Cara Membuat Blog di Blogspot


Mengapa menjadi Blogger menguntungkan dan menarik?

Ada beberapa alasan yang membuat profesi blogger ini diminati banyak orang. Baik sebagai pekerjaan utama maupun sebagai pekerjaan paruh waktu.

1.      1. Menulis blog bisa dilakukan di mana saja termasuk di rumah. Asalkan memiliki koneksi internet.
2.      2. Menjadi blogger memungkinkan diundang ke berbagai acara yang menarik
3.      3. Komunitas blogger di Indonesia berkembang baik
4.      4. Dari blog mampu mendatangkan penghasilan
5.      5.  Ngeblog adalah perpaduan antara hobi, seni dan mencari materi

Sumber gambar : bloggingbasics101.com


Cara Menghasilkan Uang dari Blog


1.      Mengkomersialkan (monetisasi) blog dengan CPC atau CPM Ads

Cara paling umum untuk mendatangkan uang adalah menempatkan ruang iklan pada blog. Caranya?
  • CPC/PPC Ads: Cost per click (pay per click) banner iklan biasanya ditempatkan pada sisi kanan atau kiri blog. Jika ada pembaca mengklik iklan tersebut, maka Blogger akan mendapatkan uang.
Blogger juga dapat memasang Google Adsense pada blognya.
  • CPM Ads: CPM Ads, or “cost per 1,000 impressions,” adalah jenis iklan dimana Blogger akan mendapatkan bayaran jika iklan tersebut ditonton minimal 1000 kali.

2.      Menjual Private Ads
Menjadi Blogger memungkinkan untuk bekerja sama dengan klien, brand atau perusahaan tertentu. Istilah mudahnya, blog menjadi tempat beriklan. Tujuan iklan ini beragam, bisa sebagai alat untuk memperkenalkan produk baru, bisa untuk menjaga loyalitas pelanggan dan bisa juga hanya untuk menempatkan link (backlink) menuju website tertentu.

Ada berbagai bentuk kerja sama yang bisa ditawarkan oleh blogger, seperti misalnya :
Sponsored Post : Penulisan artikel berbayar
Product Review : Mengulas dan memberikan opini terkait produk dan jasa tertentu
Content Placement : Menempatkan tulisan klien pada blog (tidak menulis sendiri)
Quiz/ Giveaway Host : Mengadakan kuis di blog
Invitation and Event Report : Mendatangi event kemudian mengulas event tersebut di blog

Baca Juga : Cara Menyiapkan Blog Untuk Dimonetisasi


3.      Konten afiliasi

Bagaimanakah konten afiliasi ini bekerja?

1. Pengiklan memiliki produk yang ingin dijualnya. Pengiklan setuju untuk memberi Blogger  komisi dari setiap penjualan jika pembeli datang dari situs blogmu
2. Pengiklan memberi Blogger tautan unik yang melacak kode afiliasi yang dipasang pada blog. Dengan begitu, dia tahu kapan pembeli menggunakan tautan (link) untuk melakukan pembelian.
3. Blogger memasukkan tautan afiliasi pada blog. Blogger dapat melakukan ini langsung di konten atau melalui iklan banner. Jika pembaca mengklik tautan unik tersebut dan membeli produk yang direkomendasikan Blogger, Blogger akan memperoleh persentase dari apa yang dibeli oleh pembaca.

4.      Menjual Produk Digital

Bagi blogger yang sudah memiliki banyak pembaca, mereka dapat memiliki pembaca yang loyal bahkan fans. Pembaca yang loyal ini bisa menjadi target market jika kita menjual sesuatu melalui blog yang kita miliki. 

Blogger juga bisa membuat web , yang dikhususnya untuk menjual produk. Jika memakai platform blogspot, blogger hanya perlu membeli domain. Namun, bagi pengguna wordpress, selain membeli domain juga harus beli hosting.

Nah, berikut ini ada beberapa produk digital yang blogger bisa jual melalui blog atau web mereka, seperti :
  1. eBooks
  2. Online courses/workshops
  3. Gambar, video, musi
  4. Aplikasi, tema, dll

Selain produk digital, blogger juga bisa menjual merchandise seperti kaos, gantungan kunci dan lain sebagainya.

Baca Juga : Ini Pertimbangan Klien Saat Mengajak Blog Untuk Kerja Sama


Bagaimana, sudah ada gambaran kan bagaimana sebuah blog dapat mendatangkan penghasilan? Bagi blogger yang ingin menggeluti dengan lebih serius tentu akan banyak kesempatan kerja sama yang datang. Asalkan tidak lupa untuk selalu meningkatkan kualitas tulisan sehingga mampu mendukung performa blog yang kita miliki.

*Informasi yang saya tuliskan di atas menjadi materi pada Kulwap yang diadakan oleh Komunitas Ibu Profesional Solo Raya, Senin 24 Desember 2018 pukul 20.00-21.30 WIB.



Let's be friends!


Instagram | Facebook | Twitter

See you on the next blogpost.





Thank you, 

Auto Post Signature